
Setelah membeli beberapa keperluan dapur Ziva pun beranjak pergi setelah membayar semua belanjaannya.Ziva melangkah perlahan sambil menikmati es krim strawberry kesukaannya.
Dari kejauhan nampak seorang wanita paruh baya yang terlihat mondar-mandir di depan gedung apartemennya.
Ziva mempercepat langkahnya mendekati wanita itu karena Ziva seperti tidak asing dengan wanita itu.
"Tante Dina." Ziva terbelalak menatap wanita di depannya.
"Ziva, untung Tante ketemu kamu disini, apa benar ini apartemen Arsha?" Menunjuk ke apartemen di depannya.
"Iya Tante,Tante kesini sama siapa?apa Tante tidak mengabari Kak Arsha lebih dulu?" telisik Ziva.
Saat itu dia benar-benar bingung karena tiba-tiba saja wanita yang tak lain ibu mertuanya itu tiba-tiba datang tanpa menelepon lebih dulu.
"Bagaimana ini?" gumamnya.
"Tante kesini sendiri.Sebenarnya tidak ada rencana kesini jadi Tante tidak mengabari Arsha," jelas Dina.
Wajah lelah dan cemasnya begitu ketara membuat Ziva merasa kasian apalagi datang ke kota besar itu seorang diri.
"Kamu dari mana, Kamu tinggal disini juga?" Tanya Dina.Ziva mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan Dina.
"Nggak Tante, Ziva tinggal di daerah B bersama Kak Zacky.Ini tadi Ziva lewat sini untuk belanja."
"Apa sebaiknya Tante ikut Ziva dulu ke rumah Ziva soalnya jam segini Kak Arsha belum pulang?" timpal Ziva.
Batinnya benar-benar kacau bingung harus bagaimana kalaupun Dina mengikutinya dia juga akan mati kutu karena kuncinya rumah lamanya ada di dalam tas sekolahnya yang juga di dalam apartemennya.Ziva beberapa kali menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Nggak usah Ziva, Tante tunggu disini saja," tolak Dina.Wanita setengah baya itu terus tersenyum menampakkan wajah yang masih cantik walaupun sudah tidak muda lagi.
"Aku harus mengalihkan fokusTante Dina supaya aku punya waktu untuk memberitahu Kak Arsha," gumam Ziva.
Saat itu dia berpikir keras untuk mengalihkan perhatian Dina, agar Arsha mempunyai waktu membereskan semua bajunya karena jika Dina tahu ada baju wanita di apartemen putranya wanita itu pasti akan bertanya panjang lebar.
__ADS_1
"Tante pasti lapar,kita makan dulu di seberang sana, nggak jauh kok sembari menunggu kak Arsha pulang," bujuk Ziva.
Saat itu senyum manisnya membuat Dina tidak sanggup menolak ajakannya.
"Baiklah, Tante juga lapar.Tante bawain belanjaannya, kamu jadi repot gara-gara Tante," tawar Dina.
"Nggak usah Tante, Ziva bisa kok lagian Ziva udah biasa." Ziva kembali tersenyum manis.
Keduanya berjalan berdampingan menuju restoran itu.Cukup lama mereka makan sambil berbincang-bincang.Saat ada kesempatan Ziva langsung pergi ke toilet untuk menelepon memberi tahu suaminya tentang kedatangan ibunya.Selesai makan keduanya keluar dari restoran itu.
"Untung saja tadi Kak Arsha ngasih aku duit cash jadi bisa bayarin makanan Tante," gumam Ziva.
Saat di restoran tadi, Ziva yang membayar makanan Dina.
"Terima kasih ya Va Tante benar-benar hutang budi sama Kamu." Dina bersyukur di kota besar itu ketemu Ziva.
"Tante bisa aja cuma makan doang.Seperti kak Arsha, Ziva juga menganggap Tante seperti Ibu Ziva sendiri."
Keduanya begitu akrab berjalan bergandengan orang lain yang melihat mereka pasti berpikir ibu dan anak. Langkahnya mereka mengayun memasuki lobby apartemen itu.
Keduanya kemudian keluar dari lift menuju apartemen no 725.
Ziva kemudian memencet bel saat sudah berada tepat di depan apartemennya.Pintu pun terbuka sesaat setelahnya.Arsha membelalakkan matanya menatap ibunya yang kini berada di depan matanya.
"Ibu," pekiknya.
Keduanya saling berpelukan.Suasana haru begitu terasa membuat Ziva yang saat itu menatap keduanya menitikkan air mata.
"Akhirnya Ibu bertemu denganmu,Nak." Dina mengelus punggung Arsha diiringi air mata bahagia yang perlahan menitik di pipinya.
"Duduk Bu!" Arsha menarik tangan ibunya duduk di sofa.
"Va tolong bikinin minum untuk Ibuku!" Menatap Ziva yang masih berdiri di dekat pintu.
__ADS_1
"Oh, iya Kak." Ziva menaruh belanjaannya di lantai lalu melangkah ke dapur.
Kedua berbincang santai disertai tawa yang saat itu terdengar cukup kencang sampai dapur membuat Ziva ikut merasakan kehangatan itu.Kehangatan ibu dan anak yang lama tidak mereka rasakan.
Dina kembali memeluk putranya meluapkan kerinduannya selama bertahun-tahun kini terobati.
Semenjak Arsha lulus kuliah dan memutuskan menetap dan bekerja di Jakarta membuat hubungannya dan ayahnya renggang.Arsha hampir tak pernah pulang hanya 2 kali selama 5 tahun itu pun cuma pulang sebentar lalu kembali ke Jakarta karena hanya pertengkaran yang terjadi saat dirinya berada di rumah.Sifat Bapak dan anak yang sama-sama keras membuat hubungan itu semakin jauh.
Ziva menatap keduanya dari kejauhan dan memberikan kesempatan anak dan ibu itu saling mencurahkan rindunya.
"Ibu kesini bukan untuk memaksaku pulang kan?"
Dina menggelengkan kepalanya. "Ibu kesini karena merindukanmu, Nak.Apapun pilihanmu ibu selalu mendukungmu, doa Ibu selalu untukmu." Dina mengelus wajah Arsha penuh kasih sayang.
Wanita itu sangat menyayangi Arsha karena Arsha memang putra satu-satunya hingga seluruh kasih sayangnya hanya tercurah padanya.
"Mana nih Ziva lama banget bikin minumnya." Arsha menyadari Ziva beoum kembali dari dapur padahal ia dan ibunya sudah cukup lama berbincang.
"Ziva."
"Iya." Ziva keluar dari dapur membawa segelas teh di nampan.
"Silakan Tante, diminum tehnya."Ziva menaruh tehnya diatas meja.
"Terima kasih Va, Tante kembali merepotkanmu."
"Iya sama-sama Tante, kalau gitu Ziva pamit pulang dulu.Takut kak Zacky nyariin." Pamit Ziva mencium punggung tangan Dina.
"Kak Arsha antar ya?" Arsha beranjak dari duduknya.
"Nggak usah Kak, kasian Tante sendirian.Ziva akan naik taxi." Ziva mengedipkan matanya memberi kode, kalau dia akan baik-baik saja.
Langkahnya mengayun meninggalkan gedung itu.
__ADS_1
...----------------...
Lanjut Vote, Likenya ya sambil nunggu up dari sini bisa ke novel author yang satunya Terjebak Nikah Kontrak (End).Salam sayang dan cinta yang banyak dari author ❤️