Terpaksa Menikah Diusia Belia

Terpaksa Menikah Diusia Belia
Bab 85 ( Hancur )


__ADS_3

Ziva merebahkan tubuhnya sesudah berada di kamarnya.Kepalanya yang masih terasa pening ditambah perutnya yang sedari tadi terasa mual membuatnya tidak ingin melakukan apapun kecuali merebahkan diri.


Saat itu Ziva kembali mengingat sesuatu yan dilupakannya.Ya, semenjak tadi siang perutnya sangat lapar belum sempat diisinya karena pingsan.


"Aku lapar." Ziva bangkit dari ranjangnya dengan langkah tertatih-tatih. Saat bersamaan pintu rumahnya terbuka, ya itu Arsha suaminya.


Arsha melewatkannya begitu saja tanpa tegur sapa menuju kamarnya membuat Ziva menatapnya kesal. Bagaimana tidak setelah meruda paksa kemarin malam, pria itu tidak menanyakan keadaannya bahkan mengacuhkannya begitu saja. Ziva kembali terbelalak saat melihat sosok yang berdiri di pintu rumahnya.


"Kau, berani sekali kau datang kerumahku.Apa yang kalian rencanakan, jangan katakan kalian ....!" Kata-kata itu hampir saja keluar dari mulutnya kalau tidak mengingat siapa wanita yang tengah menatapnya sinis itu.


"Arsha cepat!" teriak wanita itu tanpa rasa malu juga tidak menganggap keberadaannya sedikit pun. Wanita itu berjalan dengan santai melewatinya lalu duduk di sofa.


Ziva benar-benar di buat kesal akan kelakuan wanita itu seketika ingin menjambak-jambak rambutnya dan melemparnya keluar dari rumahnya. "Sabar Va, sabar." Ingatnya dalam hati.Tangannya mengepal kesal tapi saat ini dia tidak ingin menanggapi wanita ini karena sumber semua ada pada pria yang berada di dalam kamarnya.


Saat itu rasa lemas dan juga lapar yang semenjak tadi siang dikeluhkannya seketika hilang menguar begitu saja berganti emosi tingkat tinggi.


"Kau, kenapa tega sekali melakukan semua padaku!" Ziva meluapkan kemarahannya memukul-mukul Arsha.Saat itu Ziva berpikir pria itu akan meninggalkannya karena memasukkan pakaiannya ke dalam koper.


"Aku hanya pergi untuk bekerja, hanya perjalanan bisnis," jelasnya dengan enteng.


Sebelum berangkat pria itu ingin mengecup kening istrinya.Spontan Ziva yang masih begitu emosi mendorong tubuh itu menjauh darinya. "Kau!jangan pernah lagi sentuh aku dengan tangan kotormu itu!" pekiknya dengan air mata yang mulai menitik.

__ADS_1


"Apa maksudmu, Kak Arsha hanya 3 hari dan langsung pulang." Arsha terus berucap santai seakan tidak mengerti sedikitpun apa yang kekalutan yang dirasakannya saat ini.


"Arsha!"Panggil wanita yang sejak dari tadi menunggunya membuatnya harus segera pergi.


"Sayang jaga dirimu baik-baik, Kakak tidak punya waktu lagi.Kita akan bahas ini setelah aku pulang." Arsha menarik kopernya keluar kamar.


"Setelah kau keluar dari rumah ini, jangan harap bisa menemuiku lagi!" ancam Ziva.


Arsha berhenti sejenak berpikir akan ancaman Ziva tapi teriak wanita dari ruang tamu itu selalu berhasil membuat pikirannya terpecah dan mengabaikan ancamannya.


"Kau keterlaluan!" Saat itu tubuhnya yang tadi terasa sangat bertenaga karena emosi berubah lemas tak berdaya karena prianya lebih memilih orang lain daripada dirinya.


"Aaaaaaa ...."


Teriaknya meluapkan semua rasa sakit yang benar-benar membuatnya tidak ada harapan hidup lagi.Pikirannya benar-benar kalut tidak tahu harus bagaimana dan tidak tahu apa mungkin dia bisa terus bertahan.


"Aku tidak boleh mengecewakan ibu juga kakak, aku tidak boleh membuat mereka sedih memikirkanku," pikirnya.


Melangkah satu langkah demi langkah tak tentu arah.Pikirannya yang begitu kacau membuatnya gelap mata.Saat itu Ziva berdiri tepat di tengah jalan padahal saat itu sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi.Wanita yang begitu lemah tak berdaya itu berniat mengakhiri hidupnya.Bagaimana tidak saat semua orang berpikir hidupnya begitu sempurna tapi kenyataannya begitu pahit.


Mungkin akan berbeda cerita kalau saja wanita itu tidak sedang hamil.Saat ini pikirannya begitu labil dan putus asa.Baginya tidak ada kehidupan yang harus di jalaninya karena semua sudah berakhir ditambah keinginannya yang tidak ingin membuat keluarganya sedih jadi jalan pintas satu-satunya mengakhiri hidup.Biarlah hanya dia yang tahu akan sakitnya dan semua orang yang menyayanginya berpikir hidupnya bahagia sampai akhir hidupnya.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan?"pekik seorang pria menarik tubuhnya dengan cepat.


Pria bertangan malaikat yang meloloskannya dari maut.Tapi bukannya berterima kasih Ziva malah mendorongnya menjauh darinya.


"Enyah dari hadapanku!"pekik Ziva begitu emosi melihat sosok yang menurutnya sama saja dengan Kanaya karena status mereka yang bersaudara. Tangannya terus mendorong tubuh Alvin berkali-kali tapi pria itu tetap kembali mendekat dan menjadi sasaran pukulannya.Sampai akhirnya Pukulannya menjadi semakin melemah karena tiba-tiba wanita itu ambruk tak sadarkan diri.


"Ziva," pekik Alvin.


Alvin langsung membopong tubuh Ziva yang saat itu tidak sadarkan diri menuju mobil.


.


.


"Bagaimana keadaan Ziva Dokter?" tanya Alvin ketika dokter yang memeriksa Ziva telah selesai.


Dokter itu menggelengkan kepalanya lalu perlahan menjelaskan. "Kondisi tidak terlalu baik karena tubuhnya sangat lemah apalagi kondisinya sedang hamil, semoga saja bayi yang ada dalam kandungannya kuat," jelas Dokter.


Saat tiba di apartemen miliknya, Alvin langsung menelepon Dokter kepercayaan keluarganya untuk memeriksa keadaan Ziva karena tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada wanita yang begitu dicintainya itu.


Ziva yang telah siuman tanpa sepengetahuan Alvin, mendengar jelas apa yang Dokter itu katakan. Air matanya kembali menitik sambil mengusap perutnya yang tanpa ia sadari ada kehidupan.Saat ini dia tak tahu harus menyikapi kabar itu antara bahagia atau sedih.

__ADS_1


__ADS_2