
Ziva menuju ke kamarnya setelah membereskan bunga itu.
Nampak Arsha duduk lesu di tepi ranjang sambil memegang kedua pelipisnya. Melihat itu Ziva hanya berdiri di balik pintu.
"Sepertinya Kakak sedang ada masalah?" batin Ziva.
Ziva menjadi sedikit termenung. Saat dirinya masih SMA, masalah tidak begitu ada tapi memasuki kuliah juga diangkatnya Arsha menjadi Manager masalah seakan terus berdatangan. Satu masalah belum selesai datang lagi masalah yang lain.
"Ziva ... Ziva!" teriak Arsha.
"Hah." Ziva tersentak kaget.
"Kenapa berdiri di sini?" Arsha menatapnya bingung.
"Ziva hanya-." Ziva menggantung ucapannya.
"Kakak mau mandi!" sergah Arsha.
Arsha melewati Ziva menuju kamar mandi.
Beberapa menit kemudian Arsha keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan handuk melingkar di pinggangnya.Ziva mempersiapkan baju Arsha di atas ranjang.
Setelah mandi wajah Arsha terlihat lebih segar tapi masih muncul rasa khawatir di wajahnya membuat Ziva memberanikan diri untuk bertanya.
"Apa Kak Arsha ada masalah?" Ziva duduk di tepi ranjang menatap Arsha yang tengah memakai baju.
"Siapa bilang Kakak ada masalah yang ada kamu yang mencari masalah!" tegas Arsha membuat nyali Ziva menciut.
"Wajah Kakak memperlihatkan kalau sedang tidak baik-baik saja," ungkap Ziva.
"Kakak tidak apa-apa cuma ada sedikit masalah di kantor tapi Kakak sudah menyelesaikannya," terang Arsha.
"Kak." Ziva mendekap erat tubuh Arsha.
"Hari ini rasanya semua masalah muncul membuatku benar-benar rapuh membuatku benar-benar ingin jatuh. Aku ingin membaginya denganmu tapi bibir ini tak bisa berkata sedikitpun,bibirku serasa terkunci. Untuk pertama kalinya aku ingin pulang ke Bandung tinggal disana menjadi wanita desa menjadi Istrimu yang hanya melayanimu saja!" batin Ziva.
Ziva semakin erat mendekap tubuh suaminya membuat Arsha mengelus serta mengecup puncak kepalanya.
"Ada apa,apa ada masalah?" Arsha menatap wajah Ziva memandangnya lebih dalam dengan kedua tangannya memegang wajah Ziva.
"Kak kenapa kita tidak tinggal di Bandung saja?" celetuk Ziva.
Arsha terperangah mendengar pertanyaan Ziva membuat bibirnya ternganga sempurna.
"Apa maksudmu?bukankah kita sepakat untuk mencapai masa depan kita,apa kamu lupa dengan janjimu pada Kakak. Apa kamu lupa ingin membuat Kakak dan keluargamu bangga?!" Arsha menatap serius Ziva.
__ADS_1
Arsha menatap dalam wajah Ziva yang mula berkaca-kaca hingga akhirnya air matanya meluncur perlahan melewati pipinya.
"Apa ada masuklah di kampusmu?maafkan Kak Arsha terlalu sibuk dengan urusan kantor hingga sedikit mengabaikanmu." Arsha berkata dengan lembut sambil mengusap air mata yang membasahi pipi Ziva.Ziva mencoba tersenyum menutupi keresahannya.
"Kenapa hari ini aku jadi lemah sekali harusnya aku berdiri tegak menghadapi masalahku bukannya malah ingin lari seperti ini," batin Ziva.
"Maafkan Ziva, Kak." Ziva kembali mendekap tubuh Arsha.
...----------------...
Ziva melangkah gontai menuju kelasnya. Hari ini Ziva tak begitu bersemangat tidak seperti hari biasanya. Ziva memutar balik langkahnya karena seseorang menghadang jalan dengan senyum menyeringai.
"Kenapa Loe melangkah kesini bukannya kelas kita ada di ujung sana?" Kayla menunjukkan kelasnya dengan ekspresi bingung.
Alvin segera menghampiri Ziva yang berdiri bersama Kayla.
"Kenapa kamu malah menghindariku?" Alvin mencekal lengan Ziva membuat gadis itu menatap tajam kearahnya.
"Lepaskan!" pekik Ziva.
"Kenapa aku harus melepaskanmu?setiap gadis yang aku inginkan harus menjadi milikku!" tegas Alvin.
Kayla hanya tertunduk tidak bisa berbuat apa-apa karena Alvin bersama teman-temannya. Selama ini tidak ada yang berani melawan kehendak Alvin.
"Kak Rendy." Ziva menatap Alvin.dengan tatapan bengisnya.
Alvin pun melepaskan cekalannya.
"Kali ini gue lepasin tapi kamu akan membayarnya nanti!" ancam Alvin.
Alvin pun pergi meninggalkan tempat itu bersama temannya.
"Kak Rendy terima kasih, ini kali kedua Kakak membantuku,aku tidak akan melupakan kebaikan Kakak," ucap Ziva.
"Santai aja Va." Rendy tersenyum.
"Ayo Va, kita sudah terlambat!" Kayla menarik tangan Ziva meninggalkan Rendy. Ziva melambaikan tangannya saat Rendy masih menatap kepergiannya.
...----------------...
Ziva dan Kayla keluar dari kelasnya setelah pelajaran usai.
"Sebaiknya loe turutin kemauan Alvin,karena Alvin pasti akan terus mengejarmu. Semakin kamu menjauh semakin dia mengejar-ngejar loe. Seminggu juga dia bakal bosen sama kayak yang lain!" tutur Kayla.
"Gila loe ogah banget gue lagian gue udah nikah!" Ziva keceplosan bicara.
__ADS_1
"What ... loe udah-" Ziva langsung membungkam mulut Kayla sementara Kayla terbelalak mendengar ucapan Ziva.
"Ini rahasia antara kita!" Ziva memperingatkan lalu melepas tangannya dari mulut Kayla.
"Ziva,loe bener?" Kayla masih setengah tidak percaya.
Ziva menarik tangan Kayla duduk di sebuah kursi taman di area kampusnya.
Ziva perlahan menceritakan masa lalunya tentang hidupnya dan bagaimana akhirnya dia menikah.
"Kasian banget loe,pasti berat banget buat loe. Hidup dengan orang yang nggak loe cintai selain itu loe kehilangan masa muda untuk bersenang-senang." Kayla menatap Ziva dengan tatapan sendu yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.
"Masalahnya bukan itu Kay. Aku sudah menerima pernikahanku tapi memasuki masa kuliah banyak banget masalah yang gue hadapi dari mertua, atasan suami,masa laluku Rendy juga sekarang Alvin," keluh Ziva.
Kayla menatap Ziva seakan mengerti keresahan yang dialami sahabatnya itu tapi tida ada yang bisa di perbuatanya kecuali memberi dukungan juga semangat.
"Pastikan loe tidak menyerah begitu saja,gue yakin loe pasti bisa melewati semua ini dengan baik." Kayla mengusap punggung Ziva menguatkan. Ziva langsung memeluk Kayla erat.
"Makasih Kay untung ada loe yang selalu menemani gue," lirih Ziva.
Tiba-tiba dua orag laki-laki menarik tangan Ziva.
"Siapa kalian?" Ziva berusaha melepas tangannya dari cekalan dua laki-laki itu.
"Lepasin Ziva kalau nggak aku akan berteriak," ancam Kayla. Matanya menatap tajam dua laki-laki itu.
"Jangan berbuat macam-macam kalau tidak ingin aku melukai sahabatmu ini," sergah seorang laki-laki.
Ziva memberi isyarat pada Kayla agar tidak ikut campur.
"Baiklah, aku akan ikut kalian. Lepaskan tanganku!" tawar Ziva.
Kedua laki-laki itu melepaskan tangannya. Ziva pun mengikuti kedua pria itu membawanya.
sebuah mobil menunggunya di depan universitas itu. Ziva kemudian di bawa masuk ke dalam.
"Kau!" pekik Ziva.
"Sudah ku duga pasti kau di balik semua ini!" Ziva menatap tajam orang itu.
"Aku sangat ingin bersamamu,kenapa kamu tidak mengerti dan terus menolakku?!" Pria itu berdecak kesal berusaha mendekap tubuh Ziva.
"Jangan mendekat,kalau kau mendekat,aku akan melompat keluar!" ancam Ziva. Tangannya memegang pintu mobil padahal saat itu mobil dalam kondisi melaju kencang.
"Kau!siapa kau berani mengancamku?!" hardik Alvin.
__ADS_1