Ternyata Jodohku

Ternyata Jodohku
Episode 72


__ADS_3

Selamat membaca 🌷🌷🌷


"Astaghfirullah .. Ya Allah, kak Sesil .."


Selly sampai syok mendengar penuturan Riska. Sungguh dia tidak tau apa-apa, dia tidak tau kasus apa yang diperbuat kakaknya tersebut, yang dia tau hanya kakaknya masuk penjara saja. Dia tidak percaya jika kakaknya bisa melakukan hal senekat itu. Lalu apa motifnya? Hal apa yang mendasari hingga Sesil sampai senekat itu?


Setelah memenangkan diri, dengan beberapa kali mengatur napas. Selly akhirnya kembali mengeluarkan suara.


"Kenapa sampai kak Sesil berbuat hal nekat seperti itu? Hal apa yang mendasarinya? Maaf jika pertanyaan saya ini menyinggung bahkan menyakiti perasaanmu. Saya hanya ingin tau jelasnya saja." Tanya Selly ingin tau.


Riska menatap Aldi lebih dulu seakan meminta kekuatan dari suaminya, dan dibalas Aldi dengan sebuah genggaman erat ditelapak tangannya. "Hm .. Begini, ini sebenarnya masalah keluarga kami. Namun jika kamu ingin tau, aku akan katakan garis besarnya saja." Selly menyimak.


"Mama mertua saya dulunya ingin menjodohkan Sesil dengan suami saya, namun karena suatu hal Aldi harus menikahiku. Mertua saya tidak setuju karena saya dari kalangan bawah, makanya dia tetap gencar mendekatkan Aldi dan Sesil. Mungkin dia merasa tidak terima karena Aldi selalu menolak kehadirannya, hingga akhirnya dia menyewa seseorang untuk menabrak saya. Aku selamat, tapi tidak dengan janin dalam kandunganku." Aldi langsung mendekap tubuh istrinya selesai bercerita, dia tau Riska sangat menahan sakit saat membeberkan fakta itu.


Selly tak langsung memberikan tanggapan. Dia masih diam, merasa tercengang mendengar fakta itu. Kenapa kakaknya bisa sejahat itu? Dia juga perempuan nanti dia pun akan menikah dan akan punya anak, sanggupkah dia jika hal itu berlaku padanya? Membayangkan saja Selly tak sanggup, apalagi jika dia yang merasakan sakit dan kesedihan itu.


Air matanya jatuh membasahi pipi, kedua tangannya dia satukan didepan wajah. "Selly mewakili kak Sesil dan keluarga memohon maaf yang sebesar-besarnya atas tindakan kak Sesil. Saya tau dengan permintaan maaf ini tidak akan bisa mengubah apapun, tak akan bisa mengembalikan apa yang sudah tiada, namun Selly harap setidaknya bisa sedikit mengurangi kesedihan Riska dan suami. "


"Untuk saat ini maaf, karena saya belum bisa memaafkan Sesil. Tapi saya nggak marah atau benci kamu kok." Ucap Riska.


Riska bukannya dendam. Bukan .. Dia hanya masih merasa kecewa dan sakit hati saja. Dia sudah ikhlas menerima semuanya, hanya rasa sakitnya masih terasa.


Bian parkirkan mobil yang dia kendarai didepan lobby perusahan. Aldi dan Riska turun, sedang ia masih harus mengantar calon istrinya ke hotel.


"Hati-hati, Yan. Ingat ada anak orang disamping kamu." Pinta Riska.


"Selly, nanti ketemu lagi yah. Kita bisa jadi teman nanti, jangan takut dulu." Canda Riska dengan senyum jail.


"Iya Ris. Enggak kok. Ngapain takut? Nggak gigit kan?" Selly lantas terkekeh dengan jawabannya sendiri.


"Katanya tadi takut telat. Ini malah asik bercanda berdua." Celetuk Bian.


"Aduhh .. Tuh kan hampir lupa. Aku pamit yah Ris, Pak Aldi."

__ADS_1


Selly melambaikan tangan saat mobil mulai keluar dari area perusahaan, dan Riska balas dengan hal yang sama sebelum ia dan Aldi masuk.


Tiba diruangan Aldi dan Riska duduk disofa.


"Mas, kamu ada perhatikan nggak sama tingkah sepupunya Revan?"


Aldi menaikan alisnya. "Kamu perhatikan pria lain, disaat sedang bersama suami kamu, Yang?" Tuduh Aldi


"Astaga bukan itu .. Kamu jangan berasumsi keliru begitu dong. Cemburuan banget sih. Maksud aku itu, sih Rafka sering curi lirik ke Clara. Naksir deh kayaknya." Riska sampai berdecak kesal dengan tuduhan Aldi.


Aldi mendekap tubuh Riska dari samping, dengan hidung dia gosokkan ke lengan kanan Riska. "Kirain kamu suka sama sih Rafka. Biarkan saja, toh Rafka tau bagaimana masa lalu Clara. Jika Rafka serius, dia harus mau menerima semua tentang Clara, masa lalu, anaknya, dan juga statusnya kelak."


Riska anggukan kepalanya. "Iya. Aku harap Clara akan mendapatkan pendamping yang tepat suatu saat nanti."


"Heum.. "


Yang tadinya hanya hidung kini berganti bib*r, yang tadinya dilengan kini berganti dileher. Tangan yang tadi memeluk kini mulai merayap masuk lewat bagian bawah dress yang dikenakan Riska. Rema**n lembut digunung kembarnya, tak kuasa membuat Riska mele***h.


Bibir Aldi mulai menjelajah turun ke leher, lalu lebih turun ke bawah ke daerah pengunungan. Kedua tangannya menyusup ke belakang, mencari cela untuk melepaskan penutup gunung kesukaan Aldi, namun lekas dihalangi.


"Masshh .. Jangan, nanti ada yang masuk." Cegah Riska dengan napas tersengal.


Aldi lekas berdiri dan mengunci pintu, tak mau ada yang menganggu apalagi menghalangi jalan ninjanya.


Aldi kembali melancarkan aksinya namun lagi-lagi ditahan oleh Riska. "Mas ini dikantor lho, nanti aja dirumah."


"1 ronde aja pliss .. Nggak tahan, Yang." Bujuk Aldi dengan puppies eye.


Riska tak mampu menolak dan hanya bisa mengangguk.


Menerima lampu hijau, Aldi lekas melaju. Bahkan kini pakaian mereka sudah tergeletak dilantai. Riska bahkan sudah beberapa kali meng***ng.


Aldi yang akan mulai ke intinya lagi-lagi ditahan istrinya. Ingin rasanya Aldi berteriak.

__ADS_1


"Masshh, nggak dikamar aja?" Aldi mulai gusar mendengar bantahan istrinya, bagaimana tidak? Has**tnya sudah di ubun-ubun.


Aldi mengeleng. "Nggak Sayang, disofa aja. Kita butuh suasana baru."


Lekas Aldi terkam istrinya yang banyak protes itu. Dan leng***n, des***n terdengar bersahutan. Dan ditutup dengan eran**n panjang.


Bian yang akan masuk ke ruangan Aldi, akhirnya mengurungkan niatnya setelah mendengar suara lak**t dari dalam.


"Bos gila! Bisa-bisanya dia en*-en* dijam tanggung begini, mana suaranya kedengaran lagi sampe luar. Besok harus gue usulkan buat masang perendam suara. Bisa tercemar otak gue, dan langsung nikahin Selly tanpa dilamar." Umpatan Bian sebelum melenggang pergi.


Dan akhirnya, perkataan lelaki kadang tak bisa dipercaya. Buktinya Aldi! Yang janjinya hanya 1 ronde, kini berubah jadi 2 ronde. Yang katanya ingin mencari suasana baru bosan jika dikamar terus, akhirnya menutup dengan ronde kedua yang dia lakukan dalam kamar pribadinya. Aiss .. Dasar tidak bisa dipercaya!


"Makasih Sayang .. I love you .." Ucap Aldi setelah menyemburkan calon anaknya yg kedua kali.


Dia elus perut rata istrinya. "Cepat hadir yah Sayang .. Mama sama Papa udah nggak sabar."


Cup!


Cup!


Aldi sematkan kec**an didahi dan juga pada perut istrinya, seakan sudah ada nyawa yang bersemayam disana.


Aldi rebahkan tubuhnya lalu memeluk Riska erat, membiarkan tubuh polos mereka berdua bergesek kan.


Dia lupakan segala macam berkas yang harus dikerjakan. Bahkan pakaian mereka masih tergeletak dilantai dingin.


Bersambung ...


See you next chapter, bye ..


...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote, dan hadiah...


...Agar lebih semangat menulis...

__ADS_1


__ADS_2