Ternyata Jodohku

Ternyata Jodohku
Episode 44


__ADS_3

Selamat membaca 🌷🌷🌷


Aldi mengaruk kepalanya, "Haiss ... dasar duo S, belum kelar sih Sesil muncul lagi sih Siska. Cocok banget buat duo, doi setan."


"Aldi fokus, kerja sekarang biar cepat pulang. Perlu mood booster ..." Lanjut Aldi bermonolog


Tok .. Tok ..


Mendengarnya, Aldi langsung mengizinkan tamunya masuk. Tamu harian tepatnya, karena dia yakin pasti Bian tamunya.


"Tuh kan .. nggak salah!" Batin Aldi


"Ada apa?"


"Gini, Al. Saya saranin kamu harus lebih berhati-hati, dari penglihatan aku nih yah .. Sih Siska terobsesi banget sama kamu. Nggak menutup kemungkinan dia bisa melakukan hal diluar nalar, untuk menghalalkan tujuannya." Bian menatap Aldi serius.


Aldi menyenderkan punggungnya, "Hm ... Apa yang kamu bilang ada benarnya, Yan. Ya, mungkin lebih baik sekarang aku harus lebih berhati-hati lagi. Aku sudah memberikan peringatan, tapi jika dia melakukan tindakan yang melebihi batas, aku nggak akan segan untuk memasukannya ke jeruji besi."


"Hm, baguslah. Dan harus kamu ingat Al, bisa saja dia mencelakai Riska, karena merasa Riska penghalang kebahagiaannya. Lebih baik mulai sekarang kamu harus mengawasi Riska, kamu lihat kan .. Hanya melihat kamu pulang bersama dengan Riska saja, dia bisa mendorongnya. Bagaimana jika sekarang, dia sudah mengetahui status kalian."


Dua orang sahabat, duduk bersama saling bertukar pikiran. Sama-sama duduk membantu mencari solusi.


"Iya, makasih Yan. Kamu sangat banyak membantu ku, kata terima kasih rasanya tak cukup." Ujar Aldi dengan senyum tulusnya


"Kamu lupa? Dalam persahabatan, tidak ada terima kasih, Al." Balas Bian menepuk dua kali pundak Aldi.


Aldi membalas tepukan Bian dengan merangkul pundaknya. Meski kadang tidak akur, saling mengejek, namun akan ada saatnya .. Dimana sahabat akan berubah menjadi keluarga, tempat kita berkeluh kesah.


***


Yang katanya berjanji akan pulang cepat, nyatanya harus ingkar. Aldi tiba dirumah pukul setengah tujuh malam, banyaknya berkas yang harus dia kerjakan dan juga masalah sih Siska yang terobsesi padanya membuat dia tak bisa memenuhi janjinya.

__ADS_1


Aldi membuka pintu kamar, didapati nya Riska sedang duduk disofa dengan wajah cemberut.


"Laki-laki yang dipegang itu buktinya, bukan janji." Sapaan dengan nada ketus Aldi terima dari sang istri.


Aldi mendekat dan duduk berjongkok didepan Riska dan mengengam kedua tangannya, "Maaf yang, kerjaan numpuk nggak bisa ditinggal ... Ini aja aku pulangnya, masih bawah berkas lain untuk dikerjakan di rumah, maaf yah?"


"Iya. " Sesingkat itu jawaban Riska, dan Aldi meringis mendengarnya.


"Aku mandi dulu yah, abis itu kita turun buat makan malam." Ucap Aldi lalu mulai berdiri.


Cup ...


Aldi menyempatkan memberikan satu kecupan didahi istrinya, sebelum berjalan masuk ke kamar mandi.


Setelah Aldi menghilang dibalik pintu, Riska memegang dahinya. Pipinya mengeluarkan seburat merah dipipi, Riska blushing.


Yang dicium dahinya, kenapa jantungnya yang dag dig dug seerr ... Seperti sedang maraton!


Menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya, kewajiban sekaligus mendapatkan bonus pahala nanti.


***


Dentingan sendok seperti Irama yang menemani makan malam di keluarga Narendra. Selesai makan, semua masih duduk dimeja makan termasuk Aldi dan Riska.


Selesai mengelap mulutnya dengan tisu Raka membuka percakapan. "Ris, gimana udah lebih enakan sekarang?"


Riska mengangguk "Sudah Pa" jawabnya


"Aldi sudah mengurus orang yang membuat Riska celaka, Pa." Sela Aldi


Riska tercengang, sedang Raka tersenyum tipis. "Putranya gerak cepat juga ternyata." Batin Raka

__ADS_1


"Baguslah ... Lakukanlah yang menurut kamu benar, Al." Sahut Raka


"Riska jangan dulu kerja, ikuti kata dokter untuk bedrest dulu beberapa hari." Lanjut Raka


"Iya, Pa." Riska tersenyum tulus, sosok Papa mertua namun serasa Ayah kandungnya.


"Yah .... Rere esok jadwalkan full sampe sore, pengen nemenin padahal." Timpal Renata lesu.


"Nggak apa-apa Re, kuliah aja yang rajin." Ucap Riska


Sedari tadi Elsa hanya menyimak, tak ikut nimbrung dalam obrolan hangat keluarganya. Dia lebih asik memikirkan segala rencana yang mungkin bisa dia jalankan besok.


Setelah selesai dengan obrolan keluarga, semua mulai bubar ke kamar masing-masing. Aldi ikut berbaring diranjang samping Riska.


Aldi mengelus perut Riska lembut, "Kapan jadwal periksa nya, yang?"


"Selasa Minggu depan."


"Nanti aku temenin. Pengen liat udah sebesar apa dia sekarang." Aldi mengadah menatap Riska.


Aldi menegakkan badannya, menatap Riska dengan tatapan yang sulit diartikan. "Ris, aku akan berusaha menjadi ayah yang baik ..." Aldi membuang napasnya kasar, " ..... Dan aku akan coba buka hati aku buat kamu, tapi .. jangan terlalu berharap, yah. Aku takut jika nanti kamu kecewa."


Setelah mengatakannya, Aldi menunduk. Jujur Riska mulai ada dihatinya, namun masih ada nama seseorang yang juga menetap disana. Saat ini dia masih bimbang. Menahan Riska dihatinya lalu menarik paksa seseorang itu dengan paksa? Atau Riska tak cukup kuat bertahan, hingga harus terhempas kalah oleh seseorang itu?


"Ternyata semua yang dia lakukan untuk anakku, bukan aku. Ternyata aku belum cukup berarti untuknya ... Lalu untuk apa semua yang dia lakukan? memberikan harapan lalu menghempaskan? Aldi, maaf ... aku masih punya hati ..." Batin Riska menangis


***Bersambung ....


See you next chapter, bye*** ..


...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote dan hadiah....

__ADS_1


...Terima kasih...


__ADS_2