Terpaksa Menikah Diusia Belia

Terpaksa Menikah Diusia Belia
Bab 64 ( Luluh )


__ADS_3

Beberapa hari kemudian tepat di akhir pekan Arsha membawa Ziva pulang ke Bandung. Pagi-pagi sekali mereka berangkat. Saat diperjalanan keduanya tampak fokus dengan masing-masing, Arsha fokus mengendarai mobil sementara Ziva pandangannya tertuju pada jendela. Beberapa kali Arsha hanya melihat Ziva tanpa bertanya lalu kembali fokus. Arsha benar-benar menahan bicaranya agar tidak terjadi perselisihan diantara mereka.


Separuh perjalanan Arsha menghentikan mobilnya disebuah restoran untuk mengisi perutnya karena merasakan perutnya mulai keroncongan. Arsha berjalan lebih dulu diikuti Ziva. Keduanya duduk.di sebuah kursi restoran itu.


"Mau makan apa?" Arsha menatap Ziva yang masih melihat sekeliling restoran.


"Apa aja ikut Kakak," jawab Ziva.


Arsha melambaikan tangan ke seorang pelayan yang berjalan ke arah meja mereka. Setelah mencatat pesanan mereka Pelayan itu kembali dan segera menyiapkan pesanan mereka. Beberapa saat kemudian makanan mereka telah siap di meja mereka.


"Ayo makan!" perintah Arsha.


Ziva segera melahap makanan yang sudah berada di depannya dengan lahap karena memang perutnya terasa lapar begitu pula dengan Arsha.


"Apa kau makan nambah lagi?" tawar Arsha.


"Sudah Kak,cukup." Ziva menolak sambil memegangi perutnya yang terasa penuh.


"Aku akan ke kasir dulu."Arsha bangkit dari duduknya.


"Tunggu Kak!" Ziva bangkit dari duduknya.


"Ada apa?" Arsha menatapnya bingung.


"Aku mau ke toilet," terang Ziva.


Keduanya berjalan beriringan Arsha menuju kasir sementara Ziva menuju toilet.


Setelah menyelesaikan pembayaran di kasir Arsha menuju mobil menunggu Ziva. Sekitar 10 menit kemudian akhirnya Ziva kembali dan langsung masuk ke mobil.


"Kita berangkat?" Arsha menatap Ziva dengan senyum tipis di bibirnya.

__ADS_1


"Tunggu Kak!" Ziva memegangi lengan Arsha menatapnya penuh.


"Apalagi?" Arsha sedikit emosi.


Ziva langsung memeluk tubuh suaminya itu dengan erat membuatnya langsung mendekap tubuh Ziva semakin masuk ke dalam pelukannya.


"Apa kau merindukanku?" Arsha berucap lirih sambil mengecup mesra pucuk kepala Ziva.


Tidak ada jawaban dari Ziva hanya sedikit isakan tangis yang keluar dari mulutnya membuat Arsha yang berpikir Ziva merindukannya berubah ekspresi kecewa juga rasa bersalah.


"Maafkan Kak Arsha,Kak Arsha hanya memberimu kesedihan.Kakak-" Ziva langsung membungkam mulut Arsha dengan telapak tangannya.


"Jangan bicara lagi!biarkan Ziva sesaat dipelukan Kak Arsha seperti ini!" Ziva kembali mendekap tubuh Arsha dan hening sesaat dipelukan tubuh kekar suaminya itu.


Setelah cukup lama Ziva melepas pelukannya. Melihat air mata yang membasahi pipi Ziva, Arsha langsung mengusapnya lembut. Ada perasaan sakit di hatinya saat melihat orang yang dicintai dan ingin dilindunginya menangis karenanya.


"Maafkan Ziva Kak. Ziva begitu egois memaksa Kakak seperti ini bahkan Ziva mengancam Kakak demi kemauan Ziva. Ziva hanya ingin kita menikah dengan restu kedua orang tua kita. Ziva berharap Kak Arsha mengerti," ungkap Ziva.


Dengan penuh keyakinan kini keduanya berjalan beriringan di jalan yang sama dan niat yang sama berharap mendapat restu dari orang tua Arsha yaitu ayahnya.


Setelah perjalanan cukup panjang akhirnya mobil hitam itu berhenti di halaman yang cukup luas. Rumah bercat hitam dan putih itu nampak sepi.


Keduanya bergandengan tangan menuju daun pintu rumah itu lalu Arsha mengetuknya beberapa kali. Pintu itu akhirnya terbuka. Seorang wanita paruh baya berdiri menatap seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya sambil mengusap kelompok matanya beberapa kali. Ziva langsung memeluk mertuanya itu.


"Apakah Ibu sedang bermimpi?" Dina masih setengah tidak percaya.


"Ibu sedang tidak bermimpi." Ziva melepas pelukannya lalu menarik tangan Arsha menyatukannya dengan tangan Dina. Arsha langsung memeluknya. Tangis haru terdengar dari bibir Dina.


"Maafkan Arsha Bu, Arsha-"


"Sudahlah yang penting sekarang kalian sudah berada disini." Dina langsung memotong ucapan Arsha.

__ADS_1


Dina menarik tangan keduanya masuk ke dalam rumah itu mengajaknya duduk di sofa.


"Dimana ayah, Bu?" Ziva menatap sekeliling ruangan itu yang nampak sepi. Rumah itu memang selalu sepi selain Dina dan Hermawan tidak ada lagi yang tinggal di rumah itu.


Ziva kembali memeluk Dina. "Pasti Ibu sangat kesepian."


"Cepatlah beri Ibu cucu supaya rumah ini ramai dengan tangis bayi," celoteh Dina.


Ziva hanya tersenyum tipis menanggapi celoteh Dina.


"Secepatnya Arsha akan memberi Ibu cucu," sahut Arsha.


Ziva langsung mencubit perut Arsha membuat Arsha langsung nyengir kesakitan. Dina tersenyum melihat menantu dan anaknya itu.


"Dimana ayah, Bu?" Ziva kembali mengulang pertanyaannya.


Dina menarik tangan Ziva menuju kesebuah kamar diikuti Arsha.


Terlihat lelaki paruh baya terbaring tak berdaya di tempat tidur dengan air mata menetes di pipinya menatap kedatangan Ziva dan Arsha.


"Ayah." Ziva langsung mencium tangan Hermawan.


"Maafkan Ziva, Yah. Baru sekarang Ziva bisa kesini menjenguk, Ayah." Ziva berucap penuh rasa bersalah. Ziva bahkan tidak bisa menyinggung masalah mertuanya itu dan mengatakan keadaan ayahnya itu kepada Arsha karena Arsha akan marah besar ketika Ziva membahas masalah ayahnya.


"Apa yang terjadi,kenapa ayah berbaring disana?" Arsha menatap serius ayahnya lalu ibunya.


"Ayah terkena stroke dan mengalami kelumpuhan dan susah berbicara" terang Dina.


"Lumpuh ....Ayah." Arsha langsung bersimpuh disamping ayahnya seakan tiba-tiba dunianya menjadi gelap tertutup awan kesedihan.


Walaupun selama ini dirinya selalu berselisih paham dengan ayahnya tapi ayah tetaplah ayah. Ayah adalah seorang kesatria idola pertama sejak melihat dunia ini. Ayah mengajarkan segala hal hingga mampu membuat berdiri tegak mengahadapi dunia ini.

__ADS_1


Hati yang tadinya mengeras sekeras batu tiba-tiba luluh seketika bersama deraian air mata yang kini membasah tak berkesudahan.


__ADS_2