Ternyata Jodohku

Ternyata Jodohku
Bab 85. Tukar tambah saja


__ADS_3

Pagi harinya, Bian sengaja menunggu kedatangan Aldi di ruangannya.


Ceklek!


"Tumben Lo pagi-pagi udah stand by di ruangan gue?" Seru Aldi ketika masuk ke dalam ruangannya.


"Ck .. sengaja, ada yang pengen gue omongin," Bian berdecak kesal. "Sini duduk," lanjutnya.


"Mau ngomong apaan, kayak serius amat Lo," Aldi ikut menyusul Bian duduk di sofa dengan tetapan mata memancing curiga.


"Ini soal Serly .." Bian sengaja menggantungkan ucapannya untuk melihat respon Aldi terlebih dahulu.


"Kenapa lagi dengan perempuan itu? Buat masalah lagi?" Tanya Aldi dengan malas.


"Lo tahu kan Serly Itu kakaknya Selly?" Tanya Bian.


"Ya terus, kenapa kalau kakaknya Selly? Lo mau minta gue bebasin calon kakak ipar Lo?" Sungguh Ali malas sekali membahas tentang perempuan itu, membuat mood-nya hancur saja pagi-pagi.


"Bukanlah, masalah cinta dan kejahatan itu lain cerita," Jawab Bian.


"Jangan bertele-tele den Yan, langsung aja ke intinya. Kamu mau bahas apa tentang perempuan itu? "Desak Aldi.


"Jangan main potong loh ya, dengerin dulu sampai selesai." Titah Bian memperingati, dan Aldi mengangguk malas.


Malas sekali Aldi sebenarnya mendengar cerita tentang perempuan itu, ibarat sebuah buku cerita, ceritanya tidak ada menariknya sama sekali.


"Semalam Seli hubungi gue, katanya mau minta tolong sesuatu. Kata Selly, Sherly minta tolong ke dia buat sampein ke elo dan Riska, mau minta kalian buat ketemu sama dia, karena ada yang mau dia sampaikan--"


"Cih males banget, buat apa coba?" Beo Aldi mencibir, memotong penjelasan Bian.


"Makanya dengerin dulu, jangan main potong-potong aja, dengerin sampai selesai." Susah sekali dikasih tahu hal ini, iya sampai berdecak kesal karena Aldi kembali memotong ucapannya.

__ADS_1


"Lanjut!"


"Sherly katanya pengen ketemu kalian untuk minta maaf secara langsung, dia sekarang sudah sadar dengan semua perbuatan yang ia lakukan salah. Terserah kalian, gimana lo sama Riska mau temuin apa enggak, yang penting gue udah bantuin sampein pesannya. Kalau menurut gue sih, ada baiknya loh diskusiin sama Riska terlebih dahulu. Bukan karena Sherly itu calon kakak ipar gue, tapi menyimpan dendam itu nggak baik, apa salahnya maafkan? tapi bukan berarti proses hukumnya diberhentikan." Jelas Bian, semoga Aldi mengerti dengan apa yang ia katakan.


Di sampingnya, Aldi terdiam beberapa saat setelah iya selesai berbicara.


"Gue belum bisa kasih jawaban apa-apa sekarang, nggak mau ngomong dulu sama Riska apa dia mau atau nggak. Nanti kalau gue kabarin lagi kalau udah selesai ngomong ke Riska," jawab Aldi.


"Oke. Kalau sampein aja dulu pelan-pelan ke Riska, dia mau apa nggak nggak usah dipaksain, apalagi kan sekarang lagi hamil emosinya pasti cepat berubah. Nanti lo kabarin aja ke gue apa keputusannya. Gue cuma mau ngomong itu doang kok, gue balik ke ruangan gue dulu."Dian menepuk paha Aldi dua kali, sebelum ia beranjak kembali ke ruangannya.


Setelah kepergian Bian, Aldi masih duduk di sofa termenung memikirkan bagaimana caranya ia akan mengatakan kepada istrinya. Mengingat istrinya yang saat ini sedang hamil, jadi tentu ya harus berhati-hati dalam mengatakannya agar istrinya tidak tertekan. Mengingat karena kejadian itu, istrinya sempat trauma karena kehilangan calon bayi mereka.


***


Pukul setengah 6 petang, Aldi akhirnya sampai di rumah. Jalanan sedikit macet tadi, hingga biasa pukul 5 lebih 15 menit ia sudah berada di rumah, ini sedikit terlambat.


"Dimana mbak mu?"


"Masuk rumah itu, salam dulu, bukan malah nanya kakak ipar, apalagi nyuri kripik orang." Tegur Renata menahan kesal. Kripik kesayangannya kalau tidak di selamatkan, bisa habis nanti oleh kakaknya ini.


"Assalamualaikum adik kakak Aldi yang cantiknya, cantikkan istri kakak. Kakak ipar kamu dimana?"


Tidak waras memang kakaknya ini, pikir Renata. Dulu saja menolak keras seperti sedang ingin di bunuh, sekarang bucin nggak ketulungan. Itulah mengapa pepatah mengatakan jangan terlalu membenci, karena jarak benci dan cinta sangat tipis.


"Cih .. dasar bucin nya kak Riska! Dulu aja pas minta di nikahin, udah kayak orang di kasih racun, sekarat kayak mau mati. Sekarang malah kebalik, kalau nggak liat kak Riska, udah kayak mau mati." Renata melengos mencibir kelakuan kakaknya.


"Ya gimana dong .. kakak ipar kamu itu, gampang banget sih bikin orang jatuh cinta. Mama aja langsung mencair, apalagi kakak."


Kenapa dia bisa punya kakak yang seperti ini? Kalau bisa di tukar tambah, mau dia tukar tambah saja. Inilah sifat kakaknya yang asli sangat ramah, suka bercanda, jahil juga jika dengan orang terdekat.


__ADS_1



**Follow Ig Christy\_amoraa**



**Halo para readers kesayanganku👋**


**Author mau promosi novel terbaru nih**!



**Judulnya; AKHIR PENANTIAN ELINA**



**Novel ini berkisah tentang seorang gadis, yaitu; Elina yang terjebak dalam lingkaran persahabatan, hingga tak bisa mengutarakan juga memperjuangkan cinta kepada Kevin**.



**Selama 6 tahun Elina mencintai Kevin diam-diam, hingga akhirnya ia harus merasakan patah hati terbesar saat Kevin akhirnya mempunyai kekasih hati bahkan menjadikan wanita itu sebagai pendamping hidupnya**.



**Haruskah Elina menjadi egois dengan menghancurkan persahabatan, juga merebut Kevin dengan paksa demi bahagianya**?


**Atau kah nanti Elina juga akan menemukan bahagianya walau bukan dengan Kevin**?



**Jangan lupa mampir, dan tambahkan ke rak buku favorit kalian🙏**

__ADS_1


__ADS_2