Ternyata Jodohku

Ternyata Jodohku
Episode 71


__ADS_3

Selamat membaca 🌷🌷🌷


Tiba ditempat mereka membuat janji, terlihat sudah ada 2 orang pria, Revan dan sepupunya pasti, dan Clara yang duduk diseberang.


Bian mengambil tempat disamping Revan, dan Aldi juga Riska diseberang, disamping Clara. Tepatnya Riska yang berada diantara Aldi dan Clara. Tidak mungkin jika Aldi duduk ditengah. Bisa jadi hukuman Riska sekarang, akan berubah menjadi mutlak seterusnya.


"Oke, karena semuanya sudah ada. Kita mulai saja. Silakan, Raf." Seru Revan membuka obrolan.


"Baik. Sebelumnya Kenalkan saya Rafka Salendra, sepupu Revan sekaligus pengacara yang akan mendampingi kasus Bu Clara."


"Saya juga sudah melihat hasil visumnya, itu adalah salah satu bukti yang kuat, untuk gugatan KDRT. Apa ada lagi bukti lain? Tentang gugatan perselingkuhan, Bu Clara?" Tanya Rafka, menatap wajah cantik Clara.


"Ada. Saya punya rekaman diponsel, saat suami saya membawa jal**gnya ke kamar pribadi kami. Silakan." Clara menyerahkan ponselnya kepada Rafka.


"Njir, bo**p real life. Tahan banget kamu Ra merekamnya? Kok bisa gampang dapatin rekamannya?" Celetuk Revan setelah melihat sebagian video.


"Bukan ke nggak tahan sih, tapi lebih ke jijik. Mungkin karena saking seringnya aku lihat, sampai rasa sakit hatiku sudah lenyap. Dan dia tidak pernah mengunci pintunya, seakan ingin menunjukkan kepadaku." Clara menghela napas panjang.


"Mungkin dulu, aku berharap dia akan berubah. Mengingat ada anak diantara kami. Namun semakin kesini, aku sadar, dia tidak akan pernah berubah. Dia tidak pernah menginginkan anakku. Dia hanya menganggap aku sebagai salah satu ja**ngnya. Dia hanya hidup untuk dirinya sendiri, dia hanya memikirkan kesenangan dirinya sendiri." Lanjut Clara dengan lirih.


"Tenang saja. Aku akan bantu kamu." Jawab Rafka.


"Aku hampir lupa. Aku juga sempat video-in waktu suaminya bertindak kasar sama Clara didepan rumah. Maaf Ra, bukan bermaksud apa-apa. Aku sengaja rekam saat anterin kamu pulang waktu itu. Aku cuma mau bantu kamu aja." Timpal Riska.


"Nggak kok. Nggak usah merasa bersalah, Ris. Aku tau, kamu cuma ingin membantuku. Terima kasih." Jawab Clara tersenyum tulus.


Sedang Rafka yang sedari tadi memperhatikan interaksi Clara dan Riska, tertegun melihat senyum manis Clara.


"Baiklah. Saya rasa bukti ini cukup kuat, untuk menggugat suami kamu. Nanti tolong berikan data suami kamu, juga data pribadi kami, juga semua berkas penunjang gugatannya." Sela Rafka setelah menormalkan dirinya.


"Sudah aku bawah semuanya, ini. Dan tolong bantu aku, mendapatkan hak asuh anak." Ujar Clara memohon, dengan menyerah berkas kepada Rafka.


"Baik. Untuk hak asuh anak, kamu berpeluang besar mendapatkannya. Karena masih balita, dan salah satunya dari video yang mbak Riska perlihatkan, suami kamu tak segan berlaku kasar didepan anak kalian. Tenang saja."


"Aku akan ajukan dulu ke pengadilan. Minggu depan mungkin kamu dan suami kamu akan mendapatkan surat panggilan. Dan sebaiknya, demi melancarkan proses perceraian ini. Sebaiknya kamu pindah untuk sementara, karena aku yakin suami kamu akan berusaha menggagalkan." Sambung Rafka.


"Iya betul. Aku punya apartemen kosong, kamu bisa tinggal disana sementara, Ra." Sela Revan.


"Iya. Makasih yah kalian masih mau membantuku. Aku siapkan barang-barangku dulu, dan keluar dari rumah saat suamiku tidak dirumah."


"Nanti kamu hubungi aku jika sudah siap. Nanti aku jemput dan antar ke apartemenku." Jawab Revan.


Dalam mobil saat akan kembali ke kantor, seperti formasi sebelumnya. Bian mengemudi, sedang Aldi duduk berdua dengan Riska dikursi penumpang.


"Kasihan yah, Clara. Punya suami kelakuannya kayak begitu." Seru Riska memecah keheningan.

__ADS_1


"Menurut aku, itu karma. Siapa suruh milih laki begitu, dan ninggalin yang benar-benar cinta sama dia. Iya kan, Al?"


"Kalo nggak kayak gitu, aku nggak mungkin nikah sama Riska, Yan. Bukannya mensyukuri apa yang dialami Clara. Hanya saja, aku merasa Tuhan begitu baik. Dia menunjukkan siapa yang sebenarnya pantas aku perjuangkan." Sentak Aldi.


"Bukannya mau membela Clara. Dia juga lakukan itu semua, karena tuntutan orang tuanya. Dia sebenarnya baik, hanya orang disekitarnya saja yang membuat dia terlihat jahat." Pembelaan Riska.


Getar ponsel Bian terdengar, cepat dia jawab panggilan tersebut.


"Halo calon istri .." Sahut Bian sambil cekikikan.


Aldi dan Riska saling lempar pandangan sambil terkikik geli.


"Walaikumsalam .. Harus biasakan dong jawabnya begitu." Bian terkekeh mendengar decakan Selly.


"Assalamualaikum calon istri .."


"Walaikumsalam .. Mas, lagi dimana? Sibuk nggak? Bisa minta tolong?"


"Udah siap yah jadi istri? Makanya udah belajar panggil, mas?" Goda Bian.


"Ihh .. Apaan sih. Jawab dulu yang tadi, jangan gombal mulu." Selly sampai tersipu, tanpa Bian tau.


"Iya-iya. Mas lagu dijalan mau balik kantor. Kenapa? Mau minta tolong apa?"


"Mobil aku mogok dijalan, mau ikut seminar dihotel Grand Plaza. Bisa minta tolong jemput nggak?"


Bian mematikan sambungan, lalu mengecek ponselnya.


"Al, putar ke jalan anggrek yah? Mau jemput Selly, mobilnya mogok." Izin Bian, setelah mengetahui lokasi Selly.


Aldi hanya mengangguk.


Bian belokan mobilnya kekiri, memasuki sebuah lorong, lalu kembali berbelok kekanan, lalu kemudian lurus. Tak lama terlihat seorang wanita yang memakai baju dinas berwarna cokelat, berdiri samping mobil berwarna putih.


Bian menepihkan mobilnya didepan mobil Selly, kemudian keluar menghampiri gadis pujaannya.


"Maaf lama."


Selly tampilkan senyuman. "Enggak kok." Dia mengeleng.


"Yuk masuk. Nanti terlambat." Bian bukakan pintu depan, samping pengemudi.


Ketika masuk, Selly terkaget, melihat ada 2 orang berbeda jenis, duduk dibelakang.


Bian ikut menyusul masuk, mengetahui keterkejutan Selly, Bian langsung menjelaskan.

__ADS_1


"Sel, kenalin itu Aldi sama Riska istrinya. Aldi atasanku dikantor. Dan Al, Ris, kenalkan ini Selly, calon istriku."


Selly tersipu mendengar Bian mengakui dia sebagai calon istri.


"Hai, aku Riska dan ini suami saya Aldi. Salam kenal yah." Jawab Riska.


"Iya mbak. Senang kenal dengan mbak."


"Mbak? Tua-an kamu calon istriku dari Riska." Protes Bian.


"Maaf, aku nggak tau soalnya." Ucap Selly.


"Nggak apa-apa. Panggil nama aja yah, biar akrab."


Aldi menjelaskan sesuatu dengan bisikan, takut didengar oleh yang lain. Riska sontak terkejut mendengar penjelasan Aldi.


"Eum maaf, Selly. Ada yang mau saya tanyakan."


"Iya, mau tanya apa, Riska?" Selly memutar tubuhnya menghadap belakang.


"Apa benar kamu dan Sesil, kakak-adik?"


"Iya. Kamu saudara satu ibu, ayah kami berbeda. Apa kak Sesil pernah berbuat salah sebelumya? Melihat kamu dan Bian sama-sama terkejut mendengar berita ini. Maaf kalau kurang sopan." Selly tak enak sebenarnya bertanya seperti itu, namun dia penasaran.


Hufff ..


Riska membuang napas kasar. Dia harus menguatnya hatinya lebih dulu, sebelum membuka kejadian menyakitkan itu.


"Apa kamu tau, Sesil sekarang sedang dipenjara?"


"Iya, aku tau." Perasaan Selly mulai tak sedap.


"Apa kamu dia terjerat kasus apa?"


Selly mengeleng. "Kedua orang tuaku menutupinya. Apalagi Mama, dia sangat menyayangi kak Sesil."


"Dia melakukan tindakan pembunuhan berencana. Dan aku targetnya, namun anak kamu yang menjadi korbannya."


"Astaghfirullah .. Ya Allah, kak Sesil .."


Bersambung ...


See you next chapter, bye ..


...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote, dan hadiah...

__ADS_1


...Agar lebih semangat menulis...


__ADS_2