
Keesokan paginya Zacky sedang sarapan.Terlihat Ziva keluar dari kamar menemani kakaknya sarapan karena sejak kemarin tidak bertemu.Sekembalinya dari luar Ziva terus berada di kamarnya.
"Apa tidurmu nyenyak?" Zacky melirik sekilas wajah adiknya yang masih terlihat muka bantalnya.
Ziva menganggukkan kepalanya merespon pertanyaan kakaknya.
Dari arah kamar terlihat Arsha keluar dari kamar membuat Zacky membulatkan pandangannya karena setahu Zacky hari ini adik iparnya itu akan pulang.
"Kau sejak kapan berada disini dan kau keluar dari kamar Ziva?" selidik Zacky .
Zacky menatap pria itu intens tanpa sedikitpun cela.bZacky tidak bisa membayangkan apa yang semalam mereka lakukan saat tidur seranjang.
"Kalian ...." Zacky tidak melanjutkan ucapannya, menatap Ziva lalu beralih ke Arsha dengan tatapan penuh kecurigaan.
"Masih pagi bro jangan berpikir terlalu jauh," pungkas Arsha menepis pikiran buruk sahabatnya yang sekaligus kakak iparnya itu.
Zacky tidak percaya begitu saja ucapan Arsha saat ini tatapan penuh menuntut menuju ke arah Ziva.
"Tidak Kak,tidak terjadi apa-apa diantara aku dan kak Arsha." Ziva mengangkat kedua tangannya sebagai tanda memang tidak terjadi sesuatu diantara keduanya.
Mendengar jawaban langsung dari Ziva, Zacky bernapas lega mengingat jika terjadi sesuatu dengan Ziva pasti Arsha yang memaksanya.
Setelah menyelesaikan sarapan Zacky bergegas pergi karena ada janji dengan kekasihnya.
"Kunci pintu sebelum kalian pulang."Zacky mengingatkan Ziva juga adik iparnya sebelum akhirnya meninggalkan rumah itu.
Sepeninggal Zacky, Ziva menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tok ... tok
Terdengar pintu diketuk beberapa kali membuat Arsha yang saat itu tengah fokus dengan gawainya mengalihkan pandangannya. Arsha langsung saja menuju daun pintu untuk membuka pintu yang sejak tadi diketuk dari luar.
Betapa terkejutnya saat sosok yang tidak pernah terlintas di pikirannya datang. "Ibu." Arsa langsung mencium tangan ibu mertuanya untuk pertama kali. Ayu hanya tersenyum mendapat perlakuan sopan dari menantunya itu.
__ADS_1
Keduanya berbincang-bincang cukup lama hingga akhirnya Ziva keluar dari kamar mandi. Ziva terbelalak melihat kehadiran ibunya karena yang ada dalam benaknya, ibunya tidak mengetahui pernikahannya karena kakaknya mengatakan hal demikian.Terjebak dirumah itu berdua dengan Arsha, apa yang ibunya pikirkan.
"Sini Nak." Ayu melambaikan tangannya kearah Ziva karena saat itu Ziva hanya mematung menatapnya.
Ziva yang masih hanyut dalam pikirannya menurut saja perkataan ibunya tapi kali ini dia berusaha terlihat santai agar Ibunya tidak curiga.
"Ibu kenapa datang tiba-tiba?" Ziva mencium punggung tangan ibunya lalu memeluknya.
"Kenapa,apa Ibu nggak boleh datang?" Ayu malah bertanya balik saat pertanyaan Ziva terkesan tidak menyukai kedatangannya.
"Bukan seperti itu Bu,hanya saja...." Ziva mengalihkan pandangannya sesaat ke arah Arsha.Ziva benar-benar tidak tahu harus menjelaskan bagaimana dia bisa berada dirumah itu berdua dengan Arsha sementara kakaknya sedang pergi.
"Hanya apa?" Ayu mengulangi ucapan Ziva menuntut lanjutan ucapan putrinya.
"Hanya Zacky tidak berada dirumah karena tadi ada urusan mendadak tapi sebentar lagi juga pulang," sahut Arsha meneruskan perkataan Ziva.
"Oh." Ayu manggut-manggut sebagai mengerti dengan penjelasan Arsha.
Saat itu Ziva bisa bernafas lega karena beberapa menit lalu rasanya nafasnya seperti terputus-putus membayangkan semua akan terbongkar. Saat itu bukan hanya perasaan bersalah tapi juga perasaan sedihnya karena telah mengecewakan harapan ibunya yang berharap kesuksesannya tapi kini semua pupus karena pernikahannya menghancurkan segalanya.
Setelah bercakap-cakap cukup lama Ayu meminta untuk beristirahat sejenak karena saat diperjalanan sempat mabuk kendaraan. Sekembalinya dari mengantar ibunya beristirahat Ziva kembali duduk diantara Zacky dan Arsha.
"Apa ibu terlihat curiga mendapati kalian berdua disini?" Zacky terlihat cemas.
Arsha dan Ziva kompak menggelengkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan Zacky.
"Jangan sampai ibu tahu, kalian harus berhati-hati!" Zacky memperingatkan keduanya.
"Sana pulang!" perintah Zacky menatap Arsha.
Tiba-tiba ponsel Ziva berdering membuat ketiganya fokus ke ponsel ditangan Ziva. Rendy, nama yang tertulis di layar ponselnya membuat Ziva salah tingkah karena dua pasang mata menatapnya intens.
"Siapa,kenapa tidak dijawab?" tanya Zacky karena saat itu ponsel itu terus berdering.
__ADS_1
"Ini Keyla, nanti aku akan telepon balik." Bohong Ziva menolak panggilan itu sebelum nama itu terbaca dua orang posesif di sampingnya.
Belum lagi melakukan niatnya ponselnya sudah lepas dari genggamannya.
"Rendy." Arsha menatap tajam layar ponsel itu.Pria itu terlihat marah saat nama laki-laki tertulis disana bukan nama Keyla yang tadi diucapkannya.
"Halo siapa ini?" Arsha menjawab dengan suara lantang.
Tiba-tiba percakapan itu terputus begitu saja tanpa dia dengan jawaban dari si penelepon membuatnya semakin kesal. Tatapan tajam langsung tertuju pada Ziva dengan cepat Arsha menarik tangan Ziva keluar dari rumah itu.Zacky hanya melihat keduanya tanpa melakukan apapun untuk membantu adiknya.Ziva harus mempertanggungkan atas kebohongannya sendiri pikir Zacky.
"Duduklah!" perintah Arsha dengan tatapan datarnya.Pria hangat itu seketika berubah menjadi pria dingin yang akan merontokkan semua nyalinya untuk menutupi kebohongannya dengan kebohongan lainnya.
"Siapa pria yang baru saja menelpon?" Arsha bertanya dengan suara lantang dengan mata tajam tertuju padanya
"Itu dia.Dia...."
"Dia pacarmu?" sergah Arsha memotong ucapan Ziva.Pria itu langsung menuduhnya begitu saja tanpa mau mendengarkan penjelasannya.Walaupun selama ini pria itu tidak mengatakan mencintainya tapi hal wajar baginya untuk marah karena pria itu memiliki hak atas dirinya.
"Dia hanya teman sekolah tidak lebih," bantah Ziva.
Gadis itu terus menundukkan wajahnya tidak berani menatap mata pria di depannya karena mata pria itu terlihat berapi-api saat menatapnya.
"Katakan yang sebenarnya ada hubungan apa antara kamu dan Rendy?"Arsha menurunkan nada bicaranya berharap Ziva akan jujur padanya.
"Hubungan apa maksud Kakak?siapa yang berhubungan, kenapa Kak Arsha membuatnya seolah-olah Ziva membuat kesalahan bukan salah Ziva jika ada laki-laki yang ingin dekat dengan Ziva!" Seketika gadis yang terus menunduk itu menjawab dengan suara lantang dengan tatapan penuh amarah karena pria itu terus saja tidak mempercayai ucapannya hingga mengeluarkan semua amarah yang selama ini berusaha ditahannya.
"Ziva!" Arsha mengepal tangannya bak bola panas yang semakin membara.Bogem mentah menyasar dengan cepat ke arah bangku taman itu.
"Kenapa memukul bangku ini,pukul saja aku!" pekik Ziva menarik tangan Arsha menuju wajahnya saat tangan itu masih di tempatnya melayangkan bogemannya.
"Aku tidak boleh terlalu keras padanya bukan salahnya dekat dengan pria lain karena pernikahan yang begitu tiba-tiba ini pasti membuatnya tidak nyaman.Ya, aku harus lebih bersabar," batin Arsha.
"Ziva jangan memaksa Kakak berbuat lebih." Pria itu duduk lemas begitu saja di depannya dengan segala penyesalannya telah berlaku kasar pada gadis itu.
__ADS_1
Cukup lama keduanya duduk terdiam dengan pikiran masing-masing tapi keduanya sadar dengan kesalahan masing-masing.