Terpaksa Menikah Diusia Belia

Terpaksa Menikah Diusia Belia
Bab 15 ( Penyesalan Selalu Diakhir )


__ADS_3

Arsha kemudian membopong tubuh Ziva menuju kamar mandi mengucurkan shower ke kepalanya dan Ziva.Ini pertama kalinya merasakan nikmat bermain dengan lawan jenis biasanya dia selalu bermain solo.


Arsha menggosokkan sampo ke rambut Ziva serta sabun ke tubuh Ziva membuat tangannya meraba setiap lekuk tubuh Ziva membuat hasratnya kembali membara. Arsha kembali menggagahi tubuh Ziva yang berada di bak mandi.


Tubuhnya berpacu maju mundur. Bibirnya aktif mencumbu ceruk leher Ziva. Pancuran air yang mengalir mengucur ke tubuh keduanya membuatnya rilex menikmati pergulatan panas itu.


"I love you honey," bisik Arsha.


Arsha menggigit kecil telinga Ziva dan hembusan nafasnya membuat Ziva semakin panas dan mendesah kuat merasakan sakit sekaligus nikmat dalam satu waktu.


"Ahhhhh." Ziva melenguh.


Arsha semakin bersemangat. Mempercepat permainannya hingga membuat Ziva kembali mendesah. Semakin lama permainan Arsha semakin cepat.Tangannya mencengkram kuat tubuh suaminya dan ingin semakin kuat menghentak tubuh bawahnya.


"Aahhhh,"teriak keduanya dipuncak permainannya. Arsha segera menarik senjatanya dan meletupkannya diluar area Ziva.


Setelah selesai mandi Arsha kembali mengangkat tubuh Ziva lalu mendudukkannya di tepi ranjang.


"Pakai bajumu! Kakak akan berganti baju dikamar Kakak," perintah Arsha. Arsha melangkah pergi dari kamar Ziva menuju kamarnya.Ziva kemudian meraba area bawahnya yang terasa perih dan sakit.


Tiba-tiba fokus Ziva berpindah saat mendapati bercak darah di ranjangnya yang menandakan keperawanannya direnggut sudah.

__ADS_1


Ziva sedikit kecewa dengan kondisinya saat ini, mau sekarang atau beberapa tahun lagi pada akhirnya akan sama saja.Entah harus senang atau sedih kehilangan sesuatu yang paling berharga di hidupnya yang jelas rasa bersalah yang semakin besar karena sampai saat ini ibunya tidak mengetahui akan statusnya.


Seandainya tadi dia tidak menggoda pasti semua tidak akan terjadi jika ada yang salah jelas itu kesalahannya sendiri juga ucapan Keyla yang membuatnya membuktikannya sendiri.


"Awas kau Keyla!" umpatnya membuat


Keyla yang saat itu sedang asyik dengan gawainya,batuk-batuk.


.


.


"Apa kamu masih berpikir aku gay?" Arsha menatap wanita di depannya itu intens.


Arsha yang mendengar elakan Ziva hanya bisa mengulum senyumnya karena tanpa harus memaksanya Ziva malah datang sendiri padanya dan itu semua berkat sahabatnya Ziva.


"Berarti aku harus meneraktir mereka sebagai ...."


"Kakak tidak boleh mengatakan apapun kepada mereka," sergah Ziva memotong ucapan suaminya.


"Ok, tapi kamu belum menjawabnya, kau masih berpikir aku gay kalau masih belum percaya aku akan melakukannya lagi sampai kau percaya," ancam Arsha.

__ADS_1


"Iya aku percaya kamu bukan gay!" jelasnya penuh penekanan.


Ziva langsung beranjak pergi setelah makanannya habis karena tidak ingin pria di depannya itu kembali menyerangnya.


"Kakak janji tidak akan melakukannya lagi," sergah Arsha.


Mendengar ucapan Arsha,


membuat Ziva menghentikan langkahnya.


"Cukup sekali ini sebagai pembuktian aku pria normal," tegasnya lagi.


Ziva melangkah kembali mendekati pria itu. "Jadi kau melakukan semua sebagai ajang pembuktian saja,apa itu maksud Kakak?


Saat itu Ziva benar-benar marah hingga nada bicaranya berubah ketus.Matanya menatap tajam pria di depannya itu.


"Maksud Kakak bukan seperti itu, Kakak melakukannya karena mencintaimu jauh sebelum kamu mengenal apa itu cinta." Pria itu membelai lembut wajah wanitanya.


"Semua yang aku lakukan hanya ingin menjagamu, karena bukan tidak mungkin kamu bisa hamil jika kita terus melakukannya dan Kakak tidak selalu bisa menahannya," jelasnya.


Keduanya lalu berpelukan. " Terima kasih Kak." Ziva semakin mendekap erat tubuh suaminya.

__ADS_1


...----------------...


Jangan lupa dukung Ziva dan Arshaka dengan vote,like dan komen supaya author semakin semangat melanjutkan cerita🙏


__ADS_2