
Menginjak usia kandungan 4 bulan keadaan Ziva lebih membaik.Saat ini dia bisa memakan apapun tidak seperti saat trimester pertama kehamilan yang keadaannya jauh lebih parah karena hanya bisa meminum susu dan memakan ubi rebus saja selain itu semua akan dimuntahkannya.
Ziva juga mulai kuliah lagi di universitas yang baru setelah mengurus kepindahannya.Sebenarnya dia tidak ingin melanjutkan kuliah karena sudah nyaman dengan keadaannya tapi Arsha terus memaksanya karena sudah berjanji kepada Zacky akan menguliahkannya sampai lulus.
Sepulang kuliah Ziva langsung menuju kantor Arsha.Selain memiliki perkebunan sendiri Arsha juga mengolah dan memproduksi sendiri hasil teh yang mereka panen hingga pasar ekspor dengan kwalitas internasional.
"Hentikan Va, Kak Arsha geli." Arsha kesal karena Ziva terus saja mencium ketiaknya hingga membuatnya tidak nyaman.
"Apa kau mau anak kita marah!" Ziva berkacak pinggang akan penolakan suaminya itu.
"Jangan lakukan disini ya, lihat kau membuat semua orang disini memperhatikan kita." Arsha menunjuk orang-orang di luar ruangannya yang terus memperhatikannya dan juga asistennya yang merasa canggung disituasinya tapi juga tidak bisa berbuat apa-apa.Sedari tadi Miko menahan tawa melihat kelakuan istri pimpinannya itu tapi saat Miko meminta izin keluar dari ruangan itu pimpinannya tidak memperbolehkannya.
"Pak sebaiknya anda pulang, urusan disini biar saya yang handle, kasian Nyonya." Miko yang merasa tidak tahan lagi lalu memberi usul agar pemandangan itu segera berlalu dari penglihatannya.Sedari tadi atasannya itu terlihat tidak nyaman dengan kelakuan konyol istrinya yang membuat wibawanya jatuh.
"Kita pulang." Arsha menggandeng tangan Ziva melangkah pergi meninggalkan ruangannya.Keduanya menjadi pusat perhatian bukan karena perbuatannya istri pimpinannya yang terlihat konyol tapi karena sikap pimpinannya begitu ramah hingga membuat karyawan yang bekerja di tempat itu begitu menghormatinya.
Mobil Arsha melaju membelah jalanan di kota itu.Saat itu tangan Ziva juga masih bergelayut di tangannya hingga tak mau sedikit pun lepas darinya.Arsha langsung melaju dengan kecepatan tinggi hingga tak butuh waktu lama untuk sampai dirumahnya.
"Kalian sudah pulang," sapa Dina saat melihat putra dan menantunya menghampirinya.
Hermawan dan Dina tampak bersantai duduk di gazebo di samping rumahnya yang menghadap langsung dengan kolam ikan.
__ADS_1
Beberapa bulan ini bahkan kondisi ayahnya meningkat drastis, sudah tidak menggunakan tongkat untuk berjalan.Kehadiran Arsha juga Ziva berperan penting dalam proses penyembuhan sakit strokenya jauh lebih cepat.
"Istirahatlah, kasian istrimu." Dina menatap Ziva yang terlihat lelah.Kandungannya yang berusia 4 bulan jauh lebih besar dari kebanyakan kehamilan karena Dokter mengatakan Ziva mengandung anak kembar.
Pria itu menuruti perintah ibunya lalu menuntut Ziva menuju kamar.
"Apa kau mau makan sesuatu?" tawar Arsha saat Ziva sudah berbaring di ranjangnya.
"Aku hanya mau kamu."
Arsha mengerti saat istrinya sudah berkata demikian yang dibutuhkannya hanya pelukan juga kenyamanan.Cukup lama Arsha memeluk sambil mengelus punggung Ziva sampai akhirnya wanitanya itu terlelap dalam tidur.
Flash Back On.
Ziva terus saja menangis saat ditinggalkan kakaknya Zacky beserta teman-temannya yang lain.Saat itu Ziva ketakutan karena saat ini berada di Hutan desa yang dia sendiri tidak mengerti jalan pulang.
"Kak kau jahat!" Ziva yang duduk di tanah melempar ranting di depannya meluapkan kemarahannya.
Tiba-tiba senyum seorang anak laki-laki menatapnya lalu mendekat.
"Kak Arsha, Kakak kembali," serunya langsung memeluknya.
__ADS_1
"Kak, kau seperti pangeran yang datang menyelamatkan aku, maukah Kakak menjadi pangeranku?" ucap polos gadis berusia 7 tahun itu.Saat itu dia sudah berada digendongan Arsha, menyusuri jalan setapak di hutan itu.
"Iya, Kakak seperti pangeran di film-film itu kan?Kak Arsha janji, Kak Arsha akan selalu menjagamu bahkan jika kak Zacky tidak mau menjagamu Kak Arsha yang akan menjagamu." Arsha yang masih berusia 11 tahun bahkan tidak mengerti akan semua ucapannya hingga semua terlontar begitu saja dari mulutnya.
Flash Back Off.
"Aku bahkan tidak bisa mengingkari janjiku sendiri." Pria itu tersenyum senang dengan kebahagiaan yang saat ini direguknya.Mendaratkan kecupannya di kening wanitanya.Tiba-tiba Ziva menarik kecupannya menuju bibirnya.
"I Love You,Kak."♥️
...TAMAT...
Begitulah kehidupan pasangan itu setelah pasang surut menjalani pernikahan di usia belia saat masalah-masalah menguji cinta mereka hingga membuat semua sebagai penguat cinta mereka.
Mereka bahkan tidak membayangkan hidup seperti ini.Hidup yang tidak pernah dalam angan-angan mereka sekalipun.
Author berharap cerita ini menjadi inspirasi untuk pembaca agar tidak menyerah dalam setiap kesulitan karena sesungguhnya di balik kesulitan itu ada kebahagiaan yang jauh lebih berharga karena di dapatkan dengan usaha dan kerja keras.
Author berterima kasih kepada pembaca yang sampai bab akhir ini tetap menemani author, terima kasih untuk like,komen apapun itu author tidak bisa membalas semoga Tuhan memudahkan rezeki kalian semua.Author juga meminta maaf karena masih banyak kesalahan author yang tidak bisa author sebutkan satu persatu.Terima kasih sampai jumpa di novel author selanjutnya🥰🙏
Baca juga novel author lainnya Terjebak Nikah Kontrak (end), Perfect Life (on going)
__ADS_1