
Selamat membaca 🌷🌷🌷
.
.
.
" Kamu kan Ma yang makan brownies, Riska?"
Mendengar pertanyaan Raka Elsa mengehentikan aktivitas membersihkan wajahnya, berganti diam menatap cermin dihadapan nya.
"Enggak Pa."
"Nggak usah ngelak Ma, jujur aja." Desak Raka.
"I-iya .. Mama ngaku, Mama yang makan tadi. Rasanya juga biasa aja kok." Elsa kembali mengambil kapas dan menuangkan toner lalu menggosokkan wajahnya.
"Biasa aja tapi ludes tak bersisa." Raka mengejek.
"Mama cuma makan satu potong Pa, nggak tau lainnya ilang ke mana."
"Masa iya setan yang makan .. "
"Tau ah, Papa nyebelin. Mama mau tidur!"
Elsa lekas beranjak naik ke ranjang, tidur membelakangi Raka. Sedang Raka hanya mengangkat bahunya acuh.
***
Cahaya matahari memasuki sela jendela, sedang sepasang suami istri masih asik menutup mata dengan keadaan sang suami mendekap perut istrinya.
Enghhh ..
Riska bangun lebih dulu, ingin turun untuk buang air namun merasa ada yang mencekalnya. Di turunkan padangannya ke bawah, tangan suaminya lah yang tengah memeluknya dari belakang.
Di pindahkan secara perlahan tangan suaminya, takut jika nanti terbangun. Baru saja memakai sendal, sebuah pelukan posesif dia terima lagi.
"Mau kemana?" Riska menahan nafas mendengar bisikan sensual suaminya ditelinga.
"Ba-bangun, kan udah pagi." Jawab Riska gugup
Aldi kembali membaringkan tubuh istrinya lalu memeluk dengan kepala istrinya tengelam didada nya. "Masih jam setengah enam, kenapa buru-buru sih lagian ini kan weekend?" Tanyanya
"Mau bantuin bibi buat sarapan."
"Nggak usah, kamu temenin aku aja." Riska Sampai bergidik geli, mendengar bisikin suaminya tepat ditelinga nya.
Aldi merenggangkan pelukannya, menatap manik mata istrinya. Dengan tangan mengelus bahu istrinya yang tertutup piyama. "Kangen sih dedek, Yang. Boleh yah nengokin?" Tanya Aldi dengan tatapan sayu menahan sesuatu.
Baru saja Riska membuka mulut menjawab, Aldi langsung menutupnya dengan lu****an kecil, sesekali menggigit pelan bib*r istrinya. Riska tak kuasa menolak, dia pun ikut terbawah hingga mulai mengikuti permainan manja suaminya itu.
Bunyi dec*pan terdengar, Aldi membalikkan tubuh istrinya hingga terlentang kemudian naik keatas tubuh istrinya tanpa melepas tautan bibir mereka.
Dan selanjutnya adegan tengok menengok sang dedek..
Riska duduk dimeja rias tengah mengeringkan rambutnya dengan mulut komat kamit mengerutu.
"Kenapa sih, Yang? Kok bibirnya komat kamit kayak lagi baca mantra?" Aldi mendekat setelah meletakkan handuk kecil habis mengeringkan rambutnya.
"Tau ah, males ngomong!" Balas Riska dengan ketus.
"Yah udah maaf, lagian kamu juga mau kan tadi?" Aldi berusaha membela diri. Mengambil handuk di tangan istrinya, kemudian membatu istrinya mengeringkan rambut.
__ADS_1
"Kamu lihat itu" ---- Tunjuk Riska ke jam diatas meja. "Jam 7 kan?" Jawab Aldi polos.
"Gara-gara kamu minta nambah satu ronde, akhirnya telatkan sarapannya." Riska menatap tajam suaminya lewat pantulan cermin.
"Ya udah, maaf yah?"
"Hm"
Meski dengan wajah cemberut Riska menjawab dengan deheman.
***
Saat masuk ke ruang makan, semua keluarga sudah duduk tinggal Aldi dan Riska saja yang baru bergabung.
"Basah .. basah .. basah .. seluruh tubuh .. Ahh .. ahh.. mandi wajib .. Haha" Renata bersenandung kemudian tertawa mengejek kakak dan kakak iparnya yang datang terlambat dengan rambut basah.
Riska menunduk malu, sedang Aldi datar seperti biasa.
"Kenapa pengen mandi wajib juga? Nikah sana!" Balasan Aldi dengan ketus.
"Nggak!" Interupsi Renata lantang.
"Sudah-sudah, kapan sarapannya kalo kalian berdua masih debat?" Raka melerainya.
"Tapi ..."
"Re, stop! Sekarang sarapan." Elsa langsung menyela protes dari sih bungsu.
Akhirnya sarapan yang sudah terlambat itu pun dimulai, hingga selesai tak ada yang membuka suara.
Riska membantu membereskan peralatan bekas sarapan, dibantu bibi dan Renata.
"Kak, nanti jadikan bikin brownies nya?"
"Sama Rere, ya? Ajarin."
"Oke."
Setelah sepakat akan membuat brownies lagi dan bahan lainnya sudah tidak lengkap, akhirnya mereka keluar menuju super market untuk belanja bahan kue. Riska, Renata dan Aldi ikut mengantar, takut terjadi sesuatu pada istrinya yang sedang hamil.
Aldi bertugas mendorong troli, sedang Riska dan Renata bertugas memilih bahan.
"Re, ambil terigu samping kamu itu."
"Yang warna apa kak?"
"Biru aja"
"Oke."
Riska mengecek bahan, apakah sudah lengkap atau belum.
"Terigu, cokelat, telur .. Oke sisa susu yang kurang."
Akhirnya berbelok ke arah rak susu, setelah lengkap mereka menuju ke kasir untuk membayar.
"Kalian berdua tunggu disini aja, aku ambil mobil dulu." Riska dan Renata mengangguk.
Sedang diseberang jalan dibawah pohon, seorang wanita dalam mobil berwarna kuning tengah mengintai dari kejauhan. Menatap geram kedua orang yang sedang bercengkrama didepan toko.
Mobil yang dikemudikan Aldi mulai bergabung dengan kendaraan lain, tak mereka sadari jika dibelakang mereka ada mobil yang mengikuti berjarak dua mobil. Hingga mobil memasuki gerbang rumah, dan berhenti diteras tak ada yang mengetahui.
"Belum sekarang, berbahagia dulu. Tunggu tanggal mainnya." Gumam wanita itu kemudian melajukan mobilnya dari kediaman Narendra.
__ADS_1
Riska di bantu Renata mulai berkecimpung dengan tepung dan bahan lainnya. Aldi bersama Raka dan Elsa duduk dikursi ruang makan, hanya memperhatikan. Hingga satu jam kemudian kue nya dikeluarkan dari oven.
3 loyang brownies, diletakkan dipiring. 1 piring di berikan Riksa kepada bibi dan penjaga pos, dan 2 piring untuk mereka sekeluarga.
"Tadah ... ini dia brownies by chef Renata." Renata membawa 1 piring brownies kemudian meletakkan dimeja makan. Diikuti Riska yang membawa 1 piring lagi.
"Halah .. Cuma bagian megang mixer doang aja bangga .." Cibir Aldi
"Pa, kak Aldi nih .." Renata mengaduh
"Udah Al, jangan ganggu adik kamu."
"Silakan Pa, Ma di cicipi, mudah-mudahan sesuai sama selera." Riska menyela
"Kok yang diajak cuma Mama sama Papa aja, aku enggak?"
"Ya udah, kamu juga gih cicipi."
"Nggak! harus sama kayak tadi."
"Otw bucin." Ledek Renata menyelah.
"Silakan mas, di cicipi. " Riska mengalah.
"Yuk, Yang. duduk samping aku sini." Aldi mendudukkan Riska di sampingnya.
Mereka pun menyatap kue di temani teh, mengingat waktu yang mulai sore. Dengan malas, Elsa ikut makan juga.
***
Esok harinya, setelah sarapan. Elsa mengajak Riksa untuk berbelanja. Entah tulus atau ada maksud lain.
"Al, Mama mau ajak Riska jalan. Boleh kan?"
"Kemana? Aldi anterin."
"Nggak usah, cuma jalan ke mall dekat aja kok."
"Tapi Ma .."
"Ris, mau kan?"
"Iya Ma." Riska tak mampu menolak. Meski dalam hati dia tau, pasti ada yang direncanakan mertuanya.
Setelah berganti pakaian, keduanya mulai masuk ke mobil yang nanti akan dikemudikan oleh Elsa.
"Ingat, jangan sampai kecapekan."
"Iya, mas."
Mobil pun mulai keluar gerbang rumah berbelok ke arah kanan. Tak jauh dari mobil mereka, ada mobil lain yang mengikuti dari jarak cukup jauh.
"Ini waktunya, bye perempuan murahan. Aldi im coming honey. Haha"
Bersambung ...
Maaf kemarin nggak bisa update, lagi sakit soalnya.
See you next chapter, bye..
...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote dan hadiah....
...Agar lebih semangat menulis...
__ADS_1