
Selamat membaca 🌷🌷🌷
.
.
Mobil pun mulai keluar gerbang rumah berbelok ke arah kanan. Tak jauh dari mobil mereka, ada mobil lain yang mengikuti dari jarak cukup jauh.
"Ini waktunya, bye perempuan murahan. Aldi im coming honey. Haha"
Tiba diparkiran Riska dan Elsa sudah disambut oleh Sesil, sudah Riska duga sebelumnya. Tak mungkin jika hanya mereka berdua, mertuanya pasti sudah merencanakannya.
"Hai Tan, muachh .." Elsa langsung disambut dengan cipika cipiki dari Sesil ketika keluar dari dalam mobil, yang katanya calon menantu idamannya.
"Hai, sayang. Sudah lama nunggunya?" Elsa langsung mengapit lengan Sesil kemudian berjalan beriringan, tanpa menunggu Riska. Elsa berhenti ketika tak mendapati suara langkah dibelakangnya. Lekas dia berbalik dengan tatapan tajam, "Kenapa diam disitu, hah? Dasar tak berguna, entah apa yang ada dipikiran suami serta putraku sehingga mudah tertipu oleh tingkah polosmu itu, dengan gampangnya mereka membawah mu masuk kedalam keluarga kami." Elsa menjeda.
Melihat Riska yang juga tak bergeming ditempatnya, Elsa berang. "Kenapa masih diam disitu, hah? Cepat kemari, kau lupa tugas mu jika kami belanja? Apa harus ku tarik paksa dulu, heh?" Jeritnya kemudian terkekeh diakhir kalimatnya, dan Sesil memberikan senyuman mengejek.
Dengan menahan sesak di dadanya, Riska berjalan perlahan mendekati mertuanya. "Sabar Riska, mungkin belum sekarang mama Elsa menerima mu, semua akan indah pada waktunya. Dan untuk sang pelakor, selama suaminya mendukungnya, jangan Sesil .. seluruh Sesil didunia ini akan dia hadapi, tak ada dia biarkan mereka merebut ayah anaknya. Tidak akan!" Batinnya.
Seperti yang sebelumnya, Riska bagai pembantu yang menenteng semua belanjaan ibu mertua serta calon perebut ayah bayinya. Kakinya sudah pegal, haus dan lapar. Sudah 3 jam mereka berkeliling, masuk keluar masuk outlet.
"Tan, kita makan di restoran depan mall aja yah. Kata teman aku, makanan disana enak-enak." Selesai berucap, Sesil mengeluarkan senyum sulit diartikan.
"Boleh deh, apa yang kamu rekomendasi pasti bagus, selera kita kan sama. Ber-ke-las .." Balas Elsa dengan menekan kata terakhirnya, seakan menyindir status sosialnya dengan sang menantu tak dianggapnya.
"Iya, dong. Ayo Tan."
Sesil mengandeng tangan Elsa berjalan didepan, tanpa menghiraukan Riska dibelakang mereka yang sedang kesusahan menenteng beberapa kantong belanja.
Tiba didepan jalan raya, Sesil berhenti tiba-tiba.
"Tan, sebentar ya .. Sesil lupa, tadi bawah kue buat makan bersama Tante. Sesil ambil dulu yah dimobil." Sesil berucap dengan wajah memelas.
"Baik banget sih kamu, Tante tunggu disini yah." Sesil mengangguk dan berjalan ke dekat mobilnya yang tak jauh dari tempat berdirinya Riska dan Elsa.
Sesil mengambil ponsel dari dalam tasnya dan mendial nomor seseorang. Sambil terus memperhatikan gerak Elsa dan Riska.
"Kau dimana, bodoh?" Ucap Sesil setelah Sabungan telpon terangkat.
"..............."
"Bagus, ingat jangan sampai gagal." Sesil tersenyum setelah mendengar jawaban diseberang telepon, dan langsung mematikan sambungan sepihak.
"It's show time." Gumamnya menatap kearah Riska.
***
__ADS_1
Seorang wanita dengan tatapan tajam, menatap targetnya yang berjarak 10 meter dari tempat dia memarkirkan mobilnya.
"Sudah aku katakan bukan, semua kerikil yang menghalangi jalanku mendapatkan Aldi akan aku singkirkan."Monolognya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Sekali tepuk, dua lalat mati. Haha ..." wanita itu menjeda kalimatnya, memperagakan seperti sedang menepuk lalat dan meniupnya lalu tertawa.
"... Kasihan sekali bayi itu, belum melihat dunia tapi harus kembali ke neraka. Aku baikkan? Tak membiarkannya melihat dunia yang kejam ini? Haha .." Lanjutannya kemudian tertawa.
Tawanya terhenti berganti dengan umpatan akibat ponselnya bergetar.
"****! si lon*e ternyata." Umpatnya setelah melihat nama pemanggil.
"Halo .."
"............"
"Aku sudah stand by disini dari tadi, kau yang lelet beg*k."
"..........."
"Dasar breng**k!!" Makiannya setelah Sabungan diputuskan sepihak. "Setelah si murah*n itu mati, setelah itu giliran kamu lon*e." Lanjutnya sambil meremas ponsel dalam genggamannya.
***
"Kamu duluan saja ke restoran, saya mau ke toko samping restoran sebentar."
Ketika akan melangkah menyebrang, ponselnya berbunyi. Riska berhenti untuk mengakat telepon.
Sedang diseberang dikediaman Narendra tepatnya.
PRANG!!!
"Kak, kak Aldi kenapa? Ada yang luka nggak?" Renata mendekat setelah mendengar suara pecahan kaca.
"Nggak, perasaan kakak jadi nggak enak."
"Biar bibi yang berisikan, kakak ikut aku." Renata menuntun Aldi duduk dikursi meja makan. Lalu pergi mengambil kotak obat.
Ingin menuntaskan rasa tak nyamannya, Aldi lekas mengambil ponsel disaku nya dan mendial nomor istrinya.
"Hallo mas .." Aldi lega mendengar suara istrinya.
"Masih di mall? kapan pulang?"
"Ini lagi mau nyebrang ke restoran didepan mall, mau makan siang disana. Mas, udah makan siang?"
"Udah bar---- MAMAAAA!!!!!!!!!" Ucapan Aldi terhenti akibat teriakan dari seberang telepon.
__ADS_1
BRAKKK!!!!!
Aldi langsung berdiri dari duduknya. Nafas Aldi tercekat ditengorokan, nadinya seakan terhenti mendengar suara benturan diseberang telepon.
"PAPAAA .. PA.. RENATA ..."
Teriak Aldi seperti orang kesetanan, dengan gemetar dia mencari kunci mobilnya.
"Ada apa, Aldi? kenapa teriak?" Raka bertanya lebih dulu setelah setengah berlari dari kolam ikan samping rumah.
"Kenapa kak?" Renata juga menimpali dengan menenteng kotak obat.
"Mama dan Riska kecelakaan .." Ucap Aldi lirih dan langsung berlari keluar dengan kunci mobil ditangannya.
Raka dan Renata yang sama panik, juga langsung ikut menyusul Aldi masuk ke mobil, yang akan di kemudikan Aldi.
Dengan kecepatan diatas rata-rata Aldi mengemudikan mobilnya, hingga hanya sepuluh menit mereka tiba didepan mall.
Dengan cepat mereka bertiga berlari ke arah kerumunan, terdapat darah yang tercecer dijalan, namun Riska dan Elsa tidak ada.
"B-bu, korban kecelakaan disini sekarang dimana?" Tanya Aldi dengan terbata kepada seorang ibu ditempat kejadian, berusaha menguatkan dirinya setelah melihat ada darah tercecer.
"Sudah dibawah ke rumah sakit Husada mas."
Mendengar jawaban si ibu, lekas mereka bertiga berlari masuk ke mobil, dan melajukan mobilnya ke rumah sakit.
15 menit kemudian mereka tiba, Aldi memarkirkan mobilnya dengan asal lalu semua keluar bergegas masuk ke dalam rumah sakit, namun sebelum Aldi menyerahkan kunci mobil kepada satpam untuk diparkiran ulang.
"Sus, korban kecelakaan depan mall Mega, diruangan mana?" Raka lebih dulu bertanya.
"Di ruangan IGD pak, dilorong kanan, bapak lurus aja terus belok kanan lagi." Ujar suster menunjuk dengan gerakan tangan.
Setelah mendapat jawaban, lekas mereka bertiga berlari dengan panik dan tatapan cemas.
Ketika bebelok ke lorong, yang bertuliskan IGD diatasnya, terlihat Elsa dengan yang sedang duduk dikursi tunggu dengan keadaan kacau sambil menunduk.
"Ma, apa yang terjadi?" Aldi bertanya dengan cemas setelah tiba didepan sang ibu, dan diikuti Raka dan Renata.
Elsa mendongak dengan tetesan air mata. "Al .. Ri-Riska Al ... Salah Mama .. ini salah mama .. Al .. Maafkan Mama, Al .." Elsa menangis histeris dan langsung didekap oleh Raka.
Bersambung ...
.
See you next chapter, bye ...
...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote dan hadiah...
__ADS_1
...Agar lebih semangat menulis...