
Beberapa hari kemudian tersiar kabar, Direktur Utama di kantor Arsha akan digantikan Direktur baru menggantikan Direktur utama mereka Agung Handoyo.Pria itu sudah cukup tua dan sakit-sakitan untuk menjabat CEO sekaligus Dirut hingga harus digantikan oleh penerusnya.
Semua pegawai dan Staf dikumpulkan di ruang rapat untuk memperkenalkan Dirut baru.Semua yang ada diruang itu antusias menyambut.
Arsha nampak tenang menunggu pimpinannya masuk ke ruang rapat yang di penuhi riuh pegawai yang membicarakan Dirut baru mereka.
"Katanya Direktur baru kita seorang perempuan yang juga anak dari Pak Agung Handoyo.Masih muda,cantik lulusan dari luar negeri." Zacky berbisik ditelinga Arsha.
"Benarkah?" Arsha merasa jika Dirutnya seorang perempuan akan lebih sulit dipahami karena menurut Arsha semua mahluk bernama wanita itu sulit dipahami.
Semua pegawai beranjak dari duduknya sesaat Handoyo masuk dengan seorang wanita yang tidak asing bagi Arsha.
"Kanaya." Arsha membelalakkan penglihatannya saat seseorang yang begitu di kenalnya berjalan di samping pimpinannya yang akan segera pensiun itu.
"Kamu mengatakan sesuatu?" tanya Zacky sekilas lalu fokus lagi ke wanita cantik yang sudah dipastikan akan menjadi Dirut barunya.
Arsha tidak menjawab malah fokus pada wanita yang berdiri di depannya.
Setelah memperkenalkan Dirut yang baru para pegawai menjabat tangan atasan barunya itu sebagai ucapan selamat.
Wajah Arsha seketika memucat kala berdiri tepat di depan Kanaya antara malu juga bingung.Arsha memberanikan diri melangkahkan kakinya lebih mendekat.
"Selamat bergabung di perusahaan ini, Ibu Kanaya." Arsha tersenyum menjabat tangan Kanaya.
"Terima kasih Pak Arsha,mohon kerjasamanya karena saya masih baru dan harus belajar dari Anda." Kanaya tersenyum ramah.
"Kanaya, perkenalkan ini Pak Arsha, Supervisor kita.Kamu akan banyak berinteraksi dengan dia, Pak Arsha ini prestasinya sangat membanggakan orangnya cerdas juga cekatan." Pimpinannya memperkenalkan juga memujinya.
"Anda terlalu memuji saya Pak, Saya masih harus banyak belajar dari Anda dan Ibu Kanaya." Wajahnya setengah menunduk karena malu terlalu di puji pimpinannya.
"Nah itu yang saya suka dari Anda tidak pernah menyombongkan diri walaupun sebenarnya Anda bisa." Pimpinannya menepuk pundak Arsha lalu meninggalkan ruangan itu.
.
.
Arsha duduk termangu di ruangannya.Nasibnya di ujung tanduk menunggu putusan dari Pimpinanannya.Saat Kanaya menceritakan semua perlakuannya, tamatlah sudah riwayatnya di perusahaan yang membesarkannya itu.
"Kenapa harus Kanaya yang menjadi anak Pak Handoyo, Ziva juga keterlaluan." Arsha mengumpat kesal.
"Sebaiknya aku meminta maaf sebelum dia mengatakan semua pada Pak Handoyo," batin Arsha.
Langkahnya menuju ruangan Kanaya setelah sampai di depan ruangan Kanaya Sekertaris Kanaya menghentikannya.
"Bu Kanaya belum kembali, Pak Arsha.Masih di ruangan Pak Dirut," jelas sekertaris Kanaya.
"Oh terima kasih." Arsha melangkah pergi kembali ke ruangannya.
Batin Arsha benar-benar dibuat bingung karena semenjak mengetahui Kanaya anak dari Handoyo membuatnya tidak bisa berpikir lagi.Karir yang bertahun-tahun dibangunnya akan segera berakhir dengan masalah sepele yang di ciptakan istrinya sendiri.Arsha terus mondar-mandir di ruangannya.
__ADS_1
Tok tok tok.
Seseorang mengetuk pintu ruangannya.
Deg
Jantung Arsha serasa mau lepas mendengar pintu ruangannya diketuk karena saat itu hanya kecemasan yang terus meliputi pikirannya.
"Masuk."
"Pak Arsha, Bu Kanaya menunggu anda diruangnya.Saya permisi Pak," singkat Sekertaris Kanaya memberi tahu.Sekertaris Kanaya beranjak pergi setelah menyampaikan perintah atasannya.
Arsha menarik nafas panjang lalu melepaskannya.Kakinya melangkah menuju ruangan Kanaya.Perlahan Arsha mengetuk pintu.
"Masuk."
Dengan perasaan cemas Arsha memasuki ruangan Kanaya.Kali ini dia siap menerima konsekuensi apapun atas semua kesalahannya.
"Selamat siang, Bu Kanaya." Arsha menyapa sopan Kanaya yang fokus di depan komputernya.Wajahnya terlihat cuek hingga aura dingin begitu terasa.Berbeda dengan Kanaya yang di kenalnya begitu hangat dan manis walaupun baru dua kali bertemu.
"Silahkan duduk Pak ...."
"Arsha," sergah Arsha.
"Ada yang ingin ada sampaikan?" Kanaya masih fokus di depan komputernya dengan aura yang masih sama.
"Maaf Pak Arsha, tolong jangan mencampur adukan masalah pribadi dengan pekerjaan dan untuk masalah itu saya sudah melupakannya," sergah Kanaya memotong ucapan Arsha.Tatapannya menatap tajam ke arah pria di depannya itu sesaat.
"Kalau sudah tidak ada yang dibicarakan,silahkan pergi!" timpalnya kembali fokus ke komputernya.
Arsha menundukkan kepalanya sebelum melangkah keluar dari ruangan itu.
Walaupun tidak sepenuhnya lega karena keberadaan Kanaya sebagai Dirutnya yang baru tapi setidaknya Arsha bisa bernafas lega karena nyawanya di perusahaan itu masih dibutuhkan.
Sekitar pukul 3 sore Arsha
meninggalkan ruangannya beranjak pulang.Sesampainya di rumah, Arsha berbaring lesu di sofa.
Ziva keluar dari kamar mendengar pintu rumahnya menutup dengan keras karena Arsha menutup pintunya kasar.
"Kak Arsha sudah pulang?"
Girang Ziva mencium kening suaminya.
Arsha tak menggubris malah menutup wajahnya dengan lengannya seakan tidak ingin diganggu.
"Ada apa sih,kok gitu?" Ziva merasa suaminya berkelakuan aneh.
"Jangan ganggu Kak Arsha, Va!" tegas Arsha.
__ADS_1
Pria itu langsung memunggunginya karena benar-benar tidak ingin di ganggu.
"Memangnya ada apa,Kak Arsha ada masalah di kantor?" Ziva terus bertanya walaupun Arsha sudah memperingatkannya.
"Ziva!" bentak Arsha.
"Kakak kenapa sih, Ziva kan cuma bertanya kenapa malah Kakak marah dan membentak Ziva!" sentaknya kesal.
Matanya memerah kemudian menitikkan buliran bening.
"Sudahlah Va, jangan semakin memancing amarah Kakak!" tegas Arsha masuk ke kamarnya menutupnya kasar.
"Ada apa sih dengan Kak Arsha,kenapa tiba-tiba semarah ini?" batin Ziva.
Ziva merasa aneh sebelumnya Arsha tidak pernah sekalipun semarah itu apalagi sampai membentaknya.
"Mungkin Kak Arsha capek jadi sedikit emosi setelah istirahat pasti akan baik-baik saja kan," batin Ziva meyakinkan hatinya semua akan baik-baik saja.
Sekitar pukul 9 malam Ziva keluar dari kamar.Rumahnya begitu sepi karena Arsha tak kunjung keluar dari kamar semenjak sore.
"Aku lapar," lirih Ziva.
Perutnya tak berhenti berbunyi karena semenjak siang perutnya belum terisi.Terakhir makan, makan bakso di kantin sekolahnya tadi siang.Ziva membuka pintu lemari pendingin dan mencari sesuatu yang bisa dimakan.Beberapa hari terakhir karena kesibukan Arsha hingga tidak sempat berbelanja dan lebih sering memesan makanan dari luar hingga membuat lemari pendinginnya kosong.
"Apa nih nggak ada makanan?" Ziva mengacak lemari pendingin yang hanya ada air mineral dan telur.
"Aku akan goreng telur saja, lumayan bisa mengganjal perut," gumamnya.
Ziva mengambil 2 butir telur lalu menggorengnya karena kurang hati-hati tangan Ziva menyentuh teflon panas.
"Auuu," pekiknya.
Ziva merasakan jarinya tangannya sangat panas dan perih membuatnya terus meniupnya tanpa henti.
Mendengar pekikan Ziva yang merintih, Arsha langsung keluar dari kamarnya dan mencari keberadaan Ziva yang kebetulan di dapur.
Asap dapur mengebul karena Ziva tidak mematikan kompornya karena fokus ke jari tangannya yang terluka hingga membuat telor di teflon gosong.Arsha bergerak cepat lalu segera mematikan kompor itu.
Saat itu Ziva terus menunduk karena takut suaminya akan memarahinya lagi karena hampir saja kecerobohannya hampir membakar apartemennya.
"Maafkan aku, Kak.Aku -" Belum menyelesaikan ucapannya air matanya sudah menitik.Saat itu hanya isakan yang terdengar dari mulutnya.
"Ceroboh sekali kamu, apa kau terluka?" Arsha menatap wajah Ziva dan melihat jari tangan Ziva melepuh.
Arsha langsung menarik Ziva keluar dari dapur kemudian mendudukkannya di sofa lalu segera mengambil kotak p3k di dalam laci tv.Arsha mengoles salep luka bakar ke jari tangan Ziva seraya meniupnya agar tidak perih.
"Untung hanya luka kecil, kenapa Kamu ceroboh sekali?" Arsha menatap lekat wajah wanitanya.Dibelainya wajah Ziva lalu mengecupnya.
"Jangan lagi membuat Kakak merisaukanmu, jika terjadi sesuatu padamu, Kak Arsha tidak bisa memaafkan diri Kakak sendiri," jelasnya mengurai kecemasannya.
__ADS_1