
Selamat membaca 🌷🌷🌷
Dalam perjalanan ke rumah Riska hanya ditemani kesunyian, tidak ada yang bersuara. Baik Aldi maupun Riska sama-sama bungkam, tengelam dalam pikiran masing-masing.
Sesekali Aldi menengok ke arah Riska, memperhatikan wanita di sampingnya itu. Wanita itu hanya menunduk pandangannya atau pun menatap jalanan melalui jendela. Saat wanita itu masuk ke dalam mobil dengan mata berkaca-kaca.
Mobil yang dikendarai Aldi tiba didepan rumah sederhana Riska. Aldi membuka setbelt hendak keluar, namun dia urungkan ketika wanita disampingnya hanya melamun tak menyadari jika mobil sudah berhenti.
" Riska.. " Aldi mengeritkan keningnya tak mendapati respon
" Hei.. Riska.. hei.. " Panggil Aldi sekali lagi
" Eh iya pak " Riska tersadar dari lamunannya
" Udah sampe yah pak? " Tanya Riska sembari membuka setbelt nya.
" Makasih yah pak, saya masuk dulu " Pamit Riska membuka pintu mobil hendak keluar.
Namun langkah kaki Riska yang baru akan mengayun ke tanah terhenti ketika lengannya kanannya dicekal. Riska menoleh dan mendapati Aldi lah yang mencekal lengannya.
" Ada apa? " Riska bertanya dengan datar
" Eum- tidak. Pergilah " Aldi langsung melepaskan cekalannya
Aldi sebenarnya sedikit penasaran dengan tingkah Riska yang menurutnya sedikit aneh semenjak keluar dari rumahnya. namun Aldi urungkan, ketika melihat wajah lelah Riska.
Setelah mobil Aldi melesat dari depan rumahnya, barulah Riska masuk. Membersihkan diri lalu duduk di ranjangnya, menatap lurus kedepan menerawang.
Flashback..
" Baiklah karena semua sudah sepakat, lebih baik kita beristirahat karena sudah larut. Riska menginap saja yah tidur dikamar tamu? sudah larut soalnya " Ajakan Raka kepada calon menantu nya
" Makasih om, tapi nggak usah om. Riska pulang aja masih jam sembilan kok " Tolak Riska halus
" Ya sudah, Aldi antar Riska pulang yah? "
__ADS_1
" Iya Pa " Aldi berdiri mengambil kunci mobil
Mereka semua mengantarkan Riska ke depan. Namun Aldi meminta Riska menunggu sebentar Karena dia harus mengeluarkan mobilnya dari garasi.
" Ma, Pa, kak Riska.. Renata ke kamar duluan yah " Pamit Renata
dering telepon berbunyi dari saku Raka, lalu Raka pun pamit mengangkat panggilan telepon nya. Tinggallah Riska dan Elsa.
Elsa menarik lengan Riska kasar hingga mereka saling berhadapan.
" Heh perempuan murahan. Ingat yah sampai kapanpun saya tidak akan pernah menerima kamu sebagai menantu ku. Camkan itu ! dasar miskin. " Hinaan Elsa tanpa memperdulikan perasaan Riska
Riska mengigit bibirnya kuat guna menghalau air mata nya yang hendak menetes, mendengar hinaan calon ibu mertuanya.
" Dasar tidak tau diri, kamu sengaja kan mengoda anak saya? Rela ditiduri agar bisa hidup mewah, dasar murahan. kenapa diam? jangan sok polos kamu ! "
Riska tetap diam, tak menyahuti hinaan yang keluar dari mulut Elsa.
" Ingat yah, kamu tidak akan pernah hidup tenang selama menikah dengan Aldi. Aku akan ciptakan neraka, hingga kamu sendiri yang akan meminta mengakhirinya. Dasar parasit ! "
...****************...
Air mata Riska menetes, namun tak ada niatan untuk menyekanya. Dia tetap terdiam menatap kedepan.
" Aku juga tak pernah menginginkan semua ini terjadi, aku juga menginginkan menikah dengan orang yang juga mencintaiku. Bukan aku yang meminta untuk dihamili. Aku yang diperkosa, direngut kesuciannya, tapi mengapa aku yang disalahkan? apa salahku ? Salahkah aku yang terlahir miskin? Bukan aku yang menginginkan, tapi Tuhan lah yang menakdirkan. Aku yang hanya ciptaannya tak pantas untuk mengeluh, hanya harus berusaha menjalani. Apa karena mereka kaya raya? memiliki kekuasaan? sehingga mereka benar? Terkadang aku merasa hidup tidak adil. Kita akan selalu disalahkan, dihina, dituduh hanya karena kita miskin. Namun jika orang berduit, salah pun akan dibenarkan, bahkan keadilan saja dapat dibeli. " Riska mengeluarkan isi hatinya dengan air mata yang tetap menetes, seakan ikut menemani kesedihannya.
Riska membaringkan tubuhnya, memejamkan mata memaksakan kantuknya datang.
Riska terbangun saat masih pukul 5 pagi, akibat rasa mual yang menderanya. Riska berlari keluar kamar sambil membekap mulutnya menuju kamar mandi yang berada di dapur.
Huek.. huek..
Riska mencuci mulutnya setelah mengeluarkan muntahannya dan rasa mualnya mereda. Lalu bersiap berangkat kerja meski badannya sedikit tidak nyaman.
...****************...
__ADS_1
Tiba di kantor Riska masih duduk dipantri, mengistirahatkan tubuhnya sebentar lalu akan mulai bekerja.
" Kenapa lu loyo banget? kayak baru selesai malam pertama aja " Candaan intan
" Itu mulut pengen banget cepokin sepatu yah " Riska melirik sinis sambil memegang sepatunya
" Ih sans aja dong Ris, cuma becanda doang juga " Intan mengerucutkan bibirnya
" Siapa juga yang beneran. Malas banget sepatu kesayangan gue ini nyentuh bibir lemes elu "
" Anj*rr lu Ris.. Yuk Ris mulai kerja, nanti dimarahin pak bos lagi "
Mereka melangkah bersama setelah Riska mengangguk. Riska dengan sapu dan kain lap ditangannya dan Intan dengan alat pel, berjalan sambil bercanda.
" Riska udah sarapan? " Cegat Raka yang berpapasan dengan mereka
" U-udah Om Eh- pak " Riska gugup setengah mati apalagi ada Intan disampingnya
" Ya sudah, hati-hati yah kerjanya " Raka kemudian berlalu setelah berucap
" I-iya pak "
Setelah Raka tak terlihat, Riska panik menarik tangan intan. " A-yo Ntan "
" Eh, Ris lu kenal dekat yah sama pak Raka? kayaknya perhatian banget sama lu " Tanya Intan penasaran
" E-nggak kok. Kan aku udah bilang, aku aja baru tau kemarin kalo itu pak Raka " Elak Riska
" Oh gitu " Intan manggut-manggut mengiyakan
"Aku harus bicara sama pak Aldi, takut nanti yang lain curiga " Batin Riska
...JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK LIKE DAN VOTE, SEBAGAI DUKUNGAN BAGI PENULIS....
...TERIMA KASIH...
__ADS_1