Terpaksa Menikah Diusia Belia

Terpaksa Menikah Diusia Belia
Bab 65 ( Pria Gila )


__ADS_3

Arsha mencoba bangkit dari kesedihannya ditatapnya wajah ayahnya yang berusaha berbicara tapi tidak bisa karena lumpuh separuh badan membuatnya sulit berjalan dan berbicara. Hermawan hanya terbaring lemah diatas tempat tidurnya tidak bisa melakukan aktifitas seperti sediakala.


"Sudah Yah,Arsha mengerti apa yang ayah ingin katakan." Arsha mengenggam erat tangan Hermawan.


"Sejak kapan Bu, ayah seperti ini?" Arsha menatap Dina penuh tanya.


"Kak. Sebenarnya dari awal sejak saat kita pulang dari Jogjakarta,aku ingin mengatakannya tapi Kakak tidak pernah memberiku kesempatan," jelas Ziva.


"Kakak- ." Arsha menundukkan wajahnya terlihat raut kesedihan dan rasa menyesal yang begitu besar. Jangankan untuk berdebat saat ini ayahnya hanya butuh kasih sayang dan cintanya agar segera pulih seperti sediakala.


Sekitar pukul 7 malam Ziva dan Arsha kembali ke Jakarta.Pukul 10 malam mereka sampai apartemen.


Arsha nampak kelelahan pulang pergi Jakarta Bandung direbahkannya tubuh lelahnya di sofa.


"Tidurlah di dalam Kak." Ziva duduk disamping Arsha.


Arsha meletakkan kepalanya di pangkuan Ziva.


"Biarkan Kakak tidur di pangkuanmu sesaat. Rasanya nyaman sekali." Arsha memejamkan matanya. Ziva mengelus kening Arsha sampai pucuk rambutnya.


"Apa Kak Arsha terlalu egois selama ini, Kak Arsha membiarkanmu memikirkan dan menyimpan masalah tentang ayah seorang diri. Seharusnya ayah adalah urusanku sebagai seorang anak apalagi anak tunggal Kak Arsha seharusnya bisa mengurus semua masalah orang tua Kakak tapi Kakak malah mengabaikan bahkan tidak mau tahu. Kakak memang-." Ziva langsung membungkam mulut Arsha dengan telapak tangannya hingga tak bisa melanjutkan kata-katanya.


"Kita akan mengurus orang tua kita bukan hanya orang tua Kakak. Sebaiknya kita tidur." Ziva beranjak dari duduknya menuju kamarnya. Arsha mengekor dibelakangnya.


...----------------...


Keesokan paginya Ziva bersiap-siap pergi ke kampusnya sementara Arsha berangkat menuju kantornya. Arsha melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi di pagi diiringi rintik gerimis.


"Kak pelankan mobilmu!" Ziva berteriak ketakutan karena kecepatan mobil melebihi ambang batas wajar.


"Kakak akan terlambat jika pelankan mobil." Arsha tidak mengindahkan bahkan semakin memacu mobilnya membuat Ziva ketakutan sampai menutup matanya seketika Arsha mengurangi laju mobilnya.


"Kenapa kau begitu ketakutan?" Arsha memberikan selembar tisu kepada Ziva yang penuh dengan peluh padahal saat itu AC mobinya menyala.

__ADS_1


"Kakak membuat jantungku hampir copot,aku benar-benar takut." Ziva berucap dengan air matanya yang menitik di pipinya.


"Maafkan Kak Arsha ya Kak Arsha janji nggak akan lakuin itu lagi. Sudah ya jangan nangis lagi." Arsha berucap penuh rasa bersalah sambil mengusap lembut kepala Ziva.


Beberapa menit kemudian mobil berhenti tepat di depan pintu gerbang kampus Ziva.


"Langsung pulang ya setelah kuliah selesai,Kak Arsha ingin bicara serius denganmu!" perintah Arsha.


Ziva mengangguk merespon perintah Arsha lalu segera turun dari mobil. Mobil melaju pergi setelah Ziva turun.


Ziva melangkah masuk menuju kelasnya nampak matanya celingukan melihat sekeliling. Tiba-tiba seseorang menepuk bahunya dari belakang yang langsung diresponnya dengan teriakan.


"Aaa." Ziva menjerit dengan ekspresi setengah melotot menatap sahabatnya itu. saat itu pikiran sedikit kacau karena ketakutan Alvin akan berbuat masalah lagi dengannya.


"Napa sih Loe lihat setan?"Kayla nampak bingung melihat ekspresi Ziva


yang terlihat ketakutan.


Ziva tidak merespon malah menarik tangan sahabatnya itu segera melangkah pergi menuju kelasnya.


"Apa yang laki-laki itu lakukan?" kesal Ziva.


Alvin langsung membuka paksa taxi itu.


"Aku akan mengantarmu pulang turunlah!" perintah Alvin.


"Tidak usah. Aku akan naik taxi saja," tolak Ziva.


"Kau!" Alvin terlihat kesal menarik paksa Ziva keluar dari mobil hingga Ziva pun akhirnya turun dari mobil itu.


Alvin memberikan selembar uang kepada mengemudi taxi online itu dan membuat taxi itu langsung tancap gas.


Alvin mencari keberadaan Ziva yang diam-diam melangkah pergi tanpa sepengetahuannya. Alvin melajukan motornya melaju menyusul langkah Ziva menghentikan motornya tepat di depan Ziva.

__ADS_1


"Kenapa kau sangat keras kepala?" Alvin turun dari motornya berdiri tepat di depan Ziva dengan mata elangnya seakan ingin memangsa lawan di depannya. Alvin mencekal tangan Ziva membuatnya kini tak berkutik


"Biarkan aku pergi. Jangan ganggu aku lagi aku sudah bersuami." Ziva berusaha melepas tangannya dari cekalan tangan Alvin yang ditanggapi Alvin dengan tertawanya yang begitu keras menanggapi ucapan Ziva.


"Kau tidak mempercayai ucapanku, apa perlu kau telepon suamiku agar kau percaya?" pekik Ziva.


"Telepon sekarang!aku akan menyuruh suamimu segera menceraikanmu agar aku segera bisa menikahimu." Alvin memberikan ponselnya kepada Ziva. Pemuda itu dengan santainya merespon ancaman Ziva hingga Ziva hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sikap Alvin.


"Ambil, telepon sekarang!" Alvin memberi paksa ponselnya dengan senyum menyerigainya.


"Kau tidak mau menelpon atau kau ingin aku yang bicara?" Alvin berbisik di telinga Ziva.


"Kau gila!" pekik Ziva.


"Yah memang aku tergila-gila denganmu.Sekarang apa yang kau inginkan kita bercinta di sini atau kemana?" Alvin mengusap lembut wajah cantik Ziva.


Ziva tampak berpikir agar bisa lepas dari Alvin harus dengan cara yang lembut karena semakin ditekan Alvin semakin tidak ingin melepaskan setidaknya kali ini dia harus lepas dari Alvin.


"Aku mau pulang,antar aku pulang." Ziva berucap dengan suara lembutnya.


Alvin menarik tangan Ziva menuju motor sportnya, setelah keduanya naik motor itu melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalanan di kota itu.


Sekitar 10 menit motor itu telah sampai di komplek apartemen.


"Terima kasih sudah mengantarku pulang." Ziva melangkah pergi.


"Tunggu!" Alvin Manarik tangan Ziva menghentikan langkahnya.


"Apa kau tidak akan tanya dari mana aku tahu alamat apartemenmu?" tanya Alvin.


"Untuk apa?Kau tahu segalanya tentangku. Kau bahkan tahu siapa suamiku!" tegas Ziva.


"Baguslah kalau kau tahu siapa aku jadi jangan berharap aku mundur begitu saja pada saatnya aku akan menemui suamimu,Arshaka." Alvin berucap dengan bangga perlahan Ziva mengetahui dirinya bukan orang sembarangan. Alvin melepas cekalannya dan membiarkan gadis pujaannya itu melangkah pergi dengan senyum kepuasan yang kini menghias di wajahnya.

__ADS_1


"Jangankan suamimu,gunung pun akan aku daki,laut akan aku seberangi,maut pun akan aku tantang demi dirimu," lirih Alvin.


Matanya terus menatap langkah Ziva hingga hilang di balik pintu apartemennya.


__ADS_2