
Mobil Arsha membelah jalanan yang nampak lengang.Malam itu juga mereka harus kembali ke Jakarta karena besok Arsha harus bekerja sementara Ziva harus mempersiapkan diri masuk ke Universitas.
Di dalam mobil Ziva fokus menatap gawainya sementara Arsha fokus mengendarai mobilnya.
"Apa salahnya jika Ziva menikah muda, Kak?" tanya Ziva memecah keheningan di mobil itu.
"Hmm." Arsha berdehem dan sedikit tersentak mendengar pertanyaan Ziva sekilas melirik ke arahnya.Entah apa yang terjadi pada istrinya tiba-tiba mempertanyakan hal semacam itu
"Kenapa orang mempermasalah Ziva menikah di usia muda?mereka berpikir Ziva hamil di luar nikah!" ungkap Ziva dengan nada sedikit kesal.
"Jangan hiraukan omongan orang, biarkan saja nanti mereka capek sendiri kalau tuduhan mereka tidak terbukti!" Arsha tersenyum menatap Ziva sekilas lalu menggenggam erat tangan Ziva
"Aku harus membuktikan pada orang-orang itu kalau semua yang mereka tuduhkan tidak benar.Aku akan menjadi wanita sukses," gumam Ziva.
Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang.Rintik-rintik hujan membasahi kaca mobil Arsha membuatnya harus menyalakan wiper agar pandangannya tidak terganggu.Sekitar 4 jam perjalanan mereka sampai.Mobil Arsha masuk ke besment gedung apartemennya.
"Sayang,bangun!" Arsha mengusap lembut wajah Ziva yang tertidur selama di perjalanan.
"Apa kita sudah sampai rumah?" tanya Ziva.
"Kita sudah sampai."
Arsha beranjak keluar dari mobil lalu segera membantu Ziva turun dari mobil.Keduanya menaiki lift menuju apartemennya.Ziva langsung ambruk di ranjangnya begitu memasuki kamarnya begitu juga dengan Arsha.Rasa lelah yang amat sangat membuat mereka kehabisan tenaga dan kini terkapar tak berdaya diatas ranjang.
***
Arsha terbangun mendengar alarm di ponselnya yang terus berdering.Arsha segera mematikan alarm itu.Waktu menunjukkan pukul 6 pagi.
Perjalanan dari Bandung ke Jakarta membuatnya begitu lelah apalagi hanya tidur beberapa jam membuatnya matanya masih berat untuk terbuka.
Ditatapnya wajah Ziva yang masih lelap dalam buaian mimpi.
Cup.
Arsha mendaratkan kecupannya di kening Ziva dan segera beranjak dari ranjang menuju kamar mandi.Setelah bersiap Arsha langsung berangkat kerja.
Dengan langkah gontai Arsha menuju ke ruangannya.
"Pak Arsha,tunggu!" Seseorang memanggilnya.Terlihat Ceo yang memanggilnya.
"Pak Arsha ditunggu ibu Kanaya di ruangannya!" Sekertaris Ceo menyampaikan perintah atasannya.
Arsha mengangguk kemudian masuk keruangan kerjanya menaruh tas kerjanya lalu segera ke ruangan Kanaya.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
__ADS_1
Arsha mengetuk pintu beberapa kali.
"Masuk!"
"Maaf Ibu Kanaya memanggil saya?" tanya Arsha setelah masuk ke ruangan itu.
"Iya, silahkan duduk Pak Arsha!" Kanaya masih fokus di depan komputernya.
Tunggu sebentar ya."
Arsha mengangguk menunggu perintah Kanaya.Sesekali Arsha mencuri pandang menatap Kanaya.Wanita 23 tahun itu terlihat sangat berwibawa duduk di kursinya.Diusia yang masih begitu muda jabatan Ceo sudah di kantonginya, tentu saja bukan hal yang sulit baginya mengingat ayahnya dulu juga seorang Ceo.
"Selamat ya Pak Arsha.Mulai hari ini jabatan Manager pemasaran berada di bawah tanggung jawab Anda." Kanaya beranjak dari duduknya mengulurkan tangannya memberi selamat kepada Arsha.
"Apa ...?saya diangkat jadi Manager pemasaran." Arsha berdecak senang.
"Betul Pak." Kanaya tersenyum.
"Terima kasih Bu Kanaya." Arsha menjabat tangan Kanaya dengan senyum merekah di bibirnya.Rasa bangga bercampur bahagia kini menyelimuti perasaannya.Bagaimana tidak kerja kerasnya selama ini berbuah manis.Arsha berusaha bekerja seprofesional mungkin.Bekerja siang malam tanpa lelah demi jabatan yang kini sudah di sandangnya.
Arsha kembali ke ruangannya untuk mengambil tas kerjanya dan beberapa barang pribadinya.Kini ruangan Manager telah menantinya.
Arsha melangkah penuh semangat menuju ruangan barunya.
"Selamat datang Pak Manager," sambut Asistennya yang tak lain adalah Erick yang membukakannya pintu.
Erick adalah Asisten Manager pemasaran.Saat Arsha menjabat supervisor dirinya sering bekerja sama dengan Erick.Kini Erick akan selalu bersamanya membantu pekerjaannya.
"Bagaimana, Pak Arsha menyukai ruangan baru Anda?" tanya Erick yang berdiri di sebelah Arsha.
"Sangat.Ini impianku sejak lamaTerima kasih Erick."Arsha menepuk bahu Erick.
"Dengan senang hati Pak Arsha," sahut Erick.
"Jangan panggil Pak Arsha dong, panggil Arsha saja seperti biasa,"pinta Arsha.Keduanya memang akrab sebelumnya jadi panggilan Pak itu terasa aneh di telinga Arsha
"Mulai saat ini, Anda adalah atasan saya sudah seharusnya saya memanggil anda Pak Manager.Memanggil nama anda langsung sangatlah tidak sopan," terang Erick sopan.
"Baiklah terserah."
Arsha langsung mengerjakan tugasnya sebagai Manager yang baru dengan bimbingan Erick.
***
Sekitar pukul 10 pagi Ziva menuju Bandara.Hari ini Keyla akan berangkat ke Amerika untuk melanjutkan studinya.
Terlihat Keyla, Nara dan Medina sudah berada disana menunggu kedatangannya.
"Ziva kemana aja sih Loe!" Keyla kesal mencubit pipi Ziva yang baru saja muncul setelah 30 menit menunggu.
__ADS_1
"Sorry gaes, capek banget gue.Semalam baru pulang dari Bandung." Ziva beralasan.
Keyla langsung memeluk Ziva."Rasanya gue nggak ingin ninggalin elo, Va," resah Keyla.
Sejak pertama kali mereka bertemu saat masuk bangku SMP hingga SMP selalu bersama-sama membuat Keyla benar-benar tidak ingin berpisah dari sahabat baiknya itu apalagi dengan waktu yang cukup lama 3 tahun.
"Apaan sih kok jadi melow gini, lagian loe kan mau kuliah terus kembali.Nanti kita akan bertemu lagi kan?" Ziva mengelus wajah Keyla berusaha membesarkan hati sahabatnya itu.
Ditatapnya wajah Keyla ada perasaan sedih yang tak bisa ditampakkannya.Ziva tidak ingin Keyla pergi dengan sedih hingga jangan ada satu titik air mata pun keluar dari matanya walaupun saat itu rasanya air matanya ingin tumpah.Bahkan kalau bisa memilih saat itu dia ingin menangis sekeras-kerasnya demi supaya sahabatnya itu tidak meninggalkannya.
"Elo sahabat gue sejak SMP, kita selalu bersama dan sekarang kita harus berpisah,kalian jangan lupain gue ya?" Keyla menatap ketiga sahabatnya dengan tatapan nanar.
"Seharusnya kita yang ngomong gitu sama elo Key," sahut Ziva.
Keempat sahabat itu berpelukan lama.
"Jaga diri ya Key belajar yang bener!" Ziva kembali memeluk Keyla namun lebih erat dari sebelumnya.
"Pasti Va, gue akan buat elo bangga sebagai sahabat gue," bisik Keyla.
Air mata Keyla menitik menahan kesedihan harus berpisah dari sahabat-sahabatnya bersama lambaian tangan sebagai tanda perpisahannya.
"Ayo Key sudah waktunya!" ucap Mama Keyla.
Keyla kembali melambaikan tangannya meninggalkan ketiga sahabatnya Ziva,Nara dan Medina.Air mata Nara dan Medina menitik mengiringi kepergian Keyla tapi Ziva terus tersenyum hingga setengah Keyla tidak terlihat air matanya meluncur bebas di pipinya..
"Sudah jangan sedih lagi, ayo kita pulang." Medina menarik tangan Ziva dan Nara meninggalkan tempat itu.
***
Ziva memasuki rumah dengan ekspresi yang masih terlihat sedih sepeninggal Keyla.Perjalanan pulang dari Bandara sampai apartemennya dihabiskannya dengan ekspresi diam karena saat itu dia terus menahan kesedihannya.Ziva duduk termangu di sofa.
"Ada apa Sayang, lesu sekali?" tanya Arsha yang baru pulang kerja.
Seketika Ziva memeluk Arsha sambil menangis sesenggukan mengeluarkan kesedihannya yang tidak mampu lagi dibendungnya.
"Ada apa?" Arsha menatap wajah Ziva seraya mengusap air matanya.
"Key-la , dia sudah pergi meninggalkanku," ungkap Ziva terbata-bata.
Arsha pun kembali memeluk tubuh istrinya itu karena wanitanya itu kembali menangis.Saat itu Arsha tidak banyak bertanya namun memberikan kenyamanan untuknya meluapkan kesedihannya.
Ziva menghela nafas panjang kemudian menghembuskan kasar membuatnya terlihat sedikit tenang walaupun masih terdengar sesegukan dari mulutnya.
"Duduk sayang!" Arsha menarik Ziva ke sofa.
"Keyla pergi ke Amerika untuk bersekolah," ungkap Ziva.
Hampir saja air matanya kembali tumpah membuat Arsha langsung memeluknya. "Sudahlah jangan bersedih lagi, ada Kak Arsha."
__ADS_1
Ziva merasa nyaman setelah mengeluarkan kesedihan juga air matanya.Kepergian Keyla pukulan keras bagi Ziva.Selama ini Keyla selalu menjadi tempat berbagi segalanya.Kini Keyla telah pergi entah siapa yang akan menjadi teman senang dan dukanya nanti.