
Beberapa hari tinggal dirumah saja membuat Arsha sedikit jenuh.Hari ini Arsha memutuskan untuk melihat-lihat perkebunan teh milik ayahnya.
Sejak pindah ke Jakarta dan menetap disana, Arsha tidak mau tahu tentang semua itu karena baginya mimpinya adalah yang utama.
Arsha yang melihat Heri orang kepercayaan ayahnya, langsung menghentikannya.
"Tunggu Mang, aku akan ikut Mamang ke kebun," ucapnya.
Heri tersenyum senang melihat majikannya itu kini peduli dengan usaha orang tuanya.Selama setahun terakhir kondisi Hermawan yang sakit membuat Heri harus bolak-balik melaporkan semua masalah tentang perkebunan kepada majikannya itu.Kini setelah Arsha pulang dan memegang perkebunan itu sendiri akan memudahkan pekerjaannya.
"Ayo, Den." Heri mempersilahkan Arsha jalan terlebih dulu menuju mobil.
"Kak." Ziva menatap suaminya yang hendak pergi.
Mendengar panggilan Ziva membuat Arsha menghentikan langkahnya dan menyuruh Heri untuk pergi lebih dulu.
"Ada apa?" Arsha menatap Ziva.
"Kakak mau kemana?aku ikut," rengek Ziva.
Sejak hamil istrinya itu begitu manja hingga tidak ingin sedetik pun berpisah darinya.
"Istirahatlah Kakak tidak ingin kamu kelelahan, kasian bayi kita." Arsha mengelus perut Ziva.
Bukannya mengerti dan menurut Ziva malah bergelayut ditangannya.Pria itu menggaruk tengkuknya sendiri yang tidak gatal menyikapi sikap istrinya.Sikap manjanya itu karena mengandung buah cinta mereka membuatnya harus ekstra sabar walau terkadang istrinya itu berlaku berlebihan.
Arsha melangkah dengan hati-hati menuntun istrinya menuju mobil.
.
.
"Apa semua ini milik ayahmu?" tanya Ziva saat sudah berada di hamparan kebun teh yang entah berapa puluh hektar.
Pria itu mengangguk dengan pertanyaan istrinya.
__ADS_1
"Keluargamu begitu sekaya ini lalu untuk apa Kakak susah payah bekerja untuk orang lain.Kau anak satu-satunya dan otomatis semuanya akan jatuh ke tanganmu." Ziva menatap lekat pria di sampingnya itu.Entah apa yang ada dalam pikirannya hingga meninggalkan semua dan memilih memulai semua dari nol.
Ziva benar-benar tidak menyangka orang tua Arsha benar-benar sekaya ini belum lagi perkebunan teh dibeberapa tempat lain.Setahu Ziva, Arsha memang keluarga cukup berada tapi tidak terpikir dalam benaknya mereka jauh lebih kaya dari apa yang dia duga.
"Aku tidak memiliki apapun kecuali hati yang sudah ku serahkan padamu.Semua ini milik orang tuaku," tegasnya.
Saat itu Ziva benar-benar kagum akan sifat rendah hati suaminya karena itulah yang membuatnya jatuh cinta pada pria yang berada disampingnya kini.
Tiba-tiba ponsel Arsha berdering yang ternyata ibunya yang menyuruhnya segera pulang.Tanpa membuang waktu Arsha dan Ziva segera meluncur pulang.
"Ada apa Bu?" Arsha menatap ibunya yang sudah berpakaian rapi juga ayahnya yang nampaknya mereka ingin pergi.
"Antar Ibu dan yah pergi." Dina menuntut suaminya menuju mobil dan langsung dibantu Arsha.
"Kau ikut juga, Nak." Dina menatap Ziva yang masih berdiri ditempatnya.Setelah berucap wanita itu lalu masuk mobil dan duduk di samping suaminya di kursi belakang sementara Ziva duduk di samping Arsha.
Beberapa kali Arsha bertanya pada ayah dan ibunya hendak kemana tapi jawaban mereka tetap sama membuat Arsha dan Ziva saling menatap tidak mengerti akan tujuan ayah dan ibunya.
Mobil Arsha berhenti di sebuah halaman rumah yang sangat mewah.Rumah itu berlantai 3 dengan warna cat dominan putih bergaya khas Eropa lengkap beberapa deretan mobil terparkir di garasi rumah itu.
Ziva mendongak kagum menatap rumah mewah di depannya.
"Rumah ini rumah kamu nak, Ayah dan Ibu sudah mempersiapkan lama rumah ini untukmu dan istrimu kelak dan sekarang kau sudah menikah otomatis rumah menjadi milikmu," terang Hermawan.
Arsha tercengang dengan apa yang di katakan ayahnya.Selama ini hubungannya tidak begitu baik bahkan Arsha sempat menganggap dirinya tidak diakui sebagai anak tapi kenyataannya, mereka mempersiapkan semua ini untuknya tanpa sepengetahuannya.
"Ayah." Arsha menatap haru ayahnya dan langsung bersujud di kaki ayahnya.Pria itu menangis haru akan semua yang dilakukan kedua orang tuanya yang begitu menyayanginya walaupun selama ini dia tidak pernah membuat keduanya bahagia.
Ziva pun langsung memeluk Dina karena terharu akan semua kebaikan ibu juga ayah mertuanya yang begitu menyayanginya juga suaminya.
Setiap orang tua hanya menginginkan anak-anak mereka bahagia walaupun terkadang mereka sendiri lupa membahagiakan diri sendiri.Siapa menyangka orang tua Arsha begitu kaya karena rumah yang mereka tempati tidaklah sebanding dengan rumah yang saat ini diberikan kepada Arsha.Sedari Arsha kecil sampai saat ini mereka tetap tinggal di rumah itu, rumah yang cukup sederhana dibandingkan semua kekayaan yang mereka miliki.
Keempatnya memasuki rumah itu dan disambut seseorang pria yang bertugas sebagai kepala pelayan yang mengurus semua keperluan disana dan beberapa pelayan lain yang ikut menyambut.Belum sampai disitu, Arsha dan Ziva kembali dibuat takjub akan isi dalam rumah itu begitu apik juga elegan furniture juga interior dalam rumah itu membuat mereka tak bisa berkata-kata lagi.
"Kenapa kalian melakukan semua ini Bu, Ayah?" Arsha menatap lekat kedua orang tuannya dengan tatapan yang sama.Pria itu langsung mendekap keduanya karena hanya itulah yang mampu ia berikan walaupun semua tidak sebanding dengan apa yang mereka lakukan.
__ADS_1
"Dimana kamar Ayah, aku akan mengantar Ayah istirahat."
Arsha menatap sekeliling rumah tapi saat itu Hermawan berkata, " Kamar Ayah, ada di rumah yang lama?"
"Apa maksud kalian, ini rumah kalian juga.Aku tidak peduli Ayah dan Ibu harus tinggal disini juga!" tegas Arsha tidak mau di bantah.
Kali ini Arsha tidak akan membiarkan kedua orang tuanya hidup terpisah dari dirinya.10 tahun waktu yang cukup baginya untuk tidak lagi meninggalkan kedua orang tuanya karena Arsha berjanji pada dirinya mulai saat ini akan membahagiakan keduanya.
"Istirahatlah Ayah." Arsha menyelimuti tubuh Ayahnya. "Dan Ibu, jangan lakukan apapun karena dirumah ini sudah ada pembantu." Arsha menatap Dina yang saat itu hendak melangkah entah kemana.
"Ibu hanya ...."
"Duduklah!Ibu mau apa biar pelayanan yang siapkan." Arsha menunjuk telepon di nakas yang biasanya telepon itu tersambung ke dapur.
Beberapa menit kemudian pelayanan itu membawa 2 gelas jus jeruk dan cemilan ke kamar itu.
"Istirahatlah Ayah, Ibu!aku akan melihat istriku di kamar."
Pria itu melangkah pergi menuju kamar utama yang tak lain adalah kamarnya bersama Ziva.
"Apa yang kau lakukan?" Arsha menatap tajam istrinya yang terlihat memukul-mukul wajahnya sendiri.
"Kau kenapa menyakiti diri sendiri?" Arsha mengelus wajah Ziva yang sedikit memerah karena menepuk wajahnya berulang kali.
Bukannya jawaban saat itu yang keluar dari mulutnya tapi senyuman yang membuat Arsha semakin gemas lalu mengecupnya.
"Apa kau senang, Ratuku?"
Deg
"Ratuku?" Ziva mengulangi ucapan terakhir suaminya dengan pipi memerah karena malu.
"Bersamamu saja aku sudah bahagia dan kau memperlakukan aku seperti seorang ratu dengan semua ini.Aku ...."
Ziva tak meneruskan kata-katanya karena saat ini memilih mendekap pria itu karena kebahagiaannya kini tak bisa lagi dijelaskan dengan kata-kata.
__ADS_1