
Selamat membaca 🌷🌷🌷
"Clara ada disini ... " Bian menjeda kalimatnya, dilihatnya respon Aldi. "... Aku tidak sengaja bertemu dengannya tadi malam." Lanjutnya melengkapi kalimatnya.
Aldi mematung dalam duduknya, terdiam mencerna kalimat yang di ucapkan Bian ..
Kenapa secepat ini?
Inikah cara Tuhan menguji akan bukti dari janjinya?
Setelah Aldi tersadar, "Apa maksud kamu?" Tanyanya.
"Aku tadi malam tidak sengaja bertemu dengan disebuah restoran, dia bersama dengan suaminya. Tapi ada yang aneh Al .."
"Aneh? kenapa?" Aldi mengerit.
Bian pun menceritakan semua kejadian yang dia lihat tadi malam, tak ada yang dia tutupi. "Gitu Al .."
Aldi membuang nafas kasar. "Hmmm ... Aku nggak tau harus merespon seperti apa, Yan. Saat ini ada hati seseorang yang harus aku jaga, lagi pula itu pilihan dia, bukan?"
"Yah ... Dia mencampakan mu demi laki-laki brengs*k seperti suaminya sekarang, apa itu bisa disebut karma?" Bian menyenderkan punggungnya.
"Entahlah, jujur aku kasihan. Tapi aku takut, jika aku ikut campur, lalu keluarga yang baru ku rangkai akan hancur. Sikapku benar kan, Yan?" Aldi menoleh ke arah Bian.
"Hm, aku rasa itu pilihan yang tepat. Lebih baik kau urus Riska dan calon anak kalian, ingat Siska bisa saja melakukan hal gila jika kau lengah menjaganya." Saran Bian
"Iya"
Tak ada lagi percakapan, mereka berdua mulai sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
***
Riska selesai berkutat dengan tepung, dia sedang ingin makan brownies dengan toping keju. Rupanya dia sedang ngidam.
"Selesai." Ucapnya setelah menaburkan keju parut diatasnya.
Wangi aroma kue tersebut tercium sampai ke ruang keluarga, di sana mertuanya tengah asik membaca majalah fashion.
"Bau nya enak, bisa cicipin kali yah." Monolognya, kemudian lekas menutup majalah dan meletakkan kembali diatas meja.
Aroma kue tersebut bagaikan penunjuk arah, hingga langkah kakinya mengatarnya ke dekat dapur. Terlihat 1 kotak brownies yang sudah diatas piring terletak dimeja dapur.
"Ma, Riska buat brownies. Mama mau cobain?" Riska dengan mata jeli, menangkap keberadaan ibu mertuanya yang berdiri dekat pintu penghubung ruang makan dan dapur.
Elsa yang kaget karena kepergok, dengan cepat menolak. "Tidak!" Elsa lekas berbalik duduk disofa tadi.
"Kayaknya enak sih, tapi gengsi dong yah .." Gumam Elsa dalam hati.
Riska memilih abai, lebih baik mengikuti keinginan sang bayi untuk memakan sepotong demi sepotong brownies buatannya.
__ADS_1
"Enak banget ... Bisa bikin toko kue nih." Riska memasukan kembali sepotong brownies kedalam mulutnya.
Tak terasa tinggal 4 potong saja yang tersisa dipiring. "Simpan aja deh, buat Papanya sih adek." Riska memasukan piring brownies tadi ke dalam lemari pendingin.
Selesai menyimpan sisa brownies tadi, Riska bergegas mandi. Hari mulai sore, suaminya sebentar lagi akan pulang.
Melihat Riska sudah naik ke lantai atas, Elsa dengan buru-buru melempar majalah ditangannya ke sembarang arah. Lekas dia lari ke dapur.
Membuka tudung saji, nihil. Lalu beralih ke lemari pendingin, dan dia menemukan yang dia cari sedari tadi.
Satu potong brownies masuk ke mulutnya. "Rasanya tidak buruk, lumayan enak." Gumam Elsa disela kunyahan.
"Pinter juga sih jelata bikin kue." Potongan ketiga berhasil dikunyah.
"Loh ... Habis? Perasaan baru sekali makan, lainnya kok ilang?" Ucapan Elsa setelah mengunyah potongan brownies terakhir. Tak terasa brownies tadi tandas, lenyap tertelan ke dalam perutnya.
Elsa lekas memasukkan piring yang sudah kosong tadi ke dalam lemari pendingin, agar tidak ada yang curiga.
***
"Assalamualaikum ..."
"walaikumsalam ... Eh, mas udah pulang?" Riska berdiri menyambut kedatangan suaminya didepan pintu kamar, mengambil tangan suaminya menyalim.
"Mandi gih, aku udah siapin baju gantinya." Riska mendorong pelan punggung Aldi masuk ke kamar mandi.
15 menit kemudian Aldi keluar sudah berganti pakaian, dengan wajah tampak segar.
"Yuk, ke bawah." Aldi merangkul pinggang sang istri.
"Tadi aku buat brownies, aku sisahin buat kamu. Nanti selesai makan malam cobain, yah?"
"Tentu, aku pasti cobain"
Percakapan mereka berdua disela menuruni tangga.
Aldi menarik kan kursi untuk sang istri, kemudian duduk disamping nya.
"Mau pake lauk apa, mas?" Riska sudah selesai menyendokkan nasi di piring suaminya.
Dan ya, Riska mulai memanggil Aldi dengan sebutan mas. Lebih sopan, dan menghargai suaminya.
"Pake ayam kecap aja sama cah kangkung." Riska menaruh sepotong ayam dan sayur, lalu meletakkan didepan suaminya. Kemudian dia menyendokkan makanan untuk dirinya sendiri.
Raka tersenyum melihatnya, anak dan menantunya begitu harmonis.
Setelah makan malam selesai, mereka berpindah ke ruang keluarga. Duduk bercengkrama, mempererat kekeluargaan mereka.
"Oh iya, aku lupa. Sebentar yah mas, aku ambil dulu brownies nya. Dan untuk yang lain, maaf yah Pa, Ma, Re. Tadi cuma buat satu loyang aja, nanti aku buat lagi besok." Riska kemudian berdiri melangkah ke dapur.
__ADS_1
Elsa tercekat mendadak pias, mengingat brownies yang dimaksud Riska sudah tandas dia makan tadi.
"Kok lama .." Celetuk Aldi merasa sudah terlalu lama Riska ke dapur, memangnya jarak dapur dan ruang keluarga berapa kilo meter?
"Iya, perasaan udah lama kak Riris perginya." Renata juga ikut menimpali.
"Kita lihat aja, takut kenapa-napa."
Semuanya pun berdiri menuju ke dapur, tak terkecuali Elsa, dia juga ikut.
Terlihat Riska yang mondar mandir membuka lemari satu lalu lemari lainnya, Elsa meringis melihatnya.
"Yang, kenapa?" Riska berhenti lalu berbalik melihat semua orang di belakangnya.
"Ini loh mas, sisa brownies nya aku simpan dilemari pendinginan kan. Tapi pas bukanya tinggal piringnya aja, brownies nya udah nggak ada." Ucap Riska dengan wajah sendu.
Elsa mendadak salah tingkah, namun gerak geriknya tak luput dari perhatian Raka di sampingnya.
"Udah tanya ke bibi? " Aldi memberikan senyuman, agar Riska tak sedih.
"Kata bibi, bibi nggak liat kalo ada kue dilemari pendingin."
"Udah .. Besokkan weekend, Riska buat lagi aja dibantu Mama sama Renata. Brownies yang tadi mungkin dimakan jin, karena terlalu enak." Raka langsung melerai, dia tau siapa pelaku yang membuat brownies tersebut bisa hilang.
"Sekarang balik ke kamar aja, istirahat." Lanjut Raka lagi.
***
"Udah dong, nggak usah cemberut terus. Besok bikin lagi yah, nanti aku cicipin." Aldi tengah membujuk Riska yang sedang merajuk atas drama hilangnya brownies buatannya.
"Tapi kan .. Aku pengen banget kamu cicipin, mas."
"Kayak kata papa, saking enaknya brownies buatan kamu, jin aja doyan kan?" Aldi mengusap punggung Riska, berusaha membujuk.
"Tapi ..." Riska kekeh masih tak percaya.
" Udah, sekarang berbaring, kita tidur yah." Aldi menuntun Riska untuk berbaring, dan dia pun ikut berbaring disamping sang istri.
Aldi merengkuh istri dalam pelukan, dengan melingkarkan tangan kirinya diperut istrinya.
Bersambung ....
Sekarang jin makan udah bisa makan brownies yah, pak Raka?
See you next chapter, bye...
...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote dan hadiah.....
...Agar lebih semangat dalam menulis.....
__ADS_1