
Selamat membaca 🌷🌷🌷
.
.
Aldi dan Bian menatap jijik pada Siska, bagaimana tidak dia berlaku bagai jal**g yang sangat menginginkan sentuhan.
Siska tengah meliuk-liukan tubuhnya diatas ranjang, walaupun kedua tangannya diikat di pinggir ranjang.
"Sayang ayok ... Aku udah siap lho .." Ucap Siska dengan suara dibuat sedikit mend***h.
'Wah sinting ini perempuan' Batin Bian menatap jijik pada Siska.
"Udah nggak tahan banget yah, sayang? Cih' .." Balas Aldi sedikit mengejek.
'Maaf aku Riska sayang, aku cuma sayang kamu. Ini cuma akting doang, sungguh.' Ucap Aldi dalam hati memohon maaf kepada sang istri.
"Ayo sini Aldi sayang .. "
"Yan, panggil orang suruhan kamu. Dia udah nggak tahan katanya." Ujar Aldi dengan senyum smirknya.
"Siap bos!" Balas Bian lalu keluar dari kamar, selang beberapa menit Bian masuk dengan 2 orang berbadan tegap.
2 orang itu menatap Siska penuh minat dan tatapan lapar, tubuh Siska yang sintal dan sedang meliuk di atas kasur.
"Ayo Yan keluar. Biarkan mereka bersenang-senang dulu, kasihan Siska udah nggak tahan." Ajak Aldi dan di angguki Bian, keduanya langsung keluar dari kamar.
Tak lama kemudian terdengar suara teriakan dan jeritan dalam kamar itu. Sedang Aldi dan Bian duduk disofa ruang tamu apartemen.
1 jam kemudian kedua orang suruhan Bian keluar dari kamar, dengan tubuh berkeringat. Melihat keduanya keluar, Aldi dan Bian ganti masuk kedalam kamar.
Terlihat Siska yang acak-acakan, sorot mata ketakutan, dan tubuh gemetar. Jujur Aldi kasihan melihatnya, namun mengingat hampir 3 nyawa yang hilang akibat ulah Siska, syukurlah Mama serta istrinya selamat.
"Aldi breng**k .."
"Hikss .. Aku minta maaf .."
"Aku kotor, Aldi nggak akan suka lagi .."
"Ha .. Ha .. aku sengaja nabrak dia.."
"Aku cemburu .. Aku benci dia yang dapatkan kamu .."
Kalimat demi kalimat lirih yang diucapkan Siska, jiwanya mulai terguncang sepertinya. Kadang menangis, tertawa lalu kemudian mengumpat.
__ADS_1
"Yan, bawah dia ke rumah sakit jiwa, dan ingat bayar orang untuk jaga dia 24 jam, jangan sampai dia kabur." Perintah Aldi, dan langsung dilakukan oleh Bian dan anak buahnya. Sedang Aldi langsung bergegas kembali ke kantor, karena sebentar lagi jam makan siang.
Hampir 30 menit Aldi mengemudikan mobilnya membela jalanan, jarak kantor dan apartemen lumayan jauh. Aldi lekas memarkirkan mobilnya diparkiran khusus petinggi perusahan, lalu masuk menuju ruangannya.
Aldi membanting tubuhnya kesofa, dia sangat lelah banyak sekali masalah beberapa Minggu ini.
***
Riska selesai memasak, capcay dan udang asam manis masih berada dalam wajan.
"Wah .. Baunya enak banget. Kamu yang masak, nak?" Sahut Elsa yang baru tiba bersama Raka dari cek kesehatan. Mereka langsung masuk ke dapur karena bau wangi masakan Riska.
"Iya, Ma, Pa. Mau makan siang sekarang? biar Riksa siapkan." Balas Riska
"Mama mau pergi sama Papa ke kantor, ini cuma mampir ngambil berkas Papa yang ketinggalan." Jelas Elsa kemudian diam terlihat memikirkan sesuatu.
"Eh, gimana kamu ikut juga ke kantor? Makanannya kamu masukan ke rantang, nanti kita makan bareng diruangan Aldi. Gimana?" Lanjut Elsa bertanya.
"Iya, kamu ikut aja sekalian makan siang bareng nanti." Sela Raka menimpali ajakan istrinya.
"Iya Ma, Pa, Riska siapkan dulu yah."
Setelah itu Elsa dan Raka masuk ke kamar mereka, Riska lekas memindahkan makanannya ke dalam kotak makan. Setelah siap dengan makanan, Riska bergegas pergi ke kamar untuk berganti pakaian. Tak mungkin dia pakai pakaian yang sudah ada bawah rempah.
Setelah semua siap, Riska, Elsa dan Raka langsung bergegas pergi ke perusahan dengan mobil yang kendarai supir. Raka duduk samping sopir, dan Elsa serta Riska duduk dikursi belakang.
Raka berjalan lebih dulu, dan dibelakangnya Elsa berjalan dengan mengandeng Riska yang menenteng tas bekal. Semua mata karyawan tak lepas dari ketiganya, wajar banyak karyawan yang berlalu lalang, karena sudah jam makan siang.
Sapaan para karyawan terdengar sampai mereka memasuki lift. Riska tau banyak karyawan yang menantap tak suka padanya, namun tak bisa berbuat apa-apa.
Ting!
Pintu lift terbuka dilantai tempat ruangan Aldi dan Raka berada. Mereka bertiga langsung menuju ke arah ruangan Aldi.
"Cit, Aldi ada didalam?" Raka bertanya lebih dulu kepada sekertaris Aldi.
"Ada, Pak. Silakan masuk Pak, Bu." Citra dengan cekatan langsung membukakan pintu.
Ceklek
Aldi langsung menoleh ke arah pintu, setelah mendengar pintunya terbuka. Senyuman langsung mengembang melihat sang mood booster datang mengunjunginya.
"Kok tumben rame-rame kesini?" Ucap Aldi langsung berdiri dan menghampiri istri serta orang tuanya.
"Iya, kita makan siang bareng, Riska yang masak lho ini. Kamu belum makan siang kan, Al?" Elsa yang langsung menjawab dengan semangat.
__ADS_1
"Belum kok, aku suruh Citra ambilkan piring dulu, sebentar." Aldi lekas memanggil Citra melalui interkom, dan langsung mengatakan perintahnya.
Riska langsung mengeluarkan kotak makan dari tas, dan membukanya. Langsung saja aroma sedap masakannya menyeruak di Indra penciuman.
"Wih, Enak nih kayaknya. Jadi lapar kan."
"Bian mana? Sekalian aja, ajak makan bareng." Riska yang sedari tadi diam, akhirnya membuka suara.
"Dia lagi ada kerjaan diluar, paling bentar juga balik." Jawab Aldi.
Tok .. Tok ..
"Masuk aja." Elsa yang menyahut lebih dulu.
"Ini pak, piring sama sendoknya." Riska yang menunduk menata makanan, langsung mendongak mendengar suara yang sangat dia kenali.
"Jihan .. " Pekik Riska dengan sumingrah.
"Ya ampun Riska .. Eh- maaf, maksud saya Bu Riska." Balas Jihan bahkan hampir memeluk Riska, namun langsung tersadar jika bukan hanya mereka berdua dalam ruangan ini.
"Santai aja, nggak usah formal begitu." Aldi menyahut setelah melihat kecanggungan Jihan, biar bagaimanapun Jihan banyak membantu Riska selama ini.
Jihan tersenyum canggung, lalu mengosok tangannya ke celana panjangnya.
"Ayo, makan siang bareng kami." Ajak Raka kemudian.
Jihan spontan langsung menggoyangkan telapak tangannya. "Nggak usah Pak, terima kasih." Jihan mulai mengambil ancang-ancang untuk kabur, sebelum tangannya langsung di cekal.
"Jangan sungkan, ayo makan bareng." Elsa berucap setelah mencekal tangan Jihan, lalu langsung mendudukan Jihan disofa single berhadapan dengan Raka.
Mau tidak mau, Jihan ikut duduk, tak mampu lagi untuk menolak.
Riska menyerahkan piring pada mertuanya lalu Jihan, dia kemudian melayani suaminya lebih dulu, menyendokkan nasi serta lauk ke piring lalu menyerahkan kepada Aldi.
"Makasih sayang." Ucap Aldi yang duduk disamping Riska, setelah menerima piring pemberian istrinya.
'Makasih sayang'
OMG Batin Jihan meronta-ronta mendengarnya, Pak Aldi yang datar bisa berucap semanis itu?
Wah jago banget Riska, singa aja bisa tunduk sama dia. Ujarnya dalam hati
Bersambung ..
See you next chapter, bye ..
__ADS_1
...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote dan hadiah...
...Agar lebih semangat menulis...