Ternyata Jodohku

Ternyata Jodohku
Episode 62


__ADS_3

Selamat membaca 🌷🌷🌷


.


.


Aldi dan Riska melangkah masuk ke dalam rumah, ekspresi keduanya sangat kentara berbeda. Aldi yang cenderung berseri-seri, sedangkan Riska malu-malu.


"Widih .. Yang baru lamaran tertunda, wajahnya cerah berseri-seri." Ujar Renata menggoda, setelah menghadang jalan kedua kakaknya diruang tamu.


"Sirik aja!" Protes Aldi.


"Buat apa sirik? Aku juga nanti bakalan rasain, gimana bahagianya dilamar keles .."


"Bodoh! Minggir!"


"Tidak bisa!" Renata kembali menghadang dengan merentangkan kedua tangannya.


Aldi menaikan sebelah alisnya, ada apa dengan adiknya ini, aneh. Sedang Riska yang berdiri disamping Aldi, diam memperhatikan keduanya.


"Apalagi sih, Re? Gerah ini, pengen mandi." Balas Aldi, mulai menunjukkan kekesalannya.


"Kakak kok tega banget sama aku, masa Rere nggak diajak. Emang Rere bukan keluarga? Jahat! Rere kan juga mau hadir dilamaran tertunda kakak itu." Sunggut Renata, mengeluarkan unek-uneknya.


"Astaga. Tadi itu dadakan, Re. Nanti aja pas resepsi sekalian, yah?" Bujuk Aldi.


"Awas yah kalo bohong. Rere pengen pas resepsi, Rere aja yang ngantar ka Riska yah, buat ke pelaminan?" Renata mulai mengeluarkan ilmu yang dia pelajari dalam fakultas management bisnis, berusaha bernegosiasi dengan kakaknya.


"Iya, iya."


***


Tiba dikamar, Riska langsung ke kamar mandi menyiapkan air untuk mandi suaminya.


Riska mendekat dan duduk disofa samping Aldi. "Mas, emang kita mau ngadain resepsi juga?"


"Iya dong, Yang. Harus itu!" Aldi menarik kepala Riska agar menyender di dadanya.


"Sebenarnya nggak pake resepsi juga nggak apa-apa, tapi, aku ikut kamu aja. Nggak usah terlalu mewah yah? Yang sederhana aja." Jawab Riska sambil memeluk pinggang Aldi, dan kepalanya disenderkan di dada suaminya.


"Iya, nanti konsepnya kita pikirkan sama-sama. Belum sekarang kok, kita persiapkan dulu pelan-pelan."


Riska mengangguk kemudian melepaskan pelukannya. "Ya sudah, mandi gih, aku udah siapkan airnya."


"Mandi bareng yuk?"


Pipi Riska merona, mengingat kejadian di mobil. "Nggak! Mandi sendiri aja."


"Nggak, tapi tadi doyan, nggak mau berhenti." Aldi memberikan tatapan nakal, tak lupa mengedipkan sebelah matanya.


Aldi lekas masuk ke kamar mandi, meninggalkan Riska yang sedang termenung memikirkan kejadian dimobil.


Flashback


"ALDI MESUMMMM ..." Jerit Riska. Namun tidak berusaha melepaskan tangannya.


"Bantuin yah, Yang? Nggak tahan ini." Balas Aldi dengan wajah memelas, terlihat matanya yang sayu menahan gairah.


"Batuin gimana? Kita belum bisa melakukan hubungan suami-istri, mas." Balas Riska dengan terbata menahan kegugupan.

__ADS_1


"Bisa. Ikutin aku aja."


Aldi mulai menuntun tangan Riska meremas si ular nakal, kemudian mulai mengerakkan naik turun dengan tempo pelan, lalu perlahan tempo mulai berubah cepat.


Riska yang mulai terbawah, secara naluri mulai meng***k sendiri, Aldi pun melepaskan tangannya membiarkan Riska bekerja sendiri.


Sesekali Riska menatap Aldi yang mulai menger*ng nikmat.


Teruss sayang ...


Ahhh ...


Aldi kemudian mulai bertingkah, dengan menurunkan kepala Riska. Menyuruh Riska memanjakan dengan mulutnya.


Riska sebenarnya jijik, namun akhirnya mengikuti permintaan Aldi. Aldi mengerakkan kepala Riska naik turun.


Setelah merasa akan sampai puncak, Aldi menarik kepala Riska dan mengganti dengan tangan Riska.


Ahhhhh .....


Eran**n panjang Aldi, ketika mendapatkan org*sme nya.


"Makasih sayang .." Ucap Aldi dengan nafas ngos-ngosan.


Riska mengambil air mineral untuk berkumur, lalu mengelapnya bibirnya dengan tisu.


Flashback end


***


Aldi tengah berkutat dengan berkas di meja kerjanya. Diliriknya jam dipergelangan tangannya, sudah pukul 10 lebih 35 menit.


Aldi mengambil ponsel, lalu mendial kontak yang bertuliskan ~Wife.


"Halo, mas." Jawaban dengan suara halus, diseberang telepon.


"Kamu siap-siap yah, setengah jam lagi aku jemput."


"Mau kemana?"


"Mau ketemu Clara, sayang. Aku mau kamu ikut temenin aku."


"Lah, harus muter lagi dong. Aku aja yang ke kantor, biar nggak bolak balik."


Aldi terkekeh. "Oke, suruh antar pak Mun aja, hati-hati yah."


"Iya mas."


Setelah sambungan telepon berakhir, Aldi lekas membereskan pekerjaannya.


30 menit kemudian pintu ruangannya terbuka, tanpa diketuk. Terlihat Riska masuk, dengan dress coklat selutut polos dengan belt dipingang, dengan flaf shoes warna putih senada dengan tas selempangnya.


Aldi mendekat dan langsung mengaitkan tangannya dipingang sang istri, lalu sebuah kecupan dia sematkan didahi.


"Cepat banget yang sampainya." Ujar Aldi sambil menuntun istrinya untuk duduk disofa.


Riska mendudukkan pantatnya disofa bersebelahan dengan Aldi, suaminya. "Ya iyalah, mas. Cepat. Kan naik mobil, kalo jalan kaki pasti sekarang belum nyampe."


Aldi terkekeh mendengarnya, ada saja jawaban dari istrinya. "Ada-ada aja kamu ini."

__ADS_1


"Aku haus, mau ke pantri dulu yah. Kamu mau mas? Biar aku ambilin sekalian." Tanya Riska yang sudah berdiri.


Aldi berpikir sejenak, disana pasti ada Dodi, bahaya ini. Aldi ikut berdiri, "Aku temenin."


Riska menatap heran, namun tetap melangkah bersama Aldi ke pantri.


Tiba dipantri ada Dodi, Intan dan Jihan.


"Eh Pak bos dan Bu bos, perlu apa?" Tanya Intan


"Elah Pak, ke pantri aja harus barengan." Celetuk Jihan setengah bercanda.


"Iya, ini Riska pengen ambil minum. Tapi yah gitu, manja, maunya harus di temani suami katanya." Aldi lebih dulu menjawab.


Riska melotot pada Aldi. Apa katanya? Dia yang minta ditemani? Pikun ini suaminya, atau ada saraf yang kejepit.


"Ngomong apa---"


"Udah Yang, nggak usah malu gitu. Mereka juga ngerti. Pengantin baru kayak gimana." Aldi langsung memotong, ucapan Riska. Dia tau jika Riska ingin protes atas perkataannya.


"Masih anget-angetnya yah, Pak? Maklum lah kita, walau belum nikah. Iya nggak, Tan?" Jihan menimpali.


"Iya, pengennya nempel kayak perangko." Intan ikutan nimbrung.


Aldi hanya balas senyum tipis, lalu memeluk pinggang Riska. "Ayo sayang, minum gih, katanya haus tadi."


Riska mendengus, kemudian menuang air putih digelas, lalu meneguknya dengan cepat hingga tandas. Semua itu tak luput dari pandangan Aldi, Aldi menelan Salivanya, kasar. "Mati gue, setan betina mode on." Batinnya.


"Ayo sayang balik, katanya abis minum mau nerusin yang tadi? Belum ******* kan? Aku tau banget, nanti kamu marah-marah kalo belum tuntas." Ucap Riska pada Aldi dengan tatapan membunuh.


Riska balik menatap Jihan dan Intan. "Balik dulu yah, pengen ngobrol sama kalian berdua sebenarnya, lain kali aja yah? Kasihan pak bos kalian, kalo nggak tuntas takutnya sakit kepala. Bye ..." Sebelum berbalik Riska sengaja mengedipkan sebelah matanya.


Jihan dan Intan paham kode itu, Riska sengaja mengerjai suaminya. Sedang muka Aldi sudah merah padam.


Lalu bagaimana dengan Dodi yang sedari tadi diam, menyimak? Panas dingin dia, maklum belum move on.


Aldi dan Riska berjalan kembali ke ruangan Aldi.


"Kok ngomong gitu sih, Yang? Malu tau, Yang." Protes Aldi, cemberut.


"Siapa yang duluan tadi, hah?" Riska balas sedikit membentak.


"Bercanda doang, Yang. Cuma mau manasin sih Dodi aja." Bujuk Aldi dengan wajah memelas


"Ya udah, aku jalan bareng Dodi, mau bales manasin kamu juga."


Riska hampir berbalik namun langsung dicegah Aldi. "Eh- aku minta maaf deh Yang. Janji nggak ngulang lagi. Yah?"


Riska tersenyum dalam hati, senjata makan tuan. "Iya. Sekarang kita pergi aja ketemu Clara."


"Ayo, Yang."


Beberapa karyawan yang ada disana, terkikik geli melihat perdebatan bos dan istrinya itu.


Bersambung ...


See you next chapter, bye ...


...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote dan hadiah...

__ADS_1


...Agar lebih semangat menulis...


__ADS_2