
Selamat membaca 🌷🌷🌷
.
.
Bian sudah duduk berhadapan dengan Selly, hanya terhalang meja panjang di tengahnya. Mereka duduk di bangku yang muat hingga 5 orang.
"Mbak." Panggil Bian
"Mas dan mbaknya mau pesan apa? Ini daftar menunya." Sapa pelayan lalu menyerahkan daftar menu berupa selebar kertas yang di liminating.
Bian lebih dulu membaca menunya, lalu dia serahkan lagi ke pada Selly daftar menunya. Selesai memilih, Selly kembalikan lagi ke pelayan.
"Jadi, apa pesanannya mas, mbak? Biar saya catat." Seru pelayan.
"Saya nasi sama ayam geprek, mbak." Jawab Bian dan Selly bersamaan, dengan menu yang sama.
Pelayan sampai terkekeh. Sedang Bian dan Selly saling pandang, lalu tertawa.
Ha .. ha ..
"Kok sama sih?" Tanya Selly setelah menyelesaikan tawanya.
"Jodoh kali .." Ceplos Bian, lalu tersenyum kearah Selly. Dan Selly balas tersenyum.
"Jadi, nasi sama ayam geprek 2 yah mas, mbak? Minumnya?" Sela pelayan, tak tahan melihat ke uwuan pasangan di depannya.
"Iya, mbak. Minumnya aku es teh aja."
"Samain aja mbak makanan sama minumnya." Sahut Bian.
"Baik. Tunggu sebentar yah." Ujar pelayan lalu pamit kedalam.
"Tadi itu lucu tau, bisa barengan gitu ngomongnya." Ujar Selly membuka obrolan.
"Tapi menurut aku, masih lucuan kamu lho .." Balas Bian salam menatap dalam Selly.
"Apaan sih, gombal banget." Selly sampai tersipu malu, pipinya merah merona sekarang.
"Gombalnya cuma bisa keluar, kalo sama kamu doang. Gimana dong?"
Selly tak tahan lagi, dia menunduk, berusaha menyembunyikan wajahnya yang sudah seperti kepiting rebus.
"Serah kak Bian aja .."
"Jadi, boleh dong di gombalin?" Bian semakin gencar modusnya.
"Ihh, nggak mau." Tolak Selly.
"Terus maunya apa? Di seriusin?"
Bian sampai terpaku sendiri. Berani sekali dia berucap begitu, siapkah dia? Sedang Selly jantungnya sedang maraton, rasanya sedang ada kupu-kupu yang menggelitik perutnya. Benarkah, Bian ingin serius dengannya?
Baru saja Selly akan menjawab, namun tertahan, karena pesanan mereka sudah mulai ditatah dimeja.
__ADS_1
Setelah Selly mengucapkan terima kasih, pelayan pun kembali masuk.
"Makan dulu kak, karena berjuang butuh tenaga."
Bian merasa dag dig dug seerr .. Sudah ada lampu hijau kah dari Selly? Selly mau diperjuangkan oleh Bian?
Bian mengangguk, lalu mereka berdua mulai makan. Setelah makanan mereka tandas. Bian mulai bersuara.
"Kamu beneran pengen aku perjuangkan? Karena, jujur aku pengen serius sama kamu. Dan harus kamu tau, jika aku sudah mulai berjuang, tidak ada kata mundur." Tutur Bian dengan tatapan tenang, namun menyiratkan kejujuran dan ketulusan di matanya.
"Aku nggak mau pacaran. Yang aku cari calon suami." Jawab Selly.
"Dan aku juga sedang mencari calon istri." Tegas Bian.
"Aku tau kita dekat belum lama. Tapi jujur aku merasa nyaman sama kamu. Aku nggak pernah se yakin ini sama perempuan lain. Kalo kamu masih ragu, kita bisa jalani dulu, sambil aku memantapkan diri untuk meminta kamu ke orang tua kamu untuk aku jadikan teman hidup." Lanjut Bian.
"Hm .. Aku juga nyaman sama kak Bian, kak Bian laki-laki baik, selalu menghormati aku sebagai perempuan. Apa aku ada alasan lagi buat nolak?" Selly tersenyum, menjeda kalimatnya.
"Aku siap nunggu kak Bian, sampai kak Bian siap lamar aku nanti. Terima kasih, udah pilih aku, dibalik banyakin kekurangan aku kak." Lanjut Selly.
Tidak salah memang Bian memilih, Sifat dan perilaku dan tutur kata, Selly selalu tulus, bukan berpura-pura. Selly memang kandidat tepat untuk dijadikan seorang istri.
"Aku juga banyak kekurangan, nggak sempurna. Tapi bukankah, menikah itu untuk saling melengkapi? Saling menyempurnakan?"
"Ya, aku tunggu lamaran kak Bian."
'Aku bukan seorang raja, namun akan ku jadikan kamu ratu di kerajaan yang akan kita bangun bersama nanti. Aku akan berusaha membuat kamu selalu bahagia, bahkan kamu akan lupa apa itu kesedihan.' Janji Bian dalam hati.
"Aku tak akan ingkar janji. Tunggu lah."
***
Ya, Bian tengah diperjalanan untuk mengantarkan Selly pulang.
'Kok kayak kenal jalan ini yah ..' Batin Bian.
Bian pun membelokan mobilnya, mengikuti petunjuk Selly. Kini mereka mulai memasuki lorong perumahan, Bian masih melajukan mobilnya pelan, menunggu instruksi.
"Rumah yang gerbangnya hitam itu, kak. Berhenti disitu kak."
Bian pun berhenti didepan rumah dengan 2 lantai, bercat putih, dengan gerbangnya hitam.
Bian tertegun. "Ini bukannya rumah Sesil?" Celetuk Bian spontan, karena terkejut.
Bian masih mengingat dengan jelas rumah ini. Alamat rumah yang dia berikan untuk polisi, saat akan menangkap Sesil. Bahkan Bian juga ikut mengantar para polisi, meskipun dia tidak ikut masuk, karena harus mengurus penangkapan Siska.
Selly dengan cepat mengalihkan pandangannya pada Bian. Apakah Bian mengenal kakaknya itu? Melihat keterkejutan Bian, ada apa sebenarnya?
"Iya, ini rumah kak Sesil juga. Kak Bian, kenal sama kak Sesil?" Tanya Selly penasaran.
Bian merasa tertohok, dia tidak salah dengarkan? Selly menyebutkan kata 'Kak Sesil'. Mereka punya hubungan darah? Mereka kakak adik?
"Iya aku kenal. Dia sering ke kantor dulu, nemuin atasanku. Lalu ... Kamu siapanya Sesil?" Jawab Bian hati-hati.
"Aku adik se-ibunya kak Sesil." Jawab Selly sendu.
__ADS_1
Kok beda banget sikapnya? 180° perbedaan keduanya. Pikir Bian.
"Aku masuk dulu yah kak. Takut ada yang salah paham, kalo aku lama diam dalam mobil. Selamat malam kak, hati-hati dijalan yah." Pamit Selly sebelum keluar dari mobil.
"Iya, nanti aku telepon yah."
Selly hanya mengangguk dan tersenyum. Selly melambaikan tangannya, mengantar kepergian mobil Bian. Setelah mobil Bian pergi, barulah Selly masuk ke dalam rumah.
Setelah membuka pintu utama, Sesil kaget melihat Papanya ada didepan pintu.
"Assalamualaikum Pa." Selly mengucapkan salam lalu menyalim tangan Papanya.
"Walaikumsalam .. Di antar siapa tadi?" Tanya Seto, Papanya.
"Kok papa tau?" Tanya Selly dengan wajah tersipu malu.
"Papa ngintip di jendela tadi. Siapa yang nganter? Pacar kamu?" Desak Seto.
"Bukan pacar Pa, tapi dia pengen serius sama Selly katanya. Dia pengen lamar Selly jadi istrinya." Terang Selly.
"Dia lelaki baik, sepertinya. Papa setuju, kalo dia mau lamar kamu. Masuk gih ..."
Selly mengangguk lalu masuk ke dalam. Seto menatap kepergian Selly.
'Kenapa bukan Selly saja anak kandungnya? Sikap Selly sangat bertolak belakang dengan Sesil. Selly anak yang baik, santun, sangat menghargai dan menghormati orang lain apalagi orang tuanya. Dia tidak pernah membedakan antara Sesil dan Selly. Dia menyayangi keduanya, terlepas dari kebenaran Selly yang bukan darah dagingnya.' Batin Seto.
"Kamu anak baik. Berbahagialah selalu, Papa akan selalu dukung kamu. Mama kamu harusnya bersyukur memiliki kamu, bukan malah mengucilkan kamu, dan lebih menyayangi Sesil." Gumam Seto.
***
Sedang ditempat lain. Aldi dan Riska mampir dulu cek kesehatan Riska. Mereka sudah buat janji lebih dulu dengan Aulia.
"Tensinya bangus 110/90, luka jahitannya udah kering, cuma vitaminnya sama obat luka masih harus diminum yah. Itu bisa membantu luka bagian dalam cepat pulih." Jelas Dokter Aulia.
Riska mengangguk. Dia dan Aldi duduk berhadapan dengan Dokter Aulia hanya terhalang meja, selesai pemeriksaan.
"Makasih dok." Jawab Riska.
Ehem!
Deheman Aldi, mengalihkan perhatian Riska dan Aulia. Kompak keduanya mengalihkan tatapan pada Aldi.
"Kenapa Al? Ada yang mau ditanyakan?" Tanya Aulia.
"Emm .. itu .. anu- mau tanya, udah bisa belum buka puasanya?" Tanya Aldi terbata, gugup.
'Hadeh .. Otak laki kok nggak jauh dari selang***an yah ..' Pikir Riska.
Bersambung ...
See you next chapter, bye ...
...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote, dan hadiah...
...Agar lebih semangat menulis...
__ADS_1