Terpaksa Menikah Diusia Belia

Terpaksa Menikah Diusia Belia
Bab 66 ( Menyembunyikan)


__ADS_3

Ziva duduk lesu di sofa setelah memasuki apartemennya. Tidak habis pikirnya bertemu dengan seseorang segila Alvin. Harus dengan cara apa dirinya bisa bebas darinya karena saat dia mengatakan sudah menikah bukannya mundur malah semakin maju dan menantang untuk bertemu dengan suaminya Arsha.


"Hah lama-lama bisa jadi gila aku!" Ziva mengacak rambutnya kesal sambil uring-uringan.Tanpa disadarinya seseorang masuk ke apartemennya dan memperhatikan tingkahnya yang sedikit konyol. Suara ketawa membuatnya menyadari sedang menjadi pusat perhatian membuatnya reflek melempar tasnya dengan sigap Arsha langsung menangkap tas itu.


"Ada apa sayang? kelihatannya kesel banget?" Arsha melangkah mendekati Ziva lalu duduk disampingnya.


"Kak,aku mau kita pulang ke Bandung saja sesuai permintaan ibu."Ziva berucap setengah memohon.


Arsha kembali mengingat permintaan Ibunya untuk pulang dan tinggal di Bandung karena saat ini usaha juga kebun orang tuanya di kelola orang lain karena kondisi ayahnya saat ini yang sedang sakit. Saat itu Arsha langsung menolak permintaan ibunya mengingat Arsha lebih menginginkan bekerja di Jakarta dan Ziva melanjutkan kuliahnya sampai lulus.


"Kenapa tiba-tiba kau bicara seperti ini?" Arsha menatap serius Ziva. "Apa saat ini kau sudah lelah kuliah atau apa?" Arsha menatap dengan tatapan kecewa. Arsha bangkit dari duduknya melangkah menuju balkon membawa rasa kekecewaan yang begitu besar.


"Aku harus bagaimana Kak, haruskah aku mengatakan semua masalahku dengan Alvin? haruskah aku mengatakan semua sikap gilanya padamu?" batin Ziva.


Ziva langsung mengikuti Arsha menuju balkon dan memeluknya dari belakang.


"Aku bukan menyerah sampai disini tapi aku merasa kasian dengan ayah dan ibu,Kak." Ziva semakin mendekap tubuh Arsha.


"Ayah dan ibu akan baik-baik saja walaupun tanpa kita. Selama ini itu yang terjadi. Sekarang fokuslah kuliah!" Arsha membalikkan badannya menatap wajah Ziva penuh pengharapan.

__ADS_1


"Entah harus bagaimana aku menjelaskan ini,aku semakin tertekan dengan Alvin sementara aku tidak bisa mengatakan semua pada kak Arsha," batin Ziva.


Arsha menatap Ziva yang terlihat termenung lama membuatnya berpikir ada sesuatu yang istrinya itu sembunyikan. Awalnya Ziva menuntut untuk dinikahi secara resmi dengan restu ayahnya tapi kini malah bukannya hanya ingin dinikahi secara resmi saja melainkan ingin menetap tinggal di Bandung dan meninggalkan semuanya yang telah dibangunnya begitu saja.


"Apa ada sesuatu yang menganggumu?aku merasa akhir-akhir ini kau sedikit terlihat banyak maunya, aku merasa aneh dengan semua keinginanmu?" Arsha menatap penuh tanda tanya.


Ziva langsung melangkah masuk ke dalam rumah tanpa menjawab pertanyaan Arsha. Langkahnya mengayun menuju kamar. Arsha hanya menggelengkan kepalanya menyikapi tingkah Ziva.


"Aku semakin yakin ada sesuatu yang kamu sembunyikan," lirih Arsha.


Arsha kembali masuk ke dalam ruangan langkahnya mengayun menuju kamar. Direbahkan tubuh lelahnya di atas ranjang. Beberapa bulan terakhir Arsha sangat sibuk dengan pekerjaan kantor hingga tida ada waktu untuknya sekedar santai seperti ini.


Arsha langsung bangkit dari tempatnya menuju kamar mandi. Arsha langsung menurut perkataan istrinya itu karena kupingnya akan panas mendengar ocehan Ziva yang tida akan berhenti sebelum dirinya menuruti perintahnya.


Ting Tong


Ting Tong


Terdengar bel rumahnya berbunyi beberapa kali.

__ADS_1


Ziva langsung beranjak menuju pintu membuka siapa yang memencet bel rumahnya.


"Selamat sore,Mbak,"sapa seorang laki-laki yang tidak lain seorang kurir.


Kurir itu memberikan buket bunga kepada Ziva. "Tolong tanda tangani!" pinta kurir itu.


"Maaf Mas, sepertinya anda salah kirim." Ziva mengembalikan buket bunga kepada kurir itu.


"Dengan mbak Ziva kan dan alamatnya benar." Kurir itu memeriksa kembali penerima bunga.


Ziva terlihat kesal menerima kembali buket bunga itu dan melihat siapa yang mengirim bunga itu. Ziva langsung menandatangani sebagai bukti telah menerima kiriman buket bunga itu. Kurir itu segera pergi setelah menyelesaikan tugasnya.


Ziva meremas kesal buket bunga di tangannya. "Dasar kau!" umpatnya.


"Siapa Va?" teriak Arsha dari dalam rumah.


Ziva buru-buru membuang bunga itu menuju tempat sampah sebelum Arsha mengetahuinya. Ziva kembali masuk ke dalam rumahnya.


"Siapa yang datang?" Arsha keluar dari kamar.

__ADS_1


"Itu orang gedung." Ziva buru-buru masuk kedalam kamarnya menutup pintu kamarnya. Arsha kembali menggelengkan kepalanya dengan tingkah istri itu.


__ADS_2