
Riska masih ngambek pada Aldi karena kelakuannya sore tadi dirumah sakit. Malu sekali Riska mendengar pertanyaan Aldi tadi. Ingin sekali ia sembunyikan wajahnya kedalam bak air, nda tidak keluar. Pasalnya ada mertua dan Renata yang juga ikut, tapi pertanyaan Aldi tidak tau tempat. Pokoknya malu sekali Riska!
"Udah dong, sayangku, ngomong dong sama aku. Aku kok di diemin terus dari tadi." Rayuan Aldi yang tengah berusaha membujuk Riska. Tapi Riska tak menggubris, masih kesal dia. Susah untuk Aldi luluhkan, apalagi saat sedang hamil begini.
Kerja keras sekali Aldi sekarang.
"Honey, baby, sayangku, cintaku padamu seluas lautan, sebesar samudra .. Jangan ngambek lagi, janji aku janji nggak lagi kayak gitu. Ya .. ya .."
Ingin tertawa Riska mendengar gombalan suaminya ini, sampai susah ia menahan tawanya. Kasihan sekali para wanita yang mengidolakan suaminya ini, yang mereka idolakan kecuekkan, datarnya, padahal aslinya luar biasa beda 180 derajat.
"Ngomong dong sama aku, sayang. Mau apa? Aku turutin pokoknya asal kamu mau ngomong lagi sama aku. Aku kayak ngomong sama patung loh .. Untung cantik."
"Shine, tolong bantu Papamu ini untuk membujuk Mama. Katakan untuk memaafkan Papa, bujuk agar Mama mau bicara dengan Papa. Ayolah Shine .. bantu Papa." Ujar Aldi berbicara dengan calon bayi mereka yang masih bersembunyi dalam perut Riska. Sambil Aldi usap pelan permukaan perut istrinya yang masih rata, agar anaknya sudah kenal dengan sentuhan Papanya. Kan gawat kalau anaknya tidak kenal, sudah susah ngidam lalu tidak dikenali. Kasihan sekali nasibnya nanti.
"Shine?"
Akhirnya, berkali-kali Aldi ucapkan terima kasih pada Tuhan. Setelah segala cara ia pakai, akhirnya istrinya bicara juga. Sejak dari rumah sakit loh tadi dia diam mogok bicara.
"Kenapa, Shine?" Cecar Riska kembali, karena pertanyaan sebelumnya belum mendapat jawaban. Aldi masih diam melongo.
"Oh itu, sayang, nama panggilan aku buat calon anak kita." Jelas Aldi.
"Shine cenderung nama untuk anak perempuan, kamu ingin anak kita perempuan?"
"Bukan ingin si, Yang, aku tetap terima apapun jenis kelaminnya. Mau perempuan atau laki-laki, ya sedikasih yang diatas."
__ADS_1
"Lalu? Kenapa kamu pakai nama itu sebagai nama panggilan untuk calon bayi kita?"
"Gini sayang, kamu tau arti kata itu?" Riska mengangguk, ia mengerti. Dia sekolah sampai lulus SMA, sedikit-sedikit dia mengerti bahasa Inggris.
"Nah, sama seperti artinya; Shine, kehadiran dia itu menyinari kebagian untuk keluarga kita sayang." Ungkap Aldi dengan wajah penuh haru, matanya bahkan berkaca-kaca saat berbicara. Anak ini begitu ia inginkan.
Riska ikut terenyuh, matanya juga langsung berkaca-kaca, dadanya langsung sesak penuh haru, bahagia sekali melihat suaminya begitu menyayangi calon anak mereka.
"Aku akan jaga calon anak kita, aku janji akan lebih berhati-hati lagi dari sebelumnya. Pokoknya, aku nggak akan jaga dia sebaik-baiknya. Sampai nanti dia lahir, dan tau jika Papanya adalah yang terbaik, Papa yang hebat. Hikss .." Riska langsung pecah tangisannya, tak kuat dia dengan suasana yang sedih. Apalagi pengaruh hormon kehamilan membuat ia mudah terbawa perasaan.
Tak sanggup melihat tangisan istrinya, lekas Aldi langsung membawa tubuh istrinya dalam dekapan hangatnya. Tangannya sigap langsung mengelus kepala istrinya, berusaha menenangkan.
Riska menyembunyikan wajahnya di ceruk leher suaminya, belum juga ia berhenti menangis, sampai basah baju suaminya. Apalagi perkataan Aldi membuatnya tak ingin menyudahi tangisannya.
"Aku juga akan bantu kamu, Yang, untuk jaga dia. Kita sama-sama jaga dia sampai dia lahir, sampai dia dewasa, sampai nanti dia menemukan seseorang yang akan dampingi dia. Aku janji."
***
Riska dan Aldi turun ke bawah menuju ruang makan untuk memulai sarapan. Aldi sebenarnya masih lemas, apalagi tadi pagi kembali ia mengalami gejala morning sickness. Tapi tidak ia harus berangkat kerja, tak mungkin ia menelantarkan ratusan karyawannya.
Tiba di ruang makan, Riska berjalan pelan menuju dapur kemudian balik lagi.
"Ini mas, minum dulu teh jahenya, biar perutnya enakkan."
Riska menyerahkan secangkir teh kepada Aldi yang duduk lemas di meja makan.
__ADS_1
"Makasih sayang,"
"Ris, mulai sekarang nggak boleh lagi ke dapur. Kalo butuh apa-apa, nanti bisa minta tolong diantar aja. Takut Mama, gimana kalo lantainya licin." Tegur Elsa yang tadi memperhatikan Riska yang masuk dapur. Walau bukan dia yang membuat teh, hanya mengambil saja.
"Dengerin loh, Yang, kata Mama. Awas yah kalo bandel. Tau banget aku sifat kamu yang nggak enakkan kalo nyuruh-nyuruh orang lain." Pungkas Aldi ikut menasehati istrinya.
Riska meringis mendapati nasihat mertua dan suaminya. Bahagia sekali ia akhirnya mendapatkan sosok ibu lagi.
"Iya Mas, iya, Ma. Riska nggak akan bandel kok, Riska juga nggak mau sampai calon anak Riska kenapa-kenapa." Jawab Riska mengangguk.
"Ayah, Ibu, Riska sekarang punya penganti kalian berdua. Riska sekarang punya Mama Elsa dan Papa Raka yang begitu menyayangiku. Ayah dan ibu sekarang tak perlu khawatir lagi, sekarang Riska sudah ada suami, Mama dan Papa yang gantiin Ayah dan ibu buat jaga Riska." Ucap Riska dalam hati.
**Ada yang nungguin nggak ceritanya Riska sama Aldi**?
**Di bab ini mau buat part sedih, nggak tau kalo fellnya dapet apa nggak**.
**menurut kalian gimana? Jangan lupa masuk kolom komentar yah** ..
__ADS_1
**Babaii .. 👋**