
Selamat membaca 🌷🌷🌷
.
.
Tiba diluar ruangan.
"Ma jelaskan pada kami semua, sekarang! Jadi sikap baik Mama selama ini hanya sebuah topeng? Heh?"
Aldi langsung bertanya ke intinya, penasaran. Selama ini dia tidak pernah melihat mamanya bersikap tidak baik pada Riska, bahkan sering mengajak Riska keluar bersama.
Tak dia ketahui jika ada maksud lain dari ajakan Mamanya kepada sang istri. "Ma, tolong jelaskan semuanya .." Desak Aldi dengan suara lirih ketika Elsa tak kunjung memberikan penjelasan, hanya duduk menangis.
Elsa membuang nafas terlebih dahulu, kemudian dengan berlinang air mata dia jelaskan semuanya. Semuanya!
Ucapan kasar saat pertama kali Riska masuk ke rumah, bagaimana dia memperlakukan Riska didepan Sesil dan teman arisannya, bahkan apa yang dia dan Sesil lakukan ketika berbelanja, dan sampai kejadian sebelum kecelakaan.
"Maafkan Mama, Al. Sungguh Mama menyesal sekarang. Tolong maafkan Mama .." Elsa mengatupkan kedua telapak tangannya, memohon.
"Ma, Mama nggak pantas menilai istrinya Aldi seperti itu. Bukan Riska yang menggoda Aldi, tapi Aldi yang mabuk lalu memperkosanya. Aldi, harap ini bisa jadi pembelajaran buat mama. Tidak semua harus dinilai dari materi, status sosial, latar keluarganya. Riska perempuan baik, bukan berpura-pura baik. Aldi maafin Mama, tapi Aldi nggak mau bujuk Riska buat maafin Mama. Mama usaha sendiri, tunjukkan kalo Mama tulus menyesal dan mau memperbaiki." Tutur Aldi dengan menatap lekat mamanya.
"Mama, Papa sama Renata pulang aja, istirahat dirumah, biar Aldi aja yang jagain Riska." Lanjut Aldi
Ketiganya mengangguk, kemudian mulai akan berjalan namun berhenti karena ucapan Elsa.
"Al, Mama curiga Sesil ada kaitannya dengan kecelakaan ini."
"Itu sudah Bian selidiki, akan Aldi usut sampai tuntas."
Setelah mendengar ucapan Aldi, semuanya segera pulang, dan Aldi masuk kembali ke ruang rawat istrinya.
***
Tok .. Tok ...
Pintu depan terbuka. Seorang wanita paruh baya dengan tampilan modis mengerutkan keningnya.
"Cari siapa, Pak?"
"Kami dari kepolisian Polda Muara Karang membawa surat penangkapan terhadap Sesil Maheswari, Sesil Maheswari diduga kuat terlibat dalam kasus pembunuhan berencana terhadap saudari Riska Nadia. Mohon kerjasamanya, untuk tidak mempersulit prosesnya." Ujar salah seorang polisi diantara 3 orang polisi yang datang.
Diana yang tak lain adalah Mama dari Sesil tak kuat menahan bobot tubuhnya, untunglah dia berpegangan digagang pintu.
__ADS_1
"Ba-pak polisi tidak salah orang? Anak saya, anak baik-baik. Tidak mungkin melakukan kejahatan Pak." Diana berusaha membela putrinya.
"Bu, tolong kerjasamanya. Bisa ibu panggilkan? Kalo tidak, terpaksa kami harus mengeledah rumah ini." Tekan pak polisi.
Diana terdiam dalam kebingungan. Sedang para polisi sudah mulai geram dengan tindakan Diana, yang menghalangi tugas mereka. Tak mau membuang waktu, para polisi mulai memaksa masuk.
"JANGANNN .. ANAK SAYA BUKAN SEORANG PENJAHAT!!" Teriak Diana sambil merentangkan tangannya menghalangi pintu masuk.
"Ada apa ini ribut-ribut?" Sentak Seto suami Diana yang keluar.
"Pa .. i-ini-------"
Ucapan Diana langsung disela. "Maaf pak, kami dari kepolisian Muara Karang ingin menangkap saudari Sesil Maheswari. Dia diduga terlibat dengan kasus pembunuhan berencana. Dan ibu ini berusaha menghalangi tugas kami." Terang salah satu polisi.
"SESILLLL.... SESILLL...." Teriak Seto
"ADA APA SIH PA? KENAPA teriak-teriak ... " Sesil yang dari kamarnya balas berteriak, namun setelah tau siapa orang di depannya, kalimat terakhirnya langsung terucap pelan.
"Saudari Sesil, tolong ikut kami ke kantor untuk mengikuti penyelidikan. Anda diduga terlibat dalam kasus pembunuhan berencana kepada saudari Riska Nadia."
"ENGGAKKK... Pa .. Sesil nggak salah, Pa .. Ma, tolongin Sesil .."
Plak!!!
Seto langsung menampar pipi Sesil "Dasar anak tidak berguna. Di sekolahkan hingga keluar negeri, ini yang kamu pelajari, hah?" Tekannya penuh emosi.
2 orang polisi langsung masuk dan memegang kedua sisi tangan Sesil, namun Sesil berusaha berontak. "LEPAS... LEPASIN .. SESIL NGGAK SALAH .."
Karena Sesil tak henti berontak, polisi pun terpaksa memborgol kedua tangannya, kemudian menyeret keluar rumah lalu dimasukan ke dalam mobil.
"MA .. TOLONG SESIL, MA ... MA ...."
***
Di ruang rawat Riska.
Aldi tengah duduk lalu tertidur telungkup di ranjang yang Riska tempati. Merasa ada yang mengelus rambutnya, Aldi perlahan membuka mata, terbangun.
"Sayang, udah bangun?" Aldi mengambil tangan istrinya yang tadi digunakan untuk mengelus rambutnya.
Riska mengganguk, "Iya "
"Kok nggak bangunin aku sih?" Aldi mendengus.
__ADS_1
"Nggak tega, kamu tidurnya pulas banget sampai mendengkur tadi." Aldi terpaku karena Riska tersenyum tipis.
"Mana ada aku mendengkur?"
"Haiss ... Harusnya aku video-in tadi."
"Heh .." Sergah Aldi melotot dan Riska tertawa, kemudian kembali murung. "Al, anak kita udah pergi .." Lirihnya
"Udah yah, Ikhlaskan. Biar dia tenang yah, dia tau kok kalo Mama sama Papanya sayang sama dia." Aldi mengelus telapak tangan istrinya dengan ibu jari.
"Sekarang, anaknya udah nggak ada. Kamu nggak akan ceraikan aku kan, Al?" Riska menatap penuh harap.
"Enggak lah .. Masalah anak, bisa kita bikin lagi, aku jago dalam hal itu." Aldi mengerling nakal pada istrinya dan di balas jitakkan di dahinya.
"Itu sih maunya kamu aja, dasar mesum."
"Mesum ke istri sendiri, nggak ada yang larang."
Drtt .. Drtt ..
Ponsel Aldi dimeja bergetar, Aldi mengambil dan melihat siapa nama pemanggil.
"Yang, aku angkat telepon bentar yah?"
Riska mengganguk, Aldi pun berpindah keluar dari ruangan, dia tau pasti penting.
"Halo Yan, gimana?" Ucap Aldi setelah menepelkan ponselnya ke telinga.
"Sesil udah dibawah polisi, tapi .." Ujar Bian diseberang mengantungkan kalimatnya.
"Tapi apa?" Sentak Aldi tak sabar.
"Sih Siska kabur, Al."
"Brengs*k!!!" Umpat Aldi
" Tenang aja, orang kita lagi lacak dia. Kita pasti bisa menemukan Siska."
"Harus!! Pokoknya cari sampe dapat!" Tekan Aldi.
Bersambung ...
See you next chapter, bye..
__ADS_1
...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote dan hadiah...
...Agar lebih semangat menulis...