
Selamat membaca 🌷🌷🌷
.
.
Sampai mereka berdua memasuki mobil, dan mobil melaju keluar dari halaman perusahan, Riska masih merajuk.
"Udah dong, Yang. Maafin aku, yah? Janji nggak gitu lagi." Bujuk Aldi sambil menyetir.
Riska memberikan tatapan mengintimidasinya. "Awas yah, kalo gitu lagi. Aku beneran deketin Dodi." Ancam Riska.
Aldi membeku. "Nggak! Aku pecat sih Dodi-Dodi itu, kalo berani dekati kamu." Protes Aldi
"Nggak apa-apa hidup susah, yang penting punya pasangan nggak cemburuan, nggak nuduh sembarangan."
Aldi menghentikan mobilnya. "Iya, iya, aku janji nggak gitu lagi. Udah yah, marahnya udahan. Masa mau ketemu mantan, kita berantem."
Riska mengangguk. "Iya"
Aldi kembali menjalankan mobilnya, bergabung dengan kendaraan lain.
10 menit kemudian mereka tiba. Masih ada 5 menit sebelum jam 12.
Aldi keluar lebih dulu lalu membukakan pintu untuk Riska, tak lupa dia genggam tangan istrinya masuk ke dalam restoran.
Tiba di dalam, mereka berhenti. Tepatnya Aldi, yang menatap seluruh penjuru restoran. Terlihat Clara sudah tiba lebih dulu, duduk dimeja pojok dekat kaca.
Aldi langsung menuntun Riska ke arah tempat duduk Clara.
"Clara?" Sahut Aldi setelah tiba didepan Clara.
Clara yang sibuk menatap keluar, langsung tersentak ketika mendengar suara yang begitu dia rindukan. Kedua sudut bibirnya tertarik keatas. Lekas dia berpaling, menatap ke arah asal suara. Senyumnya perlahan memudar, ketika dia dapati Aldi tak sendiri, melainkan dengan seorang perempuan cantik.
"Hai Al, silakan duduk." Balas Clara canggung.
Aldi menarikan bangku bersebelahan dengan Clara, untuk Riska. Lalu dia duduk berhadapan dengan Clara, jadi posisi Riska ditengah.
"Maaf lama, Kenalkan ini Riska istriku." Ujar Aldi, lalu mengenalkan Clara dengan Riska.
"Riska"
"Clara"
Ucap mereka bergantian menyebutkan nama masing-masing, sambil tangan mereka berjabatan.
"Nggak apa-apa kok, Al. Aku tau kamu juga pasti sibuk. Aku juga belum lama tiba." Tutur Clara
Clara pun memanggil pelayan. "Mau pesan apa, Al, Riska?"
"Mau pesan apa, Yang?" Aldi bertanya sambil menyodorkan menu.
Riska melihat menu makanan dan minuman. "Aku nasi goreng cabe ijo aja, sama es jeruk. Kamu pesan apa, mas?"
__ADS_1
"Pedes lho itu Yang, nanti sakit perut." Protes Aldi.
Sedari tadi Clara memperhatikan interaksi Aldi dan Riska.
"Kamu belum berubah, Al. Tetap perhatian pada orang yang kamu anggap penting." Ujar Clara dalam hati.
"Mbak aku nasi goreng seafood aja, minumnya sama es jeruk. Punya istri saya, jangan terlalu pedas yah." Ujar Aldi kepada pelayan.
"Mbak, aku es jeruk aja yah." Ucap Clara.
Pelayan pun pergi setelah mencatat pesanan.
"Kamu dapan nomor ponsel aku dari siapa?" Aldi membuka percakapan, jujur dia penasaran, dari siapa Clara mendapatkan nomor ponselnya. Karena dia sudah tak lagi memakai nomor ponsel yang sama saat kuliah.
"Dari Revan, aku nggak sengaja ketemu dia."
"Revan kampr*t!" Umpat Aldi dalam hati.
"Terus, kamu minta buat ketemuan, untuk apa?" Tanya Aldi dengan menaikan sebelah alisnya.
"Aku mau minta tolong Al. Aku ingin pisah sama suami aku, dia sering KDRT, tukang selingkuh juga." Ujar Clara dengan sendu.
Pelayan mengantarkan pesanan mereka, meletakkan masing-masing didepan mereka.
"Kita makan dulu, nanti kita bicarakan setelah makan." Sela Aldi.
Aldi kemudian menelepon Bian dan Revan, untuk datang ke restoran.
Kemudian mereka mulai menikmati hidangan, dengan Clara yang sibuk mencuri lihat kemesraan Aldi dan Riska.
Tak sengaja Riska tersedak.
Aldi dengan cepat menyodorkan minuman nya.
"Tuh kan, aku bilang juga apa. Itu pedas, Yang. Sini, kamu makan punya aku aja." Sentak Aldi, lalu langsung menukar makanannya dengan Riska.
"Dulu, aku yang ada diposisi itu." Batin Clara
Dengan wajah cemberut, Riska tetap menurut.
Aldi tergelak menatap Riska. "Ya ampun, Yang. Makannya pelan dong, ini sampe belepotan lho. Nggak ada yang minta kok." Ujar Aldi sambil membersihkan sudut bibir Riska dengan tisu.
"Dulu, aku yang kamu perlakukan seperti itu Al. Boleh kah aku cemburu?" Batin Clara.
Selang 10 menit selesai makan, Bian tiba.
"Sorry Al, tadi ada janji soalnya." Ujar Bian kemudian mengambil tempat di tengah antara Aldi dan Clara.
Bian kemudian tersadar, jika ada ternyata ada Riska dan ... Clara.
"What! Al, kok ada Clara sama Riska juga? Lho mau mempertemukan masa lalu sama masa kini, untuk membina masa depan bersama? Parah, parah .." Pekik Bian.
"Parah banget mulut lho, Yan. Clara yang ajak ketemuan, katanya mau minta tolong. Jelas gue bawah istri dong, biar nggak ada salah paham nanti."
__ADS_1
Ptes!
Aldi menjitak dahi Bian setelah menjawab.
"Oh gitu ..." Bian manggut-manggut.
"Terus, ini kita cuma mau diam-diaman aja?" Tanya Bian lagi setelah hening 5 menit.
"Sabar, masih nungguin sih Revan." Jawab Aldi.
"Sorry gue telat." Sahut Revan baru tiba. Melihat tak ada bangku kosong, Revan mengambil bangku dari meja lain dan menariknya ke samping Riska, hingga posisinya di tengah antara Aldi dan Riska.
Sadar ada Riska, sih OG cantik yang pernah berdebat dengan Aldi tempo hari.
"Hai cantik, kok ada disini. Bareng siapa?" Sapa Revan tebar pesona kepada Riska, maklum dia tidak tau jika Riska sudah menikah dengan Aldi.
"Wah, cari mati ini sih Revan." Celetuk Bian, melihat wajah Aldi yang mulai menunjukkan raut cemburu.
Aldi lekas menarik Revan, dia langsung menukar tempat duduknya dengan Revan. Sekarang Aldi yang duduk disamping Riska.
"Jangan jadi pebinor lho, Rev. Bini orang, digombalin." Sentak Aldi dengan wajah merah padam.
Revan menaikkan sebelah alisnya. "Bini siapa? Emang dia udah nikah?" Tanya Revan polos.
"Iyalah .. Dia bini gue, sekali lagi elu godain, gue gorok tuh leher." Ancam Aldi.
Revan terbelalak, lalu kemudian cekikikan. "Udah gue duga sih, sejak lihat perdebatan absurd kalian berdua tempo hari, kalian berdua emang berjodoh."
Revan heran ada Clara juga. "Terus maksudnya ini apa? Kenapa ada Clara juga? Mau akurin istri tua sama istri muda?"
"Ini lagi satu, pengen banget gue jedotin itu kepala ke tiang. Gue setia, cukup satu seumur hidup." Sentak Aldi.
Aldi berbalik menatap Riska. "Yang, jangan dengerin omongan mereka. Aku setia, sumpah! Kamu percaya aku kan?" Tanya Aldi sambil memegang tangan Riska yang ada diatas meja.
"Harusnya aku yang jadi prioritas kamu. Ternyata sekarang semua sudah berubah." Batin Clara.
"Hm, kalo bohong kan gampang. Tinggal kebiri aja, bereskan ..." Balas Riska dengan cuek.
Haha ...
Revan dan Bian tertawa, kasihan sekali sahabat mereka.
Aldi merenggut. Dia tatap Bian dan Revan dengan tatapan tajam. "Gue sumpain nggak punya jodoh, baru tau rasa lu berdua." Protes Aldi.
"Eh-, Gue udah punya calon kali .." Sela Bian.
"Siapa?"
Tanya Riska, Aldi dan Revan bersamaan.
Bersambung ...
See you next chapter, bye ...
__ADS_1
...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote dan hadiah...
...Agar lebih semangat menulis...