
Sebenarnya Arsha ingin memberitahu kabar dirinya diangkat menjadi Manager di kantornya tapi melihat Ziva yang begitu sedih, Arsha mengurungkan niatnya.
"Kemasi barang-barang kita!" perintah Arsha.
"Memangnya kita mau kemana, Kak?" Ziva menatap Arsha penuh tanda tanya.Pikirannya melayang kemana-mana.Ziva berpikir Arsha dipecat karena kejadian setahun silam saat dirinya berkata lancang di telepon dengan Dirut perusahaan Arsha.Akankah ini imbas dari semua kesalahannya, pikir Ziva.
"Kak,antarkan Ziva pada Kanaya." Ziva sedikit memohon.
Seketika Arsha menatap tajam kearahnya mendengar ucapannya. "Untuk apa, kau tidak tahu siapa dia!" tegas Arsha dengan mata terbelalak membuat Ziva semakin yakin Arsha dipecat karena kesalahannya.
"Kalau perlu Ziva akan berlutut dan memohon agar Kakak tidak dipecat!" tegas Ziva bersikukuh.
"Sayang dengarkan!Kita pindah ke rumah yang baru bukan karena Kakak di pecat tapi karena hari ini Kakak resmi menjadi Manager pemasaran di kantor Kakak." Arsha berucap dengan cepat cepat.Senyumnya merekah menyampaikan kabar bahagia itu.
"Manager?Kakak resmi diangkat jadi Manager?" Ziva seakan tidak percaya hingga mempertanyakan ulang ucapan Arsha
Arsha menganggukkan kepalanya menanggapi pertanyaan Ziva sementara Ziva langsung memeluk tubuh Arsha dan menghujani prianya itu dengan kecupan.
Setelah mengemasi barang-barangnya Ziva dan Arsha bersiap pindah ke rumah yang baru yang jauh lebih besar dan mewah.Karyawan yang berprestasi akan naik jabatan juga mendapat bonus sesuai jabatannya.Rumah adalah salah satu bonus yang berhak di terimanya.
Mobil Arsha memasuki kompleks apartemen mewah di daerah itu.
Ziva dan Arsha memasuki apartemennya.Seketika Ziva di buat takjub dengan interior juga perabot di dalamnya yang nampak begitu mewah dan eksklusif.
"Wah." Ziva berdecak kagum mengelilingi setiap sudut rumah barunya.
Ziva memasuki kamarnya yang begitu besar dan indah langsung menjatuhkan tubuhnya diatas ranjangnya.
"Nyamannya." Decak Ziva diatas ranjang.
Arsha pun ikut berbaring di samping Ziva.Keduanya tertidur karena tempat tidur yang begitu nyaman.
***
Sebulan kemudian.
Ziva telah masuk ke sebuah Universitas.Prestasinya membuatnya bisa masuk dengan mudah tanpa harus ikut seleksi apalagi tes.Ziva mengambil jurusan hukum karena sejak lama Ziva begitu terobsesi menjadi pengacara.
Ziva keluar dari kelasnya setelah kelasnya usai.
"Hai Ziva." Seseorang menghentikan langkahnya dengan sapaannya yang begitu hangat.
"Hai." Ziva menyunggingkan senyumnya menatap seorang mahasiswa yang sekelas dengannya.
Mahasiswi itu nampak tersenyum membalas senyumannya.
"Bisa kita berteman, Kayla."
Mahasiswi bernama Kayla itu menyodorkan tangannya sebagai tanda perkenalan.Mendengar nama Kayla seketika Ziva mengingat Keyla sahabatnya.
__ADS_1
"Kayla-Keyla," gumamnya dalam hati.
Ziva menjabat tangan Kayla."Panggil Ziva."
Keduanya tersenyum.
"Bisa temani aku makan?" pinta Kayla.
Ziva mengangguk karena saat itu perutnya juga terasa lapar.
Setelah mengisi perut keduanya berlalu menuju ke mall.Entah kenapa keduanya begitu akrab seperti ada ikatan batin.Wajah Kayla juga terlihat sangat mirip dari penampilan gaya rambutnya sama persis dengan Keyla membuat Ziva langsung nyaman ketika bersamanya.Pertama kali bertemu saat dipertemukan di kelas yang sama Ziva mengira itu Keyla sahabatnya tapi Ziva sadar mereka mungkin mirip tapi bukan orang yang sama.
Setelah berkeliling Mall itu Ziva duduk menunggu Kayla yang pergi ke toilet.Ziva memainkan gawainya untuk menghilangkan kebosanannya.
"Ziva." Seseorang menyapanya dan duduk di sebelahnya.
"Kak Rendy." Ziva menoleh menatap pria disampingnya itu.
Rendy tersenyum menatap Ziva.Pemuda itu selalu penuh pesona membuat setiap wanita pasti terpana melihatnya begitu juga dengan Kayla.
Kayla yang baru saja kembali dari toilet berdiri mematung menatap Rendy.
"Va, pangeran dari mana nih?" celoteh Kayla.
Rendy menatap wajah Kayla yang tak kalah cantik dari Ziva.
"Kenalin Kayla." Kayla menyodorkan tangannya memperkenalkan diri.
Kayla terus saja menjabat tangan Rendy ingin melepasnya membuat Rendy sedikit bingung.Ziva langsung memukul lengan Kayla agar segera melepas tangan Rendy.Lagi-lagi Ziva teringat tingkah konyol Kayla yang sama persis dengan Keyla membuat Ziva menepuk jidatnya sendiri.
"Ih Ziva!" Kayla menarik sudut bibirnya kesal sementara Ziva memutar mata malas menatap Kayla.
"Gimana kabarmu, sekarang kamu udah mulai kuliah kan?" tanya Rendy setelah ketiganya duduk.
"Iya Kak, Ziva kuliah di Universitas ***," jawab Ziva.
"Kenapa bisa kebetulan begini ya, Kak Rendy juga kuliah disana," ungkap Rendy.
Ziva membelalakkan matanya terperangah dengan ucapan Rendy sementara Kayla nampak tersenyum senang karena setiap hari akan bertemu dengan si tampan itu di kampus.
"Ren kita pergi,aku sudah selesai!" Seseorang memanggil Rendy dari kejauhan.
"Va maaf ya, aku harus pergi." Rendy beranjak dari duduknya.
"Iya Kak," sambung Ziva.
Rendy pun melangkah pergi meninggalkan Ziva dan Kayla yang masih menatapnya hingga hilang dibalik kerumunan
Ziva nampak begitu cemas setelah mengetahui Rendy kuliah di Universitas yang sama dengannya.Haruskah dia memberitahu statusnya sebagai wanita yang telah bersuami agar kedepannya tidak terjadi salah paham seperti di masa lalu.
__ADS_1
Ziva kembali ke apartemennya karena hari sudah sore.Ziva tidak ingin saat suaminya pulang tidak menemukannya karena masih di luar.
Ziva duduk lesu di tepi ranjangnya.Ziva kembali mengingat pertemuannya dengan Rendy di Mall tadi.
"Apa yang harus aku lakukan, haruskah aku memberi tahu kak Arsha tentang hal ini?" gumam Ziva.
Tiba-tiba ponselnya berdering di dalam tasnya.Medina nama yang tertulis di layar ponselnya.
"Hai Va, gimana kabar loe,kangen banget sama loe?"~Medina.
"Gue baik kok, loe sendiri gimana?"~Ziva.
"Gue baik, gimana rasanya kuliah di universitas no 1?gue pengen kuliah disitu tapi otak gue nggak cukup pinter untuk bisa masuk kesana."~ Medina.
"Gue bingung, Na."~Ziva.
"Bingung kenapa?"~Medina.
"Tanpa gue sadari kak Rendy juga kuliah di tempat gue." ~Ziva.
"Tentu sajalah, Va.Lulusan siswa berprestasi dari sekolah kita kan masuk kesana, loe lupa kak Rendy siswa berprestasi."~Medina.
"Ck ... kok gue bisa lupa gini."~Ziva.
"Sudah Va lebih baik loe jujur sama kak Rendy, saran gue."~Medina.
"Makasih Na,salam buat Nara ya."~Ziva.
"Iya."~Medina.
Ziva mengakhiri panggilan teleponnya.
Ziva segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri badannya cukup lengket karena cuaca yang begitu panas hari ini.Setelah selesai mandi Ziva menunggu kedatangan Arsha sambil menonton televisi.
Beberapa jam kemudian.Waktu menunjukkan pukul 10 malam.
"Kemana kak Arsha jam segini belum pulang?" Ziva mengecek ponselnya tapi tidak ada telepon atau pesan singkat yang dikirim Arsha padanya.Akhirnya Ziva inisiatif menelpon Arsha.
Beberapa kali Ziva menelepon tapi tidak ada jawaban membuat Ziva semakin khawatir dengan keadaannya.
Tiba-tiba ponselnya berdering.
"Kak Arsha." Ziva senang menatap layar ponselnya tertulis nama myswetiee meneleponnya balik.Ziva segera menjawab panggilan itu.
"Halo Kak Arsha, Kakak dimana?kenapa belum pulang?"~Ziva.
"Bisa kamu telepon nanti, Arsha sedang ke toilet."~Jawab seorang wanita yang langsung memutus sambungan teleponnya.
Ziva begitu terkejut seorang wanita sedang bersama suaminya pada jam malam seperti ini sampai lupa memberinya kabar.
__ADS_1
"Mungkinkah?" lirih Ziva menduga-duga.