
Beberapa hari kemudian.
Sepulang kuliah Ziva berencana ke tempat kakaknya,ya tentu saja ingin menemui ibunya. Pernikahan kakaknya yang akan digelar beberapa hari lagi begitu mendadak.Apalagi rencana itu terjadi tanpa membicarakan terlebih dulu padanya.
"Kenapa pernikahan kakak begitu mendadak Bu,apa yang sebenarnya terjadi?" Ziva menatap ibunya dengan tatapan menuntut.
"Orang tua kak Anissa seminggu lalu datang kemari dan meminta agar kakakmu segera menikahinya. Tadinya kakakmu sempat menolak karena biaya menikah tidaklah murah tapi saat itu orang tua Nissa berkata acara itu diadakan sesederhana mungkin karena baginya yang penting hubungan mereka halal," cerita Ayu sedikit mengingat kembali perkataan orang tuan Anissa.
Saat Ayu selesai menjelaskan,Ziva terdiam tak memberi respon bahkan tatapan matanya terlihat kosong. Ayu menangkap hal yang berbeda dari Ziva karena biasanya putrinya itu terlebih ceria tapi kini entah apa yang sedang dipikirkannya.
"Ziva, kau baik-baik saja?" Ayu mengelus wajah Ziva.
"Ziva baik-baik saja kok Bu." Jawab Ziva dengan cepat sembari memperlihatkan senyum yang terkesan dipaksakan.
"Aku merasa Ziva sedang menyembunyikan sesuatu.Anak ini kenapa terlihat murung seperti sedang ada masalah," gumam Ayu dalam hati. "Ah itu hanya perasaanku saja kalau pun ada pasti dia sudah cerita." Ayu kembali membatin tapi kali ini Ayu meyakinkan dirinya sendiri kalau semua baik-baik saja.
Cukup lama Ziva berada disana membicarakan pernikahan kakaknya yang nantinya akan di laksanakan di rumah saja mengingat acaranya hanya sederhana.Nantinya Zahra juga kerabat lainnya akan akan bertolak ke Jakarta menghadiri acara penting bagi Zacky.
"Bu, Ziva pamit pulang, udah malam nih." Ziva melirik jam ditangannya yang menunjukkan pukul 9 malam.
"Dimana suamimu kenapa dia tidak menjemputmu,lalu kau pulang naik apa?tunggu kakakmu pulang,mungkin sebentar lagi pulang," pinta Ayu. Sepulang kerja kakaknya pergi lagi untuk fitting baju pengantin bersama pasangannya mengingat waktu yang tinggal beberapa hari lagi.
"Suamiku akhir-akhir banyak proyek yang dikerjakannya jadi sering lembur.Ziva akan naik taxi saja," jawab Ziva lalu mencium ibunya disertai pelukan sesaat sebelum akhirnya berjalan dengan cepat keluar dari rumah itu.
"Anak itu keras kepala," gumam Ayu yang hanya pasrah melihat kepergian putrinya.
Ziva berjalan menyusuri jalanan malam itu. Saat itu taxi benar-benar entah berada dimana karena hanya satu dua yang lewat dan saat lewat malah berpenumpang.
Beberapa meter Ziva berjalan tapi tidak ada juga taxi yang lewat membuat kakinya merasa lelah terlebih saat ini menggunakan high hell.
__ADS_1
Mau tidak mau akhirnya Ziva menelpon suaminya karena tidak tahu lagi harus pulang naik apa karena tidak mungkin berjalan sampai rumah mengingat jarak rumah kakaknya dan apartemennya cukup jauh.
Beberapa kali Ziva menelpon tapi selalu saja panggilannya di tolak sampai akhirnya panggilan teleponnya di jawab tapi saat itu terdengar seorang wanita yang menjawab teleponnya ditambah suara yang begitu berisik saat wanita itu menjawab sehingga hanya suara halo-halo sebelum akhirnya teleponnya terputus begitu saja.
Ziva hanya bisa menghela nafas menatap ponselnya karena panggilan teleponnya dimatikan begitu saja tanpa bisa ia berbicara dengan suaminya.
"Apa yang sebenarnya kau lakukan diluar sana Kak?" gumamnya.
Ziva mengusap wajahnya tidak bisa membayangkan apa yang sedang dilakukan suaminya mengingat mereka berada di club malam karena terdengar suara musik keras juga riuh orang saat di telepon tadi.
Ditempat yang berbeda Arsha kembali setelah dari toilet. Pria itu menatap jam di tangannya lalu dengan cepat menarik tangan Kanaya menjauh dari teman-temannya yang saat itu tengah asyik berjoget diiringi musik khas club malam.
"Sudah malam sebaiknya kita pulang," ajak Arsha.
"Ah baru jam 10, bentar lagi masih asyik," ucap Kanaya dengan cepat lalu kembali lagi menuju teman-temannya.
Kembali ke tempat Ziva. Ziva yang putus asa akhirnya berputar balik memutuskan akan kembali ketempat kakaknya tapi tiba-tiba mobil hitam yang ia kenali berhenti tepat di depannya sehingga menghadang jalannya.
Ziva melanjutkan langkahnya melewati begitu saja mobil hitam itu.
"Ziva kau selalu mengacungkan aku," gerutu Alvin kesal.
Ziva terus melangkahkan kakinya tidak memperdulikan perkataan Alvin sampai kesabaran Alvin hilang. Dicekalnya tangan Ziva berusaha menghentikan langkahnya.
"Alvin lepaskan, jangan membuatku harus berteriak agar kau melepas tanganku!"ancam Ziva dengan tatapan tajamnya menatap laki-laki yang mulai kurang ajar padanya.
Alvin langsung melepas tangan Ziva karena tidak ingin dipukuli orang-orang di komplek itu.
"Aku akan mengantarmu pulang," tawar Alvin dengan cepat sebelum Ziva kembali melangkah.
__ADS_1
"Tidak perlu!" Ziva berucap dengan ekspresi datarnya.
"Kau ingin ibumu bertanya, kenapa kau kembali dan semua pertanyaan yang kamu sendiri tidak bisa menjawabnya," sahut Alvin dengan cepat.
"Kau mengetahui semua padahal aku tidak pernah menceritakan hidupku tapi kau?" Ziva mendekat ke arah Alvin dengan tatapannya membuat Alvin merasa diintimidasi karena ikut campur masalahnya.
"Kau tetap saja tidak menyadari aku sangat mencintaimu.Aku bahkan menyewa seorang untuk menjagamu, aku juga yang memberitahumu kelakuan buruk suamimu,tapi kau tetap tidak menyadari aku melakukan semua," ucap Alvin dengan nada marah karena Ziva tidak pernah menghargainya sedikit pun.
Tiba-tiba Ziva menarik tangannya menuju mobil. "Cepat antar aku pulang!" titahnya saat sudah masuk ke dalam mobil Alvin.
Pria itu menurut saja langsung melajukan mobilnya membelah jalanan malam itu.
Saat diperjalanan Ziva hanya terdiam tidak merespon ucapnya terakhir kali.
"Apa dia tidak mendengar aku tadi?" batin Alvin bertanya-tanya.Tadi kesabarannya benar-benar habis hingga berkata dengan keras seolah-olah menuntut budi atas semua yang dilakukannya.
"Ziva boleh aku tanya sesuatu?" tanya Alvin sambil melirik kearah Ziva yang fokus menatap jendela.
"Tanya apa?"
"Apa kau tidak marah dengan kata-kataku tadi?" lanjut Alvin.
"Marah untuk apa?"Ziva merasa bingung maksud pertanyaan Alvin.Benar saja saat pria itu mengeluarkan segala unek-uneknya pikiran Ziva malah traveling kemana-mana,kalau benar kata Alvin sebelumnya kalau dia kembali ibunya akan bertanya panjang lebar.Hingga semua terlintas jelas dipikirkannya sehingga langsung memutuskan untuk segera pulang diantar Alvin.
"Tidak aku hanya ...."
"Akhirnya aku sampai dirumah," sergah Ziva memotong ucapan Alvin saat mobil itu berhenti tepat di depan apartemennya.
"Makasih Alvin,kau selalu datang disaat aku membutuhkan.kau memang malaikat penyelamatku," ucap Ziva sebelum akhirnya turun dari mobil.
__ADS_1
Batin Alvin kembali berbunga mendapat pujian dari wanita yang begitu dicintainya.
"Malaikat penyelamat." Alvin kembali mengulang pujian Ziva sembari menatap wanita itu hingga akhirnya hilang dibalik gedung pencakar langit itu.