
Ziva dan Kayla berjalan keluar kelas setelah mata kuliahnya selesai. Mereka ngobrol santai menuju parkiran tapi kemudian keduanya berpisah karena Ziva berencana naik taxi. Kayla menawarkan untuk mengantarnya pulang tapi karena harus membeli sesuatu Ziva menolak tawaran Kayla. Ziva ingin membelikan makanan kesukaan ibunya. Ziva berencana pergi ketempat kakaknya karena ibunya masih berada disana.
Ziva berdiri di tepi jalan menunggu taxi online pesanannya tiba.Tidak berapa lama menunggu sebuah mobil berhenti menghampirinya, tanpa berpikir panjang Ziva langsung naik ke mobil itu.
Mobil pun melaju meninggalkan tempat itu. Saat di dalam mobil, Ziva masih belum menyadari siapa pengemudi mobil itu karena terlalu fokus ke ponselnya.
"Ke mall xx, Pak," ujarnya.
Pengemudi mobil itu tidak menyahut hanya berdehem beberapa kali. Ziva yang penasaran lalu fokus ke pengemudi mobil itu.
"Kau,kenapa aku naik mobil ini!" pekik Ziva menendang jok di depannya beberapa kali.
"Berhenti! hentikan mobilnya!"
Ziva berteriak menarik kaos yang dipakai Alvin agar Alvin menghentikan laju mobilnya. Alvin yang saat itu fokus menyetir menjadi tidak fokus karena ulah Ziva yang terus menarik kaosnya dari belakang. Alvin yang kesal akan ulah Ziva langsung mengerem mobilnya padahal saat itu mobil melaju dengan kecepatan tinggi.
Bhukk
Kepala Ziva membentur jok mobil itu dengan keras.
"Awhh," pekiknya kesakitan memegangi jidatnya yang memerah. Alvin segera turun dari mobil lalu menghampiri Ziva yang duduk di kursi belakang.
"Kau tidak apa-apa?" Alvin terlihat cemas .
"Kau bisa bawa mobil tidak!"protes Ziva mendorong Alvin untuk keluar dari mobil karena saat itu dia ingin keluar tapi Alvin malah menghalanginya dengan pertanyaan yang tidak penting menurutnya.
"Tetaplah di mobil kalau kau ingin tahu siapa sebenarnya suamimu itu," tawar Alvin membuat Ziva langsung tercengang akan ucapan laki-laki yang selalu mencari masalah dengannya.
"Apa maksudmu,aku tidak peduli apa yang kamu katakan." Ziva tetap keluar dari mobil tidak memperdulikan ucapan Alvin sedikitpun.
"Suamimu itu selingkuh!" teriak Alvin saat Ziva terus melangkah pergi dan tak mau mendengarkannya.
Mendengar ucapan Alvin yang semakin mengada-ngada Ziva berputar balik menuju Alvin berdiri.
"Kau!Apa maumu!" Ziva benar-benar marah karena Alvin mengatakan sesuatu yang menurutnya sudah sangat keterlaluan.
"Kau akan percaya setelah lihat buktinya." Alvin menarik tangan Ziva kembali masuk ke dalam mobilnya. Ziva yang saat itu mulai penasaran akan ucapan Alvin hanya pasrah saat pria itu menarik tangannya.
Saat diperjalanan Ziva mulai berpikir apa benar suaminya selingkuh tapi disisi lain dia berpikir tidak mungkin. Saat itu Ziva benar-benar gundah akan pikirannya sendiri hingga memenuhi seluruh kepalanya.
Mobil Alvin berhenti di sebuah besment gedung yang tak lain gedung tempat Arsha bekerja.
__ADS_1
"Alvin,apa sebenarnya ini? kenapa kau membawaku kesini?" Ziva berusaha melepas tangannya karena Alvin terus menarik tangannya membuat pusat perhatian disana tapi Alvin terus menarik tangannya tanpa mau melepaskannya.
"Lihatlah!" Alvin melepas tangan Ziva saat keduanya sudah berdiri di depan sebuah ruangan yang sedikit terbuka sejengkal.
Ziva membuka pintu itu perlahan hingga akhirnya matanya terbelalak melihat sesuatu di depan matanya.
Seorang pria tengah bermesraan dengan seorang wanita dan sayangnya pria itu tak lain adalah suaminya.
Ziva menutup mulutnya merasa tidak percaya apa yang dilihatnya. Perlahan Ziva mulai mendekat dan memastikan apa benar pria itu adalah Arsha suaminya.
Tidak salah lagi lagi laki-laki itu benar Arsha suaminya.
"Oh jadi ini yang Kakak lakukan saat bekerja!" teriak Ziva membuat kedua orang di ruangan itu tersentak kaget.
Spontan Arsha langsung mendorong tubuh Kanaya menjauhinya.
"Sayang ini tidak seperti yang kamu pikirkan, Kakak hanya- "
"Semua sudah jelas," sergah Ziva memotong ucapan Arsha.
Air matanya mengalir deras mendapati kenyataan di depan matanya
"Tetaplah di tempatmu jika masih ingin di posisi mu!" ancam Kanaya.
Setelah keluar dari gedung itu Ziva berhenti. Air matanya terus mengalir walaupun beberapa kali berusaha mengusapnya serasa seperti mimpi apa yang baru dilihatnya tapi Ziva sadar ini adalah nyata.
"Kakak kau benar-benar telah melukaiku kau bahkan tidak mengejarku," batin Ziva.
Seseorang langsung menarik tangannya masuk ke dalam mobil dan tentu saja orang itu adalah Alvin.
Alvin langsung memberinya sekotak tisu untuk menyeka air matanya walaupun sudah mengusapnya tetap saja air matanya tidak berhenti menetes.
"Maafkan aku Vin, sebaiknya aku pulang." Ziva ingin keluar dari mobil Alvin karena saat itu dia hanya bisa menangis dan itu membuatnya tidak nyaman.
"Tidak apa-apa menangislah anggap aku tidak ada,ok. Aku akan mengantarmu pulang." Alvin melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.
Saat diperjalanan Ziva hanya diam sesekali terdengar sesegukan dari mulutnya. Saat ini pelukan ibulah yang dibutuhkannya untuk menumpahkan kesedihannya tapi tiba-tiba Ziva berubah pikiran.Tidak mungkin memberi tahu masalah ini kepada ibunya karena tidak ingin ibunya sedih baru beberapa Minggu meresmikan pernikahannya ditambah reaksi kakaknya pasti akan marah besar nantinya.
"Putar balik Vin ke apartemen xxx!"perintah Ziva yang langsung diangguki Alvin. Tidak butuh waktu lama sekitar 15 menit mobil Alvin terhenti disebuah apartemen.
"Terima kasih Vin." Ziva berucap dengan ekspresi datar lalu keluar dari mobil Alvin. Langkahnya begitu rapuh membuat Alvin yang masih mengamatinya dari dalam mobil tersenyum senang. Batinnya terus bersorak bahagia rencananya berhasil.
__ADS_1
Flash back on
Saat di perjalanan pulang dari acara pernikahan Ziva dan Arsha, Alvin nampak diam membuat Kanaya merasa heran. Tingkah Alvin yang biasanya ceria dan sedikit urakan tiba-tiba berubah 360 derajat menjadi pendiam.
Kanaya yang saat itu sedang menyetir mobil langsung menepikan mobilnya.
"Ada apa cerita pada kakak,siapa yang membuatmu jadi seperti ini?" Kanaya mencepit kedua pipi Alvin.
Saat ini dia benar-benar geram akan tingkah adiknya.Tidak ada yang boleh membuat adiknya sedih kecuali dia.
Kanaya sangat menyayangi adiknya dan bahkan apapun akan dilakukannya untuk membuat adiknya senang.
"Ah Kakak tidak mengerti, Kakak tidak pernah patah hati." Alvin menangkis tangan Kanaya menjauhinya.
"Patah hati?" Kanaya tersenyum cekikikan mendengar alasan adiknya itu.
Baru kali ini dia mendengar adiknya mengatakan patah hati padahal biasanya adiknya itu yang membuat setiap wanita patah hati karenanya. Alvin yang terkenal playboy tiba-tiba merasa patah hati akan seorang wanita.
"Siapa,siapa gadis yang beruntung membuat adikku jatuh cinta?" tanya Kanaya antusias.
"Ah lupakan Kak,dia sudah bersuami."Alvin menghela nafas berat saat mengatakannya.
"Jangan bilang wanita itu adalah istri pak Arsha, dia kan juga teman kuliahmu."
Tebak Kanaya yang langsung diangguki Alvin.
"Oh my God." Kanaya menghela nafas panjang mengetahui kenyataan wanita idaman adiknya adalah istri orang.
"Kak,Al mohon bantu Al hanya Kak Nay yang bisa bantu Al." Alvin memohon dengan sangat tapi Kanaya menggelengkan kepalanya.
"Kau bisa memilih gadis manapun tapi jangan istri orang," tolak Kanaya.
Mendengar itu Alvin langsung turun dari mobil lalu berdiri tepat di tengah jalan sambil merentangkan tangannya berharap mobil menabraknya.
"Alvin." Kanaya panik dan langsung berlari menarik tangan Alvin karena saat itu truk besar hampir saja menabrak adiknya jika sampai telat walaupun hanya sedetik.
"Dasar konyol, kau mau mati begitu saja!"umpat kesal Kanaya. Alvin langsung memeluk Kanaya sambil menangis.
Dari situlah Kanaya berjanji untuk membantu Alvin mendapatkan cinta Ziva hingga merencanakan sesuatu untuk membuat pasangan baru itu bertengkar agar Alvin bisa mendapat simpati Ziva sementara Kanaya menggunakan posisinya untuk menekan Arsha jika tidak mengikuti kemauannya.
Flash back off
__ADS_1