
Selamat membaca 🌷🌷🌷
.
.
Clara meminta untuk di turunkan didepan sebuah rumah yang berjarak 2 rumah, dari letak rumah suaminya. Dia sengaja, agar tidak dicurigai oleh Rian. Karena dia tidak bisa memastikan jika Rian sedang ada dikantor, atau dirumah saat ini.
"Makasih ya semua, aku permisi dulu." Pamit Clara, saat sudah turun dari mobil dengan anaknya dalam gendongan.
"Iya, sama-sama. Sudah sepatutnya kan sesama manusia, harus saling tolong menolong?" Jawab Riska, dan yang lain hanya mengangguk.
Clara mengangguk dengan senyum tipis. "Kalian hati-hati yah. Dadah dulu sama Tante dan Om nya sayang." Ajak Clara pada anaknya, Andro, sekaligus menggoyangkan tangan mungil Andro.
"Dadah antey, Om." Pamit Andro cadel.
"Dadah Andro, sampe ketemu lagi yah .." Balas Riska ikut melambaikan tangan.
"Kiss bye nya mana nak?" Tanya Clara sengaja menggoda Andro.
Andro dengan cepat menempelkan telapak tangan kanannya ke bibir, lalu melemparkan ke arah Riska. "Eumuaanh .."
"Ihh, gemes banget. Pengen punya satu kayak Andro deh." Tutur Riska dengan mata berbinar.
"Tenang sayang. Nanti kita buat juga kayak gitu." Sela Aldi.
Sesi pamitan selesai, namun mobil Aldi masih diam belum bergerak. Setelah Clara belok ke halaman rumahnya, barulah mobil mereka jalankan pelan.
"STOP!"
Aldi langsung mengentikan mobilnya, dan juga mobil Revan dibelakang ikut berhenti.
"Lihat itu." Tunjuk Riska pada Aldi ke teras rumah Clara, tepatnya didepan pintu utama.
Terlihat jika Rian suami Clara, tengah membentak sambil sesekali menapar bahkan menjambak Clara, didepan Andro yang tengah menangis di pelukan Clara.
Pandangan itu juga yang diperhatikan oleh Bian dan Revan dalam mobil.
"Wahh .. parah banget suaminya Clara. KDRT dia. Didepan anaknya lho itu, nggak takut apa jika nanti anaknya trauma? Psikisnya terganggu?" Bian dengan cepat merespon setelah melihat dengan tatapan iba, Clara yang sangat begitu tidak beruntung, memiliki suami yang temperamen.
Dengan cepat Riska mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Mengaktifkan perekam video. Menurunkan sedikit kaca mobil, agar kamera ponselnya bisa mendapatkan rekaman video itu. Itu bisa membantu Clara nanti, menjadi barang bukti tindak KDRT yang Rian lakukan.
Setelah Clara diseret masuk ke dalam rumah, Riska pun mematikan rekamannya. Setelah dicek kembali, gambarnya jelas.
"Jalan mas, aku udah dapat videonya. Ini bisa bantu Clara nanti."
__ADS_1
Aldi mengangguk, kemudian menjalankan kembali mobilnya disusul mobil Revan.
"Kenapa kamu baik banget sama Clara, Yang? Kamu nggak cemburu atau apa gitu? Secara dia itu kan mantan pacar aku, sekaligus orang yang susah aku lupakan dulu." Tanya Aldi membuka percakapan sambil menatap sekilas pada istrinya, lalu kembali menatap fokus ke depan.
"Jujur awalnya iya, aku cemburu. Secara dia mantan yang masih kamu harapkan, bahkan sampai kita sudah menikah dan sedang menantikan kehadiran anak kita. Tapi melihat respon dan sikap kamu tadi. Tidak ada salahnya kan, aku beri kamu kepercayaan? Tinggal kita lihat selanjutnya bagaimana, kamu bisa menjaganya atau sebaliknya." Jawab Riska bijak.
Yah, tidak ada seorang wanita, yang tidak akan cemburu jika suaminya bertemu dengan wanita lain, apalagi dia adalah mantan kekasihnya. Namun dia tidak mau menutup hatinya. Melihat sikap suaminy yang berusaha menjaga kepercayaan, menjaga perasaannya, jelas dia tersentuh.
"Makasih, Yang. Aku akan selalu berusaha menjaga kepercayaan yang kamu berikan. Aku akan berusaha untuk tidak pernah mengecewakan kamu. Aku janji, seterusnya, aku hanya akan menatap kamu, sebagai satu-satunya wanita saat aku membuka mata dan saat aku menutup mata."
"Hm, semoga kamu akan selalu mengingat janji kamu itu, saat ada wanita lain yang berusaha masuk diantara kita."
"Aku janji."
***
Diruangan kantor Aldi, sore hari.
Aldi, Riska, Bian dan Revan, tengah duduk disofa untuk berdiskusi.
"Gila yah, parah banget suaminya Clara tadi. Aku lihatnya, prihatin banget." Celetuk Bian.
"Eh, aku sempat video-in lho. Ini, coba lihat." Sambung Riska lalu menyerahkan ponselnya pada Aldi, Bian dan Revan bergantian.
"Pintar banget kamu, aku nggak kepikiran lho tadi." Sanjung Revan.
"Halah .. married by accident juga, bangga. Kalo nggak elu paksa skidipapap, juga nggak bakal Riska mau sama elu." Jawab Bian balas mengejek.
"Nggak usah ingetin masalah itu, nyet." Sentak Aldi melepar bantal ke wajah Bian.
"Wtf! Ada yang gue lewatin. Asal muasal Aldi bisa nikah sama Riska? Ada yang nggak gue tau?" Pekik Revan dengan tatapan menyelidik.
"Lu belum tau yah, Van? Sini gue bisikin. Takut mereka malu 2 kali." Ujar Bian kemudian membisikkan semua kejadian dari malam naas itu, sampai ke pernikahan.
Revan memberikan tatapan menggoda. "Parah lu, Al. Lamar kali Al kalo suka sama Riska. Bukan paksa buat tanam saham, duluan."
Riska tersipu malu, sedang Aldi tetap tenang dengan tatapan datar.
"Urusan di kamu apa? Gue tanam saham duluan, elu yang sewot." Balas Aldi.
"Ngebet banget pak buat ***-*** .." Ledek Revan.
"Namanya juga ***-***, jelas bikin nagih saking enaknya."
"Yan, yok balik. Takut tongkat sakti gue berdiri, mana nggak ada partnernya lagi."
__ADS_1
Revan langsung menarik Bian keluar. Sedang Aldi menertawakan mereka berdua.
***
"Halo" Sahut suara diseberang dengan lembut.
"Udah selesai? Aku udah didepan gerbang lho ini." Jawab Bian.
"Udah kok. Sebentar yah, udah jalan ke parkiran sekarang."
"Oke, aku tunggu dimobil."
Sabungan telepon diputus oleh Bian. Lalu menunggu beberapa menit, hingga kaca mobilnya diketuk dari luar.
Bian tersenyum menatap Selly yang masuk dan duduk di sampingnya.
"Lama nggak nunggunya?"
Bian mengeleng. " Enggak kok. Mau makan dulu atau mampir ke tempat lain? Atau langsung pulang aja?" Tanya Bian, yang mulai melajukan mobilnya keluar halaman sekolah SMA BINA BANGSA.
"Kamu laper yah?" Tanya Selly sambil tersenyum simpul.
"Sebenarnya iya, tapi pengen ada yang nemenin makan." Ucap Bian sambil mengangguk tengkuknya.
"Hm, mampir aja. Nanti aku temenin makannya."
"Oke, let's go .." Balas Bian semangat.
Bian sangat bahagia, setelah lebih dari sebulan pendekatan hanya lewat chatting dan telepon. Hari ini dia ada peningkatan, Selly mau dia ajak makan siang tadi, lalu sekarang selly mau dia antarkan pulang.
Bian menepihkan mobilnya disebuah rumah makan pinggir jalan.
"Makan ditempat kayak gini, nggak apa-apa?" Tanya Bian sebelum melepas sabuk pengaman.
Selly mengeleng."Nggak kok. Emangnya kenapa?" Selly tutup dengan senyum tipis diakhir kalimatnya.
"Aku pikir kamu bakalan nolak, karena bukan direstoran mewah." Jawab Bian jujur.
"Aku nggak kayak gitu. Yang penting makanan cocok sama lidah aku, aku nggak pernah keberatan kok. Ayo .." Selly mulai melepaskan sabuk pengamannya. Lalu keluar dari mobil, tanpa menunggu Bian membukakan.
'Nggak salah aku milih perempuan. Mudah-mudahan kita jodoh.' Bian membatin lalu ikut menyusul Selly keluar dari mobil.
Bersambung ...
See you next chapter, bye ...
__ADS_1
...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote, dan hadiah...
...Agar lebih semangat menulis...