Ternyata Jodohku

Ternyata Jodohku
Episode 52


__ADS_3

Selamat membaca 🌷🌷🌷


.


.


Takdir


Di gariskan Tuhan, di jalankan oleh manusia.


Garis takdir seorang janin yang kelak nanti akan menjadi seorang bayi, seorang anak, kemudian beranjak dewasa hingga menjadi orang tua.


Namun tidak demikian bagi janin dari Aldi dan Riska, garis takdirnya tidak seindah itu. Dia harus dipukul mundur, kembali kepada sang pencipta. Hanya karena keegoisan, dengki, iri hati, nafsu duniawi, dia tidak bisa melihat dunia.


Egois


Satu kata yang berjuta pemahaman, dan bisa melahirkan jutaan tindakan. Keegoisan, merubah seseorang, ingin memiliki kebahagiaan walau harus menghilangkan kebahagiaan orang lain.


Benarkan?


Buktinya, setelah 3 jam berlalu dalam kekalutan dan kesedihan. Akhirnya, operasi berjalan lancar dan sukses. Janin yang Raka bawah ke pekarangan belakang rumahnya, dia doa kan kemudian kuburkan. Harusnya ... Itu adalah calon penerus keluarga Narendra.


Mama ..


Kata yang nantinya akan terucap pertama kali, ketika sang bayi mulai berbicara kepada sang ibu, yang mengandung 9 bulan dan rela bertaruh nyawa melahirkannya. Namun tidak bisa dia ucapkan kelak ...


Mama sayang kamu, nak..


Papa ..


Kata yang nantinya akan dia panggil sebagai sosok pelindungnya, super Hero nya. Ketika dia akan mulai tertatih mengayunkan langkah pertama, memijak bumi, yang akan dengan sabar menuntunnya. Namun tidak bisa dia rasakan ..


Papa sayang kamu, nak ..


Yang belum sempat mereka ketahui jenis kelaminnya.


Selamat jalan, anakku ...


***


3 jam jalannya tindakan operasi, selama itu tak ada satupun anggota keluarga Narendra yang meninggalkan rumah sakit. Semua dengan gelisah, kecemasan duduk didepan ruang operasi.


Hingga akhirnya satu orang suster keluar, dan menyerahkan janin baru berusia 16 Minggu, yang dibungkus kain putih. Raka mengambilnya dengan diiringi Isak tangis, terlebih Elsa hatinya bagai disayat belati, itu harusnya nanti akan jadi cucunya.


Raka yang mengaburkan, mengingat Aldi harus menemani istrinya jika sadar nanti. Mereka sangat yakin, jika nanti Riska akan terguncang. Ibu mana yang akan baik-baik saja, jika kehilangan anaknya. Tidak ada,!

__ADS_1


Hingga selang beberapa menit, Dokter Aulia keluar. Dan seluruh keluarga mendekat, kecuali Raka yang pergi membawa janin yang sudah tak bernyawa.


"Alhamdulillah .. Operasinya berjalan lancar, sebentar lagi pasien akan dipindahkan ke ruang rawat, nanti sudah bisa dijenguk. Namun pasien masih dalam pengaruh obat bius, setelah sadar tolong beritahu perlahan tentang kondisi bayinya. Permisi .."


Ruang VIP anggrek No.4


Riska sudah dipindahkan sejak 1 jam yang lalu, matanya masih setia terpejam. Seluruh keluarga berkumpul, Raka juga sudah kembali.


Aldi duduk disamping ranjang rawat istrinya, dan Raka serta Elsa dan Renata duduk disofa panjang.


Aldi menatap istrinya, dahinya diperban akibat luka sobek dipelipis sebelah kiri, tangan kiri yang memar membiru akibat berusaha melindungi perutnya dari hantaman mobil (kata dokter, untung tidak sampai patah.), sungguh istrinya sudah berusaha menyelamatkan calon anak mereka, namun hataman mobil terlalu kuat, hingga Tuhan mengambil pulang calon anak mereka.


Eunghhhh


Riska mulai mengerjap, matanya mulai terbuka dengan perlahan, hingga terbuka sepenuhnya. Dengan spontan dia menyentuh dahinya, mungkin terasa sakit.


"Sakit ya?" Pertanyaan bod*h, anak kecil juga tau kalau luka itu sakit, Aldi.


Riska hanya mengangguk.


"Haus, mau minum." Aldi lekas mengambil gelas bening yang sudah terisi air mineral, setelah istrinya minta sigap Aldi ambilkan.


Aldi membantu istrinya minum memakai sedotan, belum bisa duduk karena baru selesai operasi.


Riska mulai sadar ada yang berbedah, perutnya mulai terasa nyeri karena pengaruh obatnya mulai hilang.


"Maaf .... Allah lebih menyayanginya .." Balasan dengan mengengam tangan kiri Riska.


"Kenapa ..."


"KENAPA?? AKU JUGA SAYANG DIA, AL ... BUKAN CUMA ALLAH SAJA ... ARGHHHH!!!" Jerit Riska, tak mampu lagi mengontrol emosinya. Hati Ibu mana yang tak sakit ..


Elsa, Raka dan Renata yang semula tertidur, terjengkit kaget akibat jeritan Riska. Lalu kemudian mendekati ranjang.


"KENAPA AL??? AKU BELUM LIHAT DIA LAHIR AL.. AKU BELUM GENDONG DIA ... hikss.." Riska mulai menangis histeris. "... Al .. anak kita, Al.. di-dia nggak mau ya punya mama kayak aku? makanan dia milih pergi ... hikss .." Riska memukul pelan dada suaminya dengan sisa kekuatannya.


Aldi tak melawan, dia membiarkan istrinya memukul dadanya. Sakit? Hatinya sakit, melihat istrinya sekarang. Aldi menangis, begitu juga Elsa, Raka dan Renata yang ikut menangis tak kuat hati melihat kesakitan Riska.


"Enggak, Yang. Bukan dia nggak mau punya mama kayak kamu, dia ingin. Tapi takdir yang tak mengizinkan, Yang ..." Aldi berusaha menenangkan meski air mata tak hentinya menetes di pipinya.


"Gara-gara aku nggak jagain dia, dia meninggal ya, Al? Aku ibu yang kejam, yah Al? Tega bunuh anaknya sendiri .." Ucapan Riska dengan pandangan kosong dan air mata yang tak henti menetes.


"ENGGAK!!!!" Teriak Aldi tak setuju dengan ucapan istrinya, istrinya sudah berusaha dengan bertaruh nyama untuk menyelamatkan. Namun takdirnya berbeda.


Elsa mendekat. "Riska maafkan Mama ... hikss ..." Ungkap Elsa dengan sendu.

__ADS_1


Riska menatap Elsa lama, kemudian tertawa. "Nyonya senang kan? Anak aku udah mati? Aldi bisa nyonya nikahkan dengan Sesil, yang nyonya bilang se level???" Kemudian Riska kembali menangis.


Semua membeku selain Elsa yang menangis histeris mendengar ucapan Riska. Aldi dan Raka bahkan langsung menatap tajam Elsa.


"Apa maksud perkataan Riska tadi, Ma?" Sentak Raka lebih dulu.


"Ma-mama jahat .. Pa, maafkan Mama .. Mama mertua yang jahat ..." Ungkap Elsa dengan tangisan yang tak berhenti. Menyesal ..


"Riska, tolong maafkan Mama .. Mama minta maaf .." Elsa memegang tangan Riska, namun langsung ditepis oleh Riska.


Jiwa Riska terguncang.


"Nyonya tidak pantas meminta maaf kepada seorang pembantu .." Ucap Riska dengan lirih.


Arhhhhh ...


Elsa menjerit mendengar ucapan Riska, dia tidak lupa, dia yang pernah berucap begitu.


"Tante tau .. Saya juga punya hati, dihina, dicaci maki .. Saya juga tidak pernah menginginkan semua ini. Saya juga ingin menikah dengan orang dari kalangan biasa saja, karena ini yang aku takutkan, tidak akan diterima karena status sosial. Saya memang miskin, tapi saya tidak se rendahan itu, untuk menjebak Aldi agar bisa merubah nasib. Yang Tante tuduhkan pada saya, tidak benar. Sungguh .."


Ungkapan dari hati Riska untuk Elsa, sang ibu mertua, dengan bercucuran air mata.


"Ma, apa benar mama berlaku seperti itu?" Sentak Aldi, namun tak menemukan jawaban. Elsa bungkam dengan tangisan. "JAWAB MA!!!!" Teriak Aldi dengan menggoyangkan bahu Elsa, menuntut jawaban.


"I-iya ..."


Ucapan singkat dengan terbata Elsa, membuat Aldi menjerit sambil menarik kasar rambutnya.


ARGGGHHHHH


Melihat keadaan yang mulai kacau, Raka menekan bel untuk memanggil dokter.


Dokter Aulia datang, menyuntikkan obat penenang untuk Riska.


Keluarnya Dokter diikuti juga dengan Raka yang menyeret Aldi dan Elsa keluar dengan Renata. Mereka harus meluruskan masalah, tak etis jika mereka berdebat dalam ruang rawat.


Tiba diluar ruangan.


"Ma jelaskan pada kami semua, sekarang! Jadi sikap baik Mama selama ini hanya sebuah topeng? Heh?"


Bersambung...


See you next chapter, bye...


...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote dan hadiah...

__ADS_1


...Agar lebih semangat menulis...


__ADS_2