Terpaksa Menikah Diusia Belia

Terpaksa Menikah Diusia Belia
Bab 44 ( Alasan Sebenarnya )


__ADS_3

Ziva terjaga dari tidurnya mendengar beberapa kali ponselnya terus bergetar tanpa henti.Betapa terkejutnya saat memeriksa ponselnya, puluhan panggilan dan juga pesan singkat mengantri di ponselnya.


"Sial, aku melupakannya," umpat Ziva.Segera melompat dari ranjangnya namun saat itu dia harus menyingkirkan tangan suaminya yang melingkar di pinggangnya.Ziva segera menghubungi sahabatnya balik karena mereka sudah jelas menunggumunya.Setelah itu Ziva langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri.20 menit kemudian dia keluar saat itu pria di kamar itu sudah mengamati gerak geriknya.


"Kenapa malam-malam mandi bukankah kita masih akan melakukannya lagi." Arsha terus saja menatapnya menunggu jawaban dari istrinya itu.


"Sahabat-sahabatku sudah menunggu, malam ini aku akan menginap dirumah Keyla," jelasnya.


Mendengar itu Arsha langsung melompat dari ranjang mendekat ke Ziva yang saat itu sudah siap."Bagaimana dengan aku, apa kau ingin meninggalkan suamimu tidur sendiri." Arsha memainkan perannya mendekap tubuh Ziva tak ingin wanitanya itu pergi.


"Ayolah Kak, kita kan sudah melakukannya beberapa kali tadi." Ziva melepas dekapan prianya itu karena cacing ansurdnya mulai on.Ziva segera mengambil baju di lemari dan memakaikannya ke tubuh suaminya yang saat itu hanya memakai ****** *****.


Setelah itu Arsha mengantar Ziva pergi ke rumah Keyla walaupun sebenarnya di tidak ingin terpisah dari istrinya.


"Langsung pulang!" perintah Ziva saat akan turun dari mobilnya.Namun Arsha menarik tangannya lalu mengecup keningnya sekilas sebelum akhirnya Ziva benar-benar turun dari mobil.Ziva melambaikan tangan saat mobil suami melaju pergi.


"Ziva loe kemana dulu sih, lama banget." Keyla menyambut kedatangan sahabatnya itu.


Saat itu Ziva hanya tersenyum lalu keduanya memasuki rumah itu bergabung bersama kedua sahabatnya yang lain.


Malam itu mereka habiskan untuk nonton film juga ngobrol-ngobrol sampai pagi.Kebersamaan yang mungkin meraka tidak akan bisa ulangi lagi saat meraka berpisah kuliah di universitas berbeda-beda.


***


Beberapa Minggu kemudian.


Ziva tengah bersiap pindah ke rumah Zacky karena ibunya juga Zahra akan datang ke Jakarta menghadiri acara wisuda juga perpisahan di sekolah Ziva.


Ziva memasukkan beberapa baju ke tasnya dan peralatan lainnya sementara Arsha duduk di tepi ranjang menatapnya.


"Ck." Beberapa kali pria itu kembali mengeluh menatap istrinya yang sedang memasukkan bajunya ke dalam koper. "Haruskah Kak Arsha mengatakan semua sama ibumu, kalau kita sudah menikah, toh ibumu juga sudah tahu." Beberapa tahun menyembunyikan pernikahannya membuat Arsha tidak tahan dan mengatakan semuanya.


"Ibu sudah tahu,apa maksud Kak Arsha?" Ziva langsung mendekat Arsha menatap serius.


Ya Arsha meyakinkan dirinya untuk mengatakan semua karena waktu satu setengah tahun untuk menyimpannya rapat-rapat dan kali ini dia tidak ingin berpura-pura lagi di depan ibu mertuanya.


"Ibu sudah tahu pernikahan kita," jelas Arsha.


Seketika Ziva terperangah mendengar kabar itu."Siapa yang mengatakannya, kau atau kak Zacky?"


"Kau lebih baik tanyakan semua pada kakakmu." Pria itu tidak mau menjelaskan lebih jauh karena memang bukan dia yang harus menjelaskan.


Ziva mengingat kembali saat dirinya dinikahkan tidak ada alasan yang menguatkan kenapa saat dirinya masih SMA dipaksa menikah dan bahkan harus menyembunyikan statusnya. Bukan karena hamil atau hal lainnya tapi semua karena paksaan hanya kenakalannya sebagai alasan terkuat dirinya harus menikah muda diusia belia.Semua bersumber pada satu pria yang harus menjelaskan semua padanya saat dia sudah berada disana nanti.


"Kak Arsha akan mengantarmu sekarang, nanti keburu ibumu datang!"


Arsha berjalan lebih dulu meninggalkan Ziva yang masih duduk termangu di tepi ranjang.


"Aku yakin ada sesuatu yang mereka sembunyikan?" gumam Ziva.


Ziva beranjak dari duduknya menyusul Arsha. Saat di mobil suasana pun sangat sepi Arsha terus fokus menyetir mobil sementara Ziva hanyut dalam pikirannya yang terus memikirkan apa alasan Zacky menikahkan begitu cepat.Saat itu Ziva menyetujui karena terlalu terkekang dengan sikap Zacky dan kakaknya itu mengatakan kalau Arsha itu seperti dirinya walaupun sudah menjadi suaminya.


Mobil Arsha terhenti di halaman rumah Zacky. Ziva langsung turun dari mobil begitu mobil berhenti tanpa memperdulikan Arsha.


Dok ....


Dok ....

__ADS_1


Dok ....


Ziva menggedor pintu.


"Buka Kak!" pekik Ziva.


Arsha menyusul Ziva yang terlihat marah dan tidak sabar. "Sabar Va." Arsha menarik tangan Ziva menjauh dari pintu karena tidak ingin istrinya itu terus menggedor pintu.


"Kak Arsha sama saja bikin Ziva kesal!" Ziva semakin berkacak pinggang karena suaminya itu tidak mengerti kegelisahannya.Selama ini dia begitu kuat menajaga rahasia itu dari ibuna tapi dia bahkan tidak mengetahui kapan ibunya mengetahui pernikahannya


Kreeekkk.


Pintu terbuka.


Ziva langsung masuk melewati Zacky yang berdiri di pintu.


"Ada apa?" Zacky menatap Arsha penuh tanya karena gelagat kemarahan nampak terlihat di wajah adiknya itu.


Ziva langsung duduk di sofa menatap tajam Zacky dan Arsha. Keduanya duduk di sofa setengah bergidik ngeri melihat tatapan bak harimau marah itu.


"Ziva mau tanya baik-baik, sejak kapan ibu tahu pernikahanku bukannya kita sepakat untuk menyembunyikannya?" Ziva menatap tajam Zacky lalu Arsha.


"Apa maksudmu Va?ibu tahu-"


"Aku mengatakannya pada Ziva, kau jelaskan," sergah Arsha memotong ucapan Zacky.


"Kau!" Zacky menggerutu menatap sahabatnya itu.


"Jangan katakan kalian merencanakan semua dari awal dan aku tidak mengetahui semua itu, kalian menganggap aku bodoh.Aku bukan boneka yang bisa kalian mainkan sesuka hati kalian!" Saat itu Ziva berbicara penuh emosi sesekali mengusap air mata yang mulai membasah di pipinya.


"Bohong Kakak menikahkan aku karena sebuah kesepakatan kalian kan!" sangkal Ziva menatap Zacky lalu ke Arsha.


"Apa maksudmu alasan lain, Kakak nggak punya alasan lain!" tegas Zacky


"Bohong, Kakak bohong!"Ziva menitikan air matanya. Batinnya begitu hancur disaat teman sebayanya bersenang-senang di masanya dirinya harus merasakan hidup dengan seorang pria.Bahkan harus mengubur rasa cinta yang begitu bergejolak di usianya dan menerima pernikahan yang belum saatnya menjalaninya.


"Selama ini Ziva diam bukan berarti Ziva bodoh. Ziva menghormati apapun keputusan Kakak karena pasti semua demi kebaikan Ziva tapi Ziva benci di bohongi. Kakak punya alasan lain dan menyembunyikan dariku itu kenyataannya." Ziva mengeluarkan semua kemarahannya yang selama ini berusaha di tahannya.


"Va maafin Kakak,selama ini Kakak bahkan berpikir Kamu bahagia bersama Arsha.Kakak tidak tahu kamu begitu menderita." Zacky menatap wajah Ziva merasa bersalah sementara Arsha menatap Ziva penuh tanya.


"Benarkah selama ini kamu hanya berpura-pura mencintaiku?" guman Arsha.


Seorang wanita setengah baya yang sedari tadi berdiri di pintu mendengar perdebatan sengit di dalam sana.Lalu masuk begitu saja ke dalam rumah dan langsung bersujud di kaki Ziva."Maafin Ibu Va, semua karena Ibu!" Tangisnya pecah meratapi kesalahannya.


"Ibu." Ziva beranjak dari duduknya membangunkan ibunya yang bersujud di lantai. Zahra hanya berdiri di pintu terlihat bingung dengan ibunya yang tiba-tiba menangis di kaki kakak perempuannya.


Zacky menarik tangan Arsha keluar bersama Zahra memberi kesempatan pada Ziva dan ibunya bicara.


Beberapa menit kemudian suasana hening hanya ada Ziva dan Ayu saling menatap.


"Ada apa sebenarnya Bu, Kenapa Ibu tiba-tiba meminta maaf pada Ziva?" Ziva menggenggam erat tangan ibunya.


"Pernikahanmu adalah kesalahan Ibu." Ayu mulai membuka rahasia yang selama ini di sembunyikannya.Semua memang berawal darinya.


"Jadi Ibu tahu Ziva sudah menikah tapi ibu pura-pura tidak tahu!" Ziva menautkan kedua alisnya seakan tidak percaya dengan ibunya yang telah membohonginya selama ini.


"Apa sebenarnya ini Bu, katakan yang sejujurnya?" Ziva menatap serius ibunya.

__ADS_1


"Ibu menikahkanmu untuk menyelamatkanmu dari pria tua itu." Ibu Ziva kembali mengingat momen dua tahu silam.


"Pria tua siapa Bu,apa sebenarnya maksud Ibu, kenapa Ibu berbicara berbelit-belit?" Ziva menatap serius Ibunya.


"Saat ayahmu meninggal tanpa Ibu tahu ayahmu meninggalkan sejumlah hutang dengan Juragan Hamid.Sampai jatuh tempo Ibu tidak bisa membayar jadi Juragan Hamid ingin kamu menjadi istrinya dengan begitu semua hutang akan lunas." Ayu menceritakan semua rahasia yang selama ini ditutupinya dari Ziva.


"Apa?bukannya juragan Hamid istrinya banyak, sudah tua pantasnya jadi ayah Ziva tapi malah ingin memperistri Ziva!" Ziva menggeleng tidak percaya dengan hal yang baru saja di dengarnya.


"Tadinya kakakmu ingin meminjam uang pada Arsha tapi Arsha memberikannya dengan sukarela asal dia bisa bersamamu," terang Ayu.


"Apa jadi Kak Zacky menjualku untuk bisa melunasi hutang Ibu!" Ziva membelalakkan matanya.


"Bukan Va,bukan seperti itu.Kamu salah paham," sangkal Ayu.


"Salah paham bagaimana,Kak Arsha menikahiku dan memberi sejumlah uang pada Kakak, apa itu bukan jual beli namanya!" pekik Ziva dengan nafas naik turun menahan emosi.


Benar dugaannya kakaknya menikahkannya dengan kesepakatan yaitu uang. "Kenapa Ibu melakukannya,Ziva bukan mainan atau barang Bu!! sentaknya penuh emosi.


Ziva berlari keluar dari rumah itu meninggalkan ibunya.


"Ziva ... Ziva!" pekik Ayu mengejar Ziva sampai teras tapi Ziva terus berlari tak menghiraukan.


"Ada apa Bu, dimana Ziva?" Zacky,Arsha dan Zahra kembali tapi hanya melihat ayu yang terlihat begitu cemas.


"Kejar Ziva, Ky!adikmu pasti sangat kecewa." Cerita Ayu dengan mata berkaca-kaca.


"Biar Arsha Bu." Arsha segera masuk mobil mengejar Ziva.Mobil melaju meninggalkan tempat itu.


Arsha menyetir mobil sambil memandangi sekeliling jalanan itu.


Beep ....


Beep ....


Beep ....


Arsha mengklakson mobil beberapa kali tapi Ziva tetap melangkah kakinya tak menghiraukan Arsha.Arsha memutuskan untuk turun dar mobilnya dan mengejar Ziva yang terus saja melangkah tanpa menghiraukannya.


"Lepasin, Ziva nggak mau!" Ziva memberontak dari cekalan tangan Arsha.


"Ikut Kakak!" Arsha terus memaksa membuat Ziva menyerah dan mengikuti kemauan Arsha.


"Kita pulang sekarang!"


Arsha menarik tangan Ziva masuk ke dalam mobil tapi Ziva terus saja memberontak membuat Arsha semakin mengeratkan cekalannya. "Mau kemana kamu?"


"Ziva mau mati saja,Ziva sudah tak memiliki harga diri untuk apa Ziva tetap hidup di dunia ini!"


Ziva terlalu malu untuk menghadapi duni ini.Hidup mempermainkannya dengan sangat kejam.Terlihat mata Ziva memerah karena terus menangis membuat Arsha semakin sedih.


"Ziva apa yang kamu katakan, Kak Arsha mencintaimu.Harga diri seperti apa yang kamu inginkan?kamu lebih berharga dari apapun di dunia ini, Kak Arsha melakukan semuanya karena Kak Arsha mencintaimu. Kak Arsha tidak ingin Kamu hidup susah dengan pria tua itu," tegas Arsha.


"Lalu kenapa kalian sekongkol melakukannya tanpa sepengetahuanku. Apa salahnya dari awal kalian jujur bukannya-" Arsha langsung membungkam mulut Ziva dengan tangannya.


"Sstt ... intinya kami semua menyayangimu.Alasan apapun tidak bisa menyangkal Kak Arsha mencintaimu dan Kak Arsha tidak ingin kehilanganmu." Arsha mengusap lembut wajah Ziva.


"Maafin Kak Arsha, kak Zacky juga ibu ya?lupakan semua.Kita lanjutkan hidup kita." Arsha memeluk Ziva erat.

__ADS_1


__ADS_2