Terpaksa Menikah Diusia Belia

Terpaksa Menikah Diusia Belia
Bab 13 ( Tanpamu )


__ADS_3

Ziva melangkah menuju rumahnya setelah Rendy berlalu pergi dengan motornya.Pikirannya masih tertuju pada Rendy yang mengungkapkan cinta padanya.


"Kamu nggak tahu aku sudah menikah Kak Rendy,tidak mungkin aku mengatakan alasan itu padamu. Bagaimana caraku menolakmu?" batin Ziva.


Tanpa di sadari Ziva sudah sampai di depan pintu rumahnya Ziva sengaja mengetuk pintu karena terlihat mobil Zacky sudah terparkir di halaman rumah.


"Sudah pulang Va," sambut Annisa setelah pintu terbuka.


Ziva tersenyum menanggapinya lalu ikut duduk bersama dengan Zacky dan Annisa di sofa.Pasangan itu nampak bercengkrama dan tertawa membuat keberadaannya tidak berarti lalu memusatkan untuk masuk ke kamarnya.


"Kamu telat pulang Va,kemana dulu?"


telisik Zacky menghentikan langkahnya.


Saat itu waktu menunjukkan pukul 3 sore.


"Aku piket dulu Kak." Ziva kembali melangkah.


"Ziva!Kakak belum selesai bicara!"pekik Zacky.Raut mukanya berubah marah karena adiknya itu mengacuhkan ucapannya padahal masih ingin berbicara padanya.


"Sudah sayang, Ziva sudah cukup dewasa untuk kau atur-atur seperti anak kecil." Nissa menahan tubuh Zacky yang hendak menyusul Ziva.Perlahan pria itu mulai tenang karena Annisa selalu bisa meredam emosinya.


Ziva yang juga terlihat kesal karena selalu dikekang kakaknya melempar tasnya begitu masuk ke dalam kamarnya.Tidak seperti tinggal dirumah Arsha yang dia bebas pulang telat tanpa diintimidasi setelah bahkan ia bebas pergi bersama sahabat-sahabatnya. Baginya tinggal bersama Arsha membuatnya begitu nyaman hingga menjadikannya lebih memilih tinggal bersama pria itu daripada dengan kakaknya sendiri.


"Aku nggak betah tinggal di rumah ini, Kakak selalu saja memarahi aku entah aku berbuat salah atau tidak!" gerutunya.


Ziva membaringkan tubuhnya mencoba menenangkan pikirannya yang masih begitu kesal.Lagi-lagi pikirannya dibuat kesal menatap layar ponselnya, karena tidak ada pesan masuk atau panggilan masuk.Pikirannya selalu tertuju pada Arsha yang sedari kemarin tidak menghubunginya.Ziva berusaha menghubungi dan ternyata teleponnya tersambung.


"Ayo kak angkat teleponnya!" Harap Ziva menunggu teleponnya dijawab.


"Halo Sayang."~Arsha.


"Akhirnya Kakak mengangkat teleponku."~Ziva.


"Kenapa,kamu merindukanku?"~Arsha.


"Kak cepatlah pulang!"~Ziva.


"Kakak akan secepatnya pulang begitu pekerjaan kakak selesai,ya."~Arsha.


"Jaga diri baik-baik jangan lupa makan.Kakak nggak mau kamu sakit lagi."~Arsha.

__ADS_1


"Iya, Ziva mengerti Kak."~Ziva.


"Sudah dulu ya,sebentar lagi Kakak ada meeting dengan klien."~Arsha.


"Iya kak."~Ziva.


Telepon terputus.


Setelah berbicara dengan Arsha di telepon membuatnya sedikit lega.Entah mengapa tapi Ziva bisa merasakan kelembutan hatinya selalu saja membuatnya merasa tenang.


***


Keesokan paginya Ziva telah bersiap pergi ke sekolah.Ziva mengetuk pintu kamar kakaknya.


"Kak,ayo pergi nanti Ziva bisa terlambat," keluhnya karena sudah menunggu cukup lama tapi kakaknya tidak kunjung keluar kamar.


"Pergilah dulu Va,Kakak ada meeting diluar kantor.Maaf Kakak nggak bisa mengantarmu," sahut Zacky dari dalam kamar.


"Ziva berangkat dulu Kak," sahut Ziva.


Ziva melangkah keluar rumah sambil menatap layar ponselnya.Saat itu dia ingin memesan Ojol.


"Ziva," sapa seseorang yang duduk diatas motornya.Pria itu menatapnya dengan senyuman.


Rendy melangkah mendekati Ziva." Pergilah bersamaku," tawar Rendy.


"Tapi aku udah pesan Ojol," tolak Ziva memperlihatkan ponselnya.


"Udah batalin!cepat nanti kita terlambat." Rendy menarik paksa tangan Ziva membuat Ziva terpaksa menurut.


Motor sport Rendy melesat dengan kecepatan tinggi menuju sekolah tak lebih 10 menit mereka sampai.


Rendy dan Ziva menjadi pusat perhatian setiap siswa dan siswi yang melihat kedatangan mereka yang datang bersama-sama.Keduanya memang popular di sekolahnya,tampan dan cantik itulah gambaran pasangan itu membuat setiap mata menatap iri padanya.


Rendy dengan bangga menjadi pusat perhatian tapi berbeda dengan Ziva yang merasa biasa saja karena baginya hubungan mereka hanya sebatas teman.Mau menganggap apapun kini tidak lagi berguna baginya karena statusnya yang kini sebagai istri orang tidak akan lagi membuatnya bebas seperti sebelumnya.


Keyla, Nara dan Medina nampak berdiri menghadang langkahnya seraya menatap tajam ke arahnya.


"Ada apa?" Ziva merasa seolah sedang di hakimi atas perbuatannya.


"Loe masih berhubungan dengan Kak Rendy?" tanya Keyla ketus

__ADS_1


"Gue cuma-"


"Sebaiknya loe jauhi kak Rendy kalau tidak ingin kak Arsha marah!" sergah Medina tanpa mendengar penjelasan Ziva lebih dulu.


"Iya."


Ziva menurut saja apa yang dikatakan sahabatnya-sahabatnya tidak seperti biasanya yang harus berdebat dulu untuk membuatnya mengerti.


Keempatnya masuk kelas karena bel sudah berbunyi menandakan kelas akan segera dimulai.


***


Sekitar pukul 2 siang, bel sekolah berbunyi menandakan pelajaran telah usai.Semua murid-murid berhamburan meninggalkan sekolah.


Ziva berjalan beriringan bersama sahabat-sahabatnya.


"Kita pergi yuk,bosen banget gue dirumah," ajak Ziva yang saat itu langsung di angguki ketiga sahabatnya.Bagaimana tidak, semenjak Ziva mengungkap dirinya sudah menikah mereka jarang lagi pergi bersama karena suaminya yang posesif selalu menjemputnya tepat waktu.Kali ini saat Arsha tidak di rumah menjadi momen untuknya kumpul bersama sahabatnya.


Mereka pun beranjak pergi dengan mobil Keyla menuju rumah Keyla.Sesampainya dirumah mereka menuju kamar Keyla yang menjadi tempat favorit mereka.Mereka memutuskan untuk belajar saja daripada keluyuran tidak jelas seperti dulu.Nilai Ziva pun saat ini kembali meningkat karena dirinya lebih banyak menghabiskan waktu dirumah untuk belajar.Ziva tidak ingin terlihat bodoh di samping suaminya yang begitu jenius dan pintar jadi dia memutuskan untuk belajar rajin untuk membuatnya bangga.


Disela-sela mereka belajar diselingi ngobrol dan bercanda.


"Va cerita dong, gimana sih rasanya nikah? tanya Keyla antusias yang langsung membuat ketiganya menatapnya serius.ketiganya benar-benar penasaran akan jawabannya.


"Apa maksud kalian jangan berpikir kemana-mana!" ketus Ziva.Saat itu wajahnya memerah karena sebenarnya otaknya traveling saat bersama Arsha yang sebenarnya belum terjadi apa-apa diantara mereka.


"Alah Ziva ini pura-pura bohong,loe lihat kan pipinya merah karena ingat sesuatu," tukas Keyla sedikit kesal.


"Apaan sih kalian, Kak Arsha belum pernah unboxing gue kali! sahutnya yang tak kalah ketus.Tapi kali ini karena kesal Ziva keceplosan berbicara tadinya ia ingin membuat ketiga sahabatnya itu bertanya-tanya.


"Ups, sorry sorry gue kelepasan bicara." Ziva tersenyum getir menutupi malunya karena bicaranya tanpa filter.


"Hah gila Va, jangan-jangan laki loe emang nggak doyan perempuan." cetus Keyla yang membuat ketiganya menatap tajam Keyla karena bicaranya yang ngawur.


"Bukan itu maksud gue, gue cuma mengira-ngira aja." Keyla menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena dia sendiri bingung akan ucapannya.Mulutnya yang selalu ceplas-ceplos membuatnya tanpa sadar berucap demikian.


Ziva terdiam memikirkan apa yang dikatakan Keyla karena walaupun Keyla hanya sekedar bicara mungkin saja benar adanya.Ziva kembali mengingat momen dimana dia dengan sukarela menyerahkan tubuhnya tapi saat itu ditolak begitu saja dengan alasan ingin menjaga.Kenapa pria bisa begitu teguh pendirian padahal disuguhi sesuatu yang seharusnya membuatnya tidak berpikir lagi.seharusnya langsung tancap gas.


"Ah nggak mungkin." Ziva menepis pikiran buruknya sendiri tanpa disadari di dengar ketiga sahabatnya.


"Apa jangan-jangan kak Arsha unboxing loe saat tidur Va?" tanya Keyla

__ADS_1


"Apaan sih kalian masih bahas begituan aja!" sahut Ziva ketus.


Ziva memilih untuk membuat semua sahabatnya kembali fokus dengan bukunya karena masalah ranjang bukan ranah mereka untuk membahasnya karena selain tidak mengerti, mereka juga belum mengerti apa-apa.


__ADS_2