
Beberapa hari kemudian tepat di hari Minggu Arsha dan Ziva berencana pulang ke Bandung. Ziva berhasil meyakinkan Arsha untuk sekali lagi mencoba meminta restu kepada kedua orang tua Arsha sebelum mereka meresmikan hubungan mereka secara sah di mata hukum.
Beberapa hari setelah Ziva menemui kakaknya Zacky. Ziva benar-benar memikirkan apa yang dikatakan kakaknya untuk mencari jalan yang terbaik jangan sampai suatu saat ada penyesalan. Orang tua tetaplah orang tua karena di dunia ini tidak ada mantan orang tua dan mantan anak.
Ziva tidak ingin nantinya dirinya menjadi penyebab penghalang antara Arsha dan orang tua. Dia berusaha meyakinkan hatinya kali ini akan berhasil meyakinkan mertuanya itu.
Arsha dan Ziva sudah berada di mobil bersiap pergi. Keduanya saling menatap sebelum Arsha melajukan mobilnya.
"Apa kamu yakin kita akan pergi kesana? bagaimana kalau orang tuaku kembali mengusir kita?" Arsha mengungkapkan keresahannya membuatnya sedikit ragu.
Ziva mengenggam tangan Arsha.
"Kita akan mencobanya Kak kalau mereka tidak merestui hubungan kita, sebaiknya kita tidak melanjutkan hubungan kita." Ziva berucap pasrah.
"Kenapa kita harus melakukan kalau kita tahu jawabannya,apa kamu sengaja melakukannya untuk meninggalkanku!" tukas Arsha.
Matanya menatap nanar kearah Ziva lalu keluar dari mobil menutup pintu mobilnya kasar. Ziva langsung turun dari mobil melangkah mendekati Arsha yang begitu marah akan ucapannya. Ziva langsung memeluknya dengan erat dengan air mata yang perlahan menitik di pipinya sementara Arsha masih terlihat acuh dengan pelukan Ziva.
"Ziva sangat mencintai Kak Arsha tapi Ziva tidak ingin Kakak-"
"Jika kau ingin pergi pergilah jangan gunakan alasan apapun untuk meninggalkan aku karena nyatanya itu yang kau inginkan!" Arsha langsung memotong ucapan Ziva dengan nada penuh kekecewaan.
"Ziva hanya ingin yang terbaik untuk Kakak." Ziva berucap sambil terisak-isak. Air matanya kini mendera tanpa henti membasahi pipinya.
"Apapun yang terjadi kita harus meyakinkan mereka!" tegas Ziva.
"Kalau mereka tidak menyetujui,apa yang akan kamu lakukan?apa kamu akan bersujud sambil menangis darah!"pekik Arsha.
Arsha terlihat begitu marah melangkah pergi meninggalkan Ziva.
"Kenapa laki-laki itu begitu egois, sedikit pun tak memahami perasaanku?" batin Ziva. Langkahnya mengayun pergi meninggalkan besment sambil menghapus air matanya. Ziva terus melangkah tak tentu arah di trotoar jalanan itu.
Beep ... beep ... beep. Klakson mobil berbunyi beberapa kali menghentikannya tapi Ziva yang larut dalam kekecewaan tak menghiraukan. Mobil itu berhenti lalu pengemudinya langsung keluar menghentikan langkah Ziva.
"Ziva!" teriaknya.
__ADS_1
Seketika pria itu menarik lengan Ziva membuatnya sedikit terhenyak.
"Kak Zacky,Kakak disini?" Ziva menatap Zacky dengan tatapan terkejutnya.
Zacky langsung menarik tangan Ziva menuju mobilnya sementara Ziva hanya pasrah.Ziva masuk ke dalam mobil begitu pula Zacky langsung kembali ke kursi kemudi.
Terlihat Nissa berada di dalam mobil itu menatapnya penuh haru.
"Kamu nggak pa pa Dek?" tanya Nissa.
"Ziva baik-baik saja Kak." Ziva menatap Nissa dan Zacky bergantian.
Mobil itu melaju meninggalkan tempat dengan kecepatan sedang.
Di dalam mobi itu tampak hening tidak ada suara yang keluar sampai akhirnya mobil itu terhenti di sebuah halaman yang cukup luas. Ketiganya turun memasuki rumah itu yang tak lain adalah rumah Zacky. Nissa yang menggandeng tangan Ziva langsung mendudukkannya di sofa.
"Buatkan minum untuk Ziva!" perintah Zacky. Nissa yang masih berdiri segera melangkah pergi menuju dapur.
"Ada apa Va, kenapa suamimu begitu marah?" Zacky menatapnya penuh tanda tanya.
"Dia bahkan langsung mengusir Kakak dan kak Nissa pergi," timpal Zacky.
"Minumlah!" perintah Zacky.
Ziva langsung meminum teh itu sesuai perintah Kakaknya. Nissa duduk di sebelah di Ziva sambil mengusap lembut punggung Ziva berusaha membuat Ziva merasa nyaman. Ziva menarik nafas panjang lalu menghembusnya dan mulai bercerita dari awal hingga akhir.
"Kenapa kamu harus mengatakan itu,jelas saja suamimu marah besar!" pekik Zacky. Matanya menatap tajam Ziva ikut menyalahkan sikap Ziva.
"Kenapa malah menyalahkan Ziva?" geram Nissa.
"Seorang laki-laki sudah seharusnya meyakinkan orang tuanya menerima pilihan kita kalau dia tidak bisa meyakinkan tentu saja kita sebagai seorang wanita pasti mundur." Nissa menyetujui sikap Ziva membuatnya kini bertatapan tegang dengan Zacky.
"Jadi sedangkal itu cinta seorang wanita hanya karena tidak disetujui orang tua lalu kalian meninggalkan suami kalian begitu saja!" geram Zacky.
"Memangnya apa yang bisa kami lakukan selain itu!" pekik Nissa.
__ADS_1
Ziva yang duduk diantara keduanya merasa kesal dengan tingkah Kakak juga Kakak iparnya itu.
"Sudah ... sudah!kenapa jadi kalian yang malah ribut!" Ziva bangkit dari duduknya langsung menuju kamarnya menutup pintunya kasar.
Ziva langsung menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang. Tadinya Ziva begitu yakin akan bisa menyakinkan orang tua Arsha tapi kini semua sia-sia. Di kamar itu Ziva melepaskan kekecewaannya juga kesedihannya.
"Kenapa saat ini seperti masalah selalu mengikutiku padahal satu masalah belum selesai masalah lain kini datang. Aku harus bagaimana?" batin Ziva.
...----------------...
Arsha berdiri di balkon menatap pemandangan sekitar. Ada rasa kecewa yang begitu besar dalam batinnya. Seseorang yang begitu dicintainya bisa mengatakan hal yang sangat menyakitkannya. Sampai kapanpun ayahnya tidak akan menerimanya dan pernikahannya kalau dia tidak kembali kerumah dan menyetujui semua keinginan ayahnya. Sedari awal bahkan sebelum menikah hubungannya sudah renggang. Istrinya itu malah mengatakan akan meninggalkannya jika tidak ada restu dari orang tuanya.
"Pasti ada sesuatu yang membuatmu beralasan seperti itu, padahal kamu tahu ayahku tidak akan mudah merestui kita tapi kamu bersikukuh. Mungkinkah?" lirih Arsha.
Arsha langsung menghubungi nomer Ziva. Beberapa kali Arsha mencoba menghubungi tapi Ziva tidak menjawab teleponnya membuat Arsha semakin kesal. Arsha kemudian mengirimkan pesan singkat.
Sedang bersama selingkuhanmu sampai kau mengabaikan panggilan suamimu.Dimana kamu,apa perlu aku datang memukuli selingkuhanmu itu!
Arsha langsung masuk ke dalam rumah melempar kasar ponselnya diatas sofa.
"Aku yakin kamu sedang bersama laki-laki itu!" batin Arsha.
Ziva yang membaca pesan singkat itu langsung meminta Zacky untuk mengantarnya pulang.
Ziva memencet bel beberapa kali. Pintu akhirnya terbuka.Arsha menatap Ziva dan Zacky yang berdiri di sana.
"Terima kasih Kak sudah mengantar Ziva," ucap Ziva.
Arsha langsung menarik tangan Ziva masuk ke dalam apartemennya sementara Zacky langsung pergi karena tidak bisa berbuat apa-apa karena Arsha yang lebih berhak atas Ziva.
Arsha melempar paksa Ziva menuju kamarnya dan langsung menggagahi tubuhnya.
"Apa yang Kakak lakukan?" Ziva mendorong Arsha menjauhi tubuhnya.
"Kau!apa ini alasanmu selalu menolakku?siapa laki-laki itu?" Arsha menatap tajam Ziva.
__ADS_1
"Laki-laki mana yang Kak Arsha maksud, jelas-jelas Kak Arsha lihat sendiri kak Zacky yang mengantarku pulang," terang Ziva.
Arsha kembali mengungkung tubuh Ziva melucuti paksa pakaian Ziva.