Ternyata Jodohku

Ternyata Jodohku
Bab 89. Selesai


__ADS_3

Brakk ..!!!


Oekkk .. oekkk ...


"RENATA ..!!"


Semua orang yang berada dalam ruangan menghardik sikap Renata. Bagiamana tidak? Karena bantingan pintu yang ia lakukan, bayi yang baru lahir beberapa jam itu terbangun dari tidurnya.


"Maaf," Renata meringis menggumam kata maaf tanpa suara.


Renata mendekati makanya, Aldi, yang tengah berdiri sambil menimang bayinya dalam pelukan berusaha menenangkan bayinya yang tadi menangis karena kaget.


"Ututu ... Lucunya ponakan Mimi."


Tangan Renata yang ingin mengelus pipi keponakannya hanya bisa mengambang, karena bayi tersebut dengan cepat di jauhkan oleh papanya.


"Nggak boleh! Cuci tangan dulu Re, kalau mau pegang." Sentak Aldi melototi adiknya.


"Kenapa sih kak? Tangan Renata bersih kok, tadi sempat bersihin pake hand sanitizer." Renata berdecak kesal menghentakkan kakinya ke lantai.


"Kapan di bersihin? Kakak nggak ada liat tadi." Aldi menatap sengit adiknya.


"Waktu turun dari mobil tadi, kak."


"Cuci lagi Re, kalau mau pegang. Kulit bayi itu sensitif, mana tau tangan kamu membawa kuman dari luar?" Jelas Aldi.


"Iya kakak kamu benar Renata, sana cuci dulu tangan kamu." Timpal Elsa memerintah Renata.


"Iya, iya .." meski kesal Renata tetap melaksanakan apa yang di perintahkan mama dan kakaknya.


"Udah! Sekarang udah bisa pegang kan?" Renata menunjukkan kedua telapak tangannya sambil di bolak-balik, ia tujukan pada kakak dan mamanya.


Aldi mengangguk, Renata memekik senang dan langsung mengelus pipi keponakan cantiknya.


"Siapa namanya kak? Sudah ada namanya kan?" Tanya Renata dengan netra nya fokus pada wajah bayi dalam gendongan kakaknya.


"Elshine Jesslyn Putri Narendra," ucap Aldi memberitahukan nama anak perempuannya, putri mahkota dalam keluarganya.


"Aduh .. Shine, ponakan Mimi akhirnya launching juga .." Renata tidak henti-hentinya mengusap juga memainkan jari tangan keponakannya yang di bungkus sarung tangan.


Tak lama pintu ruang rawat Riska kembali terdengar suara ketukan pintu.


"Selamat sore semuanya .."


Bian dengan Selly datang bersama dengan membawa bungkusan kado yang cukup besar.


"Masuk Yan, sini Selly duduk sama Tante." Sahut Elsa begitu ramah sekali.


Selly mengangguk berjalan ke arah sofa di mana Elsa berada, sedangkan Bian mendekati Aldi yang berdiri di samping Riska yang berbaring di ranjang pasien.


"Al, Ris, selamat yah. Semoga bayi sehat dan Riska cepat pulih. Dan ini hadiah dari kami berdua, semoga bermanfaat." Ujar Bian menyerahkan kado yang ia bawah kepada Riska.


"Amin, makasih ya Bian, Selly." Jawab Riska dengan senyum mengembang.


Seminggu kemudian ..


Sejak kepulangan Riska dari rumah sakit dia hari setelah melahirkan, Aldi langsung merencanakan acara aqiqah untuk putrinya tersebut. Aldi sendiri yang sibuk mengurus meski di bantu dengan EO untuk mengatur beberapa hal, seperti dekorasi.


Bahkan kambing yang akan di potong nanti, Aldi sendiri yang datang ke peternak dan memilih sendiri.

__ADS_1


Dan pada hari ini, acara aqiqah dari Elshine Jesslyn Putri Narendra, berlangsung dengan begitu khidmat. Acara yang tergolong sederhana untuk keluarga pengusaha seperti mereka.


Dalam acara tersebut, Aldi hanya mengundang kerabat dekat, anak yatim, karyawan kantor, juga para tetangga. Acaranya pun tidak di gelar di ballroom hotel, tapi hanya di kediaman mereka saja. Sangat sederhana.


****


Tiga tahun kemudian ...


Riska dengan perut buncitnya berjalan bersisian dengan Aldi suaminya, sambil tangan keduanya menuntun langkah kecil balita 36 bulan, yang seminggu lalu baru merayakan ulang tahun ketiganya.


"Mama, tita mau temana?" Elshine, balita tersebut mendongak bertanya.


"Mau ke rumah kakek sama nenek sayang. Shine, senang?" Riska menjawab dengan lembut sambil mengelus kepala putrinya yang di kuncir dengan pita pink.


"Enda! Takut mama, banak batu dan pohon." Riska dan Aldi hanya terkekeh mendengar jawaban polos anak mereka.


"Nah, kita sampai nak." Seru Riska ketika tiba di kedua makam orang tuanya yang berdampingan.


Makam orang tua Riska yang sudah Aldi rapikan, dari hanya sebuah gundukan tanah dengan papan nama. Kini di sudut-sudut sudah di pasangi bingkai marmer, dengan nisan di atasnya.


"Ini lumah kakek ma nenek?" Tanya Elshine dengan kedua alis yang bertaut.


"Iya, salam dulu sayang. Assalamualaikum kakek nenek .." sahut Riska.


"Lumah mana pintu na? Nda ada mama. Jan boong mama!" Protes Elshine.


Menurut Elshine ini bukan rumah, rumah itu seperti rumah yang mereka tinggali. Ada bangunan besar, ada pintu, jendela juga kamar, tapi ini yang ia lihat hanya tanah luas dengan banyak batu yang berjejer.


"Beda sayang, di sini rumah buat orang yang bobo selamanya." Timpal Aldi menjawab keingintahuan anaknya.


"Bobo telus? Nda bangun lagi?" Riska dan Aldi mengangguk saja.


"Bisa lali kencang juga mama .." timpal Elshine.


Riska terkekeh dalam tangisan, "Iya, cucu ibu sama ayah jago lari juga."


"Mama janan nangis, Ey nda nakal ini." Elshine memeluk mamanya sambil kedua tangannya menyeka air mata di wajah mamanya.


"Iya, mama nggak nangis. Sekarang Elshine ngomong dulu sama kakek dan nenek." Pinta Riska.


"Nda ada olang nya papa," bisik Elshine di telinga Aldi yang juga sedang berjongkok.


Aldi menahan senyum mendengar pernyataan polos anaknya, "Kakek dan nenek tidur di dalam sini, makanya nggak bisa lihat, tapi bisa dengar kalo ada anak baik yang bicara. Elshine anak baik, bukan?"


Elshine mengangguk cepat, "Anak baik papa."


"Kalau anak baik, coba ngomong apa." Ujar Aldi.


"Acalamuikum nenek, kakek, ini Ey. Tantik yah? Ey anak baik, sayang mama, sayang papa, sayang oma, opa, mimi, kakek nenek juga, semua Ey sayang. Andon juga Ey sayang. Bobo nenyak yah, Ey bawah unga juga." Ujar Elshine bercerita dengan cadel khas anak balita.


"Andon siapa?" Aldi menaikan alisnya.


"Andon pacal Ey di sekolah papa." Elshine tertawa dengan menutup mulutnya dengan tangan, genit sekali anaknya ini.


Aldi menggeleng pelan, "Ibu, ayah, ini Aldi suami Riska. Ayah dan ibu tenang yah disana, Riska tidak sendiri, sudah ada Aldi yang akan jagain. Terima kasih sudah melahirkan juga membesarkan Riska dengan baik, Aldi bersyukur bisa memiliki Riska sebagai pendamping hidup Aldi. Ayah dan ibu juga sudah punya cucu sekarang, sebentar lagi cucu kedua ayah dan ibu akan lahir." Aldi berujar didepan makam kedua mertuanya.


Aldi memeluk istri dan anaknya, "Terima kasih ya Allah, karena engkau telah menghadirkan mereka dalam hidupku."


"Dulu aku selalu bertanya-tanya siapakah yang akan aku nikahi, yang akan menjadi jodohku. Ternyata bukan pacar atau mantan pacar, tapi seorang yang baru hadir dalam hidupku. Ternyata Jodohku itu office girl yang selalu buat aku kesal, tapi sekarang yang paling aku cintai."

__ADS_1


"Terima kasih Riska Nadya, sudah bersedia menjadi jodoh Aldino Narenda."


TAMAT



**TERIMA KASIH BUAT SEMUA READERS YANG SUDAH SETIA MEMBACA CERITA INI. SAYA SEBAGAI PENULIS SANGAT BERTERIMA KASIH 🙏**


**SAYA SEBAGAI PENULIS MENYADARI BANYAK KEKURANGAN DALAM CERITA INI, ENTAH DARI ALUR CERITA, TANDA BACA, DLL**.



**JIKA BERKENAN, PARA READARS BISA IKUT MEMBACA KARYA KEDUA SAYA**.



" **AKHIR PENANTIAN ELINA** "



**CUPLIKAN BAB 1**



**Elina terpaku menatap penuh luka pada pandangan didepannya. Ia berserta sahabatnya Catherine, Axelo, Erland, juga beberapa teman lainnya saat ini tengah berdiri mengelilingi; seorang laki-laki yang saat ini tengah berdiri dengan buket bunga mawar di tangannya sedang mengutarakan cinta pada gadis di hadapannya**.



**Kevin, laki-laki yang saat ini sedang mengutarakan cinta pada seorang gadis itu adalah salah satu sahabat Elina. Tanpa Kevin tau, jika selama 6 tahun lamanya Elina memendam rasa suka dan cinta padanya. Tersembunyi oleh kata persahabatan yang telah terbangun sejak mereka masih berusia 15 tahun itu hancur karena percintaan**.



"**Terima** .."



"**Terima** .."



"**Terima** .."



**Sorakkan dari orang-orang yang menyaksikan hal tersebut mengudara, dan menyeruak masuk ke telinga Elina. Elina tak ikut bersorak, karena untuk ikut tersenyum saja ia harus bersusah payah melakukannya. Sudut matanya memanas, ingin ia hentikan semua yang terjadi saat ini, tapi ia tidak bisa melakukan apapun**.



**Hingga sebuah telapak tangan terasa mengelus pundaknya, Elina pun mengalihkan pandangannya. Disana, disampingnya ada Axel yang saat ini tengah mengusap pundaknya dengan senyuman terukir diwajahnya, seakan berkata 'Tenanglah semua akan baik-baik saja'. Axel sedari tadi memperhatikan Elina, ia sangat tau apa yang Elina rasakan, karena ia mengetahui jika Elina menaruh hati pada salah satu sahabatnya**.



**Elina rasanya ingin berlari pulang ke rumah dan menangis sejadi-jadinya, ketika melihat gadis di depan sana sudah mengambil buket bunga tersebut juga memeluk tubuh laki-laki yang teramat ia cintai**.



**Suara tepuk tangan kembali menyadarkan Elina, ia berusaha menerbitkan senyuman tipis kepada Axel. Seakan mengatakan 'Aku baik-baik saja kak**'.


__ADS_1


LAGI ADA GIVEAWAY JUGA DI NOVEL KEDUA🤗


__ADS_2