
Suasana ruang perawatan Ziva nampak hening sepeninggalan Zacky dan Anissa.Saat itu waktu menunjukan pukul 9 malam.Entah kemana perginya Arsha sedari tadi belum kembali.
Tiba-tiba seseorang membuka pintu memasuki ruangannya.
"Kak Arsha." Menatap Arsha memasuki ruangannya.
Arsha melangkah mendekatinya, menatap makanan di meja yang masih tertutup plastik wrap.
"Kenapa tidak makan?" Arsha bertanya dengan ekspresi datar.
Ziva ingin menjawab pertanyaan Arsha tapi Arsha langsung menyergahnya.
"Ayo makan!" Arsha menyuapkan makanan ke mulut Ziva. .
Ziva hanya terdiam sesekali menatap wajah Arsha yang dengan telaten menyuapinya hingga suapan terakhir.
"Kak Arsha dari mana?" tanya Ziva yang akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
"Cari Angin!"
Arsha masih terlihat marah terdengar jelas nada bicaranya yang masih sewot membuat Ziva tidak ingin memperpanjang bicaranya.
***
Keesokan Pagi.
Sekitar pukul 8 pagi Arsha dan Ziva bersiap-siap pulang. Kondisi Ziva yang sudah membaik sehingga Dokter mengizinkannya pulang lebih cepat.
Arsha kemudian pergi ke administrasi untuk menyelesaikan biaya.Setelah kembali mereka pun akhirnya meninggalkan rumah sakit itu.
Setelah sampai dirumah, Arsha membantu Ziva berbaring.Terlihat Arsha masih begitu acuh membuat Ziva merasa bersalah.
"Kak,aku mohon tetaplah disini." Ziva menahan pergelangan tangan Arsha.
"Untuk apa aku disini, sebaiknya mulai saat ini Kak Arsha menjauhimu." Arsha berusaha menarik tangannya.Ditatapnya mata Arsha terlihat rasa kekecewaan yang begitu besar di sana.
"Mungkin selama ini aku sudah sangat keterlaluan memperlakukannya padahal selama ini Kak Arsha melakukan apapun untukku," batin Ziva.
"Aku Istri Kakak! kenapa Kak Arsha harus menjauhiku?" Ziva bertanya dengan mata berkaca-kaca.
Keduanya saling menatap.
__ADS_1
"Kak Arsha akan melepaskanmu mulai saat ini kau bebas bersama pria manapun yang kau suka persetan dengan pernikahan kita!" ucapnya penuh penekanan.
Lidahnya seperti kelu mengucapkannya tapi sebagai laki-laki sejati dia berusaha mengikhlaskan wanita pujaannya itu bersama orang yang dicintainya karena mau sampai kapanpun mengekangnya hati Ziva tetaplah milik orang lain.
"Apa maksud Kakak?" pekik Ziva.
Air matanya menitik menatap pria di depannya.
Baru saja dia berniat ingin perlahan membuka hatinya sedikit demi sedikit mencintai suaminya itu tapi malah kini laki-laki yang berstatus suaminya itu ingin melepasnya.Arsha hanya terdiam menundukkan kepalanya tak menjawab.
"Pria lain mana yang Kakak maksud?" Ziva mendekatkan tubuhnya semakin rapat dengan Arsha.
"Pria yang kemarin menjengukmu, karena dia kamu tidak mencintai aku!" tegas Arsha menatap tajam Ziva.
"Kenapa Kak Arsha berkata seperti itu tidak ada pria lain di hatiku.Aku hanya mencintai Kakak!" Tegas Ziva.
Seketika hati Arsha meleleh mendengar ucapan Ziva.Hatinya yang gersang bak Padang pasir yang gersang seketika berubah menjadi padang rumput yang menghijau.
"Maafkan aku kak harus membohongimu, aku tidak ingin kau mengacuhkanku" batin Ziva.
Saat itu yang ada dalam benaknya pria itu tetap bersamanya walaupun sebenarnya Ziva belum bisa mencintainya tapi dia akan berusaha membuka hati untuk pria itu.
Ziva menganggukkan kepalanya membuat senyum Arsha langsung mekar.Setelah sekian tahun bahkan sejak mereka kecil Arsha memendam perasaannya semua terasa indah karena akhirnya cintanya itu berbalas.Arsha langsung mendekap tubuh Ziva dengan erat dan menghujani kening wanitanya dengan kecupannya.
Selama ini Arsha melakukan segalanya hanya ingin membuat Ziva bahagia dan perlahan mencintainya.Bahkan Rasa cintanya yang begitu besar membuatnya tidak ingin merenggut sesuatu yang berharga darinya sebelum waktunya walaupun terkadang sangat sulit baginya.
Arsha mendaratkan ciuman ke bibir Ziva mesra."Terima kasih, Sayang," ucap Arsha lirih.
"Kak Arsha sekarang bisa menahannya?" tanya Ziva.
Arsha terlihat mengerutkan dahi akan pertanyaan Ziva. "Apa maksudmu?"
Ziva hanya tersenyum menjawab pertanyaan suaminya itu karena tidak mungkin dirinya menjabarkan maksudnya.
Beberapa kali Arsha selalu bermain solo ketika berhadapan dengannya bukannya dia tak mengetahui hanya saja dia tak tahu harus bagaimana.
"Kau tahu?" Arsha yang mulai mengerti akan maksud pertanyaan Ziva menahan malu membuat wajahnya seketika berubah pucat basi.
"Kenapa bertanya seperti itu,apa kamu mau kita mencoba?"timpalnya.
Saat itu Ziva hanya terdiam bukan tidak ingin menjawab tapi bingung harus menjawab apa.Disisi lain tidak ingin membuat suaminya kembali marah tapi disisi lain tidak ingin melakukannya karena mengingat saat ini masih berstatus pelajar.Ia tak ingin nantinya hamil hingga membuatnya harus berhenti bersekolah sedangkan ia bercita-cita untuk membanggakan orang tuanya yang hanya tinggal ibu saja.
__ADS_1
"Bagaimana?" Arsha mengulang pertanyaannya membuat Ziva akhirnya mengangguk meski dengan keraguan.
Seperti mendapat lampu hijau Arsha langsung mengungkung tubuh Ziva.
Posisi yang bagi sebagian orang biasa tapi bagi mereka posisi itu sudah membuat jantung keduanya berdetak kencang.
Arsha perlahan namun pasti membuka satu persatu kancing baju Ziva hingga menampakkan bukit sintal yang masih terbungkus rapi menyembul memanjakan matanya.Ziva hanya diam tak berkutik.Matanya terus terpejam menunggu detik demi detik sesuatu yang berharga dalam dirinya akan direnggut.
Arsha menatap wajah Ziva lekat membuatnya mengingat semua akan janjinya pada Ziva dan Zacky, tidak akan menyentuh Ziva sebelum Ziva lulus sekolah.Kini apa yang tengah dia lakukan mengingkari janji itu.Zacky pasti kecewa padanya.
Arsha menghela nafas panjang menghembuskan kasar kemudian perlahan turun dari tubuh Ziva mengurungkan niatnya.
Ziva merasa aneh suaminya tidak melanjutkannya dan kini malah terbaring disebelahnya dengan nafas yang tidak beraturan.
"Kenapa Kakak berhenti?" Ziva memiringkan tubuhnya menghadap Arsha.Arsha kembali menarik nafas panjang ditatapnya netra polos penuh tanya kepadanya.
"Maafkan Kak Arsha Va, Kakak hampir merenggutnya darimu dan melanggar janji Kakak."Arsha kembali memakaikan baju Ziva.
"Kenapa Kakak begitu memegang kuat janji itu dan harus menyiksa diri?siapa yang bisa menyalahkan seorang suami menggauli istrinya?"
Kata-kata Ziva begitu bijak membuat Arsha tercengang.Sejak kapan istrinya itu tumbuh begitu cepat dengan pemikiran yang jauh lebih dewasa daripada dirinya.
"Kamu sudah dewasa Sayang,bijak sekali kata-katamu." Arsha tersenyum memuji.
Arsha mengingat kembali momen saat mereka kecil.Ziva yang merengek ketakutan saat mereka tersesat di hutan desa.Keduanya terpisah dari teman-teman mereka.Saat itulah Arsha berusaha menjadi dewasa walau masih berumur 11 tahun.Arsha berjanji akan terus bersamanya dan menjaganya.Kini rasanya kata-katanya itu menjadi nyata.
"Sampai kapanpun Kakak akan terus bersama dan menjagamu.Kakak akan membuatmu menjadi wanita paling bahagia di dunia." Arsha kembali memeluk tubuh Ziva.
Ziva menitikan air mata mendengar penuturan manis dari suaminya betapa ia sangat disayang dan dimanjakan suaminya.Semua tak sebanding apa yang didapat suaminya kini hanya kehampaan menahan sesuatu yang sangat diinginkannya membuatnya semakin merasa bersalah.
Ziva menarik paksa bajunya hingga terlepas memperlihatkan tubuh bagian atasnya kepada Arsha.
"Kenapa Kakak terus menahannya padahal aku sudah mengizinkan Kakak untuk menyentuhku!" Gerutu Ziva.
"Ziva!" pekik Arsha.
Arsha mengambil baju Ziva yang terlempar ke lantai dan memakaikannya kembali.Ziva menitikkan air mata hanyut dalam rasa bersalahnya.
Dipandangnya mata yang memerah penuh derai air mata dan segera menghapus air mata itu.
"Maafkan Kakak tapi Kakak tidak bisa melakukan sekarang walaupun sangat menginginkannya.Kakak ingin kamu fokus sekolah dan lulus dengan nilai terbaik agar kamu bisa kuliah di universitas terbaik!" ucap Arsha membelai wajah cantik nan polos itu.
__ADS_1