
Ziva melangkah pergi meninggalkan rumah Keyla setelah mendapat telepon dari Arsha kalau dia sudah pulang dan akan menjemputnya.
Belum genap semenit gadis itu berdiri di tepi jalan, tiba-tiba mobil hitam melesat dan berhenti tepat di depannya.
Deg
Jantung gadis itu berdetak dengan kencang padahal saat itu pengendara mobil belum juga turun menampakkan batang hidungnya.
"Apa ini kenapa jantungku berdetak kencang?" gumamnya dalam hati.
Pengendara mobil itu akhirnya keluar membuatnya jantung Ziva semakin berdetak lebih cepat dari sebelumnya.Perasaan yang berbeda dari sebelumnya, mungkinkah ada benih cinta yang kini mulai tumbuh di hati gadis itu?
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" Arsha tampak bingung karena Ziva memandanginya intens bahkan seperti tidak berkedip.
"Aku ... aku ...."
"Kau kenapa?" sergah Arsha memotong ucapannya yang terdengar gagap.Pria itu memegang tangannya tapi tangan gadis itu begitu dingin seperti sedang berada di kutub utara padahal saat itu udara sedikit panas.
"Ada apa, kau sakit?" tanyanya lagi. Memegang kening Ziva membuat Ziva serasa ingin pingsan karena semakin lama nafasnya semakin sesak berdekatan dengan pria itu.
"Kita pulang saja sepertinya mau hujan." Ziva mendorong tubuh Arsha menjauhinya lalu segera masuk mobil.
"Apa kamu merindukanku?" tanya Arsha saat keduanya sudah melesat pergi.
"Siapa ... siapa bilang aku merindukanmu," tepis Ziva.
Arsha hanya menatap sekilas wajah cantik gadis di sampingnya itu membuatnya tersenyum karena jawabannya.Istri kecilnya itu tidak mengaku padahal saat dirinya baru saja tiba di Surabaya sudah menanyakan kepulangannya tapi kini saat sudah bertemu tidak mengaku.
"Nakal sekali kamu," celetuknya lirih yang hanya dirinya sendiri yang mendengar.
__ADS_1
"Apa kamu benar-benar tidak merindukanku, beberapa hari kita tidak bertemu?" Arsha kembali menanyakan pertanyaan yang sama kali ini dia ingin memastikan apakah jawabannya tadi saat di mobil itu benar.Padahal saat ditelepon beberapa hari lalu,Ziva mengatakan merindukannya membuat hatinya begitu bahagia.Perasaannya cintanya benar-benar terbalaskan.
"Aku ... aku hanya ...."
Belum lagi menyelesaikan ucapannya saat itu Arsha sudah sangat dekat membuatnya tak bisa berkata-kata dan keduanya berpagutan mesra.
Saat itu Arsha tidak perlu meyakinkan keraguan hatinya karena ciumannya dibalas begitu manis oleh Ziva.Gadis itu begitu menikmati semua perlakuannya hingga semakin lama semakin menuntut.
Wajah Ziva terlihat memerah saat Arsha melepaskan pagutannya membuat Arsha mengulum senyum.
"Terima kasih Kak Arsha pulang lebih cepat," ucapannya dengan cepat menutupi salah tingkahnya karena pria di depannya ini terus menatapnya.
"Jadi kau merindukanku?" Ketiga kalinya pria itu mengulang pertanyaan ya sama.
"Aku hanya tidak nyaman tinggal bersama kak Zacky itu saja," tepisnya.Meski terlihat hanya sebuah pembelaan yang tidak berarti karena ucapan juga sikapnya bertolak belakang.
Ziva yang semakin salah tingkah memutuskan untuk pergi ke kamarnya yang tanpa disadarinya pria itu mengikutinya.Menarik tubuh gadis itu keatas ranjang.
"Kemarilah, Kakak hanya ingin berbaring disini bersamamu." Arsha kembali menarik tangan Ziva hingga membuatnya kembali terbaring disana.
Cukup lama mereka terdiam menatap langit-langit kamar itu sampai akhirnya saling menatap hingga untuk kedua kalinya mereka berpagutan mesra.
Kali ini Ziva ingin membuktikan kebenaran akan dugaan Keyla, kalau suaminya itu adalah Gay.
Ziva sengaja menuntut lebih akan ciumannya hingga mencengkeram kuat tubuh Arsha hingga membuat sesuatu di bawah sana menuntut lebih akan perlakuan Ziva.Perlahan Ziva melepas satu persatu kancing baju Arsha saat keduanya masih berpagutan membuat Arsha langsung menyudahinya.
"Apa yang kau lakukan,kau menginginkannya?" Arsha yang saat itu di tengah puncak hasratnya berusaha mengendalikannya agar tidak terjadi sesuatu diantara mereka.
Bukanya penolakan yang terdengar gadis di depannya ini malah mengangguk akan pertanyaan.
__ADS_1
Arsha mengulum salivanya dengan susah payah karena sebenarnya dia juga menginginkannya tapi sebagai pria sejati yang akan memegang teguh janjinya Arsha berusaha menepis keinginannya.
"Sebaiknya kau segera berganti pakaian, Kakak akan memasak sesuatu untuk kita makan." Arsha mengacingkan satu persatu kancing bajunya lalu bangkit dari ranjang itu.
"Benar memang, Kak Arsha itu gay," tukas Ziva.
Pria yang sudah beberapa langkah meninggalkannya itu langsung berhenti saat ucapan yang begitu menusuk telinganya terlontar jelas dari wanita yang begitu dicintainya hingga mengabaikan semua keinginannya demi untuk menjaganya.Seakan semua yang dilakukannya itu hanya sia-sia karena dirinya malah di cap pria tidak normal.
Arsha membalikkan badannya menatap Ziva dengan sorot mata tajam."Bukan sekali tapi aku akan membuktikan padamu sampai kau percaya aku pria normal." semakin mendekat. "Jangan salahkan aku, jika kamu harus menanggung semua ucapanmu!"
Pria yang tadi bisa menahan gejolaknya saat ini berubah menjadi pria berdarah dingin yang siap membuatnya menyesal akan ucapannya.
Arsha menjatuhkan tubuh Ziva ke atas ranjang dengan liar.Seakan ingin menguasai seluruh tubuh ini tanpa terlewat sedikit pun.Arsha meremas dan menikmati kelembutan dan kenyalnya tubuh atas Ziva.Ziva hanya mendesah menikmati perlakuan suaminya membuat pria itu semakin terbakar nafsu apalagi mengingat cap gay yang melekat pada dirinya semakin membuatnya ingin membuktikan kebenarannya.
"Kamu pikir aku nggak waras!" kesalnya membuat tubuh gadis itu polos dan setelah itu melakukan hal yang sama pada dirinya.
Ziva hanya pasrah karena pria itu tidak memberi ruang bergeser sedikit pun dari tempatnya untuk menolak hingga membuatnya mau tidak mau menerima perlakuan liar suaminya.Ucapannya menjadi boomerang karena pria itu semakin terbakar kemarahan bercampur nafsu yang tidak bisa dikendalikan hingga meluncurkan serangan-serangan liarnya.
"Ahhh ...." Ziva meringis menahan sakit bercampur perih karena sesuatu memaksa masuk membuat inti tubuhnya semakin sakit membuatnya meronta-ronta mendorong tubuh itu menjauh tapi bukannya menjauh tubuh Arsha semakin mencengkram kuat hingga masuk semakin dalam.
Rasa perih yang tadi ia rasakan berubah menjadi rasa nikmat yang semakin memburu membuat Ziva terus melenguh tanpa henti.Arsha semakin mempercepat gerakannya dan saat sesuatu begitu mendesak membuatnya harus segera berlari masuk ke kamar mandi hanya sekedar membuang benih karena dia tidak ingin itu tertanam di rahim Ziva.
Arsha kembali dengan langkah lemas lalu membaringkan tubuhnya di samping Ziva.
"Maafkan aku,sayang.Aku mengingkari janjiku," ucap Arsha menatap dengan tatapan penuh rasa bersalah.
Saat itu tidak ada jawaban dari Ziva hanya gelengan kepala yang menepis semua kesalahan itu karena yang terjadi dialah yang memaksa semua ini terjadi.
Pria itu menatap wanitanya intens ada rasa kecewa sedih saat semua yang ingin dijaganya kini tidak lagi dapat dikembalikan tapi yang jelas keyakinannya akan perasaannya juga cintanya yang berbalas.
__ADS_1
"Sungguh tenang dan bahagia rasa hati ini, orang yang benar-benar aku cintai dan inginkan ternyata juga mencintaiku. kini cintaku sempurna tak bertepuk sebelah tangan. Hidupku bahagia karenamu.Semoga cinta ini abadi untuk selamanya.Semoga rasa ini tetap sama dan tak akan pernah berubah sampai kapanpun ," batin Arsha.