Terpaksa Menikah Diusia Belia

Terpaksa Menikah Diusia Belia
Bab 60 ( Pilihan Yang Sulit )


__ADS_3

Mobil itu terus melaju dengan kecepatan tinggi.


"Nasibmu akan berakhir sama seperti gadis-gadis lain!" tegas Alvin.


"Apa maksudmu,segera turunkan aku!" pekik Ziva.


Tiba-tiba ponsel Alvin berdering. Reaksinya berubah ketika menatap layar ponselnya.


"Iya Ma."~Alvin.


"Cepat pulang sekarang juga, Mama tunggu 5 menit lagi!"~mama Alvin.


Telepon terputus.


"Sial," umpat Alvin.


Alvin nampak kesal menghentikan mobilnya ke tepi jalan.


"Turunlah!" Alvin berekspresi datar.


Tanpa membuang waktu Ziva segera keluar dari mobil tanpa mengatakan sepatah katapun. Mobil Alvin melaju setelah Ziva keluar dari mobil.


"Dasar ... ternyata anak mami." Ziva mengatai Alvin yang berlalu dengan mobilnya.


Ziva menghentikan taxi lalu segera naik. Ziva melirik jam di ponselnya menunjukan waktu 1 siang.


"Sebaiknya aku ke kantor Kak Arsha untuk mengajaknya makan siang," batin Ziva.


Sekitar 30 menit Ziva sampai di depan kantor Arsha. Ziva berusaha menghubungi Arsha. Dua kali berdengung akhirnya teleponnya di angkat.


"Halo sayang."~Arsha.


"Hai Kak,lagi apa?"~Ziva.


"Kakak mau makan siang ini baru mau keluar. Kamu udah pulang kuliah?"~Arsha.


"Iya Ziva udah pulang. Ziva di depan kantor Kakak,apa Pak Manager punya waktu makan siang denganku?"~Ziva.


"Oh ya, tentu Pak Manager selalu ada waktu untuk istrinya. Tunggu ya, Kak Arsha turun sekarang."~Arsha.


Telepon terputus.

__ADS_1


Ziva segera membayar ongkos taxi lalu turun. Dari kejauhan nampak Arsha berjalan menuju arahnya dengan senyum yang terlukis di bibirnya.


Arsha segera memeluk Ziva dengan erat.


"Kak lepasin!nanti ada yang lihat gimana?" Ziva memberontak dari dekapan Arsha.


"Biarkan saja,siapa yang berani menganggu suami istri yang sedang berpelukan." Arsha melepas pelukannya.


Keduanya melangkah menuju restoran yang tidak jauh dari kantor Arsha.


Keduanya makan dengan lahap diselingi candaan Ziva yang membuat Arsha tertawa di siang itu


Setelah makan siang selesai keduanya melangkah keluar restoran berdiri di tepi jalan menunggu taxi.


"Langsung pulang ya!" perintah Arsha.


Ziva mengangguk. "Cepat pulang ya,Ziva tunggu!" Ziva mengecup sekilas pipi kanan kiri Arsha lalu masuk ke mobil Taxi.


Saat diperjalanan Ziva sedikit berpikir untuk segera meresmikan hubungannya dengan Arsha toh semua keluarga sahabatnya sudah mengetahui. Jika semua orang tahu itu lebih baik Rendy juga Alvin dengan sendirinya akan mundur ketika mengetahui dirinya menikah. Tapi meresmikan pernikahan di saat seperti ini bukan pilihan yang tepat karena sampai saat ini Ziva belum berhasil membuat Arsha dan ayahnya berbaikan. Kondisi ayah Arsha yang sakit juga menjadi masalah kedua yang juga harus dipikirkannya.


"Huffttt." Ziva menghela nafas panjang.


Ziva memutuskan untuk ke rumah kakaknya Zacky.


Taxi berhenti tepat di depan rumah Zacky. Nampak rumah itu sepi karena Zacky pastinya belum pulang kerja.Ziva memutuskan untuk menunggu di dalam rumah sekalian mengambil beberapa barang yang masih belum di bawanya saat pindah ke apartemen Arsha.


Ziva membuka pintu rumah Zacky dengan kunci duplikat yang selalu ada di dompetnya.Perlahan Ziva masuk dan menyusuri rumah lamanya.


"Sudah lama aku tidak kesini." Ziva menatap sekeliling rumah yang ditinggalinya sejak SMP sampai SMA. Sampai akhirnya pindah ke apartemen Arsha setelah menikah.


Ziva menuju kamarnya yang nampak bersih dan rapi walaupun tidak dipakai. Walaupun seorang laki-laki Zacky orang yang sangat rajin. Menjadi anak sulung juga laki-laki satu-satunya di keluarga membuatnya tumbuh menjadi laki-laki kuat dan mandiri.


Ziva membaringkan tubuhnya diatas ranjang. Berada di kamarnya mengingatkan kembali momen dulu saat sebelum menikah. Masa dimana dia tidak berpikir masalah yang berat sekalipun. Dalam pikirannya hanya sekolah lalu bersenang-senang dengan teman-temannya.


"Apa setiap orang yang menikah akan selalu mengalami masa-masa yang sulit?" lirih Ziva. Matanya menatap langit-langit kamarnya.


"Masalah akan membantu mendewasakan pikiranmu," sahut seseorang.


Seketika Ziva terperanjat mendengar suara itu dan segera mencari sumber suar itu.


"Kak Zacky membuatku kaget saja!" kesal Ziva.

__ADS_1


"Kakak sudah beberapa kali memanggilmu tapi kamu nggak menyahut.Sejak kapan kamu disini?" Zacky melangkah masuk lalu duduk di tepi ranjang.


"Belum lama, Kak Zacky sudah pulang?" Ziva menatap Zacky yang masih lengkap dengan setelan jasnya.


"Apa ada sesuatu, kenapa kamu tiba-tiba pulang, kamu sedang tidak merajuk degan suamimu, kan?"Zacky menatap serius Ziva.


"Apa Ziva nggak boleh pulang kesini?" Ziva tersenyum nyengir membuat Zacky mengacak kasar rambutnya karena gemas.


"Kakak ini sedang bertanya padamu kenapa malah menjawabnya dengan pertanyaan!" geram Zacky.


Ziva malah mencebikkan bibirnya lalu tersenyum.


"Ziva sedang baik-baik saja Kak tidak perlu mencemaskanku.Bagaimana keadaan Kakak?" Ziva menatap wajah kakaknya yang menampakkan wajah lelahnya. Kakak sulungnya itu nampak sedikit kurus dari sebelumnya.


"Kak, kenapa Kakak tidak segera meresmikan hubungan Kakak dengan kak Nissa?apa Kakak tidak ingin tinggal bersama dengan orang yang Kakak cintai?"


Belum lagi Zacky menjawab pertanyaan nya Ziva sudah menimpalinya dengan pertanyaan yang lain.


"Kenapa kamu cerewet sekali, sejak kapan kamu menjadi tumbuh sedewasa ini?"


Ziva bangkit dari tempat tidur kini duduk berdampingan dengan Zacky. Keduanya tampak duduk tanpa bersuara.


"Bukankah Kakak tadi mengatakan masalah akan mendewasakan pola pikirku tapi apa masalah bisa menghancurkan hidupku?"


Keduanya saling menatap tak pernah terpikirkan sebelumnya oleh Zacky pertanyaan itu muncul dari mulut adiknya.Apa ada sesuatu yang membuatmu menjadi banyak berpikir?apa semua karena salahku menikahkanmu di usia dini? Menikahkanmu saat usiamu belia bukanlah pilihan yang mudah untukku. Aku sempat berpikir kamu baik-baik saja tapi kini, apa selama ini persepsiku salah? Pertanyaan-pertanyaan itu kini memenuhi benaknya Zacky membuatnya merasa bersalah.


Zacky mengalihkan pandangannya kini menunduk lesu. "Maafkan Kakak Va, Kakak tidak pernah tahu ataupun mau tahu semua masalahmu?" ucapnya, "Kakak seperti menutup lubang dan kembali menggali lubang untukmu," timpal Zacky.


"Kakak, Ziva baik-baik saja kok, cuma sedikit masalah saja.Sebaiknya Ziva segera meminta kak Arsha meresmikan pernikahan kami," jelas Ziva.


"Kakak setuju," seru Zacky.


"Tapi Ziva bingung Kak, ada satu hal yang mengganjal hati Ziva," ungkap Ziva.


"Apa?" Zacky menatap serius Ziva.


"Orang tua kak Arsha, sampai sekarang mereka belum menyetujui hubungan kami apalagi sekarang ayahnya sedang sakit," jelas Ziva.


"Sebaiknya kau bicarakan baik-baik dengan Arsha.Cari jalan yang terbaik. Jangan sampai suatu saat kamu menyesal." Zacky mengelus bahu Ziva sekilas kemudian melangkah keluar dari kamar itu.


Ziva termenung mencerna ucapan Zacky.Mau bagaimanapun dia harus kembali membicarakan masalah ayah mertuanya dengan Arsha karena semua menyangkut mereka juga.Tidak tahu hasilnya akan seperti apa tapi Ziva akan berusaha menyelesaikan masalah ini sebaik mungkin.

__ADS_1


__ADS_2