
Selamat membaca 🌷🌷🌷
Dua bulan berlalu sejak kejadian antara Riska dan Aldi, kini usia kehamilan Riska sudah memasuki Minggu ke 13. perutnya mulai terlihat menonjol, namun jika pergi bekerja Riska selalu memakai legging dengan kaus longgar agar tak ada yang curiga. Mual pun mulai berkurang, hanya kambuh jika mencium bau tertentu.
Bagaimana hubungannya dengan Aldi? Semenjak kejadian itu mereka nampak canggung. Namun Riska tetap menjalankan tugasnya sebagai istri, menyiapkan segala keperluan suaminya.
Lalu bagaimana dengan hubungan Riska dengan Elsa, ibu mertuanya? Masih tetap sama. Elsa tak pernah menganggap Riska sebagai menantunya, karena derajat mereka yang begitu jauh. Hanya didepan Aldi atau Raka dan Renata saja, Elsa bersikap bak mertua yang amat menyayangi menantunya. Namun, jika hanya mereka berdua Elsa akan menunjukkan kebenciannya terhadap Riska bahkan didepan teman arisannya.
***
Riska duduk dipantri dengan tatapan kosong kedepan, menitihkan air mata mengingat kejadian yang dialaminya kemarin. Berusaha tegar, tak lemah jika didepan mertuanya. Meski sebenarnya dia amat sakit akan perlakuan ibu mertuanya tersebut, namun jika dia menunjukkan kelemahannya mertuanya pasti akan lebih menjatuhkannya.
Flashback..
"*Pa ini kan weekend, mama rencananya mau ajak Riska ke mall jalan-jalan. Bolehkan? biar lebih dekat sama mantu." Ujar Elsa sambil memeluk lengan Raka
"Boleh kok. Bolehkan Al? Raka menatap Aldi di depannya
"Boleh" Singkat Aldi
Riska datang membawa nampan dengan 2 cangkir kopi dari dapur, lalu meletakkan masing-masing didepan Aldi dan Raka papa mertuanya.
"Ris, ganti baju gih temenin Mama ke mall." Riska menatap tak percaya ke arah Elsa. Seakan bertanya, apa saya tidak salah dengar?
"Ih malah bengong lagi, sana cepat ganti baju Mama tunggu." Perkataan Elsa menyentak Riska kembali dalam kesadaran
"Iya Ma" Riska bergegas naik menuju kamar untuk berganti pakaian.
Elsa memperhatikan Riska dengan tatapan penuh kebencian, namun tak ada yang menyadarinya karena Aldi yang sibuk menatap handphone dan Raka yang konsentrasi membaca koran di tangannya.
Tak lama Riska turun dengan rambut panjang yang tergerai indah, dress putih tanpa lengan dengan motif bunga-bunga berwarna kuning dipadukan dengan cardingan oversize berwarna mustard dan kaki yang dipakaikan sepatu flatshoes berwarna putih dan Sling bag berwarna coklat.
__ADS_1
"Ma, Riska udah siap." Ucap Riska yang sudah berdiri disamping Elsa
Pandangan menilai Elsa menyapu dari atas kepala sampai kaki Riska, Lumayan lah penampilannya, setidaknya nggak malu-maluin. Batin Elsa
Dan juga Aldi yang sedari tadi mencuri pandang menatap Riska, namun tak disadari yang lain. Bininya makin cantik aja ye kan? batinnya.
Apakah benih-benih cinta mulai bersemi dihati pak suami?
Elsa dan Riska berangkat ke mall di antarkan oleh supir, tiba di mall Elsa berjalan lebih dahulu dan diikuti Riska dari belakang. Tiba-tiba mertuanya berhenti terlihat menempelkan handphone nya ke telinga, menelepon seseorang. "Kamu di sebelah mana sayang? Tante udah dilobbi sekarang."
Kemudian mertuanya melambaikan tangan ke arah restoran disisi kanan, kemudian terlihat seorang gadis berjalan sumingrah kearah kami lalu cipika cipiki dengan mertuanya. Siapa lagi jika bukan sih calon pelakor.
Sesil menatap sinis ke arahku. "Kok Tante ajak dia sih?" Sesil menunjuk ke arahku.
Elsa terkekeh sinis. "Sengaja, biar ada yang bawahin belanjaan." Lanjut mertuanya
Dan benar saja, apa yang dikatakan Elsa. Dia lah yang membawakan semua belanjaan, dan mereka berjalan melenggang santai tanpa beban.
Selesai belanja Sesil mengajak Elsa makan siang di restoran yang berada dilantai 2. Elsa tak mengizinkan Riksa duduk bersama, sehingga mau tak mau Riska duduk dimeja disamping mereka.
"Dia itu sebenarnya istri Aldi, tapi kamu nggak perlu kawatir yah sayang. Tante pastikan Aldi akan menceraikan dia kok, Aldi menikahinya karena dia sedang hamil anak Aldi dan desakan Papanya saja kok. Kamu tetap yang akan jadi mantu Tante, mana mau Tante punya mantu miskin kayak dia." Itulah yang terucap dari mulut Elsa sebagai jawaban, senyum Sesil langsung merekah mendengarnya.
Hatiku bak diremas tangan tak kasat mata, sangat menyakitkan. Berusaha berpura pura tak mendengar, dan tetap melanjutkan makanan yang seketika terasa hambar*.
Flashback end..
Riska dengan cepat menyeka air matanya, keluar dari lamunannya oleh panggilan dari Jihan. Berusaha menampilkan senyum, namun dapat Jihan tangkap kesedihan yang tersirat dari matanya.
"Dipanggil suami ke ruangannya, bawain kopi katanya." Ujar Jihan balas tersenyum menguatkan
Riska hanya mengangguk, membuat kopi lalu meletakkan di nampan kemudian mengantarkan.
__ADS_1
Citra langsung membukakan pintu untuk Riska, karena dialah yang menyuruh Jihan tadi. Riska berjalan mendekat meja Aldi, Aldi yang menyadarinya mendongak menatap Riska.
Baru saja meletakkan cangkir dimeja, terdengar suara gaduh diluar kemudian pintu terbuka dengan kasar.
"Maaf pak. Saya sudah melarang dan mengatakan bapak sedang tak bisa diganggu, namun nona ini memaksa masuk." Terang Citra menunduk
Aldi menatap datar tamu tak di undangnya. "Tidak apa-apa, kamu boleh keluar." Citra langsung keluar setelahnya
"Karena ada dia sampai kamu nggak bisa diganggu?" Dengan tak sopan Sesil bertanya
"Kenapa memangnya? Ini kantor saya, terserah saya." Aldi menatap jengah
Riska menatap datar Sesil, Si ulat keket muncul, baru juga ketemu kemarin udah nongol sekarang. Batinnya
"Cantikan juga gue kemana-mana Al, body juga oke-an gue." Sesil mengibaskan rambutnya
"Kalo saya maunya dia, anda mau apa? Iya kan sayang? Nanti makan siang bareng yah?" Aldi memberikan senyuman kepada Riska.
"I-iya sayang" Riska gugup melihat senyum menawan Aldi
"Halah Al, gue tau kok kamu nikahin dia hanya karena sekedar tanggung jawab aja kan? nggak lebih? jadi nggak usah drama." Potong Sesil geram
"Sayang anak kita pengen dielus Papanya nih." Ucap Riska manja membuat drama. Bisa masuk nominasi aktris terbaik sepertinya.
Aldi mengelus pelan perut Riska. "Ya ampun anak Papa, baru juga semalam Papa jenguk kok sekarang udah kangen sih? Atau Mama yang lagi kangen?" Ucap Aldi lalu mengerling nakal mengoda Riska
"Ih sayang apaan sih, malu tau. Kalau pengen gimana?" Riska menepuk pelan pundak Aldi sambil tersenyum malu
Keberadaan Sesil seperti tak dihiraukan oleh dua orang di depannya. Hati Sesil mendidih bak penonton melihat drama suami istri di depannya. Tak tahan lagi, Sesil keluar sambil menghentakkan kakinya tanpa sepatah katapun. Inikah yang Mamanya Aldi katakan hanya sekedar tanggung jawab? Dia tidak bodoh yang tidak tau maksud dari perkataan Aldi yang menjenguk bayinya. Aldi Bangs*t!!
Setelah bantingan pintu dari Sesil, Aldi dan Riska sontak tertawa bersama karena berhasil mengusir si ulat keket centil.
__ADS_1
***Bersambung....
See you next chapter, bye***..