Terpaksa Menikah Diusia Belia

Terpaksa Menikah Diusia Belia
Bab 21 ( Sakit)


__ADS_3

"Tapi mereka tidak menyukaiku.Kenapa Kak Arsha malah menikahiku bukan wanita pilihan orang tua, Kakak?" pekik Ziva.


Buliran bening kini meluncur bebas melewati pipinya tanpa permisi.


"Maafkan aku sayang,maafkan aku membuatmu dalam masalah sulit tapi percayalah semua yang aku lakukan sekarang karena aku hanya mencintai kamu.Sejak lama bahkan dari kecil aku sudah berharap kelak kamu lah yang akan menjadi pendampingku," jelas Arsha.


Diusapnya air mata Ziva laku memeluknya.


"Ayahku sudah lama bersikap dingin padaku, karena aku lebih memilih karirku sendiri daripada meneruskan usaha ayahku. Menjodohkanku cara mereka agar aku kembali dan meninggalkan karirku yang sudah susah payah aku capai sampai di titik ini.Aku tidak peduli orang tuaku tidak menginginkanmu.Aku hanya peduli aku mencintaimu itu saja,"timpal Arsha lirih.


Setelah memberikan penjelasan panjang lebar Arsha melajukan mobilnya kembali rumah Ziva.


.


.


Sekitar pukul 23.45 mereka sampai di Jakarta. Mobil terhenti di halaman rumah Zacky.


"Nggak mampir dulu?" tawar Zacky.


"Nggak usah, kasian Ziva sudah tengah malam," tolak Arsha.


Terlihat Ziva yang tengah tertidur di kursi belakang dengan Nissa. Setelah Zacky dan Nissa turun,Arsha kembali melajukan mobilnya menuju apartemennya.


Arsha kemudian membopong tubuh Ziva masuk ke apartemennya.Dengan sedikit kesusahan akhirnya Arsha berhasil membawa Ziva sampai di dalam rumah.Setelah membaringkan tubuh Ziva di ranjang, langkahnya mengayun menuju dapur mengambil minum sambil diliriknya jam di tangan menunjukkan pukul 1 dini hari.


...----------------...


Ziva terbangun mendengar alarm ponselnya berdering.Tangannya berusaha meraih ponselnya tapi tubuhnya terkunci tangan Arsha yang melingkari tubuhnya. Perlahan dilepaskannya tangan Arsha dan segera mematikan alarm.


"Lelah sekali rasanya seharian pulang pergi dari Jakarta Bandung," keluhnya.

__ADS_1


Ditatapnya wajah suaminya yang tidur disampingnya lalu mengusap lembut wajahnya."Aku masih belum percaya kalau aku telah menikah denganmu.Semua seperti mimpi," ucapnya lirih.


Ziva kembali mengusap wajah tampan itu tapi kini Ziva merasakan hal berbeda.Ziva merasakan panas di kening Arsha "Ini kenapa badan Kakak panas sekali," paniknya.


Arsha juga menggigil kedinginan.Ziva melompat dari ranjang menuju dapur kemudian mencari obat penurun demam.Ziva segera memberikan obat penurun demam itu kepada Arsha dan membiarkan suaminya beristirahat.


"Tidurlah." Ziva kembali membaringkan tubuh Arsha dan menyelimutinya.


Ziva melangkah menuju kamar mandi setelah beberapa menit keluar dari kamar mandi dengan rambut basahnya. Ziva segera berganti pakaian sekolah tapi setelah melihat keadaan suaminya membuatnya mengurungkan niatnya untuk bersekolah.


Ziva langsung menelepon Keyla untuk mengizinkannya karena tidak sekolah.Setelqhniti Ziva berpikir untuk membuat makanan tapi tidak mungkin suaminya bisa makan nasi karena kondisinya.


Ziva kemudian berpikir untuk membuat bubur tapi Ziva bingung bagaimana cara membuat bubur.Bukan Ziva namanya kalau hanya berpangku tangan akhirnya mencari resep di internet cara membuat bubur nasi kemudian membacanya dengan seksama.


Ziva kemudian melangkah menuju dapur dan mempraktekkan resep yang ada di internet tahap demi tahap dilakukannya hingga buburnya matang.


"Akhirnya matang juga." Ziva berdecak senang kemudian mengambil bubur itu ke dalam mangkok dan membawanya menuju kamar.


Arsha kemudian menyandarkan tubuhnya di bantal yang sengaja di tumpuk tinggi.


"Ak."


Ziva menyodorkan sesendok bubur ke mulut Arsha.


"Apa ini?" tanya Arsha menatap sendok didepan mulutnya.


"Ayo makan saja!" Ziva memaksa Arsha membuka mulutnya.


"Mm enak." Arsha menikmati bubur yang masuk ke mulutnya.


"Kamu membuatnya sendiri?" Arsha menikmati suap demi suap bubur buatan Ziva yang lumayan enak.

__ADS_1


"Iya aku belajar dari internet tadi," jawab Ziva.


"Jam berapa ini?kenapa kamu nggak sekolah?" tanya Arsha.


Arsha melirik jam di tangannya.


"Ha... jam 8, bisa telat aku ke kantor." Arsha segera bangkit dari tempat tidurnya.


Ziva menarik tangan Arsha menahannya pergi. "Istirahatlah Kak, ambil cuti walaupun sehari. Badan Kakak masih lemah."


"Kakak baik-baik saja kok,Kakak akan absen ke kantor dan setelah itu pulang ada sedikit pekerjaan penting yang tidak bisa Kakak tinggalkan." Arsha beranjak dari ranjang kemudian melangkah menuju kamar mandi.


Beberapa saat kemudian Arsha keluar dari kamar mandi dan masuk ke dalam kamarnya.Tidak butuh waktu lama keluar dari kamar sudah rapi dengan setelan jas lengkap dengan dasi.


Ziva duduk di sofa memandang suaminya yabgbtelah rapi. "Apa Kakak yakin mau kerja?"


"Iya Kakak akan segera kembali, tunggu Kakak ya." Arsha mencium kening Ziva lalu bergegas pergi meninggalkan Ziva. Ziva hanya menggelengkan kepalanya memandang Arsha yang pergi kemudian hilang di balik pintu.


"Sebaiknya aku tidur lagi, aku masih sangat lelah." Ziva melangkah menuju kamarnya kemudian merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur.


Tiba-tiba saja pikirannya mengingat kembali perdebatan Arsha dan Ayahnya. Arsha sempat mengatakan kalau mereka telah menikah.Ziva menjadi sedikit cemas bagaimana kalau sampai orang tua Arsha menganggapnya serius dan mengatakannya pada ibunya.


"Aku tidak ingin ibu kecewa karena itu. Apa kata ibu, jika ibu tahu aku telah menikah tanpa sepengetahuannya. Kenapa Kak Arsha ceroboh sekali mengatakan hal itu pada orang tuanya," batin Ziva.


Dalam benaknya diliputi kecemasan memikirkannya dan menyesali semua yang telah Arsha ucapkan semalam.


...----------------...


Jangan lupa dukung author dengan vote,like dan komen.Dukungan kalian adalah semangat buat author untuk melanjutkan ceritanya 🙏.


Maafkan author yang belum bisa update setiap hari karena kesibukan author di luar tapi author tetap mengusahakan bisa update setiap hari.

__ADS_1


__ADS_2