
Ziva duduk di depan cermin perlahan memulai riasannya tapi saat ini pikirannya sedikit terbelah antara mengutarakan niatnya dari awal untuk menceritakan masalah Alvin atau tidak. Ziva sedikit ragu mengingat hari ini adalah anniversary pernikahannya mungkin akhirnya akan buruk setelah dirinya mengungkap semuanya tapi apa gunanya merayakan anniversary saat dirinya menyimpan rahasia besar yang mungkin saat Arsha mengetahuinya akan sangat marah besar apalagi jika hal itu diketahuinya dari mulut Alvin bukan dari mulutnya.
"Sebaiknya aku mengatakan semua saat ini juga aku benar-benar sudah tidak bisa lagi menyembunyikan semuanya!" Ziva bangkit dari duduknya dengan tekad membara bayang-bayang kemarahan Arsha begitu menganggu pikirannya saat laki-laki yang berstatus suaminya itu suatu saat mengetahui dari orang lain. Langkahnya mengayun keluar dari kamarnya. Terlihat Arsha sedang membereskan laptop juga beberapa berkas kerjanya.Ziva menatap beberapa saat lalu perlahan mendekatinya.
"Kak," sapanya lirih, pandangannya menunduk tidak berani menatap laki-laki di depannya itu.
"Kau sudah selesai,cepat sekali." Arsha masih fokus membereskan tanpa memperhatikan Ziva.
"Ziva ingin mengatakan sesuatu." Ziva berucap lirih dan hampir tak terdengar oleh Arsha.
Arsha menatap wajah Ziva yang nampak tegang.
"Duduk, sayang!" Arsha menarik tangan Ziva mendudukkannya di sofa.Diusapnya lembut wajah Ziva yang nampak begitu jelas raut kegelisahan yang terbaca olehnya.
"Ada apa sayang,katakan," perintah Arsha dengan nada lembut.
"Kak sebenarnya ada alasan khusus kenapa Ziva ngotot meminta Kakak melegalkan pernikahan kita.itu karena-" Ziva menghentikan ucapannya sambil menundukkan kepalanya membuat Arsha yang serius mendengar ucapan Ziva menjadi semakin antusias.
"Ada apa katakan dengan jelas,apa alasanmu?" desak Arsha.
Ziva menarik nafas panjang berusaha mengumpulkan keberanian untuk melanjutkan ucapannya.
"Ada seseorang di kampus Ziva, dia terus berusaha mengejar Ziva padahal Ziva sudah mengatakan kalau Ziva sudah bersuami bahkan laki-laki gila itu masih tetap ngotot ingin menemui Kakak agar Kakak menceraikan Ziva untuknya," ungkap Ziva.
Arsha nampak kesal mendengar ucapan Ziva tangannya mengepal dengan nafas turun naik menahan amarahnya.
"Siapa laki-laki gila itu,apa dia waras?" umpat Arsha.
"Aku tidak ingin merusak hari ini tapi aku benar-benar sudah tidak sanggup lagi menyembunyikan ini dari Kakak." Ziva memeluk tubuh Arsha sembari menenangkan kemarahan suaminya itu.
"Sudah Kak jangan marah lagi. Ziva ingin kekuatan cinta kita lebih besar dari apapun hingga kerikil kecil ini tidak akan menjatuhkan kita," timpalnya.
Arsha mengecup lembut kening Ziva dan semakin erat mendekap tubuh Ziva.
"Terima kasih sayang untuk kejujuranmu," bisiknya.
__ADS_1
Setelah cukup berpelukan lama Arsha kembali menyuruh Ziva segera berdandan karena masalah tadi tidaklah menganggu rencananya dari awal untuk dinner bersama Ziva. Arsha sudah memesan tempat dan bahkan kejutan yang tidak akan dilupakan Ziva seumur hidupnya.
Tepat pukul 6 sore Arsha membawa Ziva kesebuah hotel. Saat memasuki hotel itu Ziva disambut Kayla juga teman SMAnya Nara dan Medina.
Dengan tatapan bingung Ziva dituntun memasuki sebuah ruangan.
"Ada apa ini?" Ziva terus bertanya tapi ketiga sahabatnya itu hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Ziva. Ketiga sahabatnya itu mendudukan Ziva kesebuah kursi dengan cermin besar di depannya. Seorang penata rias segera bekerja sesaat orang yang ditunggunya sedari tadi sudah berada di tempatnya.
"Mbak, rias Ziva bak putri dari kerajaan ya!" perintah Kayla.
"Siap," jawab seorang wanita dari beberapa penata rias itu.
"Ada apa ini,tolong beritahu gue!" teriak Ziva protes.
"Sudah nurut aja loe Va,"sahut Medina. Ketiganya keluar dari ruangan itu meninggalkan Ziva.
Kayla,Nara dan Medina melangkah keluar ternyata Arsha sudah menunggu mereka disana.
"Bagaimana?" Arsha menaikan sebelah alisnya meminta jawaban.
"Beres Kak,udah sana Kakak ganti baju!" perintah Medina.
Selama sebulan ini Arsha benar-benar mempersiapkan hari ini.Arsha meminta bantuan sahabat Ziva untuk membantu mempersiapkan semuanya dari mengatur undangan,gedung juga makanan yang akan disediakan di acaranya itu.
Ketiga sahabatnya itu telah untuk melihat apakah Ziva telah selesai dirias. Sebelumnya mereka di ruangan acara itu berlangsung.Kayla menyambut beberapa teman kuliah mereka yang hadir sementara Medina dan Nara menyambut teman-teman SMA nya dan Ziva.
Nampak Ziva berdiri di depan cermin melihat pantulan wajahnya yang nampak bak putri kerajaan.
"Wah wah wah putri Ziva," puji Kayla. Tangannya bertepuk mengagumi kecantikan sahabatnya itu yang turut diikuti Medina dan Nara.
"Apa ini,kenapa gue seperti pengantin?" Ziva melihat pantulan dirinya di cermin.
"Sudah jangan banyak bicara," sahut Medina. Medina merapikan gaun Ziva lalu setelah itu Nara memberikan buket bunga mawar yang telah dipersiapkan.
"Bener nih gue kayak pengantin," protes Ziva.
__ADS_1
"Sudah, ayo!" Ketiga sahabatnya itu menarik paksa Ziva keluar dari ruangan itu lalu membawa Ziva memasuki sebuah aula yang telah di penuhi tamu yang hadir.
"Kita sambut pengantin wanita kita," sambut seorang MC.
Riuh tepuk tangan memenuhi ruangan itu. Ketiga sahabatnya itu membawa Ziva kepada seorang laki-laki yang tidak lain adalah suaminya, Arshaka.
Arsha lalu menggandeng tangan Ziva membawanya menuju pelaminan.Disana nampak ibu juga kakaknya Zacky duduk mendampinginya juga ibu mertuanya beserta paman Arsha yang menggantikan ayah Hermawan.
Ziva langsung menuju ibunya dengan air mata yang mulai mengalir membasahi pipinya.
"Ibu." Ziva memeluk erat tubuh ibunya.
"Sudah jangan menangis duduklah disana bersama suamimu. Ini hari yang membahagiakan untukmu." Ayu mengecup lembut kening Ziva dengan senyum bahagia yang begitu terpancar.
Arsha menggandeng tangan Ziva melangkah menuju singgasananya.
Keduanya begitu bahagia duduk berdampingan disaksikan tamu undangan yang hadir.
Setelah menyantap hidangan satu persatu tamu naik ke pelaminan memberikan ucapan selamat salah satunya Kanaya yang ditemani seseorang yang tak diduga Ziva.
"Selamat ya Pak Arsha," ucap Kanaya.
Ziva nampak bingung melihat keberadaan Alvin yang setahunya tidak mungkin akan datang tapi ternyata pria itu kini sedang menjabat tangannya.
"Selamat tapi ini nggak akan lama,ingat pesanku," ancam Alvin lirih yang hanya terdengar oleh Ziva.
"Kau!" sentak Ziva, melotot ke arah Alvin tapi pria itu hanya tersenyum. Arsha nampak bingung mendengar pekikan Ziva.
"Ada apa?" tanyanya.
"Tidak ada apa-apa," jawab Ziva, tersenyum.
Alvin menjabat tangan Arsha.Saat kedua pria itu berjabat tangan ada rasa khawatir di hati Ziva kalau laki-laki itu berkata yang bukan-bukan kepada suaminya tapi kemudian Kanaya mengucapkan sesuatu yang membuat Ziva tertegun.
"Pak Arsha kenalin ini adikku Alvin Handoyo.Kalau nggak salah satu kampus dengan Ziva,iya kan Al?" tanya Kanaya.Alvin menganggukkan kepalanya mengiyakan pernyataan kakak perempuannya itu. Arsha pun melirik kearah Ziva seketika Ziva ikut mengangguk ikut mengiyakan pernyataan Kanaya.
__ADS_1
"Alvin, adik Kanaya.Aku benar-benar tidak menyadari sebelumnya," batin Ziva.Matanya terus menatap kedua kakak beradik itu yang ternyata sangat mirip.
Kanaya dan Alvin langsung turun dari pelaminan setelah mengucapkan selamat karena antrean dibelakangnya mengular menunggu giliran untuk berjabat tangan mengucapkan selamat kepada kedua mempelai.