
Selamat membaca 🌷🌷🌷
.
Aldi merenggut. Dia tatap Bian dan Revan dengan tatapan tajam. "Gue sumpain nggak punya jodoh, baru tau rasa lu berdua." Protes Aldi.
"Eh-, Gue udah punya calon kali .." Sela Bian.
"Siapa?"
Tanya Riska, Aldi dan Revan bersamaan.
"Ada, gurunya adek gue. Entar gue kenalin, kalo memang cocok." Jawab Bian sambil mengaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Wih .. Tinggal gue doang dong ini yang jones." Sambung Revan.
"Cepatan cari .. jangan nanti dikira kamu belok lagi, ck'." Ledek Aldi.
"Udah! Ini lho panggil kita kesini mau ngeledek, atau apa?" Sela Revan. Dia bosan jika kedua teman tenggilnya ini akan mulai meledek.
"Ohiya .. Tuhkan, hampir lupa. Ini sih Clara katanya mau minta dibantu buat pisah sama suaminya .." Aldi sampai menepuk dahinya.
"Keluhannya apa? Dan lho nggak ada maksud buat deketin Aldi lagi kan? Secara lho duluan hubungin dia, minta bantuan." Selidik Bian dengan mata memicing. Dia mulai antisipasi, dia tak ingin Aldi kembali terperangkap di masa lalunya. Secara sekarang Aldi sudah memiliki pawang.
Clara tersentak mendengar kalimat yang Bian lontarkan. Jujur dia masih berharap pada Aldi, namun dia juga sadar, kesalahan yang pernah dia buat begitu fatal.
"Enggak kok .. Aku cuma mau minta tolong aja. Karena jujur, aku nggak bisa minta bantuan kepada keluargaku. Mereka nggak akan peduli, walau aku dijadikan pelac*r, yang mereka pentingkan hanya uang." Jelas Clara lirih. Selama ini hanya mengikuti perintah orang tuanya. Mereka dengan sengaja menjualnya kepada Rian suaminya. Hanya demi uang. Bahkan dia harus merelakan Aldi, yang dia cintai, karena perintah orang tuanya. Dia selama ini hanya seperti boneka dan mesin pencetak uang bagi orang tuanya.
"Lalu alasan kamu ingin bercerai apa?" Revan menimpali.
"Ck' .. Gue pernah lihat Clara diseret suaminya direstoran. Laki dia bej*t banget." Bian langsung menyela, dia ikut geram mengingat kejadian yang dia lihat direstoran tempo hari. Jujur dia kasihan dengan Clara.
"Benar kata Bian, Rian itu pria bej*t, brengs*k. Dia tega nyuruh gue Laya*i para koleganya, agar bisa dapat tender. Tukang selingkuh, bukan sekali juga dia bawah jal**g dia ke rumah. Aku udah nggak sanggup, harus bertahan sama dia." Lanjut Clara bercerita, dengan air mata yang mulai menetes ke pipinya.
Riska yang ada disamping Clara, sedari tadi dia mendengar curhatan Clara, dia ikut bersimpati, hatinya juga ikut pilu. Dia juga wanita, sangat sakit jika mendapat perlakuan seperti yang Clara dapati.
Riska menarik bangkunya semakin dekat dengan Clara. Tangan kirinya dia rangkulkan ke pundak Clara. "Sabar yah ... Kamu perempuan hebat .. Bisa melalui semuanya sendiri, kamu ingin berhenti bukan karena kamu lemah, tapi setiap kesabaran ada batasnya. Sabar yah .." Ujar Riska sambil mengelus pundak Clara, memberikan kekuatan dan dukungan. Clara sudah melewati masa yang berat, dia sekarang membutuhkan sandaran, tempat berbagi keluh kesah, yang selama ini tidak bisa dia dapatkan dari keluarganya.
__ADS_1
'Aku nggak salah pilih pendamping, Riska perempuan yang tepat. Aku beruntung, sangat beruntung.' Batin Aldi, berbangga akan sikap Riska istrinya.
'Jika istri Aldi sebaik ini, mana tega aku menyakitinya, dengan merebut Aldi kembali. Aku nggak sejahat itu .. ' Sesal Clara dalam hati, yang sempat berpikir ingin memiliki Aldi kembali.
"Hikss ... Makasih yah, Aldi beruntung mempunyai istri seperti kamu." Balas Clara kemudian memeluk Riska, menumpahkan tangisnya dipundak Riska. Nyaman ..
"Sabar yah ... Kamu sebenarnya perempuan baik, hanya keadaan lah yang membuat kamu terlihat buruk." Hanya kata sabar yang mampu Riska ucapkan, semoga dukungannya bisa menguatkan Clara. Dan sapuan dipundak Clara, bisa memberikan rasa nyaman.
"Clara .." panggil Revan.
Clara melepas pelukannya, lalu berputar menatap Revan dengan tangan menyeka air mata.
"Aku akan bantu kamu, aku punya sepupu pengacara. Nanti aku bantu kamu bertemu dia. Dan untuk sementara waktu, sambil menunggu gugatan, lebih baik kamu mulai mengumpulkan bukti." Lanjut Revan memberikan saran.
"Aku punya bukti dia sering KDRT." Sentak Clara cepat.
"Ada dipunggung aku. Aku bisa perlihatkan kepada Riska." Sambung Clara lagi.
Clara pun menurunkan sedikit bajunnya, kebetulan dia memakai baju dengan kerah longgar.
"Astaghfirullah ...." Jerit Riska sampai membekap mulutnya dengan telapak tangan. Dia kaget melihat memar dipunggung Clara, memar merah kebiruan.
"Beneran ada, mas. Memarnya bahkan sudah merah kebiruan." Ujar Riska setelah melepas pelukannya pada Clara.
"Bagaimana kalau setelah ini kita visum ke rumah sakit. Itu bisa jadi bukti kuat nanti." Bian memberikan saran.
"Tapi sebelum ke rumah sakit, boleh mampir sebentar ke rumah mbok Nunu? aku mau ambil anakku yang aku titip tadi." Tanya Clara pelan.
"Boleh kok. Sekarang aja kita berangkat." Ujar Aldi.
"Iya, ayo Clara." Balas Riska lalu menuntun Clara berdiri.
"Ya sudah, kalian duluan aja. Aku mau ke kasir dulu." Sela Aldi.
Riska berjalan sambil merangkul Clara, disusul Bian dan Raka dibelakang.
"Yaelah, Van. Belum juga pesan apa-apa, minum aja kagak, udah pergi lagi." Misuh Bian kepada Revan.
__ADS_1
"Iya. Nasib kita berdua memang selalu apes."
***
Clara memilih satu mobil dengan Revan dan Bian, Bian sengaja meninggalkan mobilnya, karena sudah menelepon sopir kantor mengambilnya. Sedang Aldi berdua dengan Riska di mobilnya.
Mereka pun Mampir disebuah rumah sederhana, di perkampungan. Clara masuk ke dalam, tak lama dia keluar dengan anak laki-laki di pelukannya, dan seorang ibu yang sudah sepuh.
"Clara pamit yah mbok, makasih sudah jagain Andro. Clara pamit dulu, mbok." Pamit Clara sebelum masuk kembali ke mobil.
Lalu mereka mulai menuju rumah sakit.
Tiba dirumah sakit, mereka mendaftar. Dan hanya Riska yang masuk menemani Clara didalam ruangan. Yang lain menunggu diluar, sambil menjaga Andro, putra Clara.
Hampir 1 jam mereka menunggu hingga hasilnya keluar. Tak lupa Riska mengambil gambar memar Clara, dari ponselnya.
"Ini hasilnya. Dari pemeriksaan terdapat memar bekas pukulan." Ujar dokter, sambil menyerahkan berkas hasil visum lengkap.
"Terima kasih dok." Riska mengambil hasilnya, tak lupa mengucapkan terima kasih.
"Ya sudah. Hasilnya visumnya sudah ada, biar hasilnya aku simpan, biar nanti langsung aku serahkan ke sepupuku. Sekarang kita antar Clara dan anaknya pulang. Nanti kita ketemu lagi, sekalian kita ketemuan sama sepupuku." Ujar Revan memberikan solusi.
"Oke, setuju." Sahut Aldi.
Yang lain mengganguk.
"Jangan lupa, tetap cari bukti. Apalagi bukti perselingkuhan suami kamu, siapa tau dia bawah jala*gnya lagi ke rumah." Sela Bian mengingatkan.
"Iya"
Mereka pun mulai bergegas pulang, namun mereka harus mengantar Clara pulang ke rumah suaminya lebih dulu.
Bersambung ...
See you next chapter, bye ....
...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote dan hadiah...
__ADS_1
...Agar lebih semangat menulis...