
Selamat membaca 🌷🌷🌷
.
.
Ehem!
Deheman Aldi, mengalihkan perhatian Riska dan Aulia. Kompak keduanya mengalihkan tatapan pada Aldi.
"Kenapa Al? Ada yang mau ditanyakan?" Tanya Aulia.
"Emm .. itu .. anu- mau tanya, udah bisa belum buka puasanya?" Tanya Aldi terbata, gugup.
'Hadeh .. Otak laki kok nggak jauh dari selang***an yah ..' Pikir Riska.
Riska melongo, sedangkan Dokter Aulia tersenyum jail.
"Kenapa Al? Udah nggak tahan, yah?" Digoda oleh Dokter Aulia, Aldi hanya cengengesan sambil garuk tengkuknya.
He .. He ..
"Wah Ris, laki-laki modelan Aldi ini, nih .. Harus hati-hati kamu. Yang nggak bisa nahan nafsu. Gimana coba kalo kamu habis lahiran? Harus ada masa nifas selama 40 hari. Bisa-bisa jajan diluar .." Dokter Aulia sengaja memancing diair keruh.
Nafas Aldi tercekat, dia merasa tertohok mendengar untaian kalimat Dokter Aulia. Sedang Riska, seperti sudah ada asap yang keluar dari kepalanya. Mungkin sebentar lagi ada yang akan terbakar.
Riska memberikan tatapan tajam, bagai pedang yang menghunus hingga jantung pada Aldi. Aldi yang sadar akan tatapan itupun menelan salivanya.
'Aulia kamp**t!! Pengen banget gue cubit ginjalnya.' Umpatan Aldi dalam hati.
"Bener begitu, mas? Jangan-jangan, selama aku abis keguguran beberapa minggu ini. Kamu sering jajan diluar yah? Ngaku?" Umpan Aulia termakan oleh Riska sepertinya.
"Enggak sayang. Sumpah! Aku setia sama kamu. Sih cancing cuma bisa berubah kalo masuk sarangnya kamu aja, Yang. Mana mau dia sama yang udah longgar .." Jawab Aldi memelas.
Riska melotot. "Longgar? Berarti udah pernah kamu cobain yah? Udah kamu celup, iya?" Riska semakin emosi.
Sedang Dokter Aulia duduk diam didepan kedua orang yang sedang berdebat. Dokter Aulia bahkan mengeluarkan ciki dari laci, kemudian memakannya. Berasa lagi nonton FTV kali yah ..
'Hadeh .. Salah ngomong lagi kan .. Awas lho Aulia, gue mutasi lho ke Afrika.' Batin Aldi.
"Enggak gitu, Yang .. Dengerin aku!" Aldi meletakkan kedua tangannya dibahu Riska. Memberikan tatapan teduh, agar emosi istrinya turun.
Riska diam. Mata mereka saling menatap. Berusaha menyelami sampai ke dasar hati terdalam. Seakan kornea mata adalah kaca tembus pandang.
"Tidak pernah aku melakukan itu semua. Dalam pikiran pun enggak pernah terlintas. Aku selalu setia. Kamu tau itu kan? Bahkan saat Clara hubungi aku, aku jujur sama kamu. Kalo aku memang laki-laki seperti yang kamu katakan tadi. Mungkin aku nggak jujur sama kamu, dan akan menemui Clara tanpa sepengetahuan kamu. Ingat, jangan pernah dengar perkataan orang lain, yang hanya ingin merusak kebahagiaan kita." Aldi melirik tajam kepada Aulia, saat kalimat terakhir dia ucapkan.
Mata Riska berkaca-kaca. "Awas yah, kalau sampai aku tau, kamu main belakang. Ku potong habis cacing kamu itu." Ancam Riska sambil melirik tajam benda keramat Aldi.
Sontak Aldi menangkupkan kedua tangannya diatas benda keramatnya di balik celana. Aldi memelas sambil menggeleng.
"Oke, dramanya sudah selesai, yah? Nggak seru! Nggak ada adegan jambak-jambakkan sama tendangan .." Celetuk Aulia menyela.
__ADS_1
"Mau kamu aja yang aku tendang sampe ke Afrika?" Sentak Aldi
"Selow mas bro .. Ada kabar baik lho ini. Kamu pasti senang dengarnya."
"Apa?" Singkat Aldi bertanya, sejujurnya dia juga penasaran.
"Kamu sudah bisa buka puasa."
Jawaban Aulia memang sangat membuat Aldi bahagia. Akhirnya, sih cacing sejahtera lagi.
"Aku mau tidur bareng Renata entar malam. Titik!" Protes Riska.
Aldi merenggut. Namun otak kotornya sangat cepat, mencari jalan keluar.
"Ya sudah .. Jangan salahkan aku yah, Yang. Kalo entar malam, aku keluar diam-diam, cari sarang lain." Ujar Aldi merajuk.
Riska terdiam sejenak. Otaknya mulai mencerna perkataan Aldi. Mau adu kelicikan rupanya ..
"Terserah .. Kalo kamu nyari sarang lain. Aku mau ketemuan sama Dodi. Sekali chat, nggak sampai sedetik dia langsung balas." Balas Riska.
"Nggak! Oke, aku ngalah. Kamu boleh bobo sama Renata. Aku janji nggak akan macam-macam."
Riska tersenyum sambil mengangguk. "Ya udah, pulang yuk." Ajak Riska sambil melingkarkan tangan kirinya ke lengan Aldi.
Keduanya berdiri. "Terima kasih Dok. Permisi .." Pamit Riska.
"Jangan lupa obat sama vitaminnya ditebus."
Diperjalanan, mobil Aldi melaju stabil. Diliriknya jam tangan yang melingkar, sudah pukul setengah delapan malam. Pasti orang rumah sudah makan malam. Dialihkan tatapannya kepada sang istri disamping.
"Yang, kita makan malam diluar aja gimana? Orang rumah pasti udah makan malam duluan."
Riska turut melihat waktu yang tertera di ponselnya. Ternyata memang waktu makan malam sudah hampir lewat. Sedangkan mereka masih lumayan jauh jaraknya dari rumah.
"Boleh, mas."
Aldi pun menepikan mobilnya diparkiran restoran yang cukup mewah. Aldi mengengam tangan Riska, masuk ke dalam restoran.
"Selamat malam, selamat datang." Sambut pelayan kepada Aldi dan Riska ketika melewati pintu masuk.
"Selamat malam .." Sahut Riska.
"Ada yang bisa dibantu bapak, ibu? Sudah reservasi sebelumnya?"
"Belum. Meja untuk dua orang, mbak." Sahut Aldi.
"Baik. Mari Pak, Bu, saya antar."
Aldi dan Riska mengikuti arahan pelayan, hingga tiba di meja no 24 terletak di bagian sudut dekat kaca pembatas ruangan.
"Silakan Pak, Bu .."
__ADS_1
Aldi dan Riska duduk berhadapan. Pelayan perempuan lain datang dengan buku menu, lalu menyerahkan pada Aldi dan Riska masing-masing.
"Mau pesan apa, Yang?" Tanya Aldi mengalihkan pandangan pada Riska.
Riska menutup buku menunya. "Samain sama kamu aja, mas." Jawab Riska.
"Mbak, 2 Saltimbocca, 2 Aglio e alio, 2 Vanilla latte dan jangan lupa air mineral 2." Terang Aldi menjabar pesanan mereka kepada pelayan.
Pelayan langsung mencatat. "Baik. Tunggu sebentar. Permisi ..." Ucap pelayan sebelum berbalik masuk.
"Sttt .. Mas .. " Bisik Riska memanggil Aldi.
"Kenapa, Yang?"
"Nama makanannya kok aneh? Yakin bisa dimakan itu?" Bisik Riska, karena takut didengar pengunjung lain.
"Aku jamin enak kok. Itu makanan Italia. Kamu cobain nanti, pasti kamu suka." Bisik Aldi, lalu mengangkat tangannya mengelus pipi Riska.
Riska tersenyum malu-malu, mengangguk lalu menunduk.
Lumayan lama menunggu, hingga akhirnya pesanan mereka tiba. Setelah di tata dimeja. Keduanya langsung menyantap makanan tersebut.
Selesai meneguk air mineral, dan mengelap sisa makanan di bibirnya. Aldi kemudian mengelap sisa makanan dibibir Riska.
"Kayak anak kecil, sampe belepotan gitu." Celetuk Aldi dengan kekehan.
Riska blushing. Wajahnya merah seperti kepiting rebus.
"Kok mukanya merah? Blushing yah?" Ledek Aldi.
"Apaan sih mas .." Sunggut Riska.
"Nah lho .. Makin merah aja mukanya .." Aldi makin gencar meledek. Dia sangat suka, melihat wajah Riska yang tersipu malu.
"Mas ihh .." Protes Riska.
"Apa Yang? Gemes ih, pengen cium."
"Mas ihh .. Malu tau .." Riska merajuk.
"Ap--"
"Ngeledek lagi. Nggak aku kasih jatah!" Sentak Riska memotong ucapan Aldi.
Aldi langsung diam. Mana mau dia, jadwal buka puasanya tertunda.
Bersambung ...
See you next chapter, bye ...
...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote, dan hadiah...
__ADS_1
...Agar lebih semangat menulis...