Terpaksa Menikah Diusia Belia

Terpaksa Menikah Diusia Belia
Bab 30 ( Kembali Ke Jakarta )


__ADS_3

2 Minggu kemudian


Pagi ini Ziva bersiap kembali ke Jakarta naik bus karena Arsha tidak bisa menjemputnya. Kesibukan Arsha dengan proyek baru membuatnya harus kerja lembur walaupun hari libur sekalipun.


"Hati- hati ya, Nak." Ayu memeluk putrinya.


"Iya Bu,Ziva pamit." Ziva mencium punggung tangan Ayu.


"Zahra pasti akan merindukan Kakak, tak bisakah Kakak tetap tinggal disini?" Zahra memeluk kakaknya dengan raut wajah sedih. Selama 2 Minggu ini Zahra bahkan tidak mau pisah darinya walaupun keduanya lebih sering bertengkar tapi itulah yang menyatukan dua saudara itu.


"Kakak juga pasti merindukanmu, Dek." Ziva mengurai pelukannya.Mencubit gemas pipi Zahra membuat Zahra kesal tapi sesaat lalu kembali memeluk kakaknya. Ziva mengurai pelukannya karena ojek sudah menunggunya cukup lama.


Saat hendak melaju seorang wanita menghentikannya dari arah depan. Wanita itu mendekat ke arah Ziva.


Wanita setengah baya itu tersenyum padanya. "Ziva bisakah Tante minta tolong?"


"Tentu saja Tante."


"Tolong antarkan ini ketempat Arsha, Tante sengaja masak untuknya." Dina memberikan tas berwarna merah ke Ziva.


"Iya Tante pasti Ziva langsung antar ke tempat kak Arsha begitu Ziva sampai di rumah."


"Sampaikan salam Tante untuk Arsha ya, semoga Arsha tetap sehat dan bahagia." Dina berucap dengan mata yang mulai mengembun lalu jatuh menitik ke pipinya. Jelas sekali di wajah wanita setengah baya itu kerinduan juga kesedihan yang amat dalam membuat Ziva ikut merasakan kesedihan itu.


"Sabar Tante." Memeluk Dina. "Ziva akan sampaikan salam Tante ke Kak Arsha," timpalnya.


"Ziva janji Tante suatu saat Ziva akan membawa kak Arsha kembali ke pelukan Tante." Kata-kata itu hampir saja terlontar dari mulutnya kalau tidak mengingat statusnya yang bahkan tidak di ketahui mertuanya itu.


Setelah 20 perjalanan naik ojek, Ziva tiba di terminal lalu segera menaiki bus jurusan Ciwidey- Manggarai. Beberapa menit kemudian bus pun melaju meninggalkan terminal.


Matanya terus tertuju tas merah dipangkuan yang masih hangat mengingatkan betapa sedihnya Dina begitu merindukan putranya.


***


Setelah perjalanan yang cukup panjang akhirnya Ziva tiba di terminal Manggarai pukul 11 siang. Ziva kemudian naik taxi menuju apartemennya. Sekitar 20 menit perjalanan akhirnya Ziva tiba di apartemennya.


Ziva duduk lemas di sofa, direbahkan tubuhnya sekedar menghilangkan tubuhnya yang kelelahan.


Tiba-tiba ponselnya berdering. Ziva langsung menjawab teleponnya.


"Halo Kak."~Ziva.


"Kamu sudah sampai sayang?"~Arsha.

__ADS_1


"Sudah baru aja masuk rumah ini."~Ziva.


"Bentar lagi Kakak sampai, ini masih diperjalanan.Mau dibeliin sesuatu?"~Arsha.


"Nggak perlu Kak, Aku cuma butuh Kakak."~Ziva.


"Gombal banget."~Arsha.


"Kok gombal sih beneran tahu udah hampir habis ini bateraiku minta di charge."~Ziva.


"Berani kamu ya goda suamimu ini, rasakan akibatnya nanti."~Arsha.


"Mau dong?"~Ziva.


"Ziva ...!!"~Arsha.


Ziva langsung memutus sambungan teleponnya karena telinganya sampai sakit mendengar pekikan Arsha di telepon. Saat itu dia terkekeh dengan kemenangannya membuat pria yang begitu dirindukannya menggerutu.


Ziva kemudian masuk ke kamarnya untuk segera membersihkan diri sebelum suaminya sampai di rumah, ia tidak ingin terlihat berantakan.


Setelah mandi dan berganti pakaian Ziva langsung membawa tas merah pemberian Dina menuju dapur.Ziva membuka rantang satu persatu.


"Wao, semuanya lezat." Ziva menelan salivanya sendiri melihat makanan di rantang yang begitu menggiurkan.


Tiba-tiba bel berbunyi membuat fokusnya berpindah ke pintu.


Saat pintu terbuka pelukan suaminya langsung menuju padanya. "Kau hampir membuat suamimu ini tidak bisa bernafas, untung kau cepat kembali."


Arsha menatap lekat wajah Ziva keduanya saling bertatapan membuat bibir mereka saling mengecup meluapkan kerinduan yang selama 2 minggu ditahan keduanya.


Arsha kemudian masuk ke kamarnya meletakkan tas kerjanya sementara Ziva duduk di sofa.


"Sibuk banget ya sampai hari Minggu masih kerja?" Ziva mengaitkan kedua tangannya di depan dada dengan tatapan tidak percaya menatap pria yang sudah berganti pakaian itu.


"Kakak ada proyek baru, jadi Kakak harus kejar target demi hasil yang memuaskan. Kamu lupa berapa harga ponsel yang kamu minta itu?" Arsha menunjuk ponsel Ziva yang tergeletak di meja.


"Jangan bilang tabungan Kak Arsha habis cuma untuk beli ponsel ini doang!" Saat itu Ziva terlihat kesal karena dirinya dijadikan kambing hitam untuk menutupi kesalahan yang lain yang mungkin disembunyikan suaminya. Bisa saja saat dia tidak berada di rumah pria itu bersenang-senang diluar.


"Tadi kau bilang apa saat di telepon?" Arsha mencoba mengalihkan pembicaraannya karena tidak ingin Ziva semakin marah walaupun sebenarnya dia memang pergi bekerja.


Tapi sepertinya caranya itu tidak berhasil karena istrinya itu masih terlihat cuek tak menggubris pertanyaannya.


"Sayang, please jangan marah lagi. Apa kau pulang hanya untuk ini?" Arsha terus membujuk hingga akhirnya kemarahannya itu sedikit mereda.

__ADS_1


Ziva melangkah ke dapur berniat ingin mempersiapkan makan siang untuk suaminya. Beberapa masakan telah tersaji di meja makan membuat Arsha berdecak kagum. "Kau memasak semua ini?"


Ziva menggelengkan kepalanya. "Aku membawanya dari rumah, semua makanan ini kesukaanmu."


Arsha terharu istrinya itu dengan cepat mengetahui semua makanan kesukaannya dari rendang daging, balado kentang ati juga tempe orek.


"Mmm ini enak." Suapan pertama merasakan lezatnya rendang namun pria itu terdiam menyadari sesuatu.


"Ibuku .... Ini masakan ibuku kan?" terka Arsha.


Ziva menganggukkan kepalanya membenarkan terkaan Arsha.Ziva memang sengaja sedari awal tidak memberi tahu suaminya itu agar dia mengetahui sendiri.


Kasih sayang seorang ibu yang begitu tulus penuh kerinduan tentu saja akan terasa pada masakannya, masakan yang sengaja dibuatkannya hanya untuk putranya.


"Kenapa ibuku bisa menitipkan ini padamu, apa aku melewatkan sesuatu saat kau disana?" telisik Arsha.


Pikirannya sudah traveling kemana-mana tapi saat itu Ziva langsung menepisnya.


"Tidak terjadi apapun. Kita makan dulu nanti kita bicara lagi."


Keduanya menikmati suap demi suap makanan dengan lahap terutama Arsha begitu menikmati rasa cinta dari ibunya lewat makanan itu.


"Ibu pasti merindukan aku?" Pikirnya terus memenuhi benaknya hingga mempercepat makannya hanya ingin segera tahu apa yang terjadi.


Arsha menunggu Ziva yang membereskan sisa makanan dan mencuci piring di dapur.Saat itu pikirannya terus melayang membuatnya tidak bisa berpikir lagi lalu memutuskan pergi ke dapur untuk menanyakan apa yang terjadi sebelum kepalanya pecah karena pikirannya sendiri.


"Apa kamu pergi ke rumahku, kenapa kamu begitu berani kesana setelah kejadian waktu itu!" sentak Arsha.


Pria itu terlihat kesal membuatnya menatap tajam wanita di depannya itu.


"Apa kau tahu, aku tidak ingin kamu menjadi sasaran kemarahan ayahku. Kamu tahu betapa dinginnya ayahku. Aku tidak ingin ayahku melukai perasaanmu," timpalnya.


Saat itu ekspresi berubah, matanya mulai berkaca-kaca lalu memeluk tubuh wanita itu.


"Aku begitu takut terjadi sesuatu padamu," lirihnya dalam pelukannya.


Ziva mengurai pelukan suaminya untuk menjelaskan, saat itu tatapannya menatap pria di depannya itu.


"Tenanglah Kak, tidak terjadi apapun padaku. Aku tidak datang ke rumahmu tapi ibumu mendatangiku. Ibu juga menitipkan salam agar kau tetap sehat dan bahagia," jelasnya.


"Ibu ...."


Pria itu berteriak meluapkan segala kesedihannya yang sama halnya dengan ibunya, dirinya juga sangat merindukan wanita yang telah melahirkannya itu.

__ADS_1


__ADS_2