Terpaksa Menikah Diusia Belia

Terpaksa Menikah Diusia Belia
Bab 39 ( Bermalam Dirumah Zacky)


__ADS_3

Ziva berjalan menyusuri jalanan sore menjelang malam itu.Tiba-tiba mobil hitam memperlambat lajunya menyamai langkahnya sambil terus membunyikan klaksonnya membuat pandangan Ziva tertuju pada mobil itu. "Kak Zacky.


"Ayo masuk!" perintah Zacky setengah berteriak.


Ziva menunju mobil Zacky yang saat itu sudah berhenti dan langsung masuk ke dalam mobil.


"Kok Kakak ada disini disini?" Ziva memasang sabuk pengaman sementara Zacky meletakkan kresek belanjaan Ziva di kursi belakang.


"Tadi Arsha telepon Kakak, meminta Kakak menjemputmu.Apa ibunya benar disini?" telisik Zacky.


"Iya, ayo jalan ngobrolnya dirumah aja."


Hari memang sudah gelap hingga Ziva ingin cepat-cepat sampai rumah.Saat diperjalanan Ziva tak berbicara.Fokusnya tertuju pada jendela mobil membuat Zacky merasa aneh.Adiknya yang biasanya cerewet tiba-tiba menjadi pendiam.


"Kenapa,apa ada masalah?kenapa tiba-tiba Ibunya Arsha datang kesini?" Zacky merasa aneh akan kedatangan ibunya Arsha karena sebelumnya wanita di itu tidak sekalipun datang berkunjung.


"Nggak ada Kak, cuma Ziva merasa bersalah saja.Ziva dan Kak Arsha menyembunyikan masalah sebesar ini dari orang tuanya.Ziva merasa sebagai penghalang hubungan Kak Arsha dengan orang tuanya." Ziva bercerita lirih dan hampir tak terdengar Zacky.


Kejadian sebulan lalu saat Ziva diajak berkunjung ke rumah orang tua Arsha.Masih kental dalam ingatannya, bagaimana orang tua terutama ayah Arsha yang sangat marah ketika putra mereka berhubungan dekat dengannya.Bagaimana pun Ziva merasa ia memang tidak pantas dekat dengan pria itu.Bukankah aneh jika dekat saja tidak boleh tapi mereka malah menjalani hubungan yang cukup serius.Pikiran itulah yang membuat Ziva merasa bersalah.


Mungkin akan berbeda jika ia memutuskan hubungannya yang juga belum banyak diketahui orang, pria itu akan kembali ke orang tuanya dan menerima jodoh pilihan orang tuanya.


"Sudahlah buang jauh-jauh pikiran itu, Arsha dan orang tuanya sejak lama berselisih paham itu tidak ada sangkut pautnya denganmu, Kakak yang lebih tahu dia!" tegas Zacky.


Tentu saja Zacky bisa mengatakan hal itu karena Arsha adalah teman baiknya. Apapun yang terjadi padanya, Arsha pasti selalu menceritakan masalahnya itu padanya.


Mobil itu akhirnya terhenti di halaman rumah Zacky.Keduanya turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah.Ziva memilih langsung masuk ke dalam kamarnya sementara Zacky menyimpan belanjaan Ziva ke dalam kulkas.


Drt ... drt ... drt.


Ziva meraih ponselnya yang nampak di layar ponselnya tertulis myswetiee dan langsung mengangkat telepon itu.


"Iya Kak."~Ziva.


"Kamu sudah sampai dirumah?"~Arsha.


"Iya Ziva baru saja nyampe, Kak Zacky jemput Ziva."~Ziva.


"Ibu akan menginap satu malam besok baru pergi.Kamu nggak pa pa kan tidur dirumah Kakakmu malam ini?"~Arsha.


"Iya Ziva nggak pa pa tidur disini, Kak Arsha baik-baik ya sama Tante Dina."~Ziva.


"Kok Tante, panggil ibu dong!"~Arsha.


"I-bu tapi Ziva nggak biasa."~Ziva.


"Kamu harus mulai biasa karena Ibuku juga Ibumu!"~Arsha.


"Iya Kak, gimana seragam sekolah Ziva Kak, besok kan Ziva sekolah?"~Ziva.


"Nanti malam setelah ibu tidur Kakak akan mengantarnya sama pakaian dalam juga kan?"~Arsha.

__ADS_1


"Kalau nggak juga nggak apa kan?"~Ziva.


"Hush ... kamu mau jadi tontonan gratis di sekolah!"~Arsha.


"Hehehehe."Ziva.


"Sudah ya nanti kita lanjutin lagi?"~Arsha.


"Iya Kak."~Ziva.


Telepon terputus.


.


.


Sekitar pukul 11 malam terdengar pintu diketuk dari luar.Ziva yang masih terjaga langsung melompat dari ranjangnya menuju daun pintu.Sedari tadi ia terus menunggu kedatangan Arsha yang hampir larut malam baru datang.


Saat pintu terbuka, Ziva mengusap kedua matanya untuk memperjelas penglihatannya.


"Kenapa dikira Kak Arsha hantu?" kelakar Arsha.


Tiba-tiba Ziva langsung menutup pintu membuat Arsha bingung beberapa kali mengetuk pintu.


"Apa yang kau lakukan?" Arsha menatapnya kesal saat Ziva kembali membuka pintunya.Tidak ada jawaban dari mulut Ziva melainkan senyum puas karena telah berhasil mengerjainya hingga membuatnya gemas mencubit pipi Ziva.


Arsha mendorong Ziva masuk.Saat itu terdengar pintu kamar Zacky terbuka.


Mata Zacky terbelalak mendapati sahabatnya itu sudah berada di rumahnya mengingat sudah larut malam.Zacky yang tinggal di kompleks perumahan merasa tidak nyaman akan kedatangan Arsha.


"Ngapain malam-malam kesini?" Zacky menatap tajam Arsha.


"Peace, gue pergi." Arsha segera bangkit dari duduknya melihat tatapan tajam sahabatnya itu yang juga sebagai tanda pengusiran secara halus.


"Kak Arsha cuma nganterin seragam Ziva." Ziva menunjuk paper bag di atas meja yang berisi seragam sekolahnya.


"Udah balik sana nggak enak sama tetangga!" Zacky kembali mengusir sahabatnya itu tapi kali ini Zacky menarik paksa tangan Arsha keluar dari rumahnya.


"Lah gue mau tidur ama bini sendiri dimarahin tetangga, sotoy loe!" Arsha terlihat kesal terus dirangkul sahabatnya menuju mobilnya.


"Loe, soto!" balas Zacky ketus.Pria itu kembali masuk ke dalam rumahnya.Arsha pun melajukan mobilnya pergi meninggalkan rumah itu.


Sepeninggalan Arsha, Ziva mengecek isi paper bag yang semuanya komplit sesuai permintaannya.Fokusnya lalu tertuju pada satu amplop yang bukan bagian dari permintaannya.


"Apa nih?" Ziva membuka amplop coklat berisi beberapa lembar uang.Sudah dipastikan suaminya itu pasti tidak akan lupa hal-hal sepele seperti itu.Arsha tidak ingin istrinya itu kekurangan dalam hal materi.


"Apa Va?" Zacky berdiri menatap Ziva.


"Uang, biasalah Kak Arsha.Kemarin baru aja ngasih Ziva ini ngasih lagi," jelasnya.


"Memang nggak salah Kakak nikahin kamu sama dia."

__ADS_1


Zacky tersenyum lega karena Arsha selalu bertanggung jawab memenuhi semua kebutuhan adiknya itu.


Zacky kembali mengingat beberapa tahun silam saat keduanya masih duduk di bangku SMA, Arsha sudah meminta izin padanya jika kelak ingin bersama Ziva tapi Zacky tidak pernah mengizinkannya karena Zacky menganggap Arsha selamanya adalah sahabatnya bukan adik ipar.Tapi takdir berkata lain saat itu malah dirinya sendiri yang meminta sahabatnya itu untuk menikahi adiknya karena sesuatu hal.Seiring berjalannya waktu Zacky merasa beruntung adiknya memiliki seseorang yang pasti akan membahagiakannya.


.


.


Keesokan harinya.


Terlihat Dina mempersiapkan sarapan untuk Arsha sementara Arsha bersiap-siap pergi ke kantor.Arsha memasukkan beberapa berkas ke tasnya dan laptop untuk presentasi hari ini karena akan ada agenda rapat bulanan seperti biasa.


Tok tok tok.


Arsha memfokuskan pandangannya ke pintu kamarnya yang terbuka.Berdiri disana ibunya yang langsung melempar senyum saat Arsha menatapnya.


"Nak sarapan dulu, Ibu sudah masak nasi goreng ikan asin kesukaanmu," pinta Dina.


Seketika harum nasi goreng memenuhi seluruh ruangan di apartemennya.


"Hmm ... masakan Ibu pasti enak." Arsha sudah membayangkan nasi goreng hangat memanjakan lidahnya.Arsha segera mempercepat tangannya memasukan beberapa berkas lalu menggendong tasnya keluar kamar.Sepiring nasi goreng yang masih mengebul panas tertata di meja.


Arsha langsung duduk dan menikmati nasi goreng itu.


"Mmm." Arsha berdecak penuh nikmat menikmati suap demi suap dengan cepat.


"Pelan-pelan Nak, masih banyak di dapur sengaja.Ibu sengaja buat banyak agar kamu puas makannya."


"Kasian kamu, Nak.Disini sendirian nggak ada yang ngurus," timpal Dina. Matanya menatap nanar putra semata wayangnya itu sambil mengelus punggungnya.


"Kan ada Ziva yang ngurus Arsha."


Arsha begitu menikmati sarapan paginya hingga keceplosan berbicara.Saat itu Dina melirik tajam ke arahnya. "Ziva ngurus kamu,apa maksudnya?"


Arsha pun terdiam menyadari ucapannya yang terlanjur keluar dari bibirnya.Arsha menatap lekat wajah cantik ibunya lalu menarik nafas panjang meyakinkan dirinya untuk membuka semua.


"Mungkin sudah saatnya aku mengatakannya pada Ibu, sebenarnya-." Arsha menggantung ucapannya sejenak terdiam.


"Apa, apa yang ingin kamu katakan, Nak?" Dina menatap serius Arsha.


"Arsha dan Ziva sudah-, sudah menikah," jelasnya sedikit terbata-bata.


Seketika Dina terperangah dengan perkataan Arsha.


"Apa menikah kamu bercanda,Nak?Mana mungkin?seperti sebulan yang lalu kamu mengatakan hal yang sama ibu berpikir kamu bergurau dan saat ini pun Ibu berpikir kamu masih bergurau." Dina mencoba tersenyum membuat suasana menjadi santai karena terlihat raut ketegangan di wajah putranya.


"Tidak Bu, Arsha berkata serius.Sekitar 6 bulan lalu Arsha mengucap ijab qobul di depan Ustad juga Zacky." Arsha semakin mempertegas ucapannya yang bukan isapan jempol belaka.


"Kenapa kamu harus menikahi Ziva yang masih SMA, apa kamu menghamili dia?" tukas Dina.


"Tidak Bu, aku menikahinya karena aku tidak ingin terjebak ke lubang dosa dan itu sudah aku sepakati dengan Zacky yang berpikir sama seperti," jelas Arsha. "Seharusnya kau menikahi wanita yang lebih dewasa sehingga terpenuhi semua kebutuhan lahir dan batinmu juga segera memberimu keturunan!" sentak Dina penuh emosi.

__ADS_1


__ADS_2