Terpaksa Menikah Diusia Belia

Terpaksa Menikah Diusia Belia
Bab 53 ( Berselisih Paham )


__ADS_3

Waktu menunjukan pukul 4 sore.Arsha dan Erick masih bergelut dengan pekerjaannya sementara pekerja yang lain telah lebih dulu pulang.


"Erick pulanglah!biar aku selesaikan tinggal sedikit lagi." Arsha menatap wajah Erick yang nampak lelah.


"Saya akan meninggalkan Anda jika pulang lebih dulu," tolak Erick merasa keberatan.


Arsha terus menatap tajam kearahnya membuatnya tidak berani membantahnya lagi.


"Baik, saya permisi pulang dulu Pak Arsha." Erick membungkukkan sedikit badannya lalu berlalu pergi.


"Ayo sedikit lagi."Arsha memacu semangatnya sendiri hingga jari-jarinya mengetik keyboard komputer lebih cepat.


Setelah 30 menit kemudian akhirnya pekerjaannya telah usai.Arsha bersiap pulang.


Langkahnya menyusuri lantai-lantai perusahaan itu.Terlihat Kanaya melangkah dengan terseok-seok hingga hampir terjatuh.Arsha yang berjalan tepat di belakangnya dengan sigap menumpu tubuhnya.


"Anda baik-baik saja?" Arsha melepas tangannya ketika Kanaya sudah berdiri tegak.


Wajah Kanaya nampak begitu pucat dan sesekali meringis menahan sakit di kepalanya.


"Aku baik-baik saja." Kanaya menatap Arsha sekilas lalu kembali melangkah kan kakinya.


Brugghhhh.


Tubuh Kanaya terjatuh di lantai.


"Bu Kanaya, Bu Kanaya." Arsha berusaha membangunkan Kanaya tapi gadis itu hilang kesadarannya.Arsha panik langsung mengangkat tubuh gadis itu menuju mobil.Mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit.15 menit kemudian Arsha telah sampai di rumah sakit segera mengangkat tubuh Kanaya ke brangkar.Beberapa perawat segera mendorong brangkar itu menuju UGD.


"Bagaimana keadaan putri saya , Dok?"


Seorang pria dengan langkah di percepat mendekat Dokter yang baru saja keluar dari ruang UGD.


Arsha langsung membungkukkan badannya melihat kedatangan mantan CEO perusahaannya bernama Handoyo bersama istrinya.Mantan atasannya itu menatap Arsha sekilas lalu kembali fokus ke Dokter.


"Putri Bapak baik-baik saja hanya sedikit kelelahan.Tekanan darah rendah membuatnya tiba-tiba pingsan untung saja segera di bawa ke rumah sakit," Jelas Dokter.


Dokter dan beberapa perawat itu berlalu meninggalkan ketiganya.


"Arsha terima kasih." Handoyo menunduk.


"Ah ... saya hanya melakukan apa yang harus saya lakukan." Arsha tersenyum menanggapi Handoyo.


"Sekali lagi terima kasih," ucap ulang Handoyo menepuk bahunya beberapa kali sementara Arsha tetap tersenyum menanggapinya.


"Saya permisi pulang, Pak Handoyo," pamit Arsha.

__ADS_1


"Kamu tidak ingin melihat Kanaya dulu." Handoyo menarik lengan Arsha masuk ke dalam ruang UGD.


Terlihat Kanaya terbaring lemah di ranjangnya.Matanya menatap Arsha, papa dan mamanya saat ketiganya memasuki ruangan itu.


"Sayang,gimana kondisimu?" Cemas mama Kanaya bernama Soraya.


"Nay, baik-baik saja Ma," ucap Kanaya sambil meringis menahan sakit di kepalanya.


Fokus Kanaya langsung tertuju pada Arsha yang berdiri tepat di samping papanya.


"Terima kasih Pak Arsha sudah menolong saya," ucap Kanaya tulus.


"Sudah menjadi kewajiban saya membantu siapapun yang membutuhkan bantuan." Arsha menundukkan wajahnya sedikit canggung karena kedua orang tua Kanaya terus menatapnya. Tatapan Kanaya terhadap Arsha begitu menyiratkan hingga terlihat jelas bagi mama dan papanya.


"Kalau begitu saya permisi dulu.Semoga cepat sembuh Bu Kanaya," ucap Arsha cepat kembali menunduk lalu melangkah pergi keluar dari ruangan itu.


Arsha berjalan cepat menuju mobilnya.Jantungnya masih berdegup kencang membuatnya menarik napas panjang lalu menghembuskan kasar.Tatapan ketiga orang penting di perusahaannya itu membuatnya mati kutu bagaikan berhenti bernapas saat berada di antara mereka.


Arsha memeriksa ponselnya. Beberapa kali Ziva meneleponnya tanpa diketahuinya karena ponselnya di mode silence.


Arsha langsung menghubungi balik Ziva.


"Sayang."~Arsha.


" Kemana sih?dari tadi aku sudah menghubungimu tapi tidak ada jawaban."~Ziva.


Arsha memasuki apartemennya terlihat Ziva tengah duduk malas di sofa sambil memainkan gawainya.


Arsha duduk disebelahnya.Ziva nampak cuek tidak merespon Arsha.


"Marah?" celetuk Arsha.


"Nggak.Siapa yang marah!" ucap Ziva dengan nada ketus.


"Ketus gitu ngomongnya."


"Tahu ah." Ziva beranjak dari duduknya menuju kamarnya.


Arsha berdiri hendak menyusul Ziva tapi pandangannya tertuju pada meja makan yang penuh dengan makanan. Arsha mendekati meja makan untuk melihat lebih jelas. Rupanya Ziva memasak berbagai masakan kesukaannya. Arsha langsung menuju kamar. Terlihat Ziva tidur berselimut.


"Mau tidur?" tanya Arsha duduk di tepi ranjang.


"Mau apalagi sudah malam," ketus Ziva.


Saat itu waktu menunjukkan pukul 9 malam.

__ADS_1


"Nggak makan dulu?" ucap Arsha dengan nada yang lembut menanggapi keketusan Ziva.


"Ziva nggak lapar!" Ziva berpindah posisi memunggungi Arsha.


Kruk ... kruuk.


Suara perut Ziva bergemuruh menandakan cacing-cacing diperutnya meminta jatah.


"Ya udah Kak Arsha makan sendiri kalau gitu," ucap Arsha.


Pria itu beranjak dari duduknya berharap Ziva akan mengikutinya tapi nyatanya Ziva masih di posisinya tak bergerak. Seketika Arsha kesal menarik paksa selimut Ziva mengangkat tubuh Ziva.


"Turunkan aku Kak!" pekik Ziva memberontak dari tubuh Arsha yang membopong tubuhnya.


"Ziva!jangan bergerak-gerak kalau tidak ingin kita berdua tersungkur ke lantai!"Arsha menatap tajam Ziva.


Arsha mendudukkan Ziva di kursi ruang makan.


"Duduk dan makan!" perintah Arsha ikut duduk di kursi.


Arsha melayani Ziva mengambilkan nasi dan sayur untuknya.Tidak ada percakapan terjadi disana hanya dentingan sendok dan garpu yang saling beradu.


Ziva mengambil piring kotor dan berniat ingin mencucinya.


"Biar Kak Arsha yang mencuci piring." Arsha mengambil alih piring kotor membawanya ke dapur.


Setelah membereskan semua Ziva kembali ke kamar sementara Arsha menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Kak Arsha suka Bu, terima kasih Bu sudah memberitahu makanan kesukaan kak Arsha.Susah ya Bu lain kali disambung lagi." Ziva berbicara di telepon.


Arsha yang baru saja masuk mendengar obrolan Ziva di telepon.


"Apa kamu berbicara dengan ibuku?" tanya Arsha setelah Ziva mengakhiri panggilannya.


"Iya," jawab singkat Ziva tanpa berbicara panjang lebar. Ziva masih terlihat ketus saat berbicara dengannya.


"Apa maumu?kenapa nada bicara masih sama ketusnya sedari tadi?" Arsha menatap tajam Ziva.


"Pikirkan!" tegas Ziva kembali memunggungi Arsha.


Setelah Arsha diangkat menjadi Manager di kantornya,Arsha selalu tampak sibuk.Pulang kerja selalu telat tanpa mengabari sedangkan kepulangannya selalu ditunggunya.Yah sekarang Arsha banyak berubah tidak seperti dulu.


"Mengertilah,aku selalu sibuk di kantor hingga aku harus lembur," jelas Arsha memberi pembenaran atas dirinya.


Arsha memegang bahu Ziva berusaha meredam kemarahannya.

__ADS_1


"Baiklah terserah Kak Arsha, lakukan apapun yang menurut Kak Arsha benar tidak usah terlalu menghiraukanku!" jelas Ziva menutup seluruh tubuhnya dengan selimut seakan tidak ingin mendengar apapun lagi.


Arsha menatap Ziva yang telah tertutup selimut. Batinnya sedikit sesak dengan keadaan rumah tangganya tapi di sisi lain Arsha berpikir dirinya melakukan hal yang benar. Sudah menjadi tanggung jawabnya berkerja keras untuk membahagiakannya seharusnya Ziva mendukungnya.


__ADS_2