Ternyata Jodohku

Ternyata Jodohku
bab 88. kelahiran penerus keluarga Narendra


__ADS_3

Riska dengan perutnya yang sudah membesar, tengah merapikan beberapa pakaian bayi yang akan ia pisahkan untuk di bawah nanti saat akan melahirkan di rumah sakit. Riska sedang bahagia sekaligus was-was menunggu kehadiran buah hatinya. Perkiraan Dokter dua Minggu lagi ia akan melahirkan, dan kata dokter ia bisa melahirkan secara normal karena kandungannya tidak ada masalah juga dirinya sehat.


"Duhh .. lucu banget bajunya, kecil lagi .."


"Ini lagi, kaos kakinya lucu ada kepala gajahnya .. hihi .."


Riska bermonolog sambil terkikik geli mengelus perlengkapan bayinya. Sesaat kemudian netranya memindai seluruh ruangan yang sudah di siapkan untuk anaknya nanti. Dinding putih dengan dihiasi stiker bergambar bintang dan bulan, padahal bayinya nanti akan tidur di kamarnya dengan Aldi. Nanti sudah setahun baru akan ia tidurkan di kamar ini, namun mertua juga suaminya sudah merenovasi kamar samping menjadi kamar bayi yang di berikan pintu penghubung dengan kamar mereka.


"Padahal pas lahiran belum bisa duduk, apalagi main kuda-kudaan tapi opa nya sudah beli dari sekarang .. "


Riska terkekeh menggelengkan kepala melihat ke arah mainan kuda kayu yang masih di bungkus plastik. Salah, bukan masih di bungkus, tapi Riska lah yang meminta Aldi untuk membungkus ulang dengan plastik agar tidak kena debu.


Raka dan Elsa meminta agar nanti di panggil oma dan opa saja, menolak jika dipanggil kakek dan nenek karena belum tua sekali katanya. Sedangkan Renata maunya di panggil Mimi katanya. Kalau Aldi dan Riska sudah tentu mama dan papa, padahal Riska awalnya ingin dipanggil ayah dan ibu namun Aldi menolak.


"Aduh ..!!"


Riska yang berjalan membawa tas berisi pakaian bayi sontak berhenti, ia meringis sambil memegang perutnya. Tiba-tiba perutnya terasa sakit.


"Tenang yah, Shine, anak mama .."


Riska mengelus perutnya untuk mengurangi rasa sakit yang terasa, belum berpikir akan melahirkan sekarang karena perkiraan Dokter masih dua minggu lagi.


"Aww!! Aduhh ..!!"


Riska kembali meringis karena sakit itu kembali ia rasakan di perut bagian bawahnya. Riska mendadak mengeluarkan keringat dingin, sampai menjatuhkan tas yang ia pegang ke lantai, kemudian berjalan tertatih mendekati lemari mencari pegangan.


"Maaa ..!! Mamaaa ..!!"


Riska memanggil Elsa, mertuanya. Kemudian Riska sadar, Elsa tidak akan mendengar karena sedang berada di dapur. Riska tadi sempat meminta ingin makan onde-onde, yang ternyata ngidam terakhirnya.


"MAAA ..!!"


"MAMAAA ..!!"


"MAMAAA ..!!"


Elsa yang sedang membuat adonan onde-onde bersama bibi sama-sama terlonjak kaget mendengar teriakan Riska dari lantai atas.


"Non Riska, nyonya!" Seru bibi.


"Kayaknya mau melahirkan, cepat bi, ayo ke atas." Pekik Elsa panik.


Tanpa mencuci tangan lebih dulu, keduanya langsung berlari menuju asal teriakan.


"ASTAGA! KAMU MAU LAHIRAN SEKARANG!!"


Elsa langsung menjerit mendapati menantunya yang terlihat kesakitan berdiri dengan berpegangan pada gagang pintu lemari.


"Maa .. sakit ..!!" Riska bergumam merintih kesakitan.

__ADS_1


Elsa mendekat, "Masih kuat jalan, nak?" Riska mengangguk pelan, "kita turun ke bawah yah sekarang."


Elsa pelan memapah menantunya untuk turun ke lantai bawah. Tibanya di lantai bawah, Elsa mendudukkan Riska di sofa.


"Bi, ambil perlengkapan bayi yang akan di bawah ke rumah sakit." Perintah Elsa.


Elsa kemudian mendekati telepon rumah, mendadak lupa akan ponselnya berada.


"Ini anak ke mana sih! Keadaan genting begini, malah nggak angkat telepon!!" Gerutu Elsa kepada anaknya, yang mendadak sibuk tidak mengangkat dua panggilannya.


Sekali lagi Elsa menghubungi Aldi, anaknya. Dan di angkat, akhirnya ..


"Hal__"


"CEPAT PULANG!! RISKA MAU LAHIRAN SEKARANG!!"


Elsa menyela meneriaki anaknya yang sok sibuk, kemudian langsung mematikan panggilan sepihak.


***


Aldi, Raka sedang melakukan rapat bulanan dengan para manager perusahaan.


"Untuk bulan ini, profit pendapatan kita naik 5% dari bulan kemarin pak. Bisa di lihat dari grafik di layar saat ini." Manager keuangan sedang menjelaskan.


"Syutt ..!! Bos?" Bisik Bian kepada atasannya.


"Apa?"


"Biar dulu, lagi rapat ini." Tolak Aldi.


Memang saat rapat, ponselnya dia berikan pada Bian, asistennya.


Entah kenapa Bian yang merasa ada sesuatu yang terjadi, tidak biasanya masuk Panggilan dari rumah.


Panggilan kedua kembali masuk ke ponsel Aldi.


"Bos ini dari rumah telepon lagi. Angkat aja dulu sebentar, mana tau penting." Bian kembali berbisik kepada Aldi.


"Haiss .. mana!"


Aldi mengambil ponselnya dan menginterupsi agar rapat di jeda sebentar. Aldi baru akan menjawab, namun panggilan sudah berakhir. Aldi kemudian berinisiatif ingin menghubungi kembali, namun belum sempat ia hubungi, panggilan dari nomor yang sama.


"Hal__" Aldi baru menjawab namun langsung di sela oleh teriakan di seberang telepon.


Aldi langsung panik, mendadak jantungnya berdetak maraton. Untung ponsel di genggamannya tidak jatuh, seperti di sinetron-sinetron.


"Pa! Cucu papa akan lahir sekarang!! AYO PAPA!!"


"BIAN CEPAT!! KITA HARUS KE RUMAH SEKARANG!!"

__ADS_1


Raka dan Bian langsung ikutan panik, juga para anggota rapat yang masih di dalam ruangan.


"Rapatnya kita tunda dulu, semuanya bisa kembali ke ruangan masingmasing. Permisi?" Ucap Bian memerintahkan pada semua anggota rapat.


Bian langsung mengambil alih, karena Raka dan Aldi sudah lari keluar ruangan lebih dulu.


***


"Cepetan Yan! Lelet banget ini mobil!" Protes Aldi.


"Ini sudah ngebut, Al. Mau lebih ngebut lagi? Tapi kita ketemu sama Tuhan langsung, mau?" Tegur Bian dengan tatapan fokus pada jalanan di depannya.


Raka di mobil lain dengan supirnya, menyusul mobil Aldi dari belakang.


Tiba di rumah Aldi langsung lari masuk ke dalam rumah, mencari keberadaan istrinya.


"Sayangg ...!" Aldi langsung berjongkok di depan istrinya.


"Mass, sakit ..!" Riska mengadu pada suaminya.


Brukk ..!!


"Kamu itu kalo di telepon orang tua itu di angkat! Sudah tau istrinya mau lahiran!" Elsa meluapkan kekesalannya dengan memukul pundak Aldi dengan bantal sofa.


"Aww .. iya, iya ma, ampun! Aldi salah!" Mohon Aldi.


"Stop! Kalian mau saling tuduh aja, atau mau bawah Riska ke rumah sakit? Nggak lihat itu Riska udah kesakitan?" Sela Raka menegur kelakuan istri dan anaknya.


"Astaga, iya! Ayo sayang kita ke rumah sakit." Aldi langsung mengendong istrinya ke mobil.


Tiba di rumah sakit, Dokter Aulia yang sudah di hubungi Aldi sebelumnya, langsung membawa pasien ke ruang persalinan.


"Bukaan nya hampir sempurna, tolong bantu ibunya agar sedikit jongkok agar ketubannya cepat pecah." Saran Dokter Aulia.


Aldi mengikuti saran dokter, ia bantu istrinya sedikit berjongkok sambil berpegangan pada ranjang, dengan Aldi setia memeluk pinggang istrinya dari samping.


"Dok, air ketubannya sudah pecah!" Jerit Aldi memberitahukan.


Aldi langsung merebahkan tubuh istrinya di ranjang, sambil Dokter dan suster menyiapkan persalinan.


"Mas nggak kuat ..!" Riska bergumam lirih.


"Kamu kuat sayang .. kamu ibu yang kuat .. bertahan yah.." Aldi mengecup semua sisi wajah istrinya memberikan kekuatan.


"Ibu Riksa rileks yah, nanti mengejan nya jangan di tahan yah. Nanti saat saya beri aba-aba baru mengejan yah Bu, tapi jangan teriak Bu. Panggul jangan juga jangan di angkat saat mengejan yah Bu." Dokter Aulia memberikan penjelasan sebelum memulai persalinan.


Proses persalinan mulai di lakukan sesuai prosedur melahirkan secara normal. Riska mulai mengenjan mendorong anaknya agar bisa kaluar dari tempat berlindungnya, sesuai dengan arahan Dokter.


Hingga tak lama suara tangisan bayi terdengar memenuhi ruangan, sampai terdengar oleh beberapa orang yang menunggu di luar ruangan.

__ADS_1


"Selamat pak, bu, bayi nya perempuan."



__ADS_2