Terpaksa Menikah Diusia Belia

Terpaksa Menikah Diusia Belia
Bab 28 ( Terpisah Jarak )


__ADS_3

Sekitar pukul 5 pagi Ziva telah siap sementara Arsha masih duduk lesu di sofa.


"Ayo Kak Ziva sudah siap." Ziva menenteng tas bawaannya.


Arsha beranjak dari duduknya kemudian memeluk Ziva."Kakak pasti akan merindukanmu," lirihnya rasanya tidak ingin wanita yang selalu bersamanya itu pergi walau sesaat.Matanya menatap lekat wajah istrinya lalu mengelusnya.


"Aku akan selalu menelepon Kakak, jika Kakak merindukan aku." Ziva berusaha menguatkan prianya itu lalu menghujaninya dengan kecupan ke seluruh wajahnya. "Jaga diri ya jangan sampai Kakak lupa makan."


Arsha merogoh sakunya dan mengambil dompetnya dikeluarkannya beberapa lembar uang. "Ambillah."


Ziva kemudian memasukkan uang itu ke dalam dompetnya lalu mengambil kartu kredit di dalam dompetnya." Ini aku tidak membutuhkannya di kampung."


"Baiklah, aku akan kembalikan ketika kamu balik kesini." Arsha memasukkan kartu itu kembali ke dompetnya.


Arsha mengambil tas dilantai kemudian menarik tangan Ziva mengajaknya pergi.


Setelah 15 menit mereka sampai di terminal kemudian Ziva berpamitan karena busnya sudah bersiap pergi.


"Hati-hati Va, telepon kakak begitu kamu sampai," pesan Arsha.


"Iya Kak." Ziva naik ke busnya lalu bus pun meninggalkan terminal.


Arsha segera kembali kerumahnya karena harus bersiap bekerja.


***


Arsha memasuki rumahnya setelah pulang kerja kemudian duduk lesu di sofa.Biasanya rumahnya selalu ramai dengan adanya Ziva tapi kini sepi sepeninggalan Ziva ke Bandung.


Arsha kemudian merebahkan dirinya di sofa menatap langit-langit apartemennya.

__ADS_1


"Gini banget ya rasanya pulang ke rumah nggak ada Ziva," lirihnya.


Arsha merasa tidak bersemangat saat pulang kerja begitu lelah tapi tidak ada orang yang menghiburnya walaupun hanya berdebat karena itu yang membuat hari-harinya begitu berharga.


Tiba-tiba ponselnya berdering.Arsha Menatap layar ponselnya bertuliskan Ratu Cerewet dengan segera menjawab panggilan Videocall itu.


"Hai Kak."~jawab Ziva tersenyum di layar ponsel Arsha.


Arsha mengembangkan senyumnya menatap wajah Ziva di layar ponselnya.


"Lagi apa,baru pulang ya?" tanya Ziva melihat Arsha masih rapi dengan kemeja putih serta dasinya.Wajahnya juga nampak kucel.


"Iya Kakak baru balik ini masih duduk di sofa "~Arsha.


"Jangan lupa makan ya jaga kesehatan."~ Ziva.


"Siap siap tuan putri.Kamu juga ya,cepat kembali kesini Kakak merindukanmu."~Arsha.


"Ya sudah cepat sana mandi dan makan.Ziva tutup dulu ya, nanti malam Ziva telepon lagi ya."~Ziva.


"Iya."~Arsha.


Ziva memutus sambungan Videocallnya sementara Arsha masih menatap layar ponselnya beberapa saat lalu beranjak ke kamar mandi membersihkan diri.


***


"Apa yang terjadi dirumah Arsha sebulan yang lalu Va?" sergah Ayu membuyarkan fokus Ziva pada ponselnya.Ayu menatap lekat wajah putrinya itu.


"Apa maksud ibu?" Ziva balik bertanya seraya mengingat kembali kejadian di rumah Arsha.Saat itu dirinya diajak Arsha ke rumahnya membuat ayahnya begitu marah.Hubungan Arsha dengan ayahnya yang tidak begitu baik membuat Arsha juga meluapkan kemarahannya dengan mengatakan dirinya dan Ziva telah menikah.

__ADS_1


"Mungkinkah? " batin Ziva menerka-nerka.


"Entahlah tapi ibu Arsha selalu sewot ketika bertemu Ibu, seperti ada sesuatu yang membuatnya marah terhadap keluarga kita," jelas Ayu.


Beberapa kali Ayu bertemu dengan Dina tapi wanita itu terlihat tidak menyukainya padahal dulu hubungan mereka begitu baik bahkan seperti saudara karena semenjak kecil Arsha berteman baik dengan Zacky.Ayu menganggap Arsha seperti putranya sendiri begitu juga Dina menganggap Zacky seperti putranya sendiri.


"Hubungan Kak Arsha dengan orang tuanya memang tidak baik Bu,


Ibu tahu sendiri semenjak Kak Arsha lulus kuliah dan menetap di jakarta hingga memilih bekerja di perusahaan besar daripada mengelola kebun juga pabrik ayahnya," jelas Ziva.


"Apa hubunganmu dengan Arsha serius Va?" tanya Ayu lebih lanjut.


"Ibu mau Ziva jawab apa Bu,bukan cuma serius tapi Ziva sudah menjadikan dia sebagai menantu ibu," batin Ziva.


Rasa bersalah itu kembali mengingatkannya akan kesalahannya menikah secara diam-diam hingga menyembunyikan masalah sebesar itu dari orang yang telah memberinya kehidupan.


"Seperti yang ibu lihat Ziva dan kak Arsha dekat, kak Zacky pun menginginkan Ziva dengan Kak Arsha karena di posisinya sekarang kak Arsha mapan dalam segala hal," ungkap Ziva.


"Tapi Va, apa kamu siap menjadi menantu keluarga Hermawan.Mereka itu orang berada dan terkenal sombong." Ayu memperingatkan.


Ayu memang takut akan kenyataan putrinya keadaanya jauh berbeda ayu yang hanya seorang single parent tidak sebanding dengan Arsha yang anak orang berada.Ayu tidak menginginkan lebih hanya saja tidak ingin putrinya itu akan terluka.


"Ibu ini bicara terlalu jauh, belum tentu Kak Arsha jodoh Ziva." Ziva terkekeh membuat suasana menjadi lebih santai.


"Sudah sana tidur sudah malam katanya besok mau ikut ke kebun panen strawberry!" suruh Ayu.


Tanpa perlawanan Ziva langsung beranjak menuju kamarnya untuk beristirahat.Ziva merebahkan dirinya di kasur yang sedikit keras membuatnya sedikit tidak nyaman beda dengan tempat tidurnya di tempat Arsha yang empuk dan nyaman serta AC yang membuat tidurnya selalu nyaman tanpa gerah.


Ziva meraih ponselnya di meja terlihat notifikasi Arsha beberapa kali meneleponnya.Ziva menghubungi Arsha balik tapi saat itu panggilannya tidak di jawab." Besok saja aku telepon lagi, kak Arsha pasti sudah tidur."

__ADS_1


Malam itu mereka lewati dengan perasaan rindu yang tertahan satu sama lain.Arsha yang terbiasa tidur bersama Ziva malam ini dan malam-malam selanjutnya harus rela tidur tanpa Ziva.Sementara Ziva harus menahan dinginnya malam di kampungnya yang memang berhawa dingin.


__ADS_2