
Selamat membaca 🌷🌷🌷
"Tambah lagi Yang, jeruk nipis sama sambalnya." Pinta Aldi yang sedang duduk bersandar diheadboard tempat tidur, tengah menyantap soto ayam dengan disuapi Riska.
Riska berdecak kesal, "Astaga Mas! Ini udah banyak banget jeruk nipisnya, nanti makin asem. Trus lihat, ini warna kuahnya udah mulai merah, masa mau nambah sambel lagi? Masih pagi lho ini, nanti mules." Protes Riska.
"Dikit aja, Yang. Lagi suka makanan yang asem sama pedas, ini!" Bujuk Aldi dengan mata puppies eye's nya.
Riska pasrah. Dia ikuti keinginan Aldi, dia tambahkan lagi perasan jeruk nipis dan sesendok sambal lagi.
Tok .. Tok ...
"Masuk aja Ma, nggak dikunci kok." Jawab Riska, dia yakin jika Elsa mertuanya yang mengetuk pintu.
Dan benar saja, Elsa melangkah masuk dengan raut wajah khawatir, dan di sampingnya ada seorang dokter muda kurang lebih seumuran dengan Aldi.
"Bisa sakit juga kamu, Al?" Ledek Adrian. Adrian teman kuliah Aldi, namun Aldi cenderung lebih dekat dengan Bian.
"Emang Lu pikir gue apaan, sampe nggak bisa sakit, hah? Tuhan?"
"Ck! Lagi sakit aja bisa ngegas, gimana coba kalo sehat. Nabrak pasti!" Adrian abaikan ocehan Aldi, sudah biasa! Dia keluarkan peralatan medisnya, mulai dari alat tensimeter, stetoskop, dan lain-lain.
"Eh, ada adik ipar yah?" Celetuk Adrian lagi ketika menyadari keberadaan Riska yang berdiri disamping tempat tidur, dengan tangan memegang mangkuk.
Aldi melotot, jiwa cemburuannya muncul, peringatan bahaya berdering!
"Heh? Tujuan Lu kesini mau periksa, atau godain bini orang? Mau jadi pebinor Lu, hah?" Sentak Aldi dengan kesal.
"Mau periksa lah, masa mau ngamen! Lagian cemburuan amat sih! Siapa juga mau godain, cuma mau kenalan juga."
"Keluhannya apa aja?" Tanya Adrian sambil memasangkan alat tensimeter ditangan Aldi.
"Badan lemas, sering banget mual, sering pusing juga. Bukan gejala sakit yang fatal kan? Belum mau mati kan?" Jawab Aldi dengan was-was.
Andrian tak langsung menjawab, dia ganti pasang stetoskop lalu memeriksa bagian dada dan perut Aldi, lalu dia ambil termometer dia masukan ke mulut Aldi.
Adrian mulai paham sakit Aldi, dia tersenyum lalu mengambil sesuatu dalam tasnya.
"Namanya siapa, istrinya lelaki cemburuan?" Tanya Adrian kepada Riska, Riska hampir menyemburkan tawanya mendengar kata bernada sindiran dari Adrian.
__ADS_1
"Riska, panggil Riska saja." Aldi tak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa menyaksikan saja, mulutnya masih disumpal termometer.
"Riska tolong tampung air kemih kamu dalam wadah kecil, lalu pakai alat ini. Nanti cara pakainya baca aja." Adrian serahkan alat tes kehamilan pada Riska. Elsa mulai tersenyum, sepertinya akan ada kabar bahagia setelah ini. Pikirnya!
***
Beberapa hari belakangan ini Bian sangat sibuk. Bian kini sibuk ambil alih tugas Aldi, mulai dari proposal, berkas masuk dan banyak lagi. Apalagi pagi ini, dia mendapatkan kabar dari Riska, jika Aldi sakit dan tidak bisa masuk kantor. Namun sebagai bawahan, ia hanya bisa menjalankan tugasnya.
Drttt ..
Bian tinggalkan sementara berkas-berkas penting itu. Panggilan yang masuk saat ini juga tak kalah penting. Ini menyangkut kelangsungan hidupnya.
"Iya, Mbak Nina, ada apa?"
"Selamat pagi, Pak Bian. Maaf mengganggu, kami ingin tanyakan ulang soal bunga untuk dekorasi panggungnya, Pak. Pakai bunga apa, Pak?" Tanya Nina, EO yang dia pilih untuk acara tunangannya dengan Selly.
Dia sangat ingat dengan dekorasi impian yang pernah Selly ucapkan, "Pakai bunga Lily putih Mbak. Semua serba putih Mbak, sesuai keinginan calon istri saya."
"Baik Pak. Terima kasih atas waktunya, selamat pagi."
Bian tersenyum, dia bahagia! Tak lama lagi dia akan melepas masa lajangnya. Dia akan menapaki biduk rumah tangga, dengan wanita yang dia cintai dan juga mencintainya.
Dia mendial nomor calon istrinya.
"Assalamualaikum, Mas." Sapaan suara lembut nan syahdu diseberang telepon.
"Walaikumsalam. Sayang lagi apa? Kangen nih." Padahal tadi pagi mereka baru bertemu saat bian menjemput Selly, dan hanya selang 2 jam Bian sudah kangen? Bucin!
"Apaan sih, Mas. Aku lagi ngajar ini, nanti aja teleponan lagi." Keluh Selly namun dengan wajah tersipu yang kentara. Astaga ada anak muridnya yang memperhatikan tingkahnya ini.
"Iya deh. Jangan lupa yah, Yang, nanti sore Mas jemput buat ambil gaun sama jas dibutik Tantenya Mira."
"Iya, Mas. Udah yah, assalamualaikum .."
"Walaikumsalam .."
***
Hari ini Clara sibuk mengatur ulang letak perabotan di rumahnya. Bukan rumahnya sebetulnya, tapi rumah Andro. Rumah yang diberikan oleh Rian, Papa Andro.
__ADS_1
Dia tatap ke halaman depan rumah, terlihat Rafka tengah bermain bola dengan Andro. Andro nampak sangat bahagia, terbukti beberapa kali dia tertawa lepas. Lalu pandangannya jatuh pada Rafka yang kini tengah menjaga gawang.
"Apakah dia tidak kerja? Masih punya pekerjaan kan dia? Kenapa santai begitu, masih pagi sudah bertamu dirumah orang." Clara mengelengkan kepala. Dia pergi ke dapur membuat jus jeruk, tak lupa dengan kripik pisang yang dia beli di supermarket.
"Berenti dulu, minum dulu gih, pasti haus kan?" Ucap Clara setengah berteriak.
Clara letakkan tuangkan jus ke dalam dua gelas yang sudah dia letakan sebelumnya diatas meja kecil diteras.
Rafka dan Andro lekas mengambil gelas masing-masing. Seakan berlomba siapa yang akan habis duluan.
"Minumnya pelan, Nak. Nggak ada yang minta kok."
Andro duluan habis, jelas karena gelasnya lebih kecil dari gelas Rafka.
"Andlo menang, Papi. Papi kalah." Ucap Andro dengan sumingrah sambil melompat kegirangan.
Clara melongo mendengar panggilan yang Andro sematkan pada Rafka. Kenapa sekarang sudah berbeda? Bukan kah biasanya Andro memanggil Rafka dengan sebutan paman? Apa yang sudah dia lewatkan?
Dia berikan tatapan tajam menyelidik pada Rafka. Rafka sampai tersedak melihatnya.
Uhuk!
"Kenapa lihatnya gitu?" Tanya Rafka dengan terbata.
"Mau jelaskan secara sukarela, atau dengan paksaan, hah?" Balas Clara menuntut jawaban.
Hufhh ....
Rafka mengatur nafasnya lebih dulu, lalu dia tatap lekat wajah Clara.
"Oke, aku jelasin!"
Bersambung ....
See you next chapter, bye ...
...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote, dan hadiah...
...Agar lebih semangat menulis...
__ADS_1