
Selamat membaca 🌷🌷🌷
Setelah pembicaraan sepihak tadi malam, pagi ini ada yang sedikit berbeda dari Riska. Ya sepihak, karena Riska tak memberikan tanggapan apapun atas perkataan Aldi semalam. Setelah mendengar ucapan yang sedikit menusuk dari Aldi, dia memilih langsung berbaring membelakangi Aldi.
Aldi sedang mandi saat ini, tak lupa dia sudah menyiapkan 1 pasang setelan kerja untuk suaminya. Kemudian duduk disofa, dengan pandangan lurus kedepan.
Haruskah aku menjauhi, agar kau merasa bahwa aku berharga?
Haruskah kehilangan lebih dulu, baru kau menyadari bahwa hadirku begitu berarti?
Tak bisakah hanya aku dan anakmu saja di hatimu?
Seindah apa dirinya? hingga hanya sisa bayangan saja, namun bisa menyaingi aku dan anakmu ...
Jika dengan kenangan, dia begitu susah dilupakan .. Haruskah aku berlaku demikian?
"Ris, aku berangkat dulu." Semua pemikiran yang mengasa otaknya buyar, ketika Aldi menariknya kembali ke dunia nyata lewat perkataan.
"Hm" Jawaban yang hanya berupa deheman, singkat namun ada nada kekecewaan disana.
Cup!
Kecupan di keningnya, tak dia tolak. Menerima ... Namun berbeda, tak ada lagi rasa berbunga, terasa hambar, kerena hanya sebuah bentuk formalitas. Mungkin ...
Cup!
"Bye anak Papa, Papa kerja dulu yah .." Kecupan diperutnya dan kata pamitan untuk anaknya. Terdengar tulus ...
Tak ada senyuman yang mengantarnya keluar dari kamar, begitu datar. Dan Aldi menyadarinya.
***
Tok .. Tok ..
"Riska .... "
Suara panggilan dari mertuanya terdengar dari luar pintu kamar.
"Masuk aja Ma, nggak dikunci." Sahutnya yang tengah duduk bersandar diranjang.
__ADS_1
Elsa berjalan masuk menghampiri menantunya, memberikan sedikit senyuman tapi dengan tatapan mata mengintimidasi.
"Ris, teman-teman Mama mau datang boleh mama minta tolong?" Elsa berdiri samping ranjang dengan jarak 1 meter
"Apa Ma? Kalo bisa, Riska pasti bantu."
"Kamu boleh nggak rapihin ruang tamu? Bibi lagi keluar, sedangkan sebentar lagi mereka datang. Mama masih harus siap-siap juga, nggak sempet." Elsa menatap lesu, Akting yang bagus.
"Nanti Riska rapihkan Ma, Mama siap-siap aja."
"Makasih yah, Ris." Elsa menujukan senyum kepalsuannya. Berbalik berjalan keluar, "Mudahkan ... " Batinnya
Sedang Riska menatap sendu punggung mertuanya, dia tau jika mertuanya segaja agar dia tidak betah tinggal disini. Tapi, tak apakan berusaha? Siapa tau suatu saat mertuanya akan menerimanya dengan tangan terbuka.
Riska turun dengan hati-hati menuju ruang tamu, sebelum itu dia mengambil kemoceng dan kain lap. Membersihkan semua sofa dengan kemoceng lalu mulai mengelap kaca meja, lemari hias, gucci mahal dan pajangan lain. Sesekali dia mengelap keringat diwajah, dia sangat kelelahan, namun masih ada dua gucci besar lagi yang harus dia bersihkan.
"Hai jeng, apa kabar? Yuk masuk .." Sapa Elsa sudah berganti pakaian, menyambut ketiga teman sosialitanya dan seorang gadis.
"Duduk dulu, mau minum apa nih jeng?" Ajak Elsa sekaligus bertanya
Sibuk membersihkan gucci, hingga dia tak menyadari jika diruang tamu itu sudah ada orang lain.
"Jeng, siapa tuh? Cantik yah?" Elvina salah satu teman Elsa bertanya.
Belum juga Riska menjawab, namun langsung disela oleh Elsa. "Pembantu, jeng." Lalu tersenyum miring kepada Riska, "Cepat ke dapur, buat minumnya." Lanjutnya.
Riska tak menjawab, dia perlahan berjalan ke dapur dengan menunduk. Matanya mulai berkaca-kaca, apalagi melihat tatapan mengejek dari Sesil padanya. Seorang istri dan menantu yang hanya sebatas status, kira-kira begitu.
Meski letih, apalagi belum lama keluar dari rumah sakit. Namun Riska tetap membuat pesanan mertuanya, kemudian dia antarkan.
"Namanya siapa? Udah punya pacar? Mau nggak Tante kenalin ke anak Tante? Namanya Juno, dia pengacara." Baru selesai meletakan minuman, Perkataan seorang teman dari mertuanya membuat dirinya kikuk.
"A- Em anu Tan, saya---- Riska kembali ke dapur, selesaikan pekerjaan kamu." Sela Elsa tak sudi, Riska dipuji.
Riska lekas kembali ke dalam, namun telinganya sempat mendengar sayup-sayup percakapan mereka.
"*Kayak nggak ada perempuan lain aja, dia itu cuma pembantu, miskin." Suara mertuanya
"Aku nggak masalah akan status sosialnya, kelihatannya dia perempuan baik." Suara ibu-ibu yang tadi bertanya padanya
__ADS_1
"Iya, jeng. Orang miskin nggak cocok sama kelas kita, lihat jeng Elsa maunya menantunya sih Sesil yang sama derajatnya."
"Iya, jeng cari yang kayak anak saya dong sih Sesil. Bebet, bibit, bobotnya jelas ..." Sudah dipastikan itu suara Mamanya Sesil*.
***
Aldi berjalan beriringan dengan Bian melewati lobby kantor, sapaan hormat di terimanya tanpa dibalas sedikitpun. Auranya hari ini nampak suram, dengan raut datar mendominasi.
Tiba di ruangannya, diikuti Bian yang juga ikut masuk. Aldi langsung menghempaskan tubuhnya ke sofa. Jelas, bagai bayangan Aldi, Bian pun ikut duduk di sampingnya.
"Kenapa wajah kakanda bermuram durja? Apakah ada sangkut pautnya dengan adinda dirumah?"
"Aku bingung!" Balas Aldi menatap Bian.
"Karena apa?" Bian mengubah posisi miring menghadap Aldi.
"Aku mulai nyaman dengan Riska, mulai membuka hati pastinya. Tapi masih ada nama lain yang terkunci disudut hatiku." Kesah Aldi, jujur akan kondisi dilemanya.
"Aku disini sebagai sahabat kamu, aku hanya bisa memberikan masukan. Entah kamu terima atau enggak, itu tergantung kamu sendiri ... " Bian menjeda kalimatnya, ".... Menurut aku, untuk apa mempertahankan masa lalu. Jika seorang dimasa sekarang bisa mengukir masa depan indah dengan kamu. Seperti yang kamu bilang tadi disudut hati, Dia hanya ada disudut hati kamu .. Buat orang yang kamu katakan nyaman, menutup hingga ke sudut hati kamu hingga yang tadi berdiam disudut keluar sepenuhnya ... " Lanjutnya
"Tapi .. " Aldi masih bimbang.
"Al, jangan sampai kamu seperti seorang tokoh dalam novel yang author baca. Tak mempertahankan, hingga akhirnya berujung penyesalan. Ketika dia ingin memperbaiki, namun sudah ada orang lain yang lebih dulu menyembuhkan. Dia .. perempuan itu sudah pernah berusaha, tapi tak dihargai. Akhirnya memilih pergi, agar hatinya tak lagi terperosok dalam lubang kesakitan. Untuk apa bertahan dengan orang yang tak ingin dipertahankan .."
"Pikirkan baik-baik Al, jangan sampai kamu menjadi seperti tokoh itu. Menyesal seumur hidup, untuk apa? Apalagi kalian akan punya anak sebentar lagi ... Aku balik ke ruangan, dulu." Bian menepuk dua kali bahu Aldi, kemudian beranjak.
Bian bukannya membela salah satu, namun jika dia berada diposisi Aldi sekarang. Dia akan lebih memilih Riska, lagi pula dia perempuan baik. Untuk apa menunggu orang, yang jelas-jelas pernah menyakiti bahkan berpisah karena di khianati ....
Perginya Bian, Aldi masih duduk disofa tak beranjak sedikit pun. Merenung, apa yang harus dia pilih. Jujur nasehat Bian tadi sangat menganggu otaknya .. Sanggupkah dia, Jika Riska pergi dengan anaknya? Haruskah dia mengikuti saran Bian, membuat Riska sepenuhnya diam dalam hati, dan membuang nama orang lain yang ada disudut hatinya?
Bersambung...
Bagaimana menurut kalian?
Aldi harus apa?
See you next chapter, bye...
...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote dan hadiah .....
__ADS_1
...Agar makin semangat menulis...